
Hello guys apa kabar nih. Semoga selalu baik-baik saja ya. Eits tapi untuk masalah hati apa kabar? Semoga selalu baik-baik juga sama si doi hehe.
Jangan lupa like, comment dan follow ya. Baca juga novel HELLO DOSEN KUTUBKU. Terima kasih.
___________________
“Eits tunggu, ini ada foto anak kecil tapi perempuan. Tapi tunggu… bukankah ini Brian? Brian kecil? Lantas siapa anak perempuan ini? Dia kan anak tunggal. Em mungkin saja saudara jauhnya” Alula menelaah dan menyamakan foto yang ada dihadapannya.
Rasa penasaran tentang foto seorang anak kecil perempuan pun hanya di simpannya. Toh juga dia tidak tau menau asal foto anak perempuan tersebut. Tak lama kemudian ada seorang pelayan dan juga seorang yang diyakininya akan mendandaninya. Karena dia membawa beberapa kotak perlengkapan alat make up.
“Perkenalkan Nona. Saya Mbak Nuri yang akan merias Nona Alula” ucapnya sambil menundukkan kepala.
“Oh iya, baik mbak” akhirrnya Alula kembali ke tempat semula.
“Maaf Nona, kita pindah ke kamar itu saja. Ini perintah dari Tuan Muda Brian” Bi Darti yang diperintahkan oleh Brian pun menjalankan tugasnya dengan baik.
“Oke, baiklah Bi”
Brian benar-benar memperlakukan ku layaknya Wanita special, tapi aku ga boleh baper begitu saja. Tapi aku udah baper sedikit. Terus gimana dong? Batinnya.
_______________________
Di rumah Alexander.
“Pah, Alula apa jadi pergi sama si Brian itu?” tanya Kendra yang kini terbangun dari tidurnya. Dia merasa ada yang mengganjal sehingga memutuskan untuk menemui Papanya.
“Ya, jadi. Kenapa Ken?” jawab Alexander dengan meneguk teh hangat.
“Ko keluar ga bilang sama Kendra sih Pa. Kendra itu mau tanya ke pria itu, apa dia mau main-main aja sama adekku apa gimana? Cowok sekarang banyak strateginya Pah” Kendra mengungkapkan kekhawatirannya pada sang adik.
“Nak, percaya saya Brian itu anak yang baik. Nanti suatu saat kalau kamu ketemu dia, bisa kita bahas masalah ini. Dan satu lagi, tadi itu Alula sudah berusaha memanggilmu beberapa kali. Tapi tak ada jawaban darimu” ucapan Alex membuat Kendra duduk dihadapan Papanya.
Apa? Alula jadi tadi memanggilku? Tapi ko aku ga dengar ya? Apa saat aku dan Dera berolahraga malam itu tadi? Apa saat aku tidur? Sehingga tidak mendengar panggilan dari Lula? Pikir Kendra berusaha mengingat kejadian tadi.
“Ya mungkin manggilnya kurang keras Pa. Buktinya Kendra ga dengar dan ga bangun juga kan?” Kendra mengelak agar tidak di salahkan oleh Papanya.
Setelah debat beberapa lama, akhirnya Kendra pun mengalah lantas mengambil minum dan melanjutkan tidur ke kamarnya.
Benar-benar diriku lelah sekali setelah olahraga dengan istri tercintaku. Dan aku benar-benar menikmati malam itu. ucapnya dengan membuka pintu kamarnya.
Bersamaan dengan hal tersebut, Kendra mendapat telpon dari Sekretaris Rey.
“Tumben nih, malem-malem telpon. Seingatku ga ada masalah apa-apa, lantas apa yang ingin dia laporkan. Hemm” gerutunya memperhatikan nama Rey yang tertera di layer ponselnya.
“Halo Rey, gimana?” tanya Kendra.
“Pak Bos, sepertinya kita harus membahas mengenai suntikan dana dari Andreas”
“Andreas? Ada apa lagi? Bukankah masalah ini sudah clear?”
“Ya, memang Pak Bos. Dia terus mengungkit masalah anaknya yang akan dijodohkan dengan adik Pak Bos?”
“Apa? perjodohan? Ya kali aku akan menjodohkan adik saya dengan anaknya. Ga mungkin Rey. Kamu tau kan aku sayang sekali dengan Alula. Pria itu lagi-lagi berulah dengan masalah yang sama” ucap Kendra gamblang pada Rey.
