PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
TITIK TERANG



Hello guys, jangan lupa mampir ke novel HELLO, DOSEN KUTUBKU ya.


Kalau ada masukan, saran dan kritik akan Author terima ko. Maaf uploadnya lama karena bertepatan dengan lebaran dan kegiatan yang lain. Mohon pengertiannya ya kakak-kakak.


Tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan follow. Terima kasih. Enjoyyyy.


__________


Dera, segeralah kembali. Ada hati yang harus kamu jaga dan raga yang harus kamu sapa. Kembalilah Dera. Setidaknya dengan kamu berjuang disana itu lebih dari cukup. Aku janji, atas nama Mira sebagai sahabatmu dan aku sebagai orang yang dulu pernah menyayangimu. Batin Sekretaris Rey pada Dera.


“Ayo kak, pulang. Sudah hampir malam. Cahaya pun hampir tak terlihat” ucap Novan mengingatkan sang ipar yang masih kekeh mencari keberadaan Dera.


Mendengar masukan keponakan dari istrinya pun akhirnya Kendra dengan berat hati meninggalkan tempat dimana mobil jatuh ke jurang. Kendra menahan tangisnya dan dia merasa gagal sebagai kepala rumah tangga karena bisa-bisanya ego menguasai hati dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya.


Baru beberapa langkah beranjak dari posisi awal, mobil yang dikendarai Pak Yanto dan Dera pun mengeluarkan asap hitam dan meledak.


Duorrr.


Kaget bukan kepalang, sedih pun tak tertahan, Kendra merasa sangat hancur.


Ga ada kata yang terucap, dia hanya jatuh lemas seketika berpikir bagaimana kabar istri dan anaknya. Namun Sekretaris Rey dan Novan pun berusaha menguatkan dan mengingatkan Kendra bahwa Dera akan baik-baik saja.


Disisi lain Sekretaris Rey telah memberitahu Papa Kendra mengenai kejadian ini. Rey meminta jalan keluar yang baik untuk Nyonyanya karena dia takut salah langkah apalagi ini mengenai nyawa orang yang berpengaruh di kehidupan Kendra.


Tuan Alexander


Tuan, Nyonya Dera kecelakaan. Apa yang harus saya lakukan? Haruskah meminta bantuan polisi ataukah harus saya sendiri yang terjun dalam pencarian?


Sent.


Pesan telah dikirim pada Alexander dan dia pun mengikuti langkah Novan dan Kendra menuju mobil yang berada di atas jalan. Hal yang terjadi pun sama, langkah berat dan tak tega rasanya membiarkan Dera kedinginan di dalam hutan apalagi dia sedang mengandung, lantas bagaimana dengan asupan nutrisi nantinya? Segala macam pikiran pun berkeliaran di kepala Sekretaris Rey.


15 menit berlalu, mereka bertiga telah hampir sampai tempat dimana mobil telah diparkirkan.


“Permisi para Tuan Muda, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang kakek tua yang sedang membawa seikat kayu bakar di punggungnya. Dengan sigap Sekretaris Rey mewakili Kendra dan menjawabnya “Iya Kek, kami mencari korban kecelakaan di jurang sini Kek, tapi sampai di titik sana tak ada korban yang kami temukan” tutur Sekretaris Rey dengan sopan dan dia menunjuk posisi dimana mobil telah hancur di dasar jurang.


Kakek tua pun mengikuti telunjuk Sekretaris Rey tepat di tempat yang dimaksud. “Bagaimana ciri-cirinya Tuan? Jika saya temukan nanti siapa tau sama dengan yang Tuan maksud” jawabnya.


“Wanita sekitar usia 24 tahun, kulit bersih, rambut dibawah bahu dan…. Dia sedang mengandung Kek” jawab Sekretaris Rey memperjelas ciri-ciri Dera. Sedangkan Kendra hanya mendengarkan dan memastikan setiap ucapan yang keluar dari mulut Sekretarisnya tersebut berharap pula sang Kakek nantinya mau membantu.


Dengan seksama kakek tersebut pun mendengarkan dan sesekali memperbaiki posisi seikat kayu bakar yang dibawanya.


"Iya Kek, jika Anda bisa menemukan istri saya, akan ku berikan apapun yang Anda butuhkan sebagai rasa terima kasih saya" tambah Kendra memperjelas ucapannya.


"Baik Tuan Muda" ucapnya singkat.


“Oh ya Tuan, kalau nanti kakek temukan pasti akan kakek rawat. Carilah kakek diujung sana dan hanya ada satu rumah saja” ucapnya sebelum berpamitan dengan ketiga pria tersebut.


