
Pagi harinya semua sudah kembali ke aktivitas masing-masing.
Kendra terlihat sibuk menandatangaani dan memeriksa setumpuk dokumen di hadapannya.
Sesekaali tangannya memijit pelipisnya yang terasa berdenyut ketikaa melihat beberapa data tidak sesuai keinginanya.
“Rey” panggilnya pada Sekretarisnya.
“Iya Pak Bos” sahutnya.
“Kembaalikan lapporan kunjungan ke perusahaan Dirgantara dari HUMAS sekarang. Suruh mereka memeriksanya kembali karena laporan mereka sungguh berantakan!” makinya menaruh kasar laporan di sudut meja kerjanyaa.
“Saya sudah menandai aapa saja yang harus mereka perbaiki. Dan jangan berikan lagi kepada saya laporan sampah seperti itu” lanjutnya berang.
“Baik Pak Bos!” Sekretaris Rey segera melakukan titah bosnya. Entah kenapa sejak pagi bosnyaa itu selalu marah akan kesalahan sekecil apapun itu.
Deringan telepon memekakkan telinga membuat Rey menghentikan kegiatannya. Dia menerima laporan dari pihak proyek mengenai proses perkembangan pembangunan jembatan.
Cepat-cepat dia memberikan informasi pada Pak Bosnya.
“Maaf Pak Bos, pihak lapangan menyampaikan bahwa proses pembangunan jembatan tidak sesuai dengan rencana bahkan jembatan yang baru jadi setengaahnya hampir roboh karena bahan-baahan yang digunakan tidak sesuai dengan mestinya. Sepertinya ada oknum-oknum yang menyalahgunakan anggaran dari proyek ini”
Mendapat informasi seperti itu membuat Kendra makin geram.
“Bisa-bisanya ulah orang di luar sana seperti itu. Dulu dengan proyek taman juga seperti itu. Ini proyek jembatan juga sama. Harus di apakan oraang seperti itu Rey!!”
Tanpa pikir Panjang Kendra memerintahkan Rey untuk bersiap ke proyek tujuan.
Kendra dan Rey nampak berjalan tergesa-gesa melewati lobi menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan lobby.
Aura kemarahan terlihat jelas di raut wajah tampannya yang membuat orang-orang yang berada di sekitarnya bergedik.
Tujuannya saat ini adalah segeraa berangkat menuju bandara untuk terbang ke kota tempat proyek jembatan berada, menggunakan pesarat pribadi keluarganya yang sebelumnya sudah di konfirmasikan oleh Sekretaris Rey pada pilot untuk bersiap-siap.
Rey juga memberi kabar pada Dera bahwa suaminya kini akan pergi ke kota tetangga untuk meninjau perkembangan bisnisnya.
"Kau sudah mengabari istri ku Rey?" tanya Kendra.
"Sudah Pak Bos" jawabnya.
Pesawat keluarga Alexander nampak mengudara. Kendra duduk d salah satu kursi dengan Sekretaris Rey di sampingnya.
“Kau sudah menyuruh oraang-oraangku untuk menyelidiki masalah ini?” tanyanya pada Sekretaris Rey.
Walau pun begitu Kendra tahu tanpa di perintah pun Sekretaris Rey langssung mengerti untuk melakukannya.
“Sudah pak” jawab Sekretaris Rey
Seminggu sudah Kendra berada di kota T.
Pria berahang tegas itu kini terlihat sedang menatap nyalang pria di hadapnnya. Ya kurang dari 3 hari yang lalu, orang-orang suruhan Kendra sudah berhasil menangka dalang dari robohnya jembatan yang menjadi proyek mereka di kota T yang ternyata adalah ketua proyek itu sendiri.
Pria berbadan bulat itu nampak meringis merasakan bogeman mentah yang baru saja Kendra dan Rey layangkan padanya. Namun itu belum seberapa. Ada hal lain yang lebih menyeramkan akan di hadapinya sebelum pria itu masuk ke dalam sel tahanan.
“Kumpulan semua bukti-bukti kebusukan dan mulailah pekerjaan kalian. Ingat! Jangan sampai meninggalkan jejak!” titahnya pada beberapa pria yang mengenakan pakaian serba hitam.
“Saya mohon jangan libatkan keluarga saya dalam masalah ini” pintanya menghiba.
Berharap Kendra mau mengasihinya. Berusaha menjangkau Kendra dan Rey yang akan keluar dari ruangan penyekapan. Dia tidak mau anaknya yang baru menginjak SD dan istrinya yang kini mengandung merasa kesusahan karena semua hartanya sudah diambil alih oleh Kendra.
