
Setelah mandi Kendra ke swalayan terdekat menggunakan motornya, karena memang tidak jauh.
“Apa perlu saya antarkan Pak?” tanya Pak Yanto yang melihat Kendra bersiap dengan motornya.
“Gak usah Pak. Jangan awasi aku. Aku cuma di swalayan depan” ucap kendra pada bodyguardnya.
Di swalayan dia bingung membeli pembalut merk apa. Dia lupa tidak menanyakan pada Dera.
"Merk apa ya.. terus ini ko ada yang sayap ada yang enggak. Apa sih ini??!! " Kendra kebingungan dengan rak pembalut yang ada di depannya.
Dia pun memegang pembalut satu per satu dan menekannya.
Dia memilih pembalut yang paling lembut. Karena dia pikir itu yang paling nyaman. Kendra membeli 10 bungkus besar pembalut.
Dia tidak mau Dera kehabisan stok lagi dan menyuruhnya membeli lagi.
Sesampainya di depan kasir, semua mata melihat ke arah Kendra. Mereka melihat ketampanan Kendra dan yang lebih menonjol adalah keranjang belanjaan Kendra yang berisi 10 bungkus pembalus besar.
Kendra benar-benar geram menahan malu.
Sesampainya dirumah, Kendra memberikan kresek belanjaan berisi pembalut pada Dera.
Dera ingin tertawa tapi dia menahannya. Bisa-bisanya Kendra membelikan pembalut sebanyak itu.
Apaan ini?? apa dia memintaku membuka toko pembalut?? banyak sekali. batin Dera.
Setelah Kendra memberikan pada Dera, dia menemui papanya yang sedang menikmati pagi hari dengan secangkir teh hangat.
“Papa, gimana kondisi papa? Apa sekarang udah enakan ?”
“Sudah Nak. Mana istrimu ko gak bareng tumben sekali”
“Dera sedang di kamar pa. Sebentar lagi juga ke bawah. Ayo kita sarapan dulu pa”
“Iya Nak”
Kendra mendorong kursi roda papanya menuju meja makan.
Sedangkan Dera setelah memakai pembalutnya menghampiri Kendra di meja makan bersama keluarga Kendra.
…………………….
Menjelang siang hari, Kendra dan Dera bersiap untuk kembali ke rumah.
“Pa, Ma, Kendra dan Dera pamit dulu ya. Karena ada kerjaan Kendra yang harus segera diselesaikan. Weekend nanti kami kesini lagi ya”
“Iya Nak, hati-hati ya”
Setelah cipika-cipiki antar mertua dan menantu, mereka kembali pulang.
………………………
“Pak Bos, ini ada beberapa berkas yang harus di cek ulang untuk kelangsungan proyek taman kota”
“Nanti Rey, ke rumah langsung saja. Ini aku dan Dera sudah on the way ke rumah”
Hampir satu jam berlalu, Dera hanya diam di dalam mobil. Kendra yang melihat istrinya hanya mampu memijit kaki Dera yang terasa kencang.
Sesampainya dirumah, Kendra sengaja menggendong Dera menuju lantai dua rumahnya.
Kendra memencet tombol lift rumahnya.
“Uh sayang ku kasihan sekali kamu sayang” Kendra mengecup kening Dera.
Namun Dera tak bereaksi apapun karena kini memang dirinya sedang sangat lemas.
Dera hanya membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia yang merasakan nyeri haid di perutnya.
Dia pun memegangi perutnya dan keringat dingin membasahi dahinya.
Setelah berolahraga Kendra merasa haus dan hendak turun mengambil air minum di dapur. Saat melewati kamarnya yang pintunya terbuka dia melihat Dera sedang berbaring di ranjang dan hendak menyuruhnya untuk mengambilkan minum di dapur tapi saat Kendra mendekat, diamelihat wajah Dera pucat dan berkeringat.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Kendra pada Intan.
“Sakit mas” jawabnya singkat.
“Kamu salah makan? Sudah minum obat?” tanya Kendra khawatir.
“Ini nyeri haid Mas” jawab Dera sambil meringis menahan sakit. Kendra pun ikut naik ke ranjang berbaring di belakang Dera dan memasukkan tangannya ke dalam kaos Dera lalu mengelus perutnya.
“Gimana rasanya?” tanya Kendra sambil mengelus perut Dera.
“Geli mas” jawb Dera.
“Maksudku sakitnya. Berkurang nggak?” taanya Kendra memperjelas.
“Ya, lumayan Mas” jawab Dera sambil tersenyum.
“Gak usah mas”
Berhubung Dera tak mau dibuatkan teh, dia pun akhirnya memposisikan tubuh Dera terlentang. Sambil mengelus perut Dera, Kendra mencium dan ******* bibir Dera. Dera pun membalas ciuman Kendra tak mau kalah.
..............................
