
Hello guys, maafkan ya, uploadnya jadi lama. Soalnya lagi banyak kegiatan yang ga bisa di tinggal. Semoga kalian tetep support author ya. Terima kasih (emot love)
Jangan lupa like, koment dan follow ya.
______
“Kapan nih kita-kita bisa main ke rumah baru lo?” ujar Lisa yang selesai Video Call dengan kekasihnya tiba-tiba datang di belakang Gea.
“Nah lo baru kelihatan kemana aja neng, dasar bucin benget sekarang” bukannya menjawab apa yang ditanya Lisa, justru Viola menggerutu atas kebucinannya pada sang teman kosnya.
“Haha, gak apa-apa dong, mungkin nanti lo juga tau kalau bucin itu enak haha wle. Oh ya kos jadi sepi nih ga ada lo” ucap Lisa.
“Haha ya kalau mau main kesini gak apa-apa. Tapi nunggu info dari bos besar dulu. Gue gak berani ambil tindakan kalau belum dapat ijin dari dia. Paham kan maksud gue?” tanya Viola pada teman-temannya yang masih tersambung di ponsel. Akhirnya pun atas pengertian mereka mengiyakan saja.
Video call yang berlangsung hampir 30 menit itu tak terasa membuat Viola mengantuk. Akhirnya dia pun tertidur di sofa dengan di meja ada beberapa cemilan untuk mengganjal perutnya yang lapar.
Waktu telah menjelang sore, Viola yang masih tertidur di tempatnya pun belum beranjak. Tiba-tiba Hendra datang namun merasa rumahnya begitu sepi, apalagi dengan ukuran yang besar ditambah pula sore-sore begini dia datang namun tak ada yang menyambutnya.
“Assalamualaikum…”
“Vio, Viola” ucap Hendra yang sudah pulang dari rapat di kampusnya.
Dia membuka pintu dan dicari istrinya tersebut. Di renggangkannya dasi yang melingkar di lehernya dan di buka sedikit kerah dan kancing di pergelangan tangan. Dia mencari keberadaan istrinya mulai dari ruang tamu, ruang makan, dapur, di kamar namun tak ditemukannya. Bahkan jejak kepergiannya pun tak ada.
“Di dapur ga ada, di kamar gak ada kemana ya ni anak. Kuliah juga gak mungkin kan? Apa dia pergi jalan kemana gitu? Tapi gak mungkin kalau pergi pintunya di biarkan tidak terkunci sama sekali” Hendra yang masih mencari keberadaan Viola akhirnya kepikiran dengan ruang tengah karena disana ada sebuah televisi yang siapa tau Viola berada di sana. Lantas melangkah ke ruang tengah, di dapatinya meja disana sedang berantakan. Matanya tertuju pada sebuah sofa yang membelakanginya. Terlihat sebuah tangan yang pasti adalah tangan Viola.
Betapa kagetnya Hendra mengetahui kelakuan sang istri yang masih seperti anak kos-kosan. Setelah makan di biarkan begitu saja, tidur asal tidur, dan tidak mempedulikan kegiatan yang lain.
“Ya Allah, bisa-bisanya tidur begini. Mana posisinya begitu lagi. Tapi lucu juga sih kalau lihat dia yang tidur begitu” ucapnya yang membuat Viola seketika perlahan membuka matanya.
“Loh Mas, sudah pulang to. Huahemm. Ngantuk banget aku mas” ucap Viola yang masih dalam keadaan setengah sadar.
“Bisa-bisanya tidur. Kamu itu kalau ga ada kerjaan kan bisa nyapu atau masak gitu. Disini hanya kita berdua lho. Lantas mau bergantung kepada siapa lagi? Hem? Saya harus kerja juga kan” ucap Hendra panjang lebar yang membuat Viola malas mendengarkan.
Baru bangun ko ya udah harus denger ocehan dia sih, kenapa pula jadi cerewet begini? Masa juga gue harus bersih-bersih rumah. Nanti kan gue capek. Gue gak bisa masak juga apa mau dimasakin telur goreng sama mi instan tiap hari? Batin Viola.
“Ya udah bangun dulu gih, nanti baru kita keluar cari makan” ucap Hendra lantas melangkah ke kamarnya. Begitu juga Viola yang masuk ke kamarnya untuk mandi.
