
Digelapnya malam, beratapkan langit yang dihiasi bulan dan bintang dan beralaskan karpet.
Kendra dan Dera masih camping di belakang Villa.
“Berjanjilah sayang, kamu tidak akan pernah meninggalkan aku” ucap Kendra kepada sang istrinya.
“Aku tidak pernah meninggalkanmu sayang. Tidak pernah, dan tidak akan pernah. Justru aku yang selalu khawatir jika suatu saat nanti kamu akan meninggalkanku. Mengingat kamu adalah laki-laki tampan, pemilik perusahaan dan banyak wanita yang mengincarmu. Berbeda denganku yang sebentar lagi akan menggendut dan jelek” jawab Dera yang membuat Kendra menoleh ke arahnya.
“Bagaimana aku bisa meninggalkanmu? Sedangkan hatimu sudah milikmu semuanya”
“Benar begitu Mas?” Dera memastikan.
“Tapi kenapa kamu selalu mengkhawatirkan masalah cintaku padamu mas?” Dera pun penasaran dengan pernyataan yang diberikan suaminya. Kendra berusaha tenang sebelum menjawab pertanyaan sang istri.
“Karena aku bukan manusia yang sempurna. Aku pernah melakukan kesalahan sampai saat ini pun aku sendiri tidak bisa memaafkan perbuatanku itu. Aku..”
Dera meletakkan telunjuk tangannya di depan bibir Kendra. Dera meletakkan kedua telapak tangannya di pipi sang suami.
“Aku juga bukan seseorang yang sempurna. Kita semua punya kekurangan masing-masing. Jangan seperti ini terus suamiku. Aku menjadi merasa bersedih setiap kali kamu membahas hal ini” ujar Dera.
“Tapi aku selalu ingin jujur padamu. Aku tidak ingin kamu terluka karena diriku dari perkataan orang lain aku tidak ingin melihatmu bersedih karenaku”Dera.
Dera tersenyum mendengarnya. Dia menghargai apa yang dilakukan oleh suaminya.
“Aku akan katakan apa yang orang lain katakan padaku tentang dirimu. Sesakit apapun nanti kenyataan yang aku tahu. Aku akan berusaha untuk memaafkanmu. Jadi jangan berputus asa untuk meluluhkan hatiku”
Kendra mencium istrinya karena apa yang telah dikatakannya barusan. Itu adalah pembuktian cinta yang selama ini tidak pernah dia bayangkan akan di dapatkan.
………………………………..
“Apa kabar Mira.” Mira semakin tidak habis pikir. Suara ini memang benar-benar dia. Tapi bukankah dia sudah dinyatakan meninggal akibat kecelakaan beberapa tahun yang lalu?
Tidak!
“Ge.. Ge…Gerald” Mira begitu terkejut sampai dia merasa lemas melihat seseorang yang sudah dikabarkan meninggal beberapa tahun yang lalu.
Kini benar-benar nyata adanya di depan mata. Bahkan wajah bekas luka di dahi dan pipi sebelah kirinya.
“Apa kabar Mira, kekasihku” ucap Gerald dengan suara khasnya. Mira bukanya membalas sapaan dari Gerald, Mira hanya bisa terpaku.
“Aku tahu kamu pasti terkejut saat melihatku,” ujar Gerald sambil tersenyum.
“Tapi aku sudah lama ingin bertemu denganmu. Aku merindukanmu” ucap Gerald di hadapan Mira yang sedari tadi tak bergeming.
“Tidak.. bagaimana mungkin. Dan aku bukan kekasihmu Gerald” Mira masih tak percaya bahwa sosok Gerald duduk dihadapannya.
“Aku nyata Mir, aku masih hidup. Aku sudah mencarimu ke rumah lamamu. Tapi kata tetangga kamu sudah pindah setahun terakhir ini.
Aku baru kembali dari Hongkong untuk pengobatanku. Akibat kecelakaan itu wajahku rusak arah. Aku koma hampir sebulan.
Menurut dokterpun aku tak bisa bertahan hidup tapi syukurnya aku masih diberi kehidupan sampai sekarang. Aku sangat merindukanmu Mira. Aku ingin bertemu dan meminta maaf padamu dan orangtua mu. Aku telah menyakitimu, aku menyesal Mira”
Mira tahu seseorang yang ada di semasa lalunya kini telah kembali tanpa pernah dia harapkan. Dia juga tidak pernah menyangka kehidupan akan mempermainkan dirinya seperti ini.
Setelah sekian lama, dia mengobati luka dihatinya. Di saat dia mulai membuka hatinya untuk orang lain.
Justru seseorang dari masa lalunya muncul dengan kenyataan yang sangat sulit di terimanya.
“Maafkan aku Ger, aku masih belum bisa berpikir saat ini. Tolong tinggalkan aku pergi. Aku butuh waktu” Mira terkesan menolak kehadiran Gerald. Mendengar reaksi yang diberikan Fira membuat Gerald merasa terluka dan sedih.
“Kamu sungguh memintaku pergi, Mira” Gerald mengucapkan perkaaan itu dengan hati yang getir.
