
Hello guys, maafkan ya, uploadnya jadi lama. Soalnya lagi banyak kegiatan yang ga bisa di tinggal. Semoga kalian tetep support author ya. Terima kasih (emot love)
Jangan lupa like, koment dan follow ya.
______
Apartemen Sekretaris Rey.
"Terima kasih ya Mir sudah menerima ku. Semoga hubungan ini akan berlanjut ke jenjang yang serius. Nanti kalau pekerjaanku sudah agak longgar, aku akan meminta restu pada Papa dan Mama mu dan segera menghalalkan hubungan ini" ucap Sekretaris Rey dengan serius menatap dan menggenggam tangan Mira.
"Iya Sekretaris Rey. Aku pun berharap yang sama. Semoga saja ya, hubungan ini tidak sia-sia. Emm terima kasih ya sudah menerima ku apa adanya juga. Ada sesuatu yang belum ku ceritakan tapi tunggu waktu hingga ku siap menceritakannya. Tak apa ya?" jawabnya dengan perlahan membuka rahasia yang disimpannya.
"Iya Mir, tak apa. Dan satu lagi janganlah memanggilku seperti itu, panggil Rey saja kalau enggak sayang juga boleh hehe" canda Sekretaris Rey yang membuat pipi Mira menjadi semu merah.
"Huuu mau nya" ucap Mira dengan mencubit kecil bahu Sekretaris Rey.
"Oh ya, ayo tidur dulu. Sudah malam, sudah kenyang pula" ujar Sekeretaris Rey yang memegangi perutnya yang kenanya.
Saat ini pun sebenarnya Mira masih tak menyangka bahwa sekarang dirinya adalah seorang kekasih dari sekretaris Rey. Dulu saja kalau tau ceritanya tentang sekretaris Rey dari Dera pasti Mira ikut jengkel karena sikap yang kaku dan keseriusannya bekerja pada Kendra. Namun kini dirinya sudah tau tentang sifat asli Sekretaris Rey yang sangat manis.
"Eits, kamu tidur di sofa loh ya. Awas jangan macam-macam dulu Rey" titah Mira yang takut kelewat batas antara dirinya dan Sekretaris Rey.
"Iya siap tuan putri sayang. Besok aku akan beli tempat tidur baru, jadi walaupun satu kamar tapi tempat tidur kita tak sama" ujar Sekretaris Rey.
"Oke deh, ayo tidur. Good night Rey"
"Good night too sayangku"
___________
"Target sudah di genggaman ku, lantas apa langkah kita selanjutnya?" sebuah pesan singkat sengaja Lidia kirimkan ke Danu Hartono.
"Konsultasikan dengan Bagas juga, bagaimana baiknya. Jangan lupa lusa adalah pernikahanku. Ku tunggu rencana kalian disini" jawabnya.
Sembari menunggu Caitlin menghabiskan makanan Lidia dan Bagas saling lempar tatapan.
Cantik-cantik makannya banyak juga ya. Tau begini aku tadi yang pesenin aja biar dia ga makan terlalu banyak. Jadi lama juga kan kalau disuruh nunggu begini. Gerutu Lidia sembari meneguk coc@ colanya.
Berbeda dengan Bagas yang saat ini sedang slow dan menikmati setiap tarikan dari vape yang di hisapnya.
"Caitlin, masih lama kah? ini sudah hampir jam 12 malam. Soalnya aku besok ada kerjaan, bukan begitu Bagas?" Lidia mencari dukungan dari Bagas agar dia mengiyakan.
"E e e iya Cait. Besok ada kerjaan soalnya", jawab bagas dengan gagu.
"Sebentar lagi, Pasta ku belum habis, dan aku butuh wine. Apakah disini ada Wine? coba tanyakan ke waiters" tutur Caitlin yang membuat Lidia naik pitam, namun lagi-lagi harus di tahan.
Sialan wanita ini, bisa-bisanya dia menyuruhku seperti itu. Dia ga tau apa kalau aku ini adalah salah satu model di tanah air. Orang cantik begini ko disuruh-suruh. Huft. Batinnya sambil mengibaskan rambut yang sedang terurai.
