
Jangan lupa vote dan sarannya ya man-teman.
Karena saran dan masukan dari kalian itu penting banget.
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semaangat update cerita ini
Terima kasih sudah membaca ceritaku
Dan jangan lupa memberi bintang 5 ya🌟🌹
Happy reading
🌹☺️
“DOPRAK PINTUNYA!!" titah Kendra pada sang bodyguardnya.
Padahal sebenarnya ada kunci serep, namun bagi Kendra itu terlalu lama karena harus mencari dan membuang-buang waktu saja.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Akhirnya pintu pun terbuka.
Ya, Nurul ada di dalam gudang dengan menelungkupkan wajahnya.
Kendra menepukkan tangan dan membuat Nurul kaget bukan kepalang.
Ha, bagaimana ini. Pak Bos Kendra pasti mencariku, sesuai dugaan yang telah ku pikir sebelumnya. Aku harus apa Ya Allah.
“HEBAT SEKALI KAU, ****!!” Kendra menampar pipi Nurul dengan segala tenaganya.
Auwww.
Nurul memegangi pipinya yang kini seperti mati rasa.
Rey benar-benar kaget, tidak tega melihat wanita di sakiti oleh laki-laki. Sama juga dengan bodyguard yang di belakang Kendra.
Salah satu pria spontan memegang pipinya, bak merasakan rasa sakit yang sama. Dia pun merintih kesakitan. Aduh.
Pria yang di sampingnya pun seketika menyenggol
"Hust, diam. Di marahi Pak Bos baru tau rasa lu" seketika semuanya diam.
“Ma.. af Pak.. Bos. Saya tidak tau jika akhirnya Nyonya Dera mengetahui kamar itu. Saya kira pintunya sudah saya tutup. Maaf Pak Bos, saya tidak sengaja” Nurul menangis sejadinya karena dia tau apa yang akan Kendra lakukan pada orang yang membuat permasalahan dengannya.
Dahulu ketika Nurul masih kecil, tak jarang dia melihat bahwa Kendra melakukan hal keji pada orang yang berani membohonginya.
“Seret ke ruang utama” perintahnya pada sang bodyguard.
Kendra berjalan duluan. Dia duduk di kursi kebesarannya dengan aura mengintimidasi. Aura menakutkan dan menyeramkan sangat kental dan terasa.
Vas dan beberapa bala pecah pun telah hancur tak berbentuk karena Kendra membantingnya. Sungguh saat mendengar bahwa istrinya telah mengetahui semua fakta tentang kamar itu, Kendra tidak dapat mengontrol emosinya.
Apalagi Dera istri tercintanya telah berubah sikap padanya dan membuatnya membenci Kendra. Kendra benar-benar benci itu.
“Jadi apakah kamu orang nya yang membuka pintu kamar itu hingga tak kau kunci lagi!” ujar Kendra dengan suara yang menakutkan dengan wajahnya yang datar.
Bi tirna sebagai ibu yang melahirkan nurul pun merasa tak tega dan tak terima jika anaknya di perlakukan seperti itu. Beliau pun maju ke hadapan Kendra untuk memohon agar dia tidak memberi hukuman pada Nurul.
“Pak Bos, saya mohon. Jangan apa-apakan anak saya. Saya berjanji akan melakukan apapun untuk anak saya yang penting jangan siksa dia Pak”
“Sudah Bu, tak apa. Biarkan Nurul saja yang menanggung semua ini. Maafkan Nurul bu. Nurul telah lalai” Dia meminta sang ibu untuk kembali ke barisan para maid karena dia tak mau jika sang ibu menjadi korban kedua atas kelalaiannya.
Kendra hanya tersenyum sinis dengan bibir sebelah terangkat ke atas melihat sebuah tontonan sang ibu dan anak tersebut.
“JAWAB!!” Kendra memperkeras suaranya agar Nurul membuka suara.
“Oke, jika kau tidak ngaku. Akan ku anggap kau sebagai pelakunya” Kendra mengeluarkan pistol kesayangannya dari laci.
