
“Hi kakak, masak adik sendiri dikatain gesrek tante, Om.. padahal kan Dinda sedang membayangkan nanti setelah kuliah, menikah, dapat suami ganteng, kaya terus hamil gitu tante, om. Siapa tau bisa beruntung seperti kak Dera. Kan ga salah ya om ya” ucap Dinda.
Gelak tawa mewarnai obrolan pagi itu.
“Oh ya Kak Dera, menikah itu enak gak sih?”
“Emm bukan enak lagi, enak banget malah Din hehe”
jawab Dera dengan memegang jari jemari sang suami memperlihatkan romantisme nya.
Dinda yang seketika melihat langsung reflek memegang tangannya memperagakan tangan Dera dan Kendra.
“Wahh, semoga ya kak. Aku nanti cepet nikah juga hehe” seketika Novan menyentil kening Dinda.
Bisa-bisanya, ini bocah ceplas ceplos kayak bajaj. Tambah umur gak tambah pinter tambah gesrek aja, Dinda Dinda. Novan
“Kerja dulu kerja dulu” ucapannya mengingatkan sang adik.
Ayah Dera begitu bahagia diantara anak muda di sekelilingnya. Beliau ikut tertawa tentang obrolan ringan itu.
"Sudah sudah lanjutkan saja. Ayah mau nemenin Bunda masak dulu. Selamat senang-senang anak-anakku" ucap Ayah Dera.
Beliau beranjak pergi.
Untuk me unggu masakan dari Bunda Lestari, akhirnya mereka memainkan sebuah permainan yang sering dilakukan ketika bersama yaitu Permainan jujur atau lakukan.
Permainan di mulai dengan memutar botol yang ada di depan mereka.
Botol di putar hingga berhenti, tepat di hadapan Novan.
Dera memulai permainannya dengan memberikan pilihan kepada Novan, jujur atau lakukan. Dan dia lebih memilih untuk jujur.
Dera melontarkan sebuah pertanyaan pertamanya kepada Novan.
“Novan, jawab jujur! apa kau sudah mempunyai pacar?”tanya Dera menatap Novan.
“Belum” jawab Novan.
"Ah gak seru nih. Buruan cari gih, ganteng-ganteng ko jombles hahaha" ujar.
"Apaan tuh jombles" tanya Kendra dengan polosnya.
"Jomblo ngenes" jawab Dera, Novan dan Dinda bersamaan.
Gelak tawa pun terjadi.
Kini giliran Novan yang bertanya pada Dera.
“Kapan Kak Dera mulai jatuh cinta pada Kak Kendra?” ucapan itu terlontar begitu saja.
Kendra yang berada di samping Dera menatap juga penuh penasaran sedangkan Dinda hanya tertawa mengetahui sang kakak laki-lakinya memberikan pertanyaan itu.
“Kau ini kenapa bertanya seperti ini?” protes Dera.
“Dilarang protes sayang, ayo jawab jujur saja atau lakukan?” Kendra yang penasaran pun tak memberi celah Dera untuk menghindar menjawabnya.
“Baiklah, jujur. Ya..Kakak tidak tau mulai kapan jatuh cinta dengan Mas Kendra. Puas semua” ucapnya dengan menutup wajah dengan telapak tangan.
“Eh, tidak boleh seperti itu. Kakak hanya harus menjawab iya atau tidak” protes Dinda yang tidak terima dengan jawaban Dera.
“Ya, karena kakak juga tidak tau Dek”
Kendra mendengus kecil “Ya sudah kalau gitu. Aku juga tak tau mulai kapan jatuh cinta denganmu Dera” ucap Kendra dengan nada sedikit kesal.
“Bukan begitu Mas, kan cinta tidak tau kapan tepatnya tumbuh. Ya kan. Bukan kah sama? Mas Kendra gak tau pasti kapan cinta untukku tumbuh di hati Mas Kendra? Apa mas kendra bisa menjawab?” jawab Dera dengan mengeles.
“Nah loh, jadi runyam begini. Gak ikutan ah” tutur Dinda.
“Kata siapa aku gak tau? Aku tau. Tepatnya setelah hari itu” Kendra memberikan jawaban dengan kode kedipan mata yang membuat Novan dan Dinda bertanya-tanya. Sedangkan Dera yang memahaminya hanya diam saja.
