
Hallo guys, yuk baca novel yang lainnya juga biar author semangat buat ngelanjutin ceritanya. Yuk capcus.
______________
Malam telah tiba dan Brian pun telah sampai dirumah mewah Alula. Mobil telah dibuka oleh security dan dipersilahkan dirinya untuk turun serta masuk ke dalam rumah Alexander. Dia pun hanya mengikuti perintah demi perintah dari sang pelayan. Sampailah di sebuah sofa warna maroon yang besar.
“Sebentar ya Tuan, saya panggilkan Nona Alula dulu” ucapnya sambil berlalu mencari keberadaan sang Nona. Brian hanya menganggukkan kepala kecil sebagai tanda mempersilahkan. Sembari menunggu kedatangan Alula, sengaja Brian melihat notifikasi di ponselnya dan membuka aplikasi chatting warna hijau.
“Hai, are u okay?” ketikan dari sebuah nomor yang dia yakini adalah nomer sang cinta monyetnya dahulu.
Wajahnya yang kaget namun juga bahagia tersebut begitu menyelimuti dirinya. Tanpa dia sadari senyuman manis terukir di bibir Brian. Tak selang beberapa saat kemudian Alexander muncul dan menghampiri Brian.
“Nak Brian, baru sampai?” tanyanya basa-basi pada anak muda yang tampan dihadapannya.
“Iya om. Ini baru sampai. Ijin ya om, Brian mau ajak Alula jalan” ijinnya pada sang papa dari gadis manis yang akan di ajak keluar.
“Iya, boleh. Gak apa-apa. jangan disakikitin ya. Berangkat utuh berarti pulangpun utuh. Kalau ada yang lecet sedikit aja, awas ya. Wkwkwk” ucap Alexander menyampaikan pesan pada Brian dan di iringi dengan gelak tawa.
“Ya om. Siap” akhirnya basa-basi terus berjalan dan Alexander mengambil sebuah catur untuk menunggu kedatangan anaknya.
Dalam hati Brian pun merasa “ko belum muncul sih, udah hampir 15 menit ini. Bener-bener ya cewek itu lama banget kalau lagi siap-siap” batinnya dengan sesekali memperhatikan jam tangannya.
Tak lama kemudian, suara sepatu membuatnya mengalihkan pandangan. Tangan yang masih membawa anak catur itupun seketika terjatuh melihat kecantikan Alula.
“cantik” ucapnya tanpa disadari. Namun sangat jelas terdengar di telinga Alexander dan dia pun hanya tersenyum melihat kisah anak muda-mudi yang ada dihadapannya.
Seorang gadis cantik dengan setelan baju feminim itu pun mampu menarik perhatian Brian sepenuhnya. Alula yang dipandang dengan intens itu pun merasa risih. Sang mama yang ada disamping Alula pun merasa bangga karena masih handal dalam memoles wajah.
Gak sia-sia aku bisa make up dan bisa ku praktikkan untuk anak perawanku ini. Lihat nih Brian, cantik kan anak tante. Doa terbaik untuk kalian pokoknya deh. Batin Ayu dengan tersenyum pada Brian yang sedang bermain catur bersama Alexander.
“Cantik sekali anak papa. Ayo buruan sini nak, Brian sudah menunggu dari tadi” tutur Alexander pada sang anak gadisnya.
“Ehem.. Brian” Alexander berusaha menyadarkan pria muda yang sedang terpana dengan kecantikan sang anak.
“Oh ya om. Iya”
“E pa. Tapi Alula belum berpamitan pada kak Kendra. Nanti kalau ada apa-apa gimana? Alula lagi yang disalahin”
“Oh ya pa. Mama lupa tadi kan Nak Brian disuruh ketemu sama Kendra. Papa inget kan?”
“Ya udah sana Alula pergi ke kamar Kendra. Sekalian tanya dia mau apa gitu? Mumpung ini Brian sudah sampai disini” tutur Alexander yang sebenarnya sudah tau apa yang akan ditanyakan pada anaknya.
