PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
EPISODE #44



Rey menghentikan langkah kakinya tepat di tangga puncak, tangannya berpegang pada tangga berkepal dan dengan sorot mata yang tajam.


“Hello Sekretaris Rey, aku kan cuma bercanda. Kenapa menanggapinya dengan serius. Jangan gitu nanti cepet tua hehe” Dera tetap bicara sambil bersenandung ria. Karena dia tidak tahu bahwa sebenarnya orang yang harus lebih dia waspadai adalah laki-laki di depannya.


Du du du du du


Dera melanjutkan langkah menuju dapur dan meninggalkan Rey di anak tangga.


Apa yang sebenarnya Anda inginkan Nyonya Dera.


Jangan sampai Anda membuat Pak Bos Kendra kecewa dengan sikap Anda.


Jikalau dia sudah menginginkan Anda, maka sampai kapanpun saya tidak akan membiarkan Anda lari, walaupun anda menolak sekalipun.


Camkan itu.


…………………………


“Bi tolong buatkan sup untuk Mas Kendra ya, katanya kurang enak badan” Dera menghampiri Bi Tirna yang sedang membuat menu sarapan.


“Baik Nyonya, nanti jika sudah siap segera saya antar di kamar Nyonya”


“Baik, terima kasih Bi”


Setelah berpesan pada Bi Tirna, Dera segera kembali ke lantai dua, tepat di kamarnya.


Di dapati Sekretaris Rey sedang duduk di sofa dan Kendra tidur di ranjang dengan sebagian tubuhnya memakai selimut tebal.


Wah wah drama apa lagi ini. Gak Pak Bos, gak Sekretaris sama-sama satu aliran. Aku harus gimana nih? pura-pura bodoh atau cuek aja??


Daripada bingung mending ikutin alurnya aja deh, nanti juga capek sendiri kalau emang pura-pura sakit.


“Kemana saja kamu,, lama banget cuma bilang gitu aja. Sudah tau suaminya lagi sakit begini” Kendra menggerutu karena Dera tak kunjung kembali setelah ditunggu hampir 5 menit.


Cuma di tinggal beberapa menit aja lama? terus aku harus di sampinya everytime?


Kalau dimana-mana katanya perempuan adalah makhluk paling benar dan selalu benar. Tapi kenapa ini aku malah kebalikannya? makhluk yang paling salah dan selalu tersalahkan. Huft.


“Ya, tadi kan aku ngobrol sebentar Mas. Kata Bi Tirna nanti sup nya di antar ke kamar”


Kalau sakit kenapa masih menjengkelkan seperti ini. Sama-sama tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit.


“Sekretaris Rey, tolong panggilkan perawat atau dokter keluarga khusus Mas Kendra. Kasihan jika kesakitan seperti ini. Tadi saya coba tawarkan untuk memanggil dokter tapi Mas Kendra menolaknya"


"Ya kan Mas" Dera memastikan.


Hahaha aku sengaja meminta sekretaris Rey agar memanggil perawat. Biar aku tau kamu beneran sakit atau pura-pura.


“Lalu apa gunanya kamu, jika sakit saja masih manggil dokter. Duduk”


Kendra menarik kakinya agar ada tempat Dera duduk di tempat tidur. Dia pun menurut, setelah dia duduk tiba-tiba Kendra menarik kakinya dan meletakkannya di pangkuan Dera.


Dia pun terkejut. Apalagi Rey yang masih dengan posisi duduknya.


Pak Bos Kendra bahkan membiarkan Nyonya Dera untuk menyentuh kakinya. Sepertinya sekarang dia sudah mulai meyakini fakta yang dia kumpulkan. Kalau Kendra sudah mulai membuka hatinya pada Dera.


“Argh, kaki ku sakit sekali” Kendra merintih kesakitan.


ha.. ha… ha… drama apa lagi ini. Dera tertawa dalam hatinya. Dan memperlihatkan sedikit senyumnya.


Rey yang mengetahui hal itu seketika berdehem.


Ehemm..


“kenapa Nyonya Dera apa ada yang lucu”


Sialan, bisa saja dia mengawasi ku sampai sedetail ini. Senang sekali rupanya kalau Kendra memelototiku.


