PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
episode #47



5 menit kemudian Nisa masuk lagi ke dalam ruangan Kendra membawakan segelas susu untuk Dera dan menaruhnya di atas meja Kendra. Setelah itu keluar dan menutup pintu kembali.


“Minum Susumu!” perintah Kendra pada Dera.


“Aku masih kenyang Mas, baru saja sarapan. Nanti ya mas” Jawab Dera.


“Sini!” Panggil Kendra sambil melambaikan tangannya. Dera pun berdiri dan mendekat kearah Kendra.


“Ini minum dulu. Nanti keburu aku meeting dan kamu gak jadi minum”


Dera akhirnya pun menuruti apa kata suaminya.


“Dera” Kendra memberanikan diri untuk mengutarakan apa yang di inginkan oleh orang tuanya.


Segala gengsi di singkirkannya dahulu hingga dia siap untuk memulai pembicaraan.


“Ya Mas” jawab Dera


“Apa kamu tak mau memiliki anak?”


Jederrrr


Jantungnya seakan berhenti memompa darah.


Bumi seakan berhenti dari porosnya.


Kilat seperti menyambarnya kini.


Ada apa ini? Tiba-tiba bicara tentang anak? Hal kegilaan apa lagi ini? Rey dimana kamu Rey, selamatkan aku dari bos mu ini.


Hening.


Dera pun tak menjawabnya, mungkin kini dia hanya salah dengar saja. pikirnya.


"Dera" Kendra berusaha menyadarkan Dera.


“Em ya pengen mas, Semua pernikahan pasti bertujuan memiliki keturunan. Percuma kalau punya banyak harta, tapi tidak punya anak. Lantas bagaimana dengan sikap Mas Kendra yang kemarin begitu acuh padaku? ” jawab Dera.


“Maaf Dera, sungguh aku khilaf atas perlakuanku kemarin. Mama dan Papa semalam telfon aku, mereka menginginkan cucu. Kata Mama, akhir-akhir ini penyakit Papa kambuh” Kendra menjelaskan pada Dera.


“Tapi aku masih kuliah mas, tunggu dulu hingga aku lulus bagaimana?” tanya Dera berharap Kendra menyetujuinya.


“Enggak bisa. Umurku sudah 30 tahun. Jangan menundanya lagi” Kendra lalu mencium bibir Dera.


Dera membelalakan matanya karena terkejut.


“Mmmmm… Mmm….” Dera berontak sambil memukul dada Kendra.


“Apa?” tanya Kendra setelah melepas ciumannya.


“Tapi aku belum siap mengandung mas”


“Sudah resiko kamu menikah dengan pria dewasa” balas Kendra lalu mencium bibir Dera kembali. Tentu saja Dera terkejut. Kendra membaringkan tubuh Dera di sofa, dia naik diatas tubuh Dera.


“Mas..” ucap Dera seraya mencegah Kendra melepas jas nya.


“Kenapa?” tanya Kendra.


“Aku takut” jawab Dera


“Yaudah kalau begitu siapkan dirimu dulu, mungkin bisa besok atau lusa kita coba lagi”


“Baik mas, maaf ya belum bisa melakukan sekarang.”


“Iya tak apa. aku lanjut kerja dulu ya”


Dera masih mematung di tempatnya.


Dirinya berada habis tersengat listrik. Tiba-tiba saja dia gemetaran.


Bisa-bisanya aku hampir melakukannya di kantor, aku ga habis pikir sama Kendra. Begitu napsu nya sudah memuncak saat itu.


Dilihatnya kendra yang sudah mulai tenggelam dalam kesibukannya. Setumpuk berkas sudah harus dia tanda tangani mengingat beberapa project yang harus segera terlaksana.


Kendra yang juga masih gugup atas apa yang terjadi, segera kembali ke kursi kerjanya. Dia meninggalkan Dera di sofa.


Bisa-bisanya dia gak mau berhubungan denganku. Kan aku kaya, mapan, tampan. Bisa-bisanya menolak. Harga diriku sudah jatuh juga. Duhh.. Kendra.


“Mending kamu ngerjain skripsi mu agar cepat kelar. Toh juga lebih cepat lebih baik” Ucap Kendra untuk mengurangi rasa canggung diantara mereka.


“Aku kan gak bawa laptop mas. Bagaimana aku bisa melanjutkannya?”