Alula berjalan menuju kamar Kendra seorang diri. Dengan menekan tombol lantai 2, lift yang ada dihadapannya telah naik di lantai yang dituju. Tanpa didampingi Brian, dia memberanikan diri untuk apa sang kakak ingin Brian bertemu dengannya. Sebelum bertemu Kendra sebisa mungkin Alula mengatur napas dan mengontrol emosinya jika nanti ada pertanyaan yang tak ingin ditanyakan.
“Bismillah, satu dua tiga. Kak, kak Kendra, Kak” suaranya yang melengking itu pun sampai terdengar di lantai dasar hingga sang mama meminta Alula untuk memanggil Kendra sekalli lagi namun dengan suara yang lebih keras.
Di dalam lift pun Alula menggerutu tak ada habis-habisnya. “Gimana sih, tadi suruh manggil. Tadi pengen ketemu Brian, tadi mau tanya sesuatu. Ah aneh sekali ini kakak ku”
Ayu mendekati sang anak dan bertanya perihal keberadaan Kendra.
“Bagaimana tadi kakakmu denger gak? Tadi kenapa juga gak kamu tekan aja tombol suara yang tersambung dengan kamarnya? Malah teriak-teriak begitu. Malu ah sama Nak Brian" Ucap Ayu.
“Oh yay ya Ma. Alula lupa ma. Tau gitu tadi Lula tekan aja daripada ngehabisin suara Alula” tanpa mempedulikan Brian yang ada dihadapan, dia pun fokus pada mamanya.
“Ya udah sana gih kalian keluar aja gak apa-apa. nanti biar papa aja yang ijin ke kakak mu”
“Bener om, tante? Maaf ya kalau kehadiran Brian justru membuat suasana menjadi seperti ini”
“Gak apa-apa nak Brian. Udah gih sana pergi, awas ya pulangnya jangan malem-malem”
akhirnya Brian dan Alula berpamitan pada orang tuanya lantas pergi. Alula yang mendapat perlakuan istimewa dari sang prince itu pun merasa berharga. Dengan perhatian kecil yang tak pernah dia temukan di sosok pria yang lain.
“Apa ini rasanya diratukan oleh pasangan? Jalan didahulukan, pintu mobil dibuka dan…. Dia menjadi pahlawan bagiku di depan keluarga. Apa ini yang namanya pacaran? Mengapa jantungku berdetak lebih cepat dibandingkan biasanya? Dan ini adalah kali kedua aku naik mobil yang sama dengan orang yang sama” batin Alula yang kini berada di dalam mobil dengan memegangi dadanyaa tanpa Brian tau.
Sedangkan dalam perjalanan, pikiran Brian tertuju pada pesan singkat tadi. Dia ada di posisi dimana kini raganya sedang disini namun jiwa dan cintanya ada ditempat yang lain. Tanpa Alula tau, sosok gadis yang Brian idamkan adalah seorang cinta monyet ketika Brian masih kecil.
Mobil terus melaju dengan kecepatan yang normal hingga memecah kemacetan. Namun berbeda dengan mobil yang mereka naiki yang hawa dingin pun makin terasa, apalagi tak ada perbincangan sedikitpun.
“Ehem. Tumben ngajak jalan, ada apa nih?” ucap Alula memecah keheningan.
“Ya pengen ngajak jalan aja. Kita akan kesuatu tempat yang sangat indah dan ga pernah kamu temuin sebelumnya”
Jawaban Brian membuat Alula merasa bertanya-tanya, namun dia enggan untuk memperpanjang apa yang dimaksud Brian, toh juga nantinya akan sampai di tempat yang dituju. Itu yang dipikirkan.
...____________________...
...Aku tidak tau hatimu untuk siapa....
...Aku tidak tau perhatianmu ini tujuannya apa....
...Dan aku tidak tau cintamu untuk siapa....
...Yang pasti untuk saat ini,...
...Ragaku, diriku disini untukmu....
...Terlepas dari apapun masa lalu dan bagaimana kamu dahulu....
...Aku bersamamu kini adalah aku yang tanpa atas masa lalumu....