Jantung berderak tak beraturan. Nurul ingin mengaku tapi perasaan takut mendominasi dirinya.
Satu
Dua
Tiga
Empat
Lima
Dengan perasaan takut, Nurul memberanikan diri menjawab.
“I.. Iya. Sa..Saya yang lalai da…lam menutup pintu kamar tersebut Pak” kata Nurul sambil menundukkan wajahnya.
Bi Tirna pun kaget. Tak menyangka bahwa anaknya benar-benar bersalah.
“Nak, tolong katakan itu tidak benar nak” kata Bi Tirna sambil menatap lekat wajah Nurul. Mencoba untuk mencari sebuah kebohongan dari kedua bola matanya. Namun, sayangnya tidak ada kebohongan dari wajah aanaknya tersebut.
“Kau tau bukan bayaran yang harus diterima dari seorang yang lalai sepertimu?” Kendra berjalan sambil berhadapan dengan Nurul. Di cengkramnya rahang Nurul dengan kuat. “Nyawamu” sebuah seringai terukir di bibir tipis itu. Membuat penghuni rumah mewah itu langsung terdiam dan membeku ditempatnya. Tidak tau harus berbuat apa.
^
Dera yang telah merencanakan untuk pergi ke rumah Mira pun segera memutar otak untuk bisa keluar dari rumah mertuanya.
“Oh ya, kenapa aku tak beralasan ingin ke taman. Pasti kan di ijinkan” akhirya sebuah ide pun didapatkan.
Setelah menelpon Mira, dia pun bergegas untuk keluar rumah. Tak tampak gerak gerik yang mencurigakan.
“Sayang, mau kemana? Ayo sini duduk dulu bersama kami” ajak sang mertua agar Dera mau menikmati cemilan dan minuman bersama.
“Mama, Papa.. Dera ijin ya, mau ke taman sebentar. Tapi Dera sendiri saja, tidak usah dengan bodyguard, kan tamannya juga dekat Ma, Pa” pamitnya pada sang mertua.
“Oh ya juga sih Pa. Ya sudah ijinkan ya pa. Dari pada di rumah, Alula kan juga kuliah” ucap Ayu yang meminta Alex untuk menginjinkan.
“Ya Nak, silahkan. Boleh ko. Hati-hati ya”
Syukurlah boleh, akhirnya aku bisa kabur ke rumah Mira tanpa harus bersusah payah kabur dari Mas Kendra.
Dera menuju ke rumah Mira.
Kring
Kring
Kring
Tertera nama Mira disana. Dera pun menggeser tombol untuk menerimanya.
“Dera, kamu sudah on the way belum? Apa perlu ku jemput?” tanya Mira dalam telpon.
“Tak usah Mir. Aku sudah naik taksi, aku sengaja tidak menggunakan mobil agar tak ada orang yang membuntuti ku” jawab Dera dengan celingukan memperhatikan sekitar.
“Nanti ke rumahku dulu. Tapi kamu nginepnya di rumah tanteku gak apa-apa kan ya? Takutnya kalau disini, nanti Rey tau malah di sampaikan ke Kendra bisa mati aku” ucap Mira.
“Iya Mir, gak apa-apa. yang penting aku bisa lepas dari Kendra dulu”
Dera yang pergi hanya membawa ponsel dan beberapa uang saja. Bahkan semua fasilitas black card dari Kendra pun di taruh di atas nakasnya. Dia juga membawa buku kehaamilan untuk agar bisa kontrol mengenai kehamilannya.
Hampir setengah jam perjalanan, akhirnya sampai di rumah Mira. Dia pun segera membayar beberapa lembar uang pada sang driver.
“Dera.. Ya Allah ko bisa kayak gini sih Der. Sini masuk dulu yuk” Mira menyambutnya tepat saat taksi warna biru pun berhenti.
Setelah masuk, Dera pun sudah meminum sedikit air, dia mulai menceritakan seluruh permasalahan pada Mira.
“Mir, kamu tau kan, awal pernikahanku dan Kendra hanya berasal dari perjodohaan. Dan apa kamu tau yang membuatku sakit hati apa?”