
Jangan lupa vote dan sarannya ya man-teman.
Karena saran dan masukan dari kalian itu penting banget.
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Dan jangan lupa memberi bintang 5 ya🌟🌹
Happy reading.
🌹❤️
....................
Alula mendorong troli belanjaan mengikuti mamanya yang dari tadi belum selesai juga memilih bahan yang di perlukan.
Di tengah asyiknya mendorong troli sambil memainkan ponselnya dan tanpa melihat jalan di depannya ada orang atau tidak.
Padahal tadi sudah di peringatkan mamanya agar tidak bermain ponsel dulu takutnya nanti nabrak orang lain.
“Aduhhh”
Dan benar saja dari arah depan troli Alula ada suara cowok. Dengan segera Lula memasukkan ponselnya ke tas kecil yang dibawanya.
Lula dengan cepat melihat ke depan troli, ada seorang pria tengah tersungkur di lantai dan beberapa camilan berserakan di sebelah cowok itu.
“Maaf maaf. Ada yang luka gak?” tanya Lula sambil membantu pria itu bangun.
“Kalau jalan jangan main hp kan jadi nabrak orang” omel pria tersebut.
“Iya-iya maaf gak sengaja” sekuat tenaga Alula berusaha menarik pria itu berdiri.
“Kan jadi jatuh semua belanjaannya” kesal cowok itu sambil menoleh kearah Lula.
“Hih Brian!. Dimana-mana ko ketemu lo terus sih. Gak kemarin, gak hari ini. Terus besok lagi kapan? Ha!” ucap Lula yang kaget dan tak menyangka pria yang dia tabra adalah Brian.
“Loh lo lagi, lo lagi. Bosen gue tiap kemana-mana ada lo. Cewek cantik banyak tapi kenapa haru ketemunya lo lagi lo lagi"
“Jangan bilang lo ngikutin gue ya” selidik Brian dengan melihat mata Alula tajam.
”Ha? enggak lah, lagi nganterin mama belanja tau” sambil melihat kesana kemari mencari mamanya.
“Lah dimana mama tadi ko ilang” kata Lula dengan celingukan mencari keberadaan mamanya.
Walaupun Alula kesal dengan Brian, namun sisi kemanusiaannya tetap masih ada.
Dia yang melihat barang bawaan Brian yang jatuh berantakan, pun membantu mengumpulkannya dan Brian menerima belanjaan yang sudah di kumpulan Alula.
“TERIMA KASIH” kata Alula dengan menyindir Brian karena tidak mau mengucapkan terima kasih.
“hem ya ya. TERIMA KASIH, PUAS” akhirnya Alula tersenyum puas dengan sikap Brian kini.
Tiba-tiba saja dari arah belakang Lula ada yang batuk, seketika membuat Lula menghentikan senyum jail pada Brian.
“Uhuk uhuk”
“Eh mama, kemana aja ma” tanya Alula sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Mama yang harusnya nanya kemana saja ko gak ada di belakang mama tadi” tanya balik Ayu pada anak gadisnya.
“Itu ma.. “penjelasan Alula terpotong oleh pertanyaan mamanya.
“Ini siapa? Ganteng sekali” sambil menghampiri Brian.
“Saya temannya Alula tante” jawab Brian dengan menundukkan kepala sedikit.
Wah gak beres nih. Harus cepet-cepet pergi dari sini. Mama makin kepo aja, bisa-bisa aku disuruh cari pacar. Pokok jangan sampai di jodohkan seperti Kak Dera dan Kak Kendra. Batin Lula.
“Mama udah belanjanya?” tanya Lula.
"Udah, tinggal ke kasir aja. Tadi mama tungguin kamu di kasih tapi gak muncul makanya mama balik lagi” jelas mama Lula.
"Hehe, maaf ma”
"Ya sudah setelah itu kita makan ya, Nak.Brian ikut ya. Gak apa-apa ko" ajak mama Lula.
“Eh gak usah tan. Brian mau pulang aja. Lagian gak enak juga sama Alula” Brian kembali memberikan senyuman pada Alula sebagai tanda berhasil mengelabuhi mamanya.
“Udah gak apa-apa ayo. Kan Tante juga perlu tahu siapa saja temen anak tante. Bukan begitu Alula” ujar mamanya yang merasa senang karena bisa melihat anaknya kini mempunyai teman laki-laki.
Pasalnya tidak pernah sekalipun Alula mengenalkan pria pada orang tuanya padahal usianya hampir menginjak 22 tahun.