____________
Sebuah ketukan pintu menyadarkan Viola yang tengah bersandar di pinggir tempat tidur.
Tok.
Tok.
Tok.
“Ya, masuk saja mas” ucap Viola.
Hendra masuk ke kamar Viola dengan membawa sajadah, sarung dan pecinya.
“Ayo solat, magrib dulu baru kita keluar” ucap Hendra. Viola yang mengetahui maksud suaaminya lantas mengambil wudhu dan bersiap untuk sholat berjamaah.
Setelah selesai, Hendra duduk sejenak untuk berdoa dan diikuti oleh Viola. Setelah selesai Hendra membalikkan badan agar Viola mencium tangannya.
“Maaf ya mas, belum bisa jadi istri yang baik” tutur Viola yang juga mencium tangan suaminya. Begitu juga Hendra yang mengusap kepala Viola sang istri.
“Iya, udah yok siap-siap. Kamu mau makan apa?”
“Seblak aja gimana? Seblak deket lampu merah sana. Enak sepertinya dingin-dingin begini makan seblak”Viola yang menjawab juga membayangkan apa yang telah direncanakan.
“Ga, gak bergizi itu. Makan nasi aja ya. Mau steak ayam, nasi goreng apa mau steak aja?” pinta Hendra agar istrinya memilih makanan yang sehat.
“Ya Allah mas, makanan bergizi sungguh membuatku tersiksa” dengan wajah memelas yang ditunjukkan pada suami agar dituruti permintaannya.
“Di biasakan. Mimpi mu masih panjang. Apa kamu mau mati cepet? Gak kan”
“Lho mas, jangan bawa-bawa mati dong. Ya deh ya, makan nasi” Viola akhirnya mengalah dan mengiyakan saja.
Tak lama kemudian Hendra kembali ke kamarnya dan berganti pakaian.
___________
Hendra dan Viola sudah memasuki sebuah restoran yang ada di pusat kota. Viola yang mengenakan celana levis dengan kaos yang sedikit menampilkan lekuk tubuhnya namun tak terlalu ketara dan juga Hendra yang mengenakan jaket dan sepatu, simple namun tetap elegan.
Sebuah makanan telah tersaji di hadapannya, sebuah steak ayam dengan nasi dan juga salad buah dipilih Hendra agar mengajarkan Viola makan makanan yang bergizi. Di sisi lain sebagai suami yang untuk membimbing dia juga harus mengarahkan istrinya ke hidup yang bergizi dan sehat.
“Uhuk, mas lihat deh disana. Bukankah itu Bu Anggun ya?” ucap Viola seketika menutupi wajahnya dengan buku menu yang ada di hadapannya.
“Oh iya, ayo selesaikan makananmu. Biar kita bisa cepat pergi dari sini” pinta Hendra agar hubungan mereka tdak di ketahui oleh pihak teman kampus.
Secepat mungkin Viola melahap steak tersebut, panas-panaspun tetap dilahap.
“Huh hah huh hah. Panas sekali” Viola yang kepanasan dan Hendra memberikan minuman pada istrinya.
“Pelan-pelan saja jangan terlalu buru-buru. Setelah ku pikir-pikir mending hubungan kita di publish saja daripada harus bersembunyi seperti ini”
“Jangan!. Begini saja gak apa mas” jawab Viola yang masih belum siap jika di hubungannya di publish.
Setelah makan malam itu pun dan Hendra telah membayar, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Di perjalanan mereka pun menikmati kota Bandung dengan status yang baru.
Baru pertama kali gue ke kota cuma dengan suasana yang berbeda. Sekarang gue udah punya suami dan gue jadi istri. Tapi status hanya status dan gue pun masih sama. Apa tindakan gue bener atau salah ya? Viola melamun tentang kisahnya sekarang ini.
“Melamunin apa?”
“Hem, enggak o mas”
...__________ ...
...Hidup itu seperti buku....
...Beberapa bab sedih,...
...Beberapa bahagia dan beberapa menarik....
...Tetapi jika anda tidak pernah membalik halaman anda tidak akan pernah tau, apa yang ada di bab selanjutnya....