
Hello guys, jangan lupa mampir ke novel HELLO, DOSEN KUTUBKU ya.
Kalau ada masukan, saran dan kritik akan Author terima ko. Maaf uploadnya lama karena waktu puasa membuat Author harus menyelesaikan segala pekerjaan dan harus membagi waktu. Mohon atas pengertiannya ya guys.
Tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan follow. Terima kasih. Enjoyyyy.
__________
Nah begini dong. Akhirnya urusan gue hampir selesai dan mempermudahkan gue untuk kembali pada hidup Kendra. Dan satu lagi, gue gak perlu lo Caitlin Wijaya. Kedatanganmu malah membuatku semakin pusing atas ke lola-an mu itu, belum juga bod0h pulaa. Hemm. Batin Lidia dengan senyum sumringah.
“Sudah lah anakku. Jangan pikirkan si istri Kendra itu. Oh ya mana istrimu? Seva. Rasanya sudah lama sekali dia tak ikut datang dan terakhir kesini sepertinya dulu waktu kamu meminta restu padaku” Ganang berusaha mengalihkan fokus Danu pada hal lain karena mengenai wanita hamil dia pasti sangat iba mengingat dirinya dulu Danu kecil pernah di sia-siakan oleh orang tua kandungnya.
“Seva ada dirumah Pa. Dia sedang istirahat karena kemarin habis ada acara kecil-kecilan dirumah” jawab Danu.
“Pah, kalau Dera gak ditemukan bagaimana?” tanya Danu yang lagi-lagi khawatir.
“Ya bagus dong Danu. Jadikan aku bisa kembali pada Kendra dan hidup bersamanya. Serta kamu akan hidup tenang tanpa ada sainganmu dimata Om Alexander. Bukan begitu om?” jawab Lidia yang meminta persetujuan Ganang.
“Iya betul itu Dan. Betul itu apa kata wanita ini. Ngomong-ngomong siapa namamu Nak?” tanya Ganang.
“Perkenalkan saya Lidia om. Mantan kekasihnya Kendra Alexander” jawab Lidia dengan ramah.
“Oke. Bisa kali ya kita kerja sama” tutur Ganang Hartono dan di lirik oleh Danu Hartono.
Klop banget nih bokap sama wanita uler itu. bener-bener super licik dan pinter masalah ngancurin orang. Batin Danu.
___________
Brian dan Alula telah sampai di tempat yang telah dipersiapkan. Sebuah taman dengan banyak bunga berwarna-warni, kolam besar di tengah dan ditambah sebuah sunset kala sore itu. Mobil telah berhenti dan mereka segera turun.
Mata Alula terpaku pada sebuah balon besar yang bertuliskan. “HELLO ALULA”.
“Wah, apa itu Yan? Apa itu untuk aku?” tanya Alula yang masih menerka itu adalah untuknya.
“Iya La. Itu untuk kamu” Brian menggandeng Alula mendekati tulisan yang ada dihadapannya.
“Karena kamu adalah wanita satu-satunya yang pernah ku ajak kesini. Kamu tau, ini adalah sebuah taman yang suka aku kunjungi bersama keluargaku. Dulu sewaktu aku masih kecil, orang tuaku setiap pekan mengajak aku kesini. Tapi lama-kelamaan, kesibukan mereka membuat aku merasa sendiri. Mereka hanya mencari uang, uang dan uang. Entahlah”
Alula yang mendengar cerita Brian pun menjadi terenyuh. Hatinya pun tersentuh dan pikirannya melayang. Benar saja, sebuah kesibukan orang tuanya membuat Alula kecil dulu di rawat oleh sang Kakek, Anggara. Pikirannya berputar beberapa tahun yang lalu, namun dia juga sadar akan kesibukan orang tuanya yang kini masa tua mereka dihabiskan dirumah bersamanya.
“Mereka begitu bahagia padahal hanya pergi ke taman dan mereka hanya membelikan anaknya satu balon saja. Begitu harmonis dan tak pernah ku dapatkan sebelumnya. Begitu bahagia bukan?” tanya Brian yang lagi-lagi membuat Alula terpaku.
Pasalnya dia tak menyangka bahwa seorang Brian memiliki hati yang lembut berbeda dengan sikapnya yang ada ketika di kampus.