“Gak ada, Sekretaris Rey salah lihat kali. Saya gak senyum sama sekali”


Jelas-jelas saya tau, Anda tersenyum mengetahui jika Pak Bos Kendra sedang sakit. Ada apa dengan Anda Nyonya Dera.


Ketukan pintu terdengar, lalu Bi Tirna muncul dengan membawa nampan berisi sup yang diminta Kendra.


Rey menerima nampan itu dan memberi instruksi pada Bi Tirna untuk memanggil dokter keluarga.


Bi Tirna menganggukan kepala lalu permisi keluar.


Rey menyerahkan mangkok berisi sup ke depan Dera yang sedang memijat kaki Kendra.


“Maaf sekretaris Rey, tapi tangan saya sedang memijit kaki Mas Kendra”


Tapi Kendra yang mengetahui hal tersebut malah mengangkat kakinya, menekuk lalu memindahkannya ke belakang tubuh Dera.


“Sudah Nyonya. Sekarang tangan Nyonya sedang tidak melakukan apapun”


Rey langsung memberikan semangkuk sup pada Dera.


Sial, bisa saja nih dua sejoli. Klop banget kalau digabungin.


Mau tak mau Dera menerima semangkuk sup dari Sekretaris Rey dengan kedua tangannya, masih sambil tersenyum, palsu.


Kenapa sih harus nyuapin segala. Kan bisa makan sendiri. Dia itu sedang berpura-pura sakit. Apa mereka sengaja mempermainkanku. Oke, Enjoy!!!


“Kau mau membuatku mati! ini sangatlah panas!" Kendra berteriak kesal.


“Maaf Mas, aku kan tidak tahu kalau ini masih panas. Dan meniup makanan panas kan juga tidak boleh Mas”


Kendra hanya diam kesal mendengar jawaban Dera.


“Nyonya kan bisa saja mengetes apakah sup nya sudah dingin atau belum dengan menggunakan bibir Anda” Rey dengan santainya memberi ide gila.


Sialan, kenapa ada aja ide yang terlontar dari mulutnya!


Secara tidak langsung itu kan ciuman bukan?


Dera melirik Kendra, laki-laki itu juga tidak memberi reaksi apapun. Akhirnya dia benar-benar menempelkan sendok ke bibirnya.


Setelah memastikan sup di sendok itu tidak panas, Dera mulai menyuapkan ke mulut Kendra. Sambil sekretaris Rey memberikan laporannya kini.


“Apa Pak Bos tau info terkini tentang Nona Lidia? Kini dia akan tiba di tanah air. Kalau Pak Bos mau, saya akan membawanya kesini”


Mendengar nama Lidia disebut Dera spontan melirik Rey, yang dilirik memberikan sorot mata tidak suka.


"Bukankah dia sedang melanjutkan modelingnya di Amerika?"


"Ini Nyonya Lidia akan melangsungkan fashion Show di daerah Kota Hujan Pak Bos. Ini dia sengaja memberikan undangan pada kami"


"Kapan itu?"


"2 hari lagi Pak Bos"


"Boleh Rey, atur saja jadwalnya. Aku akan bertemu di tempat modelnya besok” Kendra menjawab sambil mengunyah bubur.


Memang benar, cinta pertama tak akan bisa dengan mudah hilang ataupun lupa. Buktinya saja setelah diselingkuhi beberapa kali, Pak Bos Kendra pun masih mau bertemu dengan Nona Lidia yang jelas-jelas sudah berkali-kali pula mengecewakannya.


“Baik Pak Bos. Ini pakaian yang Anda pesan untuk Nyonya Dera” Rey menyerahkan paperbag yang telah dibawanya dari tadi.


Kenapa aku tak lihat dia tadi bawa paperbag. Apa di sembunyikan disuatu tempat? Atau dia telah belajar sulap. Hahaha.


"Mas Kendra datang saja, toh juga kalian pernah saling kenal kan?" ucap Dera yang merasa jawabannya sebagai jalan keluarnya.


.


.


.


puji


.


.


Bukan karena cemburu atau apapun sehingga membuatku mundur.


Tapi lebih kepada karena aku kasihan pada hatiku.


Biarkan dia istirahat sejenak.


Karena telah lama memperjuangkanmu.


.


Paham sampai sini?