
Hello guys, jangan lupa mampir ke novel HELLO, DOSEN KUTUBKU ya.
Maaf tadi sempat salah lapak yang seharusnya UP nya di HELLO DOSEN KUTUBKU malah terkirimnya di PLEASE, LOVING ME. Maaf ya.
Tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan follow. Terima kasih. Enjoyyyy.
__________
Malam ini Brian, David dan Leo sedang berada disebuah Mall. Mereka berniat untuk berbelanja. Walaupun mereka laki-laki tapi tetap saja shopping adalah prioritasnya. Jika tidak begitu mereka akan ketinggalan fashion pikirnya.
Setelah memilih baju dan celana sport, mereka lantas berpindah ke bagian sepatu.
“Bro, bagus yang merah apa yang hitam nih kalau di kaki gue?” tanya Leo yang memperlihatkan kaki dan di cocokkan dengan sepatu yang dia pilih. Brian dan David yang mendengar Leo berseru pun langsung menengok serempak. Mereka pun menimbang mana yang pas untuk Leo.
“Emm sepertinya merah cocok di kaki lo Le” ucap Brian dengan menunjuk sepatu warna merah.
“Tapi warna hitam lebih bagus Le. Lebih elegan, celana apa aja bisa masuk gitu warnanya” jawab David dengan memberikan pertimbangan.
Leo yang mendengar jawaban dari temannya namun berbeda pendapat malah membuatnya semakin pusing. “Gue salah minta pendapat dari lo berdua, malah yang satu merah yang satu lagi milih hitam. Masa gue beli 2 sih” celetuk Leo.
“Beli ya beli aja. Tinggal gesek juga” jawab David dan Brian bersamaan.
Itulah kebiasaan mereka. Pilih, beli, gesek. Begitu mudah memang hidupnya. Masalah uang pun tak menjadi masalah baginya.
Tak lama kemudian, David dan Leo pun meminta Brian untuk menunggu di sebuah kursi karena mereka akan ke kamar mandi. Mau tak mau Brian pun menyetujui.
Niat ingin beristirahat karena tadi dia sudah memilih sepatu dua dengan berbeda model, baju sport 1 dan celana sport 2. Ditambah lagi menunggu teman-temannya yang lama memilih baju maupun sepatu.
“Ahh enaknya nyender kayak gini” ucapnya dengan merebahkan tubuhnya ke sebuah kursi.
Tak lama kemudian ada anak perempuan yang mendekati Hendra karena berniat untuk mencari kakaknya yang terpisah di Mall.
“Nuwun sewu Mas, nopo ndek wau Mas e pirsa mbak kula njih?” tanya seorang anak perempuan yang mendekati Brian.
Anj!r, manusia dari planet mana nih. Mana bisa gue bicara bahasa itu. Mana ga ada pelayan Mall lagi. Batinnya dengan mengedarkan pandangan mencari seorang pelayan untuk membantunya.
“Nah itu dia. Mbak, sini-sini. Ada orang nanya” ucap Brian dengan memberikan kode tangan untuk mendekat.
Pelayan pun menghampirinya dan mendengarkan perintah Brian.
“Maaf Ka, saya tidak bisa bahasa jawa” ucapnya dengan membungkukkan badan sebagai arti maafnya.
Beberapa saat kemudian, Alula datang dari arah belakang. Dan menjawab ucapan wanita tersebut.
“Maaf dek, ono opo yo?” tanya Alula yang artinya Maaf dek, ada apa ya?
“Niku Mbak, wau njenengan pirsa mbak e kula mboten njih? Kula tlisipan Mbak” tanya nya pada Alula. Sedangkan Brian dan pelayan tesebut hanya saling pandang bingung dengan bahasa yang diucapkan oleh perempuan tersebut.
Sepertinya dia berasal dari desa, bisa jadi dia pertama kali ke Jakarta. Untung saja dia ketemu orang baik seperti Lula coba kalau engga udah di jahatin tuh pasti. Batin Brian yang tanpa sadar memuji kebaikan Alula.
