
“Semua gaya sudah dilakukan, ini hanya foto saja. Bibir kalian bersentuhan sedikit, gimana?” tawar Sis Meti
Hening…. Heningg
Belum juga dijawab photographer sudah mengarahkan posisi Kendra dan Dera
Akhirnya foto sesi ini diakhiri dengan adegan berciuman.
Jantung mereka berdebaran, hanya mereka sendiri yang mampu menyembunyikan dengan ego yang dimiliki masing-masing.
“apakah ini jatuh cinta?” ujar Ken dan Dera dalam hati.
………………………………………..
Prewedding pun selesai, akhirnya Kendra dan Dera kembali ke hotel.
Mobil mereka berhenti di sebuah Restoran.
Kendra yang sudah lapar segera memesan makanan, begitupun Dera.
Kendra yang memanggil pelayan dan memesannya dengan bahasa inggris.
"Kak, pesan Baklava , kokoretsi dan minumnya cay , kahvesi" ucap Kendra pada pelayan Resto.
"baik kak, ditunggu ya" jawab pelayan dan pergi melangkah menuju dapur
Setelah makan, Kendra segera meminta bill dan melanjutkan perjalanan ke Hotel.
...............................
Sesampainya di hotel
Kendra segera mandi dan Dera rebahan di ranjang.
ini penampakan hotel yang ditinggali mereka selama di turki.
Ponsel Kendra terus berdering.
“Lidia-Memanggil” baca Dera di layar ponsel Kendra.
Kendra yang mendengar ponselnya berbunyi segera mempercepat mandinya.
Setelah mandi dan bergantu baju, Kendra mengambil ponsel diatas nakas.
“aku angkat telfon dulu” kendra dengan membawa HP dan menjauh dari Dera. Sebenarnya Dera juga tidak terlalu kepo dengan nama Lidia, namun berbeda halnya nanti Ketika dia sudah menjadi istri Kenda Alexander.
Disudut sana, ada Lidia yang berusaha menelfon Kendra terus-terusan.
“Sayaangg, ko baru diangkat sih. Aku telfon sudah berapa kali coba? Ayo gih ketemu. Aku ada di bawah kamar kamu menginap” Lidia yang sedari tadi hanya merengek hanya dngar saja oleh Kendra
Tak lama kemudian Kendra beranjak pergi, berpamitan jika ingin mencari udara segar
……………………………………
Jakarta 20.00
Perbedaan waktu antara Jakarta dan Turkei adalah 4 jam lebih cepat dibanding Turki.
Sekretaris Rey yang dari tadi mondar mandir di ruang kerjanya memikirkan bagaimana kondisi Dera jika mengetahui bahwa calon suaminya ternyata sudah memiliki kekasih dan bagaimana bisa Lidia ke tempat yang sama dengan Ken saat ini.
“Pak Bos ko gak bisa dihubungi sih? Nanti bagaimana jika Dera dan Lidia ketemu coba, bisa hancur perjodohan ini bagaimana juga Lidia bisa ke sana” pikiran Rey semakin menjadi seolah jalan buntu yang dia temui. Akhirnya tak habis akal, dia meminta nomor ponsel Dera pada Lula.
“Hallo Dera, Pak Bos lagi bareng kamu apa gak?” tanya Rey yang mengkhawatirkan bos nya itu
“tidak usah khawatir Sekretaris Rey, Bos mu sedang keluar gak tau kemana. Mungkin cari udara segar” jawab Dera
Sekretaris Rey yang tak percaya begitu saja langsung menelpon ulang Pak Bos nya. Dia curiga bahwa Pak Bos nya sedang bersama Lidia dan meninggalkan Dera seorang diri.
……………….
Kamar 195
Di kamar ini, Kendra dan Lidia bercumbu mesra. Tidak ada yang tau bahwa Kendra secara tidak langsung telah mengkhianati perjodohan ini.
“sayang, jangan tinggalin aku dong. Apa kamu gak kangen sama aku?” ucap Lidia dengan suara merayu dan membuka kancing bajunya sedikit
“aku terpaksa harus menerima perjodohan ini yang. Jadi terpaksa hubungan kita backstreet dulu ya” jawab Kendra yang sudah mulai tergoda dengan lekuk tubuh Lidia
Sebenarnya sudah berkali kali Lidia mencoba menjebak Kendra, namun selalu saja Kendra bisa menahan nafsu birahinya. Itu yang membuat Lidia semakin tertantang untuk mendekati kendra.
Tak habis akal Lidia yang sedari tadi sudah menyiapkan obat tidur di minuman Kendra, akhirnya diteguknya perlahan. Dan itu membuatnya merasa sangat ngantuk.
Akhirnya Kendra tertidur di kamar 195, kamar Lidia.
Secara sengaja dia memotret posisi Kendra yang sedang telanjang dada.
……………………………………..
Kamar 189
Ada Dera yang masih menunggu pulangnya Kendra.
