
Hello guys, jangan lupa mampir ke novel HELLO, DOSEN KUTUBKU ya.
Kalau ada masukan, saran dan kritik akan Author terima ko. Maaf uploadnya lama karena waktu puasa membuat Author harus menyelesaikan segala pekerjaan. Mohon atas pengertiannya ya guys.
Tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan follow. Terima kasih. Enjoyyyy.
__________
“Jangan apa-apakan dia. Cukup lo buat baper terus tinggal. Jangan lebih Yan! Inget dia cewek dan anak dari Alexander” ucap David mengingatkan Brian.
“Ya ya ya. Tapi gue sih ngiranya dia yang bakal duluan baper sama gue, aecara gue kan idaman semua cewek. So perfect bukan? Tapi dia kalau dilihat-liat memang cantik sih” tawa menggelegar mewarnai kelas perkuliahan siang ini.
“Awas. Jangan bilang lo malah yang baper?” Leo.
“Gak mungkinlah. Alula itu gampang dikenain soalnya dia itu polos banget, beda dengan wanita diluar sana. Kalian tau itu kan?” ucap Brian pada Leo.
Saking asiknya mereka ngobrol sampai tak menyadari ada keberadaan Adel yang melewati kelas Brian disana. Sahabat yang selalu bersama Alula saat dikampus maupun saat hangout. Rasanya sempat dia tak percaya bahwa apa yang telah dilihat dan didengarnya begitu jahat.
“Tega sekali mereka menjadikan Alula hanya bahan taruhan saja. Lantas bagaimana jika nanti Alula tau tentang hal ini? Gak bisa dibiarin nih. Tapi gimana ngomongnya ya” ucap Adel yang kini meninggalkan geng Zervanous dan melanjutkan melangkah ke kelas perkuliahan.
Sesampainya di kelas, dia melihat Alula sudah duduk dan sedang tersenyum sendiri saat melihat ponsel.
“Sepertinya dia sedang asik chatting an, makanya ga sadar kalau ada aku disini” gerutu Adel yang tanpa sepengetahuan Alula sudah duduk disampingnya.
Rasa penasaranpun ada, hingga Adel memberanikan diri untuk mengintip bahkan biasanya Alula tak pernah sekalipun chatting an sama orang apalagi sampai senyum-senyum sendiri. Pasti orang special bukan? Pikiranya.
“WHAT? Kamu chatting an sama Brian?!” Jeritan Adel membuat Alula tersadar dan hampir melepaskan ponselnya dari tangan.
“Adel! Jangan teriak, nanti banyak yang denger gimana?” bisik Alula sambil membungkam mulut sahabatnya tersebut.
“Lagian lo chatting-an sama Brian sih. Udah lah La, ga usah lagi WA an sama dia. Cari cowok lain kenapa sih? Sama yang kalem, baik gitu loh” ucap Adel dengan menggebu-gebu.
“Lah emang kenapa? Orang gue fine-fine aja ko. Dia juga gak neko-neko kan?” jawab Alula yang justru membuat Adel merasa geram karena dia sendiri pun bingung harus berbuat apa.
Bagaimana gue bisa jujur tentang rencana Brian dan geng nya tadi? Sedangkan perangkap Brian sudah dimakan Alula. Gawat nih, aku harus apa ya. Batin Adel dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Tiba-tiba dosen datang dan membuat mereka harus fokus pada jam perkuliahan.
___________________
Perkuliahan yang sudah selesai. Jam yang sudah menunjukkan pukul 16.00 membuat Brian dan gengnya merasa lelah. Perkuliahan yang berhubungan dengan praktik pasti sangat lama baginya.
Sama halnya dengan Alula dan Adel yang baru keluar dari ruangannya.
“La, aku duluan ya. Mama ku udah jemput gue nih” ucap Adel yang meninggalkan Alula duduk sendiri ditaman kampus.
“Oke Del, ti-ati ya. Sopir ku belum jemput nih” ucap Alula dan sesekali melirik jam tangan mungil dipergelangan tangannya. Sedangkan Adel berjalan menuju posisi mobil mamanya.
Tiba-tiba suara dehaman menyadarkan Alula yang duduk seorang diri dan memainkan ponselnya.
Ehem.
“Eh Brian, ko belum pulang?” tanya Alula yang seketika berdiri melihat Brian ada hadapannya.