Mendengar apa yang dikatakan perempuan tersebut, Alula lantas menerjemahkan pada pelayan. “Dia sedang mencari kakaknya. Apakah Anda tau tadi ada yang sepertinya kehilangan saudaranya?” ucap Alula.
“Oh iya Nona. Tadi ada seorang perempuan yang lapor ke salah satu security. Tolong katakan padanya Nona, untuk mengikuti langkah saya” pinta pelayan tersebut.
“Alhamdulillah mbak. Matur suwun njih mbak. Mpun cantik, apik sisan atine. Monggo mbak Mas" tutur anak perempuan tersebut yang artinya Alhamdulillah Mbak, terima kasih. Sudah cantik, baik pula hatinya” ucapnya lantas tersenyum pada Lula dan Hendra.
Setelah beberapa langkah dia pergi, anak perempuan itu kembali menghampiri Alula dan Hendra.
“Mbak, salaman” ucapnya dengan mengulurkan tangan dan disambut dengan Alula.
“Ati-ati nggih, ojo kelangan meneh” ucap Alula dengan mengusap kepala anak tersebut.
“Hehe, njih mbak. Monggo Mas” ucapnya pada Hendra dan dia pun bersalaman dengan anak itu.
Setelahnya anak perempuan itu pergi. Namun Hendra masih terpaku dengan anak perempuan tersebut yang semakin jauh.
“Hei, ngliatin apa? kasihan ya, dia kehilangan jejak kakaknya” ucap Alula mendekati Brian yang masih duduk di tempatnya.
“Wahh kerennn. Itu tadi apa bener bahasa jawa kan ya? Ko lo bisa sih” tanya Brian yang kagum dengan Alula.
“Iya. Itu tadi bahasa jawa. Sebenarnya Kakekku itu orang jawa jadi sedikit banyak gue bisa. Lo kira orang kayak gue gak tau apa-apa ya? Haha” ucap Alula yang membanggakan diri.
“Ya gak gitu sih. Ayo gue traktir makan. Sebagai balasan kalau secara tidak langsung lo udah bantuin gue tadi” ajak Brian.
Ayo dong mau, biar misi gue kali ini berhasil dan gue bisa nglakuin misi-misi selanjutnya buat ngedapetin lo. Batin Brian yang tak lupa dengan taruhan yang dilakukannya.
“Nah ini belanjaan siapa? Masa mau lo tinggal sih?”
“Gak apa-apa. Biarkan aja. Itu punya David dan Leo, belanjaannya akan ku titipkan pada pelayan itu aja, terus kita makan” gamblang Brian.
“Oke deh, yuk buruan. Gue juga daritadi nungguin Adel gak dateng-dateng. Padahal udah janji mau nonton” gerutu Alula yang masih di dengar Brian.
____________
Di rumah Alexander.
“Pa, kapan nih acara tujuh bulanannya Dera? Mama pengen masuk TV deh Pa” ucap Ayu yang manja pada sang suami.
“Mana Papa tau Ma. Lagian mama ngebet banget nongol di TV, apa bulanan yang Papa kasih masih kurang buat Mama?” jawab Alex.
“Bukan begitu pa, kan Kendra dulu sudah janji Pa. Ya kan? Papa inget gak?” niat ingin mengingatkan sang suami malah Alex berdiri dari duduknya dan mengambil sesuatu. Setelahnya beliau mendekati sang istri.
“Nih Ma” ucap Alex yang ternyata memberikan Cek sejumlah 500juta.
“Udah jangan ngarep masuk TV. Itu tu acara pasti ribet ma, mending biarkan menantu kita istirahat menanti hari kelahiran cucu kita” ucapnya lagi.
“Astaga Pa. Malah dikasih uang lagi. Uang bulanan yang papa kasih aja masih banyak banget” gerutu Ayu karena diberikan uang oleh suaminya.
..._______________ ...
...Kata orang, bahagia itu tidak hanya dengan uang....
...Tapi mereka lupa, dengan uang pula kita mendapatkan segalanya....
...Dan dengan uang juga kita akan tau mana yang akan tetap ada mana yang akan pergi ketika kita tak punya segalanya....