
Pukul 10.00
Dera dan Kendra tengah berada di rumah sakit.
Mereka datang kesana diantar oleh Pak Yanto dan kedua bodyguardnya.
"Tumben Mas, Sekretaris Rey akhir-akhir ini gak kelihatan" tanya Dera yang memang merasa Rey kini begitu sibuk, entah dengan kerjaan atau dengan sahabatnya.
"Iya sayang, dia kini sedang deadline sebuah proyek jembatan. Kemarin juga sempat ada kendala" ucap Kendra.
"Oh ya Mas, Mas Kendra belum cerita bagaimana Sekretaris Rey bisa dekat dengan Mira" Dera menagih janji sang suami yang katanya ingin menceritakan kisah Rey dan Mira.
"Tepatnya, aku kurang paham Dek, tapi yang ku tau, mereka sering ketemu. Mungkin karena Sekretaris Rey dan Mira yang sering bertemu saat meeting. Soalnya perusahaan ku bekerja sama dengan perusahaan tempat Mira bekerja" Kendra menjelaskan.
"Aku malah gak tau sama sekali mas. Padahal ya kita ketemu terus, apalagi Mira juga sering main ke restoran"
"Oh ya, mengenai restoran bagaimana Dek? apa perlu suntikan dana dari ku?" tanya Kendra yang ingin mengembangkan usaha yang kini di rintis Dera.
"Gak usah mas. Restoran yang ku kelola sudah ada prospek baik. Ada peningkatan tiap weekend, jadi ada keuntungan yang mencapai target. Aku pengen mengembangkan ini sendiri mas" Dera menjelaskan keinginannya pada Kendra.
Keahlian Dera dalam memasak, di padu dengan keahlian membuat kue membuatnya bisa menambahkan menu-menu baru. Sehingga pembeli juga senang karena ada variasi baru yang bisa mereka coba.
Obrolan singkat itu sebagai obat untuk mengurangi rasa jenuh selama menunggu antrian di depan ruang periksa USG.
Mereka yang kini antri, kemudian fokus lagi pada speaker yang ada di atas ruang periksa. Walaupun Kendra orang terpandang dan kaya, dia tetap mengantri sesuai aturan.
Sebelumnya Kendra dan Dera menunggu terlebih dahulu untuk pengecekan USG.
Dan kurang lebih mereka menunggu sekitar 30 menit karena yang kontrol hanya ada beberapa orang saja, tidak seperti rumah sakit yang mungkin harus menunggu ber jam-jam.
“Loh, ketemu lagi Pak Bos Kenda dan Nyonya Dera, bagaimana kabar baby nya?” tanya Frans.
“Nah lo tanya gitu, udah tau sendiri baru mau ngecek..” ucap Kendra dengan sedikit kesal dengan sahabatnya itu.
“Tiap ke rumah sakit ko pasti ketemu lo sih Frans, berasa gak ada pemandangan lain aja nih” ucap Kendra.
“Duhh mas Kendra, sudahlah mas.. maaf ya Dokter Frans, ini kita baru mau check up. Kebetulan ketemu dokter di sini" Dera bertindak sebagai penengah antara Frans dan suaminya. Karena jika di biarkan terus-terusan bisa-bisa gak selesan ini.
“Iya Nyonya Dera, silahkan.. saya permisi dulu ya Nyonya.. jangan lupa usap perutnya Nyonya, takutnya nanti terlalu mirip papa!ya yang ganjen ini haha” ucap Frans.
Kendra yang mendengarnya langsung melayangkan tangannya ke bahu Frans, meninju pelan.
“Udah sana..kerja kerja” ucap Kendra.
“Baik Pak Bos Kendra, mari, Nyonya Dera”
“huu dasar dokter gak beres nihh” Kendra dan Frans layaknya anak kecil yang sudah lama tak jumpa.
Tak lama setelah Frans lergi, mereka mendapat panggilan, untuk segera masuk ke ruangan dokter, tepatnya ruangan akan dilakukan USG. Dera berbaring di atas brankar hitam, yang ada di ruangan itu.