Setelah mereka antri, dan Brian pun hanya bisa pasrah mengikuti mama Alula dan Alula di belakang berbisik pada Brian.
“Oh ya, maaf ya nak, mama memang suka maksa orangnya hehe” bisik Mama Lula dan diangguki oleh anaknya.
“Lula, sekalian bayari belanjaan Brian ya. Card mama ada di tas” Ayu menyerahkan tas nya pada Alula.
“Ha? mama yakin?” hanya dijawab anggukan oleh sang mama.
“Tante gak usah tan. Biarkan Brian saja tan”
“Udah gak apa-apa, jangan sungkan ya sama tante. Tante senang Alula punya teman seganteng kamu”
“Siapa tau bisa jadi calon mantu juga” lanjut mama Lula.
"Ihhh, mama..." rengek Lula.
Tak lama kemudian, Alula membayar di kasir. Sedangkan Brian dan Mamanya bergeser ke tempat lain.
Untung saja tak antri, jadi tak membutuhkan waktu lama.
“Mama...” kesal Lula yang sudah kembali dengan membawa plastik berisikan belanjaan mamanya dan Brian.
Sedangkan Brian merasa kikuk dan tidak enak belanjaannya dibayari oleh mama musuh bebuyutannya.
Mereka akhirnya menuju sebuah café dan makan disana.
Hanya obrolan kecil dan candaan saja. Brian yang tertawa renyah sedangkan Alula hanya mengangguk dan mengiyakan saja. Karena dia malas jika bertemu dengan Brian.
Di Parkiran
“Brian, bener gak mau pulang bareng tante dan lula?” tanya Ayu pada Brian.
“Tidak tan. Terima kasih. Brian bawa mobil sendiri” ucapnya sambil menundukkan kepala.
"Yaudah kapan-kapan main ke rumah ya. Kami tunggu” ucap Ayu sambil menggandeng tangan Alula dan menenteng belanjaan. Akhirnya mereka berpisah disana.
^^
Di rumah Mira.
Mira telah bersiap-siap untuk menghabiskan waktu cutinya di rumah orang tuanya.
Dia sudah mendapatkan tiket penerbangan ke sebuah kota S kemarin.
Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Mira ragu ingin memberi kabar pada Dera, “Iya atau tidak?” pikirnya.
Karena dia tau sahabatnya itu butuh waktu untuk quality time dengan suaminya.
Namun di sisi lain, dia melihat banyak pesan yang dikirim oleh sekretaris Rey kepadanya.
Rupanya itu pesan dikirim ketika Sekreatris Rey ketika tidak menemukannya dikantor.
Mira menjadi merasa bersalah karena kejadian waktu menyembunyikan Dera dirumah tantenya.
Padahal memang maksud Mira itu baik. Dia hanya ingin melindungi sahabatnya dari Kendra.
Masih sangat di ingatnya saat mantannya yang kini kembali, Gerald yang ditemuinya di sebuah café, menanyaakan perihal perasaannya. “Apa yang salah dengan diriku Mir?” Mira mulai putus asa dan menangis.
Dia tidak kuasa melawan Gerald. Tapi melihatkan Sekretaris Rey bukankah sangat berbahaya.
Mira akan merasa sangat bersalah jika dia menjadi penyebab sesuatu yang buruk terjadi pada Sekretaris Rey. Mira menarik kopernya melaju ke halaman rumahnya.
“Duh, aku chat Dera gak ya. Kalau aku mau ke rumah orang tuaku” setelah di timbang akhirnya dia memutuskan untuk memberi tahu Dera. Setelah itu dia bergegeas memanggil taksi online untuk mengantarkannya ke bandara.
^
Setibanya di bandara, Mira melihat-lihat sekelilingnya. Dia menghembuskan napas perlahan. Apalagi yang dirinya tunggu, batin Mira. Segera Mira menarik kopernya menuju ke ruang pemeriksaan. Namun, tiba-tiba seseorang menarik tangan Mira. Dan membuat Mira berbalik ke belakang.
“Mira, tunggu” dia tampak terkejut melihat siapa yang datang. Bagaimana dia bisa tau kalau Mira berada di bandara. Siapa yang memberitahunya?.
"Kamu”
_____
Haruskah pergi untuk melupakan sesuatu?
Ataukah pura-pura lupa?
Atau bagaimana?
Aku paling bodoh perihal perasaan.
Tidak seperti dirimu yang ahli dalam permainan hati.