Setelah dirasa cukup akhirnya mereka pun berpisah dan kembali ke mobil.


_________________


“Astagfirullah, dimana ini? Kenapa kepalaku pusing sekali. Apa yang terjadi denganku?” Dera yang masih linglung berusaha untuk menyadarkan diri. Sesekali pandangannya mengarah pada mobil yang berada jauh di hadapannya. Matanya pun berkaca-kaca.


“Alhamdulillah nak, kamu masih bersama mommy. Semangat berjuang yang Kendra Junior. Bertahan buat ketemu Daddy. Dan sekarang kita cari Pak Yanto dulu yuk, kamu harus kuat ya sayangku” ucap Dera sembari mengelus perutnya dan berdiri sekuat tenaga.


Dera merintih kesakitan, dia berusaha menahan rasa pusing yang menderanya. Luka yang ada di tangan dan kakinya bahkan tak dirasa lagi. Bahkan darah yang mengucur dari kaki kanannya pun tak dihiraukan.


Pandangan Dera meniti setiap inchi dari lokasi kejadian. Perlahan dia berjalan tertatih.


Pelan tapi pasti. Dengan bantuan batang pohon dia berusaha meraih satu demi satu. Belum juga jauh dari posisi awalnya tadi, terdengar suara ledakan dari mobil yang dikendarainya tadi.


Duorrrr… tepat air mata pun mengalir, pikiran menjadi sangat kacau.


Bagaimana ini? Bagaimana caraku kembali?


Apa Kendra tak mencariku?


Apa Kendra membiarkanku disini?


Mengapa tak ada yang mencariku satu orang pun?


Banyak pertanyaan yang bermunculan begitu saja menyisakkan isakan tangis kala itu semakin menjadi dan tak sengaja dia disadarkan oleh sebuah suara dehaman dari arah belakangnya.


Wanita putih, rambut dibawah bahu dan… hamil?? Apa itu wanita yang dimaksud oleh ketiga tuan tadi ya? Batin kakek yang tadi sempat berjumpa dengan Kendra, Sekretaris Rey dan Novan. Beliau jalan perlahan mendekati Dera.


Kaget bukan kepalang. Dera yang tadinya sangat down dan hampir menyerah akhirnya mampu bangkit dengan adanya seorang kakek tua yang menghampirinya.


“Maaf, Kakek siapa ya?”tanya Dera dengan mengusap air mata yang membasahi pipinya.


“Panggil saja saya Kakek Munir Nak. Kamu kenapa? Ini ada air minum saja dulu tenangkan hatimu dulu ya” ucap Kakek Munir sembari memberikan air mineral yang ada di tas kecilnya. Setelah merasa lebih baik Dera menceritakan semua kejadian yang dialami dan dia sedang mencari Pak Yanto yang tak lain adalah sopirnya.


Kakek Munir menelaah setiap kejadian yang di ceritakan oleh Dera. Beliau berusaha memahami.


“Nak, tinggallah bersama kakek, tenang kakek disana tinggal dengan istri kakek. Kasian janinmu yang pasti membutuhkan asupan makanan” ajaknya.


“Kek, tapi…” Dera masih ragu dengan ajakan kakek Munir karena itu juga orang asing baginya. Dia takut jika nanti dicelakai atau dia salah satu dari orang kiriman musuh Kendra. Rasanya jika ingin berpikiran positif thinking sangatlah susah untuknya karena Dera yakin kejadian kecelakaan ini pasti telah di rekayasa. Bagaimana tidak? Tadi sebelum ke rumah sakit saja mobil dalam kondisi baik-baik saja, mengapa setelah pulang malah ada accident begini? Pikirnya.


“Percayalah pasti sopir yang kamu ceritakan juga selamat, dia pasti juga akan bertahan. Besok kita akan mencarinya bersama-sama. Ini sangat tidak memungkinkan jika kita mencarinya sekarang juga karena matahari hampir tenggelam. Coba lihatlah”


Dera dengan berat hati mau menerima ajakan Kakek Munir walau padahal dia juga mengkhawatirkan kondisi Pak Yanto.


...___________________...


...Kulepaskan semua rasa yang pernah ada,...


...Kupeluk setiap pelajarannya...


...Maaf Ya Allah,...


...Aku pernah seberharap itu pada manusia yang jelas-jelas sumber penyebab kekecewaan....


...Untuk sesuatu yang pernaah deras kemudian tiba-tiba terhenti, selamanya...