“Yan, percayalah. Setiap apa yang orang tua kamu lakukan itu demi kebahagiaanmu. Percaya itu. Sama ko, aku dulu juga kecil dirawat oleh Kakekku, penuh tekanan dan sangat disiplin. Namun lambat laun dengan kesadaran orang tuaku, mereka kembali merawatku dan itu pun ketika mereka kembali menetap di Indonesia” jawab Alula yang memberikan semangat pada Brian.
“Iya La. Thanks ya udah mau baikan dan berteman denganku. Pasti kamu berpikir Brian yang ada di kampus dan disini berbeda ya? Haha. Itulah aku. Sebisa mungkin menutupi apa yang sedang ku alami. Terkadang hanya ada David dan Leo yang selalu ada dibandingkan teman baru yang membuatku merasa risih atas kehadirannya.
Mencerna setiap kata dari Brian membuatnya menjadi tahu sosok Brian seperti apa kini.
___________
Kendra, Sekretaris Rey dan Novan masih mencari keberadaan Dera. Perlahan mereka mencari sebuah bukti namun belum juga ditemukan.
“Ken, sepertinya pencarian ga bisa dilanjutkan. Ini sudah mau malam. Matahari pun sudah hampir tenggelam dan cahaya begitu minim. Bukankah sebaiknya kita susun rencana untuk melanjutkan pencarian besok?” ujar Novan yang sudah sangat hafal mengenai pencarian korban seperti ini.
“Benar apa kata Novan, Pak Bos. Nantinya daripada ada hal lain yang tidak kita inginkan. Bagaimana?” ucap Sekretaris Rey meyakinkan Kendra.
Mendapat saran dari Novan dan Sekretaris Rey membuat Kendra berpikir ulang. Dia tidak mungkin juga harus berjuang dan melanjutkan pencarian sedangkan suasana yang semakin malam.
Sayang, aku pulang ya. Semoga kamu masih bertahan dan aku akan berjuang sekuat tenaga ku sayang. Jaga baby kita baik-baik. Maaf aku sudah menuduh yang tidak-tidak sedangkan kamu disana sedang berjuang antara hidup dan mati. Ucap Kendra dalam hati yang pandangannya fokus pada titik jurang yang paling dalam.
Sebelum pulang, dia memastikan bahwa istrinya ada disana, dengan harapan dia akan menemukan Dera dan membawanya pulang bersama.
Novan dan Sekretaris Rey yang mengetahui hal tersebut seketika iba dengan Kendra yang biasanya bahagia dengan kehadiran Dera,begitu juga dengan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan pada istrinya kini harus bersedih hati karena Dera belum ditemukan.
Dera, segeralah kembali. Ada hati yang harus kamu jaga dan raga yang harus kamu sapa. Kembalilah Dera. Setidaknya dengan kamu berjuang disana itu lebih dari cukup. Aku janji besok akan segera menemukanmu. Aku janji, atas nama Mira sebagai sahabatmu dan aku sebagai orang yang dulu pernah menyayangimu. Batin Sekretaris Rey pada Dera.
“Ayo kak, pulang. Sudah hampir malam. Cahaya pun hampir tak terlihat” ucap Novan mengingatkan.
..._______________ ...
...Mencintaimu, tidak pernah ada dalam rencana hidupku. Namun pada suatu hari, dengan alasan yang belum ku pahami Tuhan menempatkanmu menjadi bagian terbaik dihati dan ingatanku....
...Jadi ketika nanti kamu menanyakan alasan mengapa aku bisa sejatuh ini dalam mencintai kamu, maaf aku tidak bisa menjawabmu. Sebab sampai hari ini pun, sudah berusaha aku mencarinya, tidak ku temukan jawabannya....
...Aku hanya berharap, perasaan-perasaan terbaik dan terburuk dalam mencintai kamu, tidak pernah merepotkanmu. Semoga perjalanan-perjalanan sulit ini, menjadi sesuatu yang dihitung baik dari Tuhan sebagai bentuk perjuangan. Aku tidak ingin apa-apa, aku hanya ingin dipercaya Tuhan, jika diatiku, cintamu akan tenang dan aman....