“Oke, Mas Kendra sudah tau. Sekarang ayo kita lanjut lagi. Dinda dan Mas Kendra. Ayo kalian”
Waduh tanya apa ya sama Kak Kendra, belum juga pernah ngobrol.
Sebisa nya saja ah.
“Kak Kendra, apa yang kalian lakukan ketika kak Dera sedang marah?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Dinda.
“Oke gampang itu mah. Cukup kak Kendra peluk, cium udah mulai luluh ya kan sayang” jawab Kendra dengan nada menggoda.
“Haduh-haduh dek, kita disini ngontrak dek. Udah ayo bungkus aja bungkus, ayo pergi dek” ujar novan dengan bercanda.
"Iya nih, hareudang hareudang (panas panas)" tutur Dinda dengan mengibaskan tangannya.
“Sekarang giliranku Dinda. Mengapa kamu menuliskan sebuah inisial K Love D di meja belajarmu” pertanyaan Kendra membuat mata Dinda melotot ke Dera, karena itu pasti pertanyaan dari Kak Dera yang di bisikkan pada Kak Kendra.
“Alah ko itu sih kak pertanyaannya. Skip kak. Pasti itu dari kak Dera kan tadi" wajah merah merona mewarnai pipi Di da. Dia tak mau menjawab apa yang dikatakan Kendra sehingga dia memilih “Lakukan”.
Dera dengan cepat mengoleskan minyak angin ke hidung Dinda.
“Kak Dera.. kakak mengoleskan apa ini? Kenapa baunya seperti ini?” ucap Dinda sambil mengusap kembai hidungnya.
“Itu minyak roll on, buat masuk angin, whleee” ucap Dera sambil terkekeh dan menjulurkan lidah.
Ya Allah kenapa istri ku bersikap seperti anak kecil sekali.. berasa sedang momong anak-anak. Tapi tak apa, aku lebih menyukai dirimu yang seperti ini sayang. Batin Kendra.
“Kenapa hidungku jadi panas” ucap Dinda sambil mengusap-usap hidungnya.
“Ah, ya ampun Dek.. maaf kakak lupa.. minyak roll on ini kan memang sedikit panas”
Dinda menggerutu protes kepada Dera sedangkan Novan dan Kendra hanya tertawa kecil melihat ekspresi wajah Dinda, bahkan Dinda tak segan memukuli bahu Dera dan meminta pertanggungjawaban.
Gelak tawa mewarnai mereka. Betapa bahagia dengan cara yang sederhana jauh lebih berarti daripada harus bermewah-mewahan.
“Sudah-sudah ayo masuk dulu ke dalam. Kita makan dulu yuk” ucap lestari.
Lestari tiba-tiba datang dan meminta mereka untuk segera masuk ke dalam rumah. Karena makanannya sudah siap.
………………………………
Sedangkan di tempat lain.
“Bagaimana rencanamu kemarin?” ucap laki-laki yang ada di telpon sebrang.
“Gagal, Kendra gak membelaku sama sekali. Aapa aku masih dapat uang yang kau janjikan itu?” tanya Lidia.
“Udah gagal masih dapat uang, memang ya tetap saja dari dulu hanya uang, uang dan uang pikiranmu” ucapnya.
“Ya lah, kita kan gak bisa hidup tanpa uang. Yaudah segera transfer saja ke rekeningku. Akan ku susun lagi rencana hingga keluarga Kendra dan perempuan itu hancur”
Lidia yang berada di apartemennya meneguk beberapa gelas arak yang ada di mejanya. Beberapa hari ini pikirannya frustasi karena telah mencelakai pasangan Kendra.
Karena dia telah gagal mencelakai, dia harus berpikir keras bagaiamana cara untuk merencanakan rencana yang kedua.
“Lihat saja Dera, nantikan pertunjukan selanjutnya. Siap-siap saja apa yang akan terjadi hahaha”
Kondisinya yang kini sedang mabuk membuatnya kini sedikit sempoyongan.
…………………………………
Hello guys,, ini ada foto Novan nihh.. kalian boleh ko berimajinasi siapapun sesuai keinginan kalian..
nah ini guys..
gimana? cocok gak nih sebagai Novan 😅