Bagas yang melihat raut wajah Lidia yang berubah menjadi kesal, dia pun menahan tawa. Betapa bahagianya dia melihat sang mantan di kerjai oleh Caitlin.
Sukurin, rasain kau wanita bedeb@h.
"Oke Cait, tunggu ya. Ku tanyakan dulu, siapa tau ada" ujarnya dengan medekati waiters yang ada di tempatnya.
"Apa ada stok wine? temenku memerlukan" pinta Lidia dengan nada ketus.
Tanpa basa-basi, Lidia jalan kembali ke tempat duduknya dan disusul oleh waiters tersebut dengan membawakan sebotol wine dan gelasnya.
"Maaf Nona, ini pesanannya" ucapnya.
Tanpa menjawab apapun Caitlin lantas minum seteguk demi seteguk wine. Lama kelamaan hampir dua botol dia habiskan.
Gila apa ya ni orang, bisa-bisa nanti kalau makin banyak minum makin teler bisa berabe gue. Mending gue paksa pulang aja sekalian sekarang.
Sekali, dua kali percobaan untuk mengajak Cait pulang pun gagal.
30 menit telah berlalu.
Cait yang kini sedang teler membuat Lidia lagi-lagi seperti di prank. Bagaimana tidak? Lidia dan Bagas harus menggendong dan mengantarkan Lidia di apartemennya. Belum juga harus membawa tas dan kopernya.
"Sialan wanita ini. Udah kenyang mabuk pula 2 botol tadi. Gil@, bener bener gil@. Kalau ga butuh bantuan lo ga butuh gue berkorban sebegini amatnya" gerutu Bagas yang menggendong Cait.
"Demi cuan, demi cuan" jawab Lidia.
__________
Pagi harinya di kediaman Alex.
Semuanya sedang berkumpul di gazebo belakang. Bercengkrama dan sesekali membahas tentang Brian semalam yang datang ke rumahnya.
"Eh dek, kamu tau gak? semalem kakak hampir saja ngetes dia untuk ini itu. Ee taunya malah keasikan ngobrol sampe malem. Besok-besok suruh kesini lagi ya" ujar Kendra pada sang adik perempuannya
Begitu juga Ayu, Alex dan Dera yang sama antusiasnya jika diminta membahas tentang Brian.
"Iya, anak itu memang baik. Kemarin itu waktu dia tak sengaja menabrak kakak, dia minta maaf sejadinya, apalagi kakak sedang hamil besar begini" ucap Dera dengan mengelus perutnya.
"Ya deh ya. Dimata kalian semua memang Brian top markotop, tapi ya gimana ya? Lula dan Brian itu hanya sebatas teman saja. Tapi papa gak pernah percaya sih, mama juga" tutur Alula dengan cemberut di depan keluarganya, agar mereka tau bahwa dia dan Brian tak ada hubungan serius.
"Memang dia itu perfect Nak, apalagi buat di jadiin calon suami. Idaman pokoknya deh hehe. Udah stop dulu bicara soal Brian. Ini ada info tak kalah penting nih, ternyata besok itu adalah hari pernikahan Danu dan Seva. Kita mau barengan aja semobil apa gimana?" Ayu memberikan usulan untuk mempermudah mereka berangkat.
"Bareng aja dari sini ya yang. Kita malam ini nginap di sini saja, bagaimana? apa kamu setuju?" ajak Kendra pada sang istri. Yang pastinya Dera hanya menurut apa katanya.
"Ya mas, aku ngikut Mas Kendra saja. Tapi kita belum beli kado untuk mereka lho mas, apa mau memberinya uang saja?" tanya Dera.
"Uang sajalah yang, daripada nanti kado malah bawa-bawa juga tambah repot kan?" jawabnya.
"Oke berarti besok kita berangkat bareng kan ya"
...____________...
...Dari perkenalan itu aku mengenal kamu....
...Hal demi hal pun yang ku lakukan teringat tentangmu....
...Ku harap, hadirmu tak hanya singgah....
...Namun juga sungguh yang membuatku tetap bahagia dengan utuh....