Dilihatnya sekitar Dera memang tak membawa laptop. Pastilah segala berkas, jurnal, penelitian pun ada di laptopnya.


“Aku akan meminta Pak Yanto untuk mengambilnya”


“Baik terserah Mas Kendra saja”


Dera nurut apa yang dikatakan Kendra.


Kendra menekan tombol di telfon kantor. Dia meminta Nisa untuk menghubungi Pak Yanto, agar membawa laptop milik Dera .


"Sudah saya telfon kan Pak Bos. Katanya macet di lampu merah. Harap tunggu 10 menit lagi.Beliau akan datang pak" jawab Nisa.


Dera yang keluar dari kamar mandi, bersamaan dengan Pak Yanto yang masuk ke ruangan Kendra.


"Loh, Pak Yanto. Ko cepet banget Pak" tutur Dera dengan membenarkan rambutnya.


"Cepet apanya. Ini hampir 45 menit. Sudah Pak sana, balik kerja lagi" jawab Kendra yang sedikit kesal dengan Pak Yanto.


“Iya Pak Bos, Maaf.. Ini ya Pak laptopnya” Pak Yanto sembari menyerahkan laptop abu-abu dengan simbol apel tak sempurna.


“Hm, kembalilah”


Kendra memberikan laptop pada Dera. Dan Dera pun segera membuka dan melanjutkan skripsinya. Satu persatu file di buka, hingga jurnal-jurnal yang diperlukan.


Kendra yang melihat Dera sibuk dengan laptopnya, tidak sekalipun mengganggu. Semua larut dalam kesibukan masing-masing.


Hingga jam istirahat.


“Pak Bos gimana tadi berhasil?” Tanya Sekretaris Rey yang duduk di depan meja Kendra.


“Hust pelan-pelan saja. Nanti kalau di kedengeran bisa malu aku” Kendra menjawab dengan nada berbisik.


Di liriknya Dera sedang fokus sama makanan yang ada di depannya.


“Tadi gimana? Berhasil atau gagal?” Rey bicara dengan nada pelan. Dia pun ikut berbisik.


“Gagal Rey, dia belum siap”


“Ya udah nanti malam jangan lupa pergi ke fashion show Nona Lidia”


“Hm ya”


Sekretaris Rey kembali ke ruangannya.


DI sisi lain, Dera meminta Nisa untuk memesankan makanan untuk dirinya dan Kendra.


Karena dia tidak mungkin makan siang diluar ruangan Kendra.


Dera menunggu hampir 20 menit, dan pesanannya datang.


“Mas, makan dulu. Ini sudah ku pesankan makanan di kantin tadi” ucap Dera.


“Ya, tunggu sebentar. Aku akan kesitu”


Kendra berdiri dan menghampiri Dera untuk makan siang Bersama.


“Oh ya jangan lupa nanti malam ke acara Fashion Show Lidia dan gunakan gaun yang telah ku berikan kemarin”


“baik mas”


………………………………


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Kendra dan Dera sudah bersiap ke acara Fashion Show Lidia. Begitu juga sekretaris Rey.


Dera berdandan dan bersiap diri. Bersolek dan tak lupa di semprotkan parfum untuk menambah aroma segar, Baccarat.


“Wahh cantik sekali Kakak Iparku ini. Harum lagi”


Lula masuk ke kamar Dera, karena melihat pintu kamar yang terbuka.


“Loh iya Lula. Beneran kan gak bohong?”


“Bener kak. Sebentar ini rambutnya yang belakang aku rapikan sedikit ya”


“Iya La, silahkan”


Kendra dan Rey yang sudah berada di ruang tamu, melihat kearah Dera dari lantai 2, bak princess yang berada di kayangan.


Cantik, anggun. Bahkan Kendra gak sadar jika dirinya terkesima dengan kecantikan istrinya.


Cantik banget dia kalau dandan gini. Wajahmu mengalihkan dunia ku Dera Ananda.


Lula yang berada di samping Dera seolah membanggakan diri karena dirinyalah yang mendandani Kak Iparnya.


"Hem cantik kan Kak Iparku. Siapa dulu yang make up in. Alula gitu loh haha"


.


.


.


puji


.


.


Cinta yang tulus, adalah cinta yang tanpa memandang fisik. Karena cinta yang tulus akan tercermin dari hati, bukan dari manisnya janji.