PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
episode #63



Rey yang seketika juga berdiri dari kursinya, ingin rasanya dia berlari dan menahan Dera untuk pergi dan menenangkannya.


Namun apalah daya, ini memang keputusan Kendra sebelum semuanya terbongkar dari mulut orang lain.


Rey juga kasihan dengan Kendra ataupun Dera, tapi kini dia tak bisa apa-apa.


Dilihatnya Kendra yang mengejar Dera hendak menyeberang jalan namun tiba-tiba dari arah samping


ada mobil yang melaju kencang dan Dera tidak memperhatikan lampu peringatan untuk penyeberangan.


“Tidak!!! Dera..” Teriak Kendra sekencang mungkin.


Brakkkkkk!


.


.


“Mas!!!”


“Mas Kendraaa”


Dera menggoyangkan bahu Kendra namun tak ada respon darinya.


"Masss!!"


“Eh, iya sayang” Kendra terkejut dengan pukulan keras Dera di meja yang ada di hadapannya.


“Kamu ini ya, aku sedang bicara panjang lebar, kenapa malah bengong mulu” sungut Dera karena sedari tadi Kendra tidak fokus dengan apa yang dia katakan.


Bahkan Kendra justru melamun, Dera sunggguh kesal dengan sikap Kendra.


Ah, ternyata hanya lamunanku saja.


Kendra menghela napas panjang. Dia menarik jari-jemari tangan Dera dan menggenggamnya erta.


“Maaf sayang. Aku kurang fokus hari ini” ujarnya pelan. Dera merasa Kendra memang berbeda beberapa hari ini.


"Apa kamu demam Mas?" Dera tiba-tiba menyentuh kening Kendra.


“Kamu tidak demam mas, apa kamu merasa kurang enak badan?” tanya Dera dengan cemas. Dia takut kendra kenapa-kenapa.


Kendra menggeleng “Tidak aku baik-baik saja sayang”


“Sebenarya ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu” ucap Dera kali ini dengan serius, siap gak siap harus siap. Itu pikirnya.


“Ada apa mas? ceritakan saja. Daripada harus kamu pendam malah membuat mu tak fokus seperti ini”


Dera melihat raut wajah Kendra yang tidak seperti biasanya.


“Aku ingin jujur padamu tentang..”


Halllooooooo


“kakak kakak ku!” Alula datang dengan napas ngos-ngosan dan membuka pintu belakang restoran


dengan kasarnya sehingga membuat Dera dan juga Kendra terkejut melihatnya.


“Lula, ada apa“ tegur Dera melihat tingkah adik iparnya yang bar-bar itu.


“Kalian deh.. hehhh.. apa… yang… kalian lakukan disini! Sekretaris Rey menelpon ku .. heh” ucap Alula sambil menata napasnya karena telah mencarinya ke berbagai ruangan yang ada di restoran.


Mendengar nama Sekretaris Rey. Kendra memiliki firasat yang tidak baik. Dia segera mengambil ponsel nya yang dia letakkan di saku jasnya.


"Hallo, kenapa Rey?" Kendra menelpon Rey balik.


"Tuan Besar Alex masuk Rumah sakit Pak. Ini saya dan John sedang menuju ke RS bersama Nyonya Ayu juga"


"Apa??!!" Kendra syok


Begitu pun Lula yang melihat Kendra dengan penasaran apa yang terjadi hingga membuat kakaknya syok.


Telpon pun dimatikan.


“Papa masuk Rumah Sakit Dek,. Sakit jantung Papa kambuh” ucapan Kendra membuat Alula menjatuhkan ponselnya seketika.


Dera ikutan terkejut melihat reaksi Alula yang sedemikian syoknya.


“Apa!” Alula merasa tidak percaya dengan pendengarannya.


Bagaimana bisa? Bukankah tadi pagi Papa masih baik-baik saja? Lantas apa ada hubungannya dengan sakit jantungnya? Hiks hiks. Alula menangis.


Kendra bergegas pergi dari restoran sampai tidak sadar menabrak kursi yang ada di hadapannya.


Dia juga menunggu Dera dan Alula untuk bersiap-siap pergi ke rumah sakit.


“Mas, tunggu” teriak Dera.


“Tolong, jaga kedai ku Pak” pesan Dera sebelum berlari mengikuti Kendra.


