PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
KEHILANGAN



Jangan lupa vote dan sarannya ya man-teman.


Karena saran dan masukan dari kalian itu penting banget.


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Dan jangan lupa memberi bintang 5 ya🌟🌹


Happy reading.


🌹❤️


Termasuk para penggemar Brian dari yang seangkatan, kakak semesternya atau pun adek dibawah semesternya.


“Lo ngapain? woiii, turun gak lo!!" teriak Alula dan memukul bahu Brian.


“Mau pulang” singkat Brian.


“Terus ngapain naik mobil gue? Turun gak lo!! Tuh mobil lo disana” Bentaknya sambil menunjuk mobil Brian.


“Gak mau gue, ada nenek lampir. Biar aja di situ toh dia ga bisa masuk juga”


“Heh! Lo kata apa? pacar lo sendiri lo katain nenek lampir juga. Di putusin baru tau rasa lo” leek Alula sambil menahan tawanya.


“Bukan pacar gue tau!!” titah Brian.


“Bukan urusan gue!” Jawab Alula.


Brian menatap Alula tajam, setajam silet.


Namun yang di tatap santuy aja karena kan ini mobil dia. Karena sudah habis kesabarannya melihat Brian yang enggan turun, akhirnya Alula yang turun dari mobil.


Alula membuka pintu dimana Brian berada. Dengan kasar membuka pintu dan menarik lengan Brian agar keluar dari mobilnya.


“Keluar gak lo! Lo kan punya temen geng lo.. mana mereka? Sana-sana sama mereka aja lah!” sambil terus menarik lengan brian.


“Gak!” kekehnya.


“Lo tu ya…” belum sempat Alula melanjutkannya sudah terdengar suara dari sampingnya.


"Pak Joko, laki-laki itu suruh pergi Pak. Aku ga mau lihat wajah dia" titah Alula pada Pak Joko.


Seketika beliau pun bereaksi.


"Tuan Muda, pergilah!! karena Nona Alula tidak mau jika Anda berada disini" tutur Pak Joko dengan sopan.


"Pak, tolong pak. Saya di kejar-kejar perempuan itu. Apa bapak tega lihat saya tersiksa seperti ini pak", ucap Brian dengan bersandiwara memelas di depan Pak Joko.


Akhirnya Pak Joko melempar tatapannya pada anak majikannya tersebut. Seakan bertanya bagaimana ini Nona?


Masih juga Alula menimang apakah iya atau tidak untuk memberikan tumpangan pada Brian, tiba-tiba....


“Yan,, ayo anterin gue yaaaa... kenapa lo malah nyamperin nih anak sih. Ayolah Brian. Pelasse anterin gue Yan” rengek Sabrina.


“Ka pacar lo, urusin gih” ucap Alula dengan nada ketus.


“Cih.. apaan sih lo, Gue jomblo ko” titah Brian pada Alula.


“Pak, tolong ya pak, bawa saya pergi dari sini. Saya mohon pak” ucap Brian pada Pak Joko lagi. Seketika beliau menengok ke arah Alula yang kini berada ada di kursi belakang.


“Ya udah deh pak. Jalan aja” Alula pun menyerah.


Sabrina yang melihat mobil Alula melaju, kesalpun menyelimuti dirinya.


Gue yang ngejar-ngejar aja dia gak ada respon. Sedangkan tu cewek yang gak kerja keras sama sekali bisa-bisanya semobil dengan Brian. Ah, sial.


Sabrina lantas menelpon sang sopir yang tadi sebenarnya ada di pujasera kampusnya.


Tiba-tiba ponsel Alula berdering memecah keheningan.


Ternyata ada pesan masuk dari sang sahabat, Adel.


Adel🧘


La, kamu jadi gak traktir aku? Maen kabur aja sama si Brian.


Reply.


Alula


Jadi lah. Kamu langsung ke café aja aku nyusul ya. Jangan ngambek cantik, nanti bisa-bisa cepat tua


Sent


Sedangkan di dalam mobil, Brian memandangi setiap interior mobil Alula.


