PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
EPISODE #36



Di dalam Gedung Petra Corp, ruangan paling tertinggi, yang tidak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya.


Kendra tertawa mengingat kejadian semalam dan pagi ini.


Sementara Rey yang disebelahnya menatapnya penuh tanya.


Kenapa akhir-akhir ini Pak Bos sepertinya sering tertawas, gumamnya dalam hati.


“Rey, tolong cetak mutasi Black Card yang ada di Dera. Apa dia menggunakannya atau enggak" pinta Rey dengan melihat ponselnya potret Dera sedang tidur.


"Baik Pak Bos, segera saya hubungi pihak Bank yang bersangkutan"


Rey keluar menuju ruangannya. Tanpa berpikir panjang, Rey menghubungi pihak Bank.


"Cetakkan aku mutasi Black Card milik Nyonya Kendra Alexander" perintah Rey pada pegawai Bank.


Tak perlu menunggu waktu lama, pihak Bank mengirimkan mutasi melalui emailnya.


Rey tak melihat email kiriman, langsung dia melangkah menuju ruangan Kendra.


Laporan mutasi yang berupa PDF itu ditunjukkan.


"Permisi Pak Bos, ini laporan mutasi Black Card Nyonya Dera"


Rey menyerahkan Tab yang dipegangnya.


"Apa ini? dia tak mengambil sepeserpun. Apa dia mengira kalau aku menipu nya?"


"Maaf, kenapa Pak Bos?"


"Dera tak mengambil uang sepeserpun dari kartu ini Rey"


"Apa yang bisa saya lakukan?" Tanya Rey


"Tidah usah, biarkan saja. Lihat sampai mana dia akan seperti ini. Tapi semalam aku sudah memintanya untuk meluruskan rambutnya haha"


Kendra yang tertawa begitu membuat Rey merasa bergidik.


Kenapa Pak Bos ketawa. Apa ada yang lucu?


………………………………


Di rumah Dera yang sedang duduk di kursi taman dan


ada Fira berdiri di belakangnya.


Mereka benar-benar tak mempuyai kegiatan apapun.


Jika dia mau bersih-bersih dilarang sama Bi Tirna,


kalau mau menyiram bunga dilarang sama Pak Kirun,


kalau mau merapikan kamar dilarang sama Mbak


Hindun, anak Bi Tirna.


Dera sedang duduk dan menikmati udara pagi.


"Fir, apa kamu gak ada kerjaan sampai kamu


mengikutiku walau ditaman?"


Dera yang merasa sedikit risih melihat dirinya selalu di


ikuti Fira.


Bagaikan manusia dan bayangan, selalu ada


kemanapun dia pergi.


"Maaf Nyonya, ini adalah kerjaan saya" jawab Fira


masih dengan posisi tegap.


Dera yang masih berpikir, apakah dia akan merubah rambutnya menjadi lurus?


Bagaimana nanti kalau aku tak pantas jika dengan rambut lurus? Apa juga ketika nanti aku tak pantas, Mas Kendra malah cuek dengan ku? Aku harus bagaimana?


Pikiran Dera yang kalut membuatnya tak menyadari


jika ada Alula yang berdiri di sampingnya.


"Kak Dera, ko ngalamun sih.. kenapa?" tanya Lula


"Aku bingung La. Mas Kendra memintaku untuk meluruskan rambut, apa aku pantas nanti?"


hahahaha


Tawa Alula memecah keheningan Dera dan membuatnya kaget.


"Ko ketawa sih La, kasih masukan dong" jawab Dera


"Ya udah, dicoba aja dulu ka, kan ga salah juga. Ya kan bodyguard Fira"


"Ya Nona"


Tiba-tiba...


kringgg... kring.... kringggg...


telpon Fira berdering.


"Kenapa?"


"Pak Bos tanya, kapan jadinya Nyonya Dera ke salon?


Fira seketika bertanya pada Dera.


"Nyonya, ada telfon dadi Sekretaris Rey. Tanya kapan Nyonya ke salon?"


Duh jawab apa aku.. ini pun aku masih bingung.


"Jam 10, jawab itu saja" jawab Dera


Fira melanjutkan pembicaraan dengan Sekretaris Rey.


Dan Rey pun menyampaikan pada Kendra.


“kata Fira mereka akan ke salon jam 10 menemani Nyonya Muda Pak Bos”


“hahaha” Kendra tertawa dengan senang lagi. “Aku


memang semalam menyuruhnya meluruskan


rambutnya”


Astaga,, begitu saja sudah benar-benar merasa Bahagia ya.. syukurlah, semoga hati Pak Bos yang sudah mengeras itu bisa kembali melunak.