Namun Kendra dan Rey tak menghiraukannya. Itulah akibat jika berani-beraninya bermain apa di belakang keluarga Alexander. Tidak ada ampun bagi musuhnya.
Ponsel kendra berdering, panggilan dari sang istri. Dia menggeser layarnya.
“Mas, pulang kapan?” suara istri yang manja kini di dengarnya.
“nanti siang mungkin dek. Urusan di sini belum kelar”
“Ya mas, jangan lupa jaga kesehatan. Ini aku sedang di rumah Mama, soalnya kesepian kalau dirumah sendirian”
“Iya gak apa-apa. kamu juga jaga kesehatan sayang”
“Nanti mas Kendra jemput aku disini ya”
“Iya sayang” jawab Kendra.
Sebuah panggilan singkat tentang sebuah kabar. Itu yang kini bisa membuat hati istrinya kini tenang. Disisi lain Kendra sebenarnya juga ingin segera pulang tapi juga disisi lain ada urusan yang harus di selesaikan.
Kendra dan Rey kembali ke anak perusahaan Kendra yang berada di kota T untuk cepat menyelesaikan permasalahan yang terjadi dan cepat kembali ke ibukota.
Di dalam mobil, dua pria bertubuh kekar itu tampak sibuk dengan ponselnya masing-masing.
……………………………..
Pagi ini Dera terbangun dengan kondisi tidak baik.
Dera melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul 06.30. Tidak biasanya dia bangun ketika matahari sudah terang menyinari bumi.
Wajah putihnya nampak pucat seakan tidak dialiri darah sama sekali. Kepalanya pun terasa berdenyut.
Hampir saja Dera terjatuh ketika menuruni ranjang jika tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
Dera bergegas berlari sempoyongan ke kamar mandi ketika merasa mual yang teramat sangat.
“Tumben sekali perutku sakit pagi ini”
Tiba di kamar mandi, Dera langsung memuntahkan isi perutnya namun tidak ada yang keluar selain cairan kuning yang terasa pahit di lidahnya. Menghadap cermin, Dera melihat wajahnya yang begitu pucat.
Kepalanya pun semakin berdenyut.
“Kak Dera, kakak kenapa? Apa perlu aku panggilkan Kak Frans untuk memeriksa kondisi kakak?” ucap Lula yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.
“Gak usah dek, kakak cuma kecapekan mungkin, nanti juga sembuh”
“Ya sudah, ayo Lula bantu ke ranjang” Dengan langkah gontai, Dera berjalan sempoyongan ke kasurnya.
Setelah menidurkan Dera di Kasur, dia segera menemui mamanya.
“Ma, kak Dera tadi muntah, apa perlu dipanggilkan dokter?” cerita Lula pada Mamanya.
“Muntah? Mama buatkan teh hangat dulu nak” dengan sigap Ayu ke dapur dan membuatkan teh untuk menantunya.
“Baiklah ma” jawab Alula.
Tumben sekali dia muntah pagi begini? Apa dia sedang hamil? Ah semoga saja. Aku akan jadi nenek, dan papa akan segera jadi kakek.. Ah senangnya….
Setelah selesai, dia bergegas ke kamar Dera.
Di ketuknya pintu dan di buka perlahan. Di dapati menantu nya sedang terbaring lemah.
Nuansa putih dan gold yang mendominasi membuat kamar makin elegan.
“Kamu kenapa nak? Ini minum teh hangat dulu” Ayu membangunkan Dera yang berbaring di ranjang.
“Gak tau mah, tadi Dera sempat muntah. Mungkin Dera kecapekan ma”
“Apa yang kamu rasakan?”
“Semalam Dera setelah makan juga ingin muntah, ini pagi juga ma. Tapi setelah muntah, tak keluar apa-apa. hanya cairan pahit saja”
“Coba deh, kamu tespack. Sudah telat belum bulan ini?”
“Iya sih ma, Dera telat mah"
“Wahh,, siapa tau kamu sedang isi nak. Coba ya, mama minta bodyguard dulu untuk beli tespek di apotik”
“Iya ma”
Akhirnya Ayu keluar dari kamar Dera dan menemui bodyguardnya. Dia memintanya untuk membelikan tespek untuk Dera.
Jarak yang tidak terlalu jauh membuatnya harus menunggu tak terlalu lama.
“Ini Nyonya tespeknya” ucap bodyguard yang di suruhnya.
“Oke, terima kasih”
Ayu berjalan ke kamar Dera dengan membawa sarapan untuk menantunya itu dan juga tespek.
........................
Iklan Author.
Weekend sibuk bestie.
Selamat berlibur untuk kalian semua.
Jangan lupa untuk like, comment dan vote ya bestie..
Terima kasih 😉