PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
PERESMIAN TAMAN



Hello, selamat malam guys..


Selamat beristirahat ya.. silahkan baca novel dulu sebelum tidur hehe..


Oh ya, jangan lupa like, comment dan vote ya guys.. terima kasih.


___________


Jam sudah menunjukkan pukul 15.30


Sebuah acara televisi ternama menayangkan sebuah siaran langsung dari Taman Butschard.


"Selamat sore pemirsa, sebuah laporan ditayangkan langsung dari taman Butschard. Acara yang sebentar lagi akan dimulai, tinggal kita menunggu Tuan Kendra Alexander untuk hadir dan juga seseorang yang special yang mendampinginya nanti" ujar salah satu reporter.


Semua tamu undangan telah datang. Disana sudah ada pula Lidia yang duduk di VIP, ada Bagas, serta Danu Hartono dan calon istrinya.


"Mana nih Kendra, ku kira dia sudah datang. Padahal sudah ku percepat datangku agar aku duduk bersamanya" tutur Lidia dengan kesal. Bagas yang mendengar hanya tersenyum saja.


________


Rumah Alex.


"Pa, Ma lihat sini. Ada berita tentang kak Kendra nih. Coba sini" ucap Alula dengan antusias pada orang tuanya agar mendekat dan menonton TV bersama.


"Ada apa sih nak, Kendra kenapa? bukannya dia sedang sibuk dengan bisnisnya yang baru?" jawab Alex.


"Bukan Pa, lihat saja"


_______


"Tuan Kendra dan Nyonya Dera telah memasuki taman Butschard. Para tamu dimohon untuk berdiri" ucap Pembawa acara yang memimpin lancarnya pelaksanaan peresmian tersebut.


Di belakang Kendra dan Dera ada sekretaris Rey yang berdiri jalan beriringan bersama Mira.


Maa Kendra pun melihat para tamu undangan yang datang. Akhirnya dia temukan Lidia yang ternyata juga datang. Dengan dress baju minim kain, belahan rok yang tinggi dan belahan dada yang sangat jelas terlihat.


Dera juga tak melewatkan Lidia yang ada di kursi VIP sana. Dia kaget namun apalah daya, kini dia harus menutupinya dengan harus terus tersenyum di depan para awak media.


"Silahkan duduk Tuan dan Nyonya" ucap pembawa acara. Kendra yang mengetahui ada Lidia disana seketika mengubah posisinya. Yang awalnya dia ingin Dera duduk di samping Lidia, kini Kendra lah yang justru duduk disamping Lidia persis.


Maaf sayang, posisi ini yang memang tepat. Jangan cemburu dulu ya. Sabar sebentar.


"Untuk Tuan Kendra, silahkan jika ada sepatah duapatah kata sebelum meresmikan taman Butschard ini"


Kendra berdiri dari duduknya dan menuju podium. Jalan tegas dan tubuh yang tegak menjadi sorotan para tamu. Apalagi wajah tampan yang dimilikinya.


Melihat Kendra yang maju, Lidia langsung membenarkan posisi duduknya. Seakan seperti dia yang menjadi pusat perhatian. Dera yang melihat Lidia seperti itu langsung menunduk malas memperhatikannya.


"Assalamualaikum para hadirin, para tamu terima kasih telah menghadiri acara peresmian taman ini. Sebuah taman yang berawal dari seseorang yang sangat menyukai taman dan menjadikannya tempat untuk melepas segala penat yang dia rasakan. Sebuah taman yang juga menjadi impiannya namun tak pernah sekalipun disampaikan kepada saya.


"Ya, ini adalah istri saya. Satu-satunya istri saya dan selamanya tetap milik saya. Kenalkan, ini adalah Dera. Seseorang yang telah menerima dan memperlakukan saya tanpa memandang siapa saya dan jabatan apa yang saya miliki"


Dera memperhatikan suaminya yang ini begitu romantis dan mengakuinya di depan semua orang tentang pernikahan yang sempat di sembunyikan dari publik.


