PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
PERMINTAAN PAPA



Hello, selamat malam mingguan guys..


Lagi dirumah aja atau lagi ngedate nih hehe..


Eits, malming fresh kan dulu pikirannya. Tapi jangan lupa tetap baca novel ini ya..


Thenkyu..


Enjoyyy,, happy satnight loh ya, bukan sadnight hehe


Oh ya, jangan lupa like, comment dan vote ya guys.. terima kasih.


___________


Hari senin.


Rutinitas berjalan seperti biasa. Pun sama seperti Alula yang disibukkan dengan segala tugas perkuliahannya.


Baju simple berkerah, jeans dan sneakers menjadi andalannya. Sudah berulang kali mamanya memperingatkan Alula untuk agar feminim sedikit, namun tak di indahkan olehnya.


"Sekali-kali kuliah pakai rok atau outfit yang lain gitu lo Nak. Jangan pakai jeans terus", ucap Mamanya yang melihat Alula pamit untuk ke kampus.


"Ya Ma.. Papa, Alula berangkat dulu ya" dia pun berpamitan dengan sang Papa dengan mencium tangannya.


Alula berlalu begitu saja setelah bersalaman dengan mereka.


...............


Di Kampus


Alula sedang berjalan menuju kelasnya namun dihadang oleh Sabrina, si cewek yang sangat tergila-gila dengan Brian.


“Eh lo Alula kan ya.. berhenti!” ucapnya dengan nada membentak.


Disisi lain ada Brian and the genk yang melihat Alula di hadang oleh Sabrina. Alula mana dengar orang dia pakai airphone.


"Heh, berhenti lo!” teriaknya lagi. Tapi sama saja tidak ada respon. Alula terus berjalan dengan santuy nya. Lalu dengan kasar Sabrina menarik lengan Alula. Hampir saja dia jatuh untungnya bisa dengan cepat menyeimbangkan badannya lagi.


"Cih, apaan sih?” kesal Alula sambil melepaskan tangan Brina. Nama panggilan Sabrina.


"Lo itu ya, jangan sok kecantikan kenapa! GAK USAH GANGGU-GANGGU BRIAN LAGI. PAHAM?!" dengan suara yang lantang dan mata melotot.


“Lah emang gue cantik, emang kenapa?” jawab Alula dengan percaya diri yang tinggi, dia juga sengaja memancing emosi Sabrina.


“PeDe amat lo. Gue peringatin lo jangan deketin Brian”


“Siapa juga yang mau deketin Brian. Makan tuh Brian” melangkah pergi, Lula gak suka jadi pusat perhatian banyak orang.


Tapi sebelum Lula benar-benar berjalan jauh, rambutnya yang indah di jambak oleh Sabrina. Brian and the genk yang melihat ini segera berjalan menghampiri mereka. Tapi belum sampai mereka melihat kejadian yang tak terduga. Tangan yang menjambak rambut indah Lula langsung saja di tarik paksa dan di plintir kebelakang pinggangnya Brinaitu sendiri. Brina sekarang tertunduk di lantai dengan tangan yang masih di pelintir oleh Alula.


“Awww.. lepasin gue. Wehhh" rintih Brina.


"Makanya jadi orang jangan sok kecantikan! Lo kira bisa seenaknya nindas orang? Ha?” Alula sudah tidak peduli lagi dengan orang-orang yang mdlihatnya di koridor itu. Kalau di biarkan saja makin menjadi saja tingkah Brina.


Kemudian Lula melepaskan tangan Brina dengan kasar sekali hingga dia sampai terjungkal ke lantai, membuatnya Sabrina sangat malu, hingga rasa benci tumbuh terhadal Alula.


Sebelum Lula melangkahkan kaki dia berteriak dan di sahuti oleh para mahasiswi yang berada di koridor itu.


“Tarek Sisss” teriak Alula. Diucapkannya kata-kata itu dengan lantang.


Yang pasti di rumahnya dia tak pernah mendengar sama sekali kalimat tersebut. Efek sering nongkrong di cafe dan temen-temen kampusnya.


“Semongkooo” ucap semua mahasiswi yang berada di koridor itu.