“Rey”


“Iya Pak Bos”


“apa kau tidak penasaran, melihat rambut lurusnya.


Aku jadi ingin segera pulang melihatnya”


“tapi kita akan ada acara sampai nanti malam, apa


perlu saya batalkan”


“tidak perlu, aku bisa melihatnya nanti”


Rey keluar ruangan masih sempat melirik senyum


yang lahir dari bibir Kendra


Sore hari diruangan Kendra


Kendra sudah melemparkan berkas ditangannya ke


wajah laki-laki yang sedang berlutut di hadapannya.


Sementara Rey mengerutkan dahi dan memandang


laki-laki itu dengan kesal. Kenapa sampai membuat


masalah, dasar tidak berguna.


Begitu isi sorot matanya.


“apa kau pikir aku menaikanmu di posisi sekarang


“tolong ampuni saya Pak. Beri saya kesempatan


membereskan ini” Suaranya terbata-bata. Tangannya


gemetar Ketika menahan berat tubuhnya.


“kalau kau mau korupsi dan memperkaya dirimu


seharusnya kau pakai otakmu”


“maafkan saya tuan”


Dentuman keras terdengar. Benda kecil mendarat di


kepala laki-laki yang berlutut itu. HP yang terbentur itu


jatuh ke lantai dan pecah.


“Pak Bos tidak menyuruh Anda bicara” Rey bicara


dengan tegas.


Laki-laki itu gemetar ketakutan, darah menetes dari


pelipis kirinya. Mengalir sampai ke pipi. Tapi dia


masih berlutut tidak berani mendongak, membuka


mulut atau menyeka darah yang mengalir.


“sudah berapa lama proyek ini terhenti?” Kendra


bertanya pada Rey yang berdiri di sampingnya


“sebulan Pak” Rey menyodorkan ponsel di depan


Kendra. Laki-laki itu membacanya sekilas. Rey


menggeser ke slide berikutnya.


“dalam sebulan apa kau bisa membereskan


kekacauan ini?” Kendra beralih pada laki-laki yang


sedang berlutut itu.


“Baik Pak Bos”


“Jangan mengecewakan ku lagi. Dan kerjakan dengan


baik”


“Baik Pak, saya akan melakukan yang terbaik”


“Pergilah!”


“terima kasih Pak Bos, terima kasih sudah


memberikan saya kesempatan lagi”


Pria itu bangun, kakunya gemetar karena terlalu lama


berlutut.


Dia mendundukkan kepalanya berkali-kali sebelum


beranjak meninggalkan ruangan.


Rey mengikuti langkah kaki laki-laki itu


“bersihkan luka Anda” Seketaris Rey menyerahkan


kotak P3K.


Para staf menudukkan kepalanya. Tau baru saja ada


keributan di ruangan presdir di dalam.


“berapa kali saya harus mengingatkan Anda untuk


tidak menjawab kata-kata Pas Bos Kendra”


“maafkan saya, maafkan saya”


“Taman ini proyek yang sudah ditunggu Pak Bos


Kendra, Anda masih bisa berdiri di posisi sekarang,


bahkan setelah melakukan kesalahan bodoh, itu


sudah keberuntungan buat anda”


“Baik Tuan, saya akan bekerja lebih baik lagi”


“pergilah. Bereskan kekacauan ini sebelum satu bulan”


“baik tuan, baik”


Laki-laki itu menundukkan kepalanya beberapa kali


pada sekretaris Rey. Dia tahu, kalau laki-laki di


hadapannya ini bisa serratus kali menakutkaan


dibandingkan Pak Bos Kendra. Dia menyeret kakinya


walaupun gemetar. Keluar dari Gedung megah Petra


Corp.


Sementara di depan ruangan presdir Sekretaris Rey


belum beranjak, dia mendekat ke meja staf sekretaris.


Tiga orang sekretaris dihadapannya menunduk tidak


berani menatapnya


“Bawakan aku ponsel baru” katanya


“baik pak” salah satu dari mereka menjawab dan


bergegas keluar ruangan.


Sekretaris Rey kembali ke ruangannya. Menyandarkan


kepalanya di kursi.


“kenapa banyak sekali orang-orang bodoh berkerja


untuk Pak Kendra” Rey kesal sendiri, karena


membereskan setiap kekacauan yang ditimbulkan


oleh orang-orang itu adalah tanggungjawabnya.


.


.


.


.


Kenyataan memang tak selalu indah, tapi sebuah usaha yang kuat nan baik, akan mampu membuatnya berjalan dengan baik.


.


.


.


.


"puji


.


.