"Taman ini saya bangun, saya dedikasikan untuk istri saya. Dan bersyukurnya pula ini adalah kado atas pernikahan kami yang menginjak satu tahun dan kado atas kehamilan istri saya"


Mendengar kata kehamilan, Lidia langsung beranjak dari duduknya dan berniat untuk pergi.


"Gak bisa nih kalau bertahan terus disini. Hadirku juga gak diharapkan. Buang-buang waktu saja. Tunggu balas dendam ku Kendra. Sampai nanti di waktunya tiba, kau akan menyesal telah mengatakan semua ini pada banyak orang" batinnya dalam hati.


Namun ketika dia ingin pergi, langkahnya ditahan oleh Bagas. Dia sengaja menahan Lidia agar tidak pergi karena Bagas juga butuh teman untuk mengobrol nanti. Tidak mungkin jika nimbrung ke pembicaraan Danu dan Seva. Tapi mengapa pula Bagas tak mengajak istrinya? benar-benar tak berniat untuk berumah tangga.


"Nanti aja kenapa sih, kan lumayan dapat makan kan daripada lo beli haha" ujar Bagas dengan nada mengejek Lidia.


Di sisi lain, Mira yang melihat sebuah pengakuan dari Kendra merasa sangat bahagia. Finally, kebahagiaan yang sesungguhnya tiba.


"Aku ikut senang Rey, jika Dera mendapatkan sikap yang baik dari Kendra. Aku benar-benar tak menyangka, dia serius membuat sebuah kado yang terindah untuk Dera" ucap Mira dengan berbisik.


"Karena Kendra tidak akan main-main dengan cinta yang dimiliki. Sampai sejauh manapun Dera pergi maka dia akan mencari. Jika Dera marah maka apapun akan dilakukan untuk melihat senyum di bibir istrinya. Kamu mau seperti itu?" tanya Sekretaris Rey pada Mir.


"Ya tidak harus begitu sih, cukup bahagia dengan sederhana bagiku sudah sangat berarti. Yang penting apa-apa di cari bareng-bareng Rey. Bukan begitu?' jawab Mira.


Kendra melanjutkan ucapannya.


"Sebagai wujud bahagia saya, taman ini di buka secara gratis, tidak di pungut biaya apapun. Ada taman anak-anak dan segala mainannya yang berada di sebelah kanan saya. Serta jika mau menikmati keindahan taman ini apalagi ketika sore bisa menikmati di kursi taman.


Untuk itu, Saya Kendra Alexander meresmikan di bukanya taman ini. Silahkan bagi yang mau menikmati acara ini bisa memutari taman ini dengan jalan ataupun dengan naik mobil taman. Terima kasih atas perhatiannya, Wassalamualaikum wr.wb" Kendra turun dari podium dengan menggandeng tangan Dera.


Bagas yang terlihat panas, karena mantan kekasihnya bersanding dengan musuh bebuyutannya


"Sialan, dia memperkenalkan Der ke publik lagi ah. Gerakan ku mendekati Dera pasti akan diperhatian. oleh Orang banyak.


___&&_____


"Buuunn, sini bun sini. Kak Kendra dan Kak Der bun" ucap Dinda yang melihat acara peresmian taman tersebut.


"Wah iya nak, ayo kita tonton lagi", ucap Lestari yang kini meninggalkan sejumlah rotinya yang akan dimasak nanti.


"Bersyukur sekali ya Bun kak Dera dapat suami kayak Kak kendra. Mau kali pun dapat suami seperti itu" tutur Dinda dengan polosnya.


Tanpa terasa air mata menetes begitu saja ke pipi Lestari. Tiba-tiba dia merindukan sosok suami yang mengharapkan hal ini terjadi pada Dera semenjak dia dewasa. Namun sayangnya itu hanyalah angannya semata.


...__________...


...Tidak perlu mendapatkan orang yang sempurna untuk mendampingi hidupku. Cukup dia yang sayang aku dan mampu menerima kekuranganku sudah lebih dari ...