“Kamu mengusirku” kali ini nada bicara Gerald lebih menusuk perasaan.
“Aku hanya belum siap melihatmu muncul di hadapanku. Aku belum bisa menerima kenyataan ini.
Mira menahan air mata yang sedari tadi ingin tumpah dari pelupuk mata.
“Pergilah Ger. Aku butuh waktu” ujar Mira dengan nada bergetar. Melihat reaksi Mira yang justru bertolak belakang dengan apa yang dia harapkan.
Gerald berdiri dari tempat duduknya dan berjalan dengan Langkah gontai dia keluar dari kafe meninggalkan Mira yang masih duduk di tempat terakhir dia meninggalkannya.
………………………………….
“Yakin mau ketemu sama Mira dulu? kan bisa ketemu besok saat wisuda kamu sayang” tanya Kendra.
“Hari ini saja mas. Aku ingin memberikan resep bar uku padanya. Toh wisudaku masih minggu depan mas”
Akhirya Kendra menuruti apa kata istrinya.
Mobil yang dikendarai melaju ke restoran milik Dera.
“Mbak.. mbak… Mira”
“Mbak Mira” panggilan seseorang membuat Mira tersadar dari lamunanya. Ternyata sejak datang ke restoran milik Dera, dia hanya melamun saja. Bahkan dia hanya diam tanpa melakukan aktifitas apapun. Pikiran Mira sedang banyak sejak pertemuan dengan Gerald.
“O ya.. ada apa?” tanya Mira kepada salah satu karyawan restoran.
“Mbak Dera sedang menunggu Anda di ruangannya” jawabnya. Dan membuat Mira melangkahkan kaki ke ruangan Dera.
Apa aku akan memberitahukan masalah ini pada Dera? Ataukah harus memendamnya sendiri? Kenapa sih Ger, kedatanganmu membuatku sangat bimbang. Aku ingin menatap masa depanku, tapi aku juga tak begitu saja lupa atas masa laluku.
“Miraaaa..” ucap Dera begitu mengetahui Mira masuk ke ruangannya.
Dia langsung menghambur ke arah Mira sambil memeluk Mira erat membuat Mira merasa kesulitan bernapas karena perbuatannya. Sedangkan Kendra hanya mellihat dua anak manusia yang sedang melepas rindu.
“De..Ra…” ucap Mira tersengal-sengal dipeluk oleh sahabatnya. Bagaimana dia bertingkat seperti lama saja tidak bertemu. Padahal hanya seminggu saja sepertinya mereka tak bertemu.
Dera sudah kembali ke aktifitasnya. Begitupun Kendra.
…………………………………
“Apakah ada masalah selama tidak ada aku?” tanya Kendra kepada Sekretaris Rey.
“Sammpai sejauh ini masih belum ada pergerakan lagi” ujar Sekretaris Rey.
“Jadi apa maksud dia kemarin? Memberi kita peringatan?” Kendra menjadi geram jika memikirkan hal ini. Danu beneran tidak bisa diajak kompromi.
“Kita juga tidak bisa membuktikan kalau ini perbuatan Danu. Tidak ada bukti yang mengarah padanya” lapor Sekretaris Rey.
“Aku tahu, lalu apa kata John dengan masalah ini?”
“Kalau dia menyerang kembali, John akan menyiapkan alat untuk mendeteksinya. Kita hanya perlu menahan dia menyerang kita selama tiga menit. Kalau kurang maka kita akan susah mendeteksinya"
“Baiklah, ikuti saja saran dari John, dia juga yang lebih berpengalaman dalam hal ini. Lantas apa yang akan dilakukan Danu setelah menikahi Seva Aryawiguna?”
“Dia akan mengambil alih perusahaan milik Tuan Aryawiguna dan menjadikan perusahaan itu penyuntik dana utama untuk bisnis yang lain. Dan ini adalah foto yang di dapat oleh mata-mata kita”
Sekretaris Rey menyerahkan sebuah amplop coklat yang berisi beberapa foto yang dia dapatkan dari mata-mata khusus yang dia sewa jasanya untuk membuntuti Danu selama ini.
“Dia bersama dengan seseorang yang menurrutku orang inilah yang berada di balik Danu. Karena keberadaan orang ini membuat Danu berani melawan perusahaan Petra Corp”
“Siapa dia?” kendra memperlihatkan dengan seksama wajah lelaki tersebut namun dia tidak mengenalinya sama sekali.
“Masih membutuhkan beberapa waktu kembali. Dia bukan orang dari kota ini. Jadi butuh waktu dan ada pengaruh orang ini bagi Danu”
“Selidiki sedetail mungkin tentang orang ini”
“Baik pak Bos”
“Mungin nanti sore aku akan mengunjungi keluarga dari Dera. Dia sangat merindukan keluarganya. Jadi tolong gantikan aku untuk meeting yang ada” ujar Kendra bersiaap-siap untuk pergi”
.
.
.
Author: Hello guyss, gimana nih?? apa ada masukan cerita buat author 😅