Sore hari Dera bangun dari tidurnya dan tidak menemukan Kendra disampingnya. Dia pun bangun dan turun menuju dapur karena merasa haus dan lapar.
Dia melihat Kendra sedang makan di meja makan. Dera mendekat dan duduk di samping Kendra.
“Makanlah” ucap Kendra sambil menyodorkan makanan yang dia pesan di depannya. Dera membukanya dan memakannya.
“Mulai besok kurangi kunjungan ke restoran” ucap Kendra pada Dera.
“Lalu tugasku apa mas? Skripsi udah kelar, ke restoran kamu suruh jarang” tanya Dera di sela makannya.
“Melayani ku di ranjang” jawab Kendra spontan.
Uhuk uhuk uhuk
Dera tersedak mendengar jawaban Kendra. Dia menyerahkan segelas air di depannya pada Dera.
“haha. Ini kamu tinggal menunggu waktu wisuda, setelahnya mungkin kamu akan lebih sibuk karena ku perhatikan perkembangan restoran yang kamu kelola makin meningkat omsetnya” tammbah Kendra seraya menatap Dera.
“Iya mas. Ini juga berkat mas Kendra juga yang mengenalkan restoran ini ke kolega mas Kendra”
“Iyaa.. semangat terus ya sayang. Oh ya besok pagi kita akan ke rumah kakek Anggara. Jadi bangun lebih awal ya”
“Loh mau ada acara apa Mas?”
“Kurang tau, besok langsung ketemu disana saja. Karena papa dan mama juga akan kesana. Tapi nanti disana akan rame pastinya. Oh ya satu lagi, jangan lupa bawa pembalut. Jangansampai nanti kehabisan, bisa malu dobel aku”
“Iya mas, iya. Kan beliin pembalut juga demi istri to mas” jawab Dera jail.
…………………..
Semua keluarga berkumpul di kediaman utama yaitu Anggara. Rumah mewah sangat besar dan luas.
Anggara memiliki 20 karyawan yang bekerja di dalam rumahnya. Bangunan rumah ini pun bergaya Eropa di tengah-tengah rumah yang memiliki lantai tiga dan dua di sekelilingnya terdapat kolam renang yang sangat indah.
Rumah yang dulunya akan di wariskan pada Kendra namun di tolak oleh Alex karena dia ingin putra nya menjadi pria yang mandiri. Sejak saat itu rumah ini diatas naakan menjadi rumah Alula, putri bungsu Alexander.
Baru pertama kali Dera menginjakkan kakinya ke rumah ini. Sungguh keluarga suaminya ini sangat kaya raya.
Dera takjub dengan luasnya rumah ini yang seperti hotel. Baginya rumah ini tidak cocok dijadikan rumah pribadi tapi sebuah hotel berbintang.
“Ayo kita temui kakek di dalam” ucap Kendra.
“Mas, rumah kakek bagus banget tapi sayang ya sepi” ucap Dera.
Baginya rumah yang ditinggali dengan Kendra kini sudah sangatlah luas. Di tambah dengan 10 karyawan masih sangat sepi. Apalagi ini?
“Hustt, jangan gitu dek”
Dera spontan menuutup mulut nya dengan kedua tangan.
“Kenapa kakek meminta kita kemari Mas?” Dera semakin penasaran.
“Tadi kata Papa, ada yang ingin di bicarakan. Semua keluarga juga akan menginap disini” ucap Kendra.
Dera terkejut saat melihat makhluk genit yang sayangnya makhluk genit yang cantik itu adalah Renita adik Novan, yang tak lain adalah keponakan Dera.
Dinda sengaja tinggal di Jakarta karena memang kerja nya di Jakarta. Bersama Novan awalnya dia tidak ingin tnggal di rumah Dera, namun Mama Dera memaksanya untuk Renita dan Novan tinggal bersama mereka, dengan alasan agar rumah tidak sepi.
Sebenarnya Renita sudah pernah bertemu dengan keluarga Kendra saat pernikaan Dera. Namun Dera tak menyangka bahwa Renita kini bisa dekat dengan kakek Kendra.
Usia Renita dan Dera tak beda jauh. Namun Renita sudah di anggap seperti adiknya sendiri.
Sejak kapan Renita sangat dekat dengan kakek Anggara? Apalagi dia sampai membawa koper di sampingnya. Lantas juga siapa yang memberi tahu bahwa di sini akan ada acara? apa iya Mama memberitahu dia?
“Mbak” teriak Renita heboh. Dera menghela napasnya melihat penampilan keponakannya itu terlihat seperti turis kesasar dengan pakaian ala pantai dan topi besarnya.
“Kamu ko bisa kesini Re?” tanya Dera.
“Tadi kata Tante, kakak akan ke rumah kakek Anggara. Jadi aku kesini aja”
.
.
.
Author: salam kenal dari si cantik Renita guys...