“Ya Pak Bos. Saya paham. Lantas apa yang harus kita lakukan?”
“Baiklah” telponpun selesai dan tak hanya berhenti disitu saja, Kendra pun memikirkan bagaimana nanti adiknya akan bertahan jika harus menikah atas dasar perjodohan? Bahkan tak pernah terbayangkan sama sekali ketika adiknya harus menikah dengan orang lain sedangkan dirinya sudah memiliki pria idaman.
Kendra berusaha mengerti posisi adiknya yang tidak memungkinkan melanjutkan perjodohan.
Mondar mandir kesana kemari, akhirnya dia menelpon adiknya untuk menanyakan keberadaannya.
“Halo, dimana?” tanya kendra tanpa basa-basi.
“Di rumah Brian kak, gimana? Apa ada yang penting ka?”
“APA?! DIRUMAH BRIAN?! Kamu ngapain disana?? Cewek baru kenal beberapa hari aja udah mau diajak ke rumah. Memangnya Mama Papa ngajarin kamu apa dek? Ha??” Kendra yang merasa kaget pun hanya bisa membelalakan matanya lebar-lebar. Dia tak menyangka bahwa adiknya akan seberani ini pergi ke rumah sang kekasih apalagi seorang wanita pergi sendirian.
“Ka.. bukan begitu, maksud Lula itu…” belum juga selesai Kendra sudah meminta nya untuk pulang.
“Cepat pulang sekarang dan 20 menit harus sampai” titah Kendra.
“WHAT??” telpon pun dimatikan.
Kendra yang sudah terbakar emosi pun segera menghampiri sang papa. Dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada adiknya tersebut. dengan cepat dia menuruni anak tangga tanpa mempedulikan lift yang ada dan tentunya lebih cepat sampai ke lantai bawah.
“Pahh.. Papah.. Mah.. Mamah” Kendra memanggil Papa dan Mamanya untuk menceritakan apa yang diketahui.
“Apa sih Ken? Papa mu sedang menerima telpon dari teman lamanya. Ada apa? hem? Teriak-teriak seperti anak kecil saja” ucapan Mamanya membuat Kendra semakin menjadi.
“Oke, nunggu Papa sekalian Ma. Intinya Alula harus segera menikah” ucap Kendra dengan menggebu-gebu.
“APA? MENIKAH? SAMA SIAPA? Jangan g!la kamu Ken” Papanya yang berada dari arah lain pun memberikan respon kaget. Mengapa tiba-tiba sekali sang anak meminta Alula untuk menikah, padahal dia tau bahwa Alula tidak mungkin berbuat senonoh.
“Pah, asal Papa tau ya. Ini Alula ada di rumah Brian, seorang diri. Apa pantas Pa? ga pantas Pa. Bisa ga bisa pokoknya Alula harus segera menikah. Kendra ga mau jika nanti laki-laki it uterus mengajak Alula berbuat yang tidak baik”
“Kamu beneran? Serius? Ga bohong kan nak?” respon sang Mama yang merasa kaget begitu lemas mengetahui fakta yang diberikan anak sulungnya.
“Mending kita tunggu saja mereka Ma, Pa. Ini tadi Kendra sudah meminta mereka untuk segera pulang”
Detik demi detik berlalu, hingga menit per menit. Semuanya tegang dan mengharapkan informasi yang salah. Apalagi Tindakan yang senonoh yang dua sejoli itu lakukan. Mau di taruh dimana muka seorang Alexander dan Ayu nantinya? Keluarga sang pembisnis handal dicoret oleh sang anak secara tidak langsung.
Suara mobil yang terhenti di depan rumah pun membuat mereka bertiga beranjak dari duduknya. Dengan tatapan sinis dan raut wajah yang tak bisa terdefinsikan lagi.
Brian dan Alula masuk ke dalam rumah setelah sang pelayan membukakan pintu utama. Mereka disambut oleh Alexander, Ayu dan Kendra.
Dengan wajah santai dan biasa saja serta mereka sadar bahwa tidak ada yang mereka lakukan apalagi diluar norma.
...________________________...
...Terima. Semua yang terjadi bukan sekadar “kebetulan”...
...Hidup ini sudah ada aturan....
...Apapun yang terjadi pasti memiliki maksud dan tujuan....
...You can do it....