Malam semakin larut, masih di posisi yang sama Dera tertidur di sofa hingga pagi.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00
Kendra yang sudah bangun merasa pusing, kepalanya sangat berat. Dia melihat Lidia sedang make up di depan nakasnya.
"Sayang, aku balik ke kamar dulu ya, semalam aku ga pulang kamar. Takutnya nanti Dera mencariku dan melaporkan ke Mama Papa" ucap Kendra sembari memegang kepalanya.
"Lagi-lagi wanita itu. Kapan ada waktu untukku?" Lidia merasa dia tersisihkan semenjak ada Dera
"Nanti kamu minta apa aja deh, tapi jangan ngambek ya. aku pergi dulu.. Love u sayang" Kendra sembari berjalan menuju pintu
Lidia yang hanya mampu melihatnya melangkah pergi dan tak bisa berbuat apa-apa.
Kendra pun langsung menuju kamar Dera, di bukanya perlahan pintu, matanya tertuju pada posisi tidur Dela yang sedang duduk seakan menunggu kedatangannya.
“astaga, ni anak ngapain tidur disini? Apa semalem nunggu aku pulang?” Kendra berusaha membangunkan Dera dengan pelan dan merasa terharu dengan Dera.
Dera pun bangun, tanpa tanya sepatah kata pun pada Kendra. Dia berpikir bahwa itu bukan haknya jika harus bertanya lebih jauh.
“Dera, nanti jam 10 kita check out dari hotel dan kembali ke Indonesia. Segera bereskan pakaian yang kamu bawa kemarin” perintah Kendra dengan nada bersalah.
Dera yang dari tadi hanya diam, membuat Kendra kelabakan ada apa sebenernya dengan calon istrinya ini.
“pagi ini mau pesan makan apa Der? Akan ku telfonkan pihak hotel untuk menyiapkan dan membawa ke kamar” tanya Kendra
“samain saja sama Mas Kendra” jawaban Dera membuatnya kaget, karena ini pertama kali dia dipanggil “Mas” oleh wanitanya.
Tak perlu waktu lama untuk menunggu pesanannya datang.
Kendra dan Dera segera menyantap makanan yang telah di pesan.
Selesai mereka sarapan, lantas mempersiapkan barang bawaan yang akan dibawa pulang.
Setelah semua beres, sepasang kekasih itu berjalan menuju helikopter untuk pulang ke Indonesia.
Gak tau kenapa Dera dari tadi hanya diam tanpa kata, “Apa dia marah? Atau dia cemburu? Atau kenapa? Ah kepala ku pusing jika berhubungan dengan wanita” gerutu Ken yang dari tadi di pesawat hanya memandang gumpalan awan.
“Mas, tolong olesin ini ke leher belakang Dera, aku lemes banget mas” lagi-lagi Dera lemas karena perjalanan udara.
Dengan telatennya Kendra mengoles setiap bagian leher Dera.
“Buat tidur aja dek, nanti kalau sampe rumah Mas Kendra bangunin” jawab Kendra.
Mungkin panggilan Mas dan Dek lebih baik apalagi juga sebentar lagi kita menjadi sepasang suami istri.
Setelah hampir 22 jam helikopter mendarat di landasan rumah Alexander, seluruh keluarga menyambut kedatangan mereka.
Kendra yang menggendong Dera menjadi sorotan keluarga besarnya.
Tak khayal bahwa mereka berpikir bahwa sudah tumbuh benih cinta di hati Kendra.
“Kendra, kamu apakan anak orang? Ko sampai pingsan gini” panik mama Kendra yang berpikiran anaknya melukai calon menantunya itu
“Astagfirullah Mama, Kendra itu cuma gendong Dera tidur Ma, dia mabuk perjalanan” jawab Kendra sambil melanjutkan langkahnya menuju sofa ruang tengah.
“Bener lho ya kak, awas aja kalau macam-macam sama Kak Dera, rambut kakak yang klimis itu aku acak-acak” ancam Lula khawatir jika Dera di perlakukan tidak baik oleh Kendra.
Keluarga besar Alex dan Feri pun mengikuti Langkah Kendra. Papa Kendra hanya melihat sifat gentle man yang dimiliki oleh anak laki-lakinya itu.
Sedangkan Ayah Dera yang sedari tadi berusaha menahan amarah ingin menanyakan pada Kendra, akhirnya terjawab sudah bahwa anaknya hanya mabuk perjalanan
“Syukurlah, tidak salah pilih saya menerima perjodohan dengan keluarga Alex, dia benar laki-laki yang sangat baik dan penyayang. Semoga kamu akan Bahagia nak, jika hidup bersamanya” batin Ayah Dera berharap anaknya ditangan laki-laki yang tepat.
.
.
.
”Sadar atau tidak, tanpa kamu sadari telah membuatku jatuh cinta dengan segala pesonamu. Cantik dan baik hatimu tak ku dapatkan di kekasih yang Bersama ku saat ini -Kendra-
.
.
.
‘puji’
.
.
pantun
ada udang di balik batu
jangan lupa di like hyuu 😅