Mereka semua sangat kagum dengan Alula yang berani terhadap Sabrina karena ini belum ada yang sampai seberani itu dengan Sabrina. Mahasiswi yang lainnya ada yang menyanyikan lagu Bunga yang menjadi jargonnya Tarik Sis itu. Yang tadinya suasana mencekam jadi rame pada dangdutan. Kampus elit yang beda dari yang lain nih…


Alula melanjutkan jalan ke kelas perkuliahan, dia juga memasang airphonenya kembali. Butuh ketenangan hati Alula dan moodnya yang tak beraturan dari kemarin. Sedangkan Brian and The Genk yang melihat kejadian itu, mereka terdiam kagum ada cewek yang kayak gitu biassanya kala udah dilabarak bakalan nangis.


Alula, kenapa berbeda sekali ketika ku temui di swalayan bersama mamanya. Terlihat kalem, walaupun dengan style yang sama. Tidak seperti Alula yang sekarang. Apa tu anak mempunyai kepribadian ganda ya.. hii.. aneh deh. Batin Brian.


Saat perkuliahan yang kini hanya 2 SKS saja, terasa lama baginya. Yang dia pikirkan bagaimana dia bisa mengajak Brian kerumahnya? Tidak mungkin dia memohon pada brian bukan?


Aduh, gimana nih? Gimana caranya aku ngajak Brian ke rumah? Bisa jatuh harga diriku dong apalagi kalau mintanya pas di depan genknya itu. Ah papa ada-ada aja. Pake salah paham segala sih. Lagian pelet apa sih yang digunakan Brian, bisa-bisanya mama takluk dengannya.


Hingga perkuliahan selesai, dia seperti datang hanya raganya saja pikirannya entah dimana.


Setelah kelas selesai, dia meminta Adel untuk menemaninya.


“Del, ayo anterin aku” pintanya dengan nada memohon.


“Kemana?”


“Udah ayo ikut aja” Adelpun menyetujui.


Di tengah perjalanan, Alula mencari keberadaan Brian and the genk.


“La, ko kalau lagi ngomong sama aku, kamu pake aku kamu. Tapi kalau sama Brian, kamu ngomongnya Lo Gue. Emang kenapa sih? Beda banget deh” tanyanya.


“Astaaga, kirain mau tanya apa gitu yang berbobot. Del adel” Alula menepuk jidatnya.


“Iya lah, orang dia nyebelin gitu. Masak mau aku kamu, ya aneh Del. Gak mau ah” jawab Alula.


Mereka menuju ke tempat genk tersebut nongkrong tepatnya di taman belakang kampus.


“Itu mereka. Mau sendirian apa sama aku?” tawar Adel pada Alula.


“Sendiri aja lah. Bye. Tunggu sini yak” jawab Alula.


Akhirnya dia memberanikan diri melangkah mendekati Brian. Diaturnya napas setenang mungkin.


Tap


Tap


Tap.


Dia melangkah, perlahan. Terkadang berhenti. Namun langkahnya di lihat oleh David yang meliriknya sekilas dan memberitahu Brian.


Brian pun akhirnya menengok ke arah Alula.


Deg.


Tiba-tiba ada getaran di hati Alula. Bisa-bisanya sih aku deg-degan gini. Gak beres nih jantungku.


“Ada apa cari gue?” ucap Brian terlebih dahulu.


“Eee bisa bicara empat mata dengan Brian?” Alula mengarahkan pandangannya ke David dan Leo. Mereke lantas melangkah pergi meninggalkan Brian dan Alula berdua.


“Ada apa? emang penting banget?” tanyanya.


“Papa pengen lo dateng ke rumah” ucap Alula dengan memecamkan mata. Rasa malu, pengen rasanya untuk cepet lari. Namun seakan kakinya tak mau untuk diajak pergi.


“Ha? apa lo bilang? Gak salah denger gue” jawab Brian.


“Enggak lah. Yaudah gitu aja. Besok malem minggu gue tunggu dirumah” Dengan segala malu yang ditanggungnya, dia pergi menghampiri Adel.


Sesampainya di depan Adel.


“Ngomong apaan sih La. Sampai David dan Leo kamu suruh pergi” ucapnya.


“Udah jangan kepo” jawab Alula karena tidak mau jika Adel mengetahui apa yang dibicarakannya dengan Brian.


..._______...


...Makan malam pertama, bukan berarti ada rasa kan?...