
Hampir setiap hari Dera menangis. Dan setiap hari pula Kendra semakin memperlakukannya dengan baik. Misalnya saja dengan ketelatenan Kendra yang mempersiapkan baju untuk istrinya, menyuapinya dan memperlakukan sebaik mungkin.
"Sayang, sudah yuk. Bangkit. Kasihan ayah disana juga sedih melihat kamu seperti ini terus" ucap Kendra dengan mengusap halus rambut Dera.
Dan baru kali pertama ini Kendra melihat istrinya yang penuh dengan ceria kini benar-benar begitu hancur atas kepergian ayahnya.
Bagaimana suatu hari nanti ketika kamu mengetahui sesuatu tentang masa lalu yang belum pernah ku ceritakan padamu? aku hanya tidak siap jika kamu meninggalkan ku Dera.
"Iya mas. Beri aku waktu untuk menerima semua ini" jawabnya lagi-lagi masih sama seperti hari dimana ayahnya meninggal.
Kendra mengambil makanan yang telah di antarkan oleh Mbak Nurul.
Bak ratu yang telah menemukan pangerannya. Kendra sebisa mungkin membuat Dera terus tersenyum. Selalu ada untuk istrinya dengan rela cuti beberapa hari untuk menemani istrinya. Dan dengan sabar berusaha membujuk Dera untuk kembali bersemangat.
“Sayang, bagaimana kalau kita ke rumah mama dulu. takutnya kalau kamu sendirian di rumah saat aku kerja. Kamu akan down kembali” ucap Kendra memberikan solusi. Karena tidak mungkin dia terus libur sedangkan pekerjaaan menunggunya.
“Iya mas”jawab Dera.
“Iya boleh. Ayo kita siap-siap sekarang. Siang ini kita mulai menginap disana” ucap Kendra.
Sembari Dera bersiap, Kendra mencari keberadaan Mbak Nurul.
"Jaga kamar itu. Seperti biasa, jangan biarkan istriku tau isi kamar tersebut"
"Dan lagi... bersihkan kamar tersebut selama aku tidak ada.. Ingat!! jangan sampai Dera curiga. Paham!" pesan Kendra pada Nurul yang menjadi juru kunci kamar tersebut.
"Baik Pak" jawab Nurul dengan sedikit menundukkan kepala sebagai kesiapannya.
Setelah sekiranya cukup menyampaikan pada Nurul, Kendra pun kembali menghampiri Dera.
Seakan tak terjadi apa-apa. Kendra pun bersikap manis pada istrinya.
Disisi lain Kendra menyayangi istrinya dan tidak mau jika Dera meninggalkannya. Namun juga di kamar tersebut ada semua kenangan Lidia bersamanya ketika masih bersama.
"Ayo sayang. Sudah selesai belum?" tanya Kendra yang datang dengan memeluk pinggang istrinya.
"Sudah mas.. ayo" ucap Dera.
Pak Yanto yang sudah stand by untuk membukakan pintu mobil untuk sang Bos dan istrinya. Sedangkan bodyguard stand by untuk sang Pak Bos dan istrinya menjamin keselamatannya.
"Apa ada gerak gerik mencurigakan selama ini?" tanya Kendra pada salah satu bodyguarnya.
"Tidak ada Pak Bos. Semua aman terkendali" jawab bodyguard tersebut.
Kini mobil melaju ke rumah Orang tua Kendra.
Di tengah perjalanan.
Kringgg…. Kringg…
Ponsel Kendra berdering.
“Iya Rey, kenapa?” jawab Kendra.
“Ken, tadi Bram telpon katanya menemukan beberapa barang bukti di TKP" ucap Rey yang kini bicara sebagai rekan mafianya.
"Barang apa itu?" tanya Kendra dengan nada penasaran.
"Aku gak tau. Nanti ke markas sendiri langsung Ken" jawab Rey.
"Hem, baiklah" Kendra segera mematikan ponselnya dan fokus pada istrinya dahulu. Setelahnya baru nanti dia ijin untuk menyelesaikan masalah ini.
Semoga masalah ini segera teratasi. Aku ga mau jika nanti ada korban.
Tunggu aku pecundang! aku akan segera menemukanmu dimana pun itu!!
Kamu sembunyi akan ku temukan, kamu lari akan ku cari. Kendra membatin dengan tersenyun sinis.