Ini bukan mobil biasa dan hanya dimiliki oleh orang tajir. Apalagi dengan merk mobil yang tak main-main


Adel🧘


Sialan deh.. kau jadi tua jga karena kamu kali La..


Reply.


Namun chat Adel hanya di baca oleh Alula.


Mobil telah hampir jauh dari kampus.


Tak lama kemudian.


“Lo turun disini gue mau ke café sama temen gue. Ya kali ngintilin gue mulu” lanjut Alula lagi.


“Lo mau nuruinin cowok seganteng ini di pinggir jalan? Kalo gue di culik tante-tante gimana?” jawab Brian dengan PeDe nya yang selangit itu.


“Bukan urusan gue” acuh Alula.


“Cih.. ni anak gak ada manis-manis nya kalau ngomong. Ko betah sih pak kerja bareng dia” ucap Brian pada Pak Joko.


“Iya Den” Pak Joko menjawab dan mengangguk hormat.


Akhirnya Brian pun mau untuk turun di supermarket.


"Pak, jangan bilang ke Mama Papa ya, kalau Alula di luar rumah kayak gini. Nanti bisa-bisa di marahi 7 hari 7 malam pak" ucap Alula dengan memohon.


"Iya, Baik Nona" yang benar saja. Alula memang diluar rumah begitu bar-bar, berbeda dengan alula yang dirumah begitu kalem.


……………………..


Bi Tirna beberapa kali meminta Dera untuk makan, setidaknya makan beberapa potong buah saja sudah membuatnya tenang.


Tapi ini sama sekali tak tersentuh.


Akhirnya Bi Tirna menaruh piring yang berisi buah-buahan tersebut diatas meja.


“Ya sudah Nyonya. Kalau mau mandi, silahkan. Saya akan menunggu sampai Nyonya mau makan” ucap Bi Tirna yang masih membelakangi Dera.


Namun segera dia membalikkan badannya yang kini kaget melihat Dera seperti mayat hidup yang hanya diam dan sesekali meneteskan air matanya.


Ingin rasanya dia memeluk Dera sebagai pengganti sang anak, namun apalah daya dia sadar akan status sosialnya.


Nak, disini ada kami yang merindukanmu. Ada kami yang rindu akan senyummu, kebaikanmu Nak. Semoga kamu tenang disana ya nak. Salam sayang dari ibu.


Batinnya dengan mengusap air mata yang sedari tadi sempat tertahan.


Setelah Bi Tirna meletakkan nampan berisi buah-buahan, beliau berjalan dan menghampiri Dera yang tengah duduk bersandar di tempat tidurnya. Bi Tirna jongkok di hadapan Dera.


“Nyonya, anda harus makan” ujar Bi Tirna lembut. Bi Tirna hanya bisa menyemangati selayaknya anak dan ibu.


Berkali-kali cara telah di cpba nya agar Dera mengeluarkan suaranya. Namun Nihil.


“Nyonya” panggil Bi Tirna lagi. Dera hanya terdiam ditempatnya. Tidak merespon sama sekali. Rasa iba muncul diperasaannya semakin besar.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka. Dera sangat tau siapa yang massuk ke dalam kamar. Kendra. Suaminya.


Tap


Tap


Tap


Derap langkah tegas terdengar memasuki kamarnya. Bi Tirna bangkit dan membungkuk hormat ke arah Kendra.


Luka sedih, kehilangan pun belum sembuh dan tidak akan pernah hilang. Bagaimana bisa dia memaafkan Pak Bos nya begitu saja yang membunuh sang anak di depan mata kepalanya langsung.


Kendra pun yang bertemu Bi Tirna juga merasa bersalah, dia juga membungkuk sedikit untuk menghormatinya.


Kendra menghela napas kasar melihat keadaan istrinya yang tampak kacau.


Setelah itu, Kendra memberi isyarat Bi Tirna agar segera pergi meninggalkan dirinya bersama Dera.


Bi Tirna yang meengerti akan kode tersebut langsung segera membungkuk hormat dan berjalan meninggalkan kamar sepasang suami istri tersebut.


^^


Mengikhlaskan bukan sekedar nama.


Bukan sekedar kenangan.


Tapi juga tentang sebuah raga.


🌹