"Tunggu kak, mau ke kamar mandi sebentar. Pengen pipis" ucap Alula menghentikan langkah Kendra untuk segera bergegas.


"Ah anak itu pasti aja kalau mau pergi pengen pipis. Kebiasaan deh" gerutu Kendra.


Dera dengan sabarnya menenangkan suaminya itu.


Alula kembali, hingga mereka menuju mobil.


Mira yang masih di restoran hanya menatap mereka pergi dengan raut wajah lelahnya.


“Semoga Tuan Alex baik-bak saja” Mira merasa kasihan dengan Dera dan juga Kendra kalau terjadi sesuatu dengan Papa Kendra.


Apalagi Alula yang masih seperti anak kecil yang sangat manja dengan papanya.


…………………


Kendra mengendarai mobilnya dengan cepat. Dia merasa bersalah karena sudah dengan sengaja mematikan ponselnya.


Dera yang duduk di sampingnya hanya bisa diam sedangkan Alula masih menangis dikursi belakang.


Dia tahu pasti Kendra saat ini sangat mengkhawatirkan kondisi papanya. Apalagi ada harapan papanya yang belum bisa dia berikan yaitu cucu.


Begitu sampai di rumah sakit, Kendra langsung berlari menuju ruang gawat darurat. Ruangan yang sedang menangani papanya. Sekretaris Rey, John, dan Mamanya menunggu di depan pintu.


Sedangkan dokter Frans sudah masuk ke dalam ruangan untuk menangani papa Kendra.


Dera dan Alula mengikuti langkah Kendra sampai berlari-lari dengan membawakan jas dan juga ponsel milik Kendra.


“Frans” Kendra bergegas menghampiri dokter Frans yang baru saja keluar dari ruang gawat darurat.


Sekretaris Rey, John, dan Mama nya ikut menghampiri Pak Bos nya. Di belakang Kendra, Alula ada juga Dera yang datang sambil terengah-engah karena mengikuti langkah Kendra yang terburu-buru.


“Kondisi paman sudah melewati masa kritisnya, sebentar lagi paman akan di pindahkan ke ruangan. Sekarang paman sudah tidak apa-apa. tapi Kendra, aku perlu bicara berdua denganmu di ruanganku” ucap dokter Frans kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan lima orang disana.


Kendra melihat ke arah Mama nya dan Dera. Mereka menganggukkan kepala untuk segera mengikuti dokter Frans. Kendra berjalan ke arah ruangan sahabatnya tersebut.


“Duduklah, Ken” ujar dokter Frans mempersilahkan Kendra duduk di hadapannya.


Dokter Frans menunjukkan hasil pemeriksaan yang telah dia lakukan. Kendra mendengarkannya dengan baik.


“Sudah seharusnya ini ada pemasangan ring di jantung paman Alex. Ini sudah sangat mengkhawatirkan Ken”


“Apa papa bisa sembuh?”


“Bisa, ada kemungkinan 90% jika dibantu dengan ring jantung. Namun jika itu berhasil”


Kendra mengusap kasar wajahnya. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa kali ini. Dia merasa gagal sebagai anak tidak bisa melakukan sesuatu untuk sang papa.


Sefatal itukah sakit papa sekarang??


“Apa tidak ada acara lain untuk mengobatinya?”


dokter Frans menggeleng.


“Aku tau iki tidak mudah bagi kita semua. Manusia hanya bisa berusaha. Semua ketentuan hanya milik Nya. Aku dan Papa ku akan berusaha sebisa mungkin untuk kebaikan Paman Alex”


Kendra mengangguk “Jika papa tidak di pasang ring, berapa lama dia akan bisa bertahan?”


“Semua hanya kemungkinan, aku tidak bisa menjawabnya secara pasti. Saranku adalah tadi. Dan bahagiakan paman selama dia masih hidup. Kita tidak tahu apa rencana Tuhan ke depannya. Maaf Kendra, aku juga tidak inign hal ini terjadi”


Kendra tidak bisa menahan air matanya jatuh. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Frans juga bisa merasakan aa yang dialami oleh sahabatnya ini. Dia menepuk bahu Kendra menguatkan sahabatnya tersebut.


.


.


.


Author: Hallo guysss, gimana nih? masih nyimak gak nihh😂