Mobil telah memasuki gerbang orang tuanya.
“Ma, kami datang.." ucap Kendra yang mengetahui ada Mamanya yang sedang duduk di taman depan.
"Eee.. menantu ku sayang. Sini nak, sini" jawab Ayu.
Kendra dan Dera masuk ke dalam rumah, sedangkan bodyguar membawakan tas yang berisi perlengkapan Dera selama disini nantinya.
"Ya Allah, yang nyapa anaknya malah yang di sapa balik menantunya Ma Ma.. Oh ya Ma, Kendra pamit dulu ya. Malam ini kami menginap disini, gak apa-apa kan Ma” tutur Kendra dengan nada buru-buru.
"Mau kemana mas?" Dera seketika memegang lengan suaminya.
"Aku ada urusan sebentar Sayang, kamu sama Mama dulu ya. Nanti kalau sudah selesai, pasti aku kesini.
Titip Dera dulu ya Ma"
Kendra mencium kening istrinya sebelum dia pergi.
Lantas berjalan menuju pintu, namun langkahnya terhenti setelah papa memanggilnya.
“Kendra” ucap Alex yang sedang meneguk teh.
“Ya pa” Kendra seraya duduk di kursi di samping papa nya.
“Bagaimana? Apa ada kabar mengenai pembunuh itu?” tanya Alex.
“Belum pa. Kendra sudah meminta bantuan Rey, Niko dan Bram untuk menemukannya. Kendra mau ke markas lagi untuk membahas scenario untuk menemukan dalang itu semua pa”
“Ya sudah, sana selesaikan dengan baik. Tapi mengapa kasus ini seakan lambat ya. Apa ada seseorang yang menutupi dalangnya sehingga dia sulit di temukan?” ucap Alex.
"Iya ya Pa. Bener, Kendra juga mikirnya seperti itu. Strategi apa ya pa, yang harus kita lakukan?", Kendra rasanya ingin segera menyudahi kasus ini dan hiduo tenang.
"Nanti saja kita pikirkan strateginya, udah sana pergi dulu" Alex memperilahkan Kendra pergi ke markas Black Tiger.
Kini dia menyetir sendiri mobilnya.
Dengan kecepatan tinggi dan segala emosi yang ada, dia ingin cepat sampai ke lokasi karena tidak sabar dengan kasus ini yang dipikirnya lambat untuk di selesaikan.
^^
“Alula, ayo antar kakak ke rumah sebentar. Ada sesuatu yang harus kakak ambil” ucapnya pada Alula yang sedang asik memainkan ponselnya.
Dengan sigap Alula pun mengiyakan karena memang dia tidak ada kesibukan apapun.
Sopir pribadi Alula siap mengantarkan kemana pun dia pergi.
Dera dan Alula kini sudah dalam perjalanan ke rumah Kendra. Dia sengaja ingin mengambil novel yang belum pernah dia selesaikan semenjak kesibukannya di restoran dan dia mengambil vitamin kehamilannya yang tertinggal karena tadi buru-buru.
Di dalam mobil pun tak ada percakapan yang berarti selain membahas tentang keseharian mereka.
Dan tanpa terasa mobil telah mamasuki gerbang rumah Kendra.
“Alula ayo masuk” ucap Dera.
Dia mengambil obat diatas nakasnya. Setelah itu, kini dia berjalan untuk menemui Alula.
Namun langkahnya terhenti karena mendapati kamar yang belum pernah dia buka sama sekali yang kini dalam keadaan terbuka.
“Tumben kamar itu terbuka, coba deh aku tutup. Mungkin saja Bi Tirna atau Mbak Nurul lupa” Dera berjalan mendekat ke kamar tersebut.
Dia pun penasaran sebenarnya itu gudang atau kamar yang masih bisa untuk di pakai? Karena memang selama menikah dia tak pernah ke kamar tersebut.
Alula yang mengetahui isi dalam kamar itu ingin menahan langkah Dera agar berhenti tidak membukanya.
“Kakk De…” belum juga selesai memanggil Dera untuk berhenti, Dera sudah memasuki kamar tersebut.
Deg.
Matanya melihat segala penjuru kamar yang penuh dengan foto Lidia, kenangan Kendra bersama Lidia, segala apapun tentang mereka terpampang nyata di sana.