“Iya kan nunggu kamu”
“AKU? Kenapa emaang?” bak mendapat tersengat listrik yang membuat pipinya menjadi merah merona.
“Iya. Ko tau”
“Tadi aku yang meminta Pak Joko untuk kembali pulang karena saat ini kita akan jalan-jalan. Yokk” ajak Brian yang tiba-tiba menarik tangan Alula.
“Ha? bagaimana bisa?”
“Apa sih ya ga bisa bagi Brian. Udah ayo”
Brian menarik tangan Alula dan menuju mobilnya. Alula pun mengikuti langkah Brian.
“Kita mau kemana?” tanyanya pada Brian yang tengah fokus menyetir.
“Jalan-jalan. Kan tadi udah ku bilang La. Udah diem aja bentar lagi nyampe ko” ucap Brian.
______________
Disisi lain, Kendra dan Sekretaris Rey sibuk mencari keberadaan Dera. Kini mereka telah sampai di restoran milik Dera. Pandangannya menyusuri parkiran, Kendra mencari mobilnya. Artinya jika ada mobilnya maka juga ada istrinya disana, namun tak ditemukan.
Dia lantas melanjutkan langkah menuju ruang kerja Dera. Kosong.
Akhirnya dia bertanya pada seorang pelayan.
“Mbak, apa istri saya sudah sampai sini?” tanyanya.
Dengan bingungnya sang pelayan menjawab “Tidak Pak, bukankah Nyonya Dera tidak pernah kesini lagi semenjak kejadian waktu itu”
Seketika jawaban pelayan membuatnya merasa pusing. Lantas harus kemana lagi dia mencari?
“Pak Bos, bukankah di ponsel Nyonya Dera terpasang sebuah GPS? Mengapa Pak Bos tidak memanfaatkan hal itu?” saran dari Sekretaris Rey yang membuat Kendra tersadar akan ponsel yang dibawa Dera sudah terpasang GPS yang tersambung dengan ponselnya.
“Oh iya. Kenapa dari tadi aku tak ingat sama sekali” akhirnya Kenda membuka ponselnya dan melacak posisi Dera.
Matanya fokus pada lokasi yang telah dia lewati tadi sewaktu akan ke restoran.
“Rey, bukankah ini jalan menuju resto ini ya? Mengapa titik akhirnya disini? Padahal ini sudah beberapa jam yang lalu” Kendra pun sudah menggebu. Amarah dan emosinya menjalar begitu saja. Bagaikan minyak tanah yang tersulut api.
“Ayo Rey! Tunggu apa lagi? Malah diam ditempat kayak gitu. Siapa tau dia ketemu pria lain, ya kan?” ucapan Kendra yang seakan menuduh Dera pun membuat Sekretaris Rey geram.
“Pak Bos, janganlah begitu. Siapa tau Nyonya Dera ada kepentingan sendiri bukan?” jawab Sekretaris Rey yang ingin membela Dera.
“Sudah lah Rey.. Ayo segera nyusul dia. Jangan banyak omong” titah Kendra lantas masuk ke dalam mobilnya.
Lagi lagi amarah yang menguasainya sehingga Sekretaris Rey pun tak mampu untuk menahan. Pedal mobil yang di injak membuat kecepatan semakin bertambah. Dengan dipandu GPS dari ponselnya yang berada di dashbor depan.
“Awas saja jika dia ketemu pria dan berbuat macam-macam. Tidak akan ku ampuni sedikitpun Dera Ananda” ucap Kendra. Sedangkan Sekretaris Rey yang mendengar pun hanya diam saja toh percuma jika nanti dia memberi nasihatpun tak di dengarkan.
“Loh Rey.. Rey kenapa berhenti disini, Dera mana?” seketika nada bicara yang tadinya tinggi berubah menjadi rendah. Sekretaris Rey yang bingung juga ikut mencari dimana Dera.
“Pak Bos, bukankah ini tempat tadi ada kecelakaan? Kan tadi kita berhenti sejenak disini?” ucap Sekretaris Rey menyadarkan.
“Astaga. Rey, jangan bilang…” Kendra lantas keluar dan membanting pintu moblnya dengan keras diikuti pula Sekretaris Rey.
...______________ ...
...Akan ada hari dimana aku berdiri di depanmu menatap wajahmu dan berkata “Akhirnya kita bertemu”...