Sedangkan Kendra duduk di salah satu kursi yang ada di dekat meja dokter.
“Nyonya Dera ya” ucap seorang suster yang tak lain ialah asisten dokter Ikhsan. Dera menganggukkan kepalanya dan tiba-tiba sang suster membuka sebagian baju Dera, hingga memperlihatkan bagian pusarnya.
Sontak Kendra yang melihat hal itu, ia sedikit terkejut.
“maaf Sus, apa dokter agnes tidak ada?” tanya Kendra yang melihat keberadaan dokter laki-laki yang duduk di kursi dokter, bukan Dokter Agnes.
“Dokter Agnes sedang cuti menikah Tuan. Untuk sementara akan digantikan Dokter Ikhsan” kendra yang mendengarnya langsung mendekati Dera.
Asisten dokter itu mengerutkan dahinya, “Ini memang prosedur USG Tuan” ucapnya.
“Tapi kenapa harus dibuka di depan dokter laki-laki sus” melirik ke arah dokter Ikhsan yang tengah sibuk, menghadap computer USG.
“Mas, dulu kan aku juga begini? Waktu check up dulu. coba deh mas Kendra ingat-ingat”
Asisten dokter Ikhsan hanya terkekeh, mendengar ucapan Dera.
“Tenang saja Tuan, ni tidak akan lama hanya berlangsung beberapa menit saja” ucapnya, sambil mengoleskan suatu gel lotion diperut bagian bawah, Dera.
“Sudah siap Dok” ucap wanita itu, kemudian dia segera keluar dari ruangan.
Doker Ikhsan pun segera menggeser kursi kerjanya, mendekati brankar. Kemudian dia hendak menempelkan transducer yang tak lain adalah alat bantuan USG. Namun tiba-tiba tangan Kendra, menghentikannya.
“Tunggu, dokter mau apakan istri saya?” tanya Kendra, meemgang lengan sang dokter.
Dokter Ikhsan pun menoleh menatap Kendra cukup lama
“Memeriksanya” jawabnya dengan dingin. Sambil menarik tangannya dari genggaman Kendra
dan ketika sang dokter hendak menempelkan tranducer itu di perut Dera, lagi-lagi Kendra menghentikannya.
“Dok, apa tidak ada cara lain? Selain ini?” tanya Kendra yang masih tidak rela jka sang dokter harus memegang perut Dera. Sang dokter hanya mengerutkan dahinya.
“Ada, USG transvaginal, mau?”
“Transvaginal? Vaginal.. itu ********?”
Seketika Kendra membelalakan matanya. Dan dengan cepat menggelengkan kepalanya.
“Tunggu dan tenanglah Tuan, agar saya bisa menyelesaikan pekerjaan saya dengan baik” ucap dokter Ikhsan karena sedikit merasa kesal.
Pria ini sungguh posesif sekali. Batin dokter Ikhsan menggelengkan kepala.
Akhirnya mau tak mau Kendra pun membiarkan sang dokter untuk memeriksa Dera. Dokter Ikhsan pun perlahan menempelkan alat traanducer itu di bagian panggul Dera, sambil menatap layer monitor. Untuk memeriksa kandungan Dera.
Begitupun Dera dan Kendra yang fokus menatap layer monitor. Sambil memaju mundurkan tranducer itu, dokter Ikhsan juga mengajukan beberapa pertanyaan kepada Dera.
“Nah, ini janinnya berkembang sesuai usia kehamilannya. Dan sesuai catatan dokter, apa benar nyonya Dera pernah mengalami benturan pada perut?” ucap sang dokter. Sambil menunjukkan sebuah gumpalan di perut Dera.
Kendra yang merasa bersalah hanya merasa bersalah sedangkan Dera yang mengetahuinya langsung menjawab dan seolah-olah terjadi kecelakaan padanya.
“Iya yok, kemarin hanya saya yang kurang berhati-hati dok. Untung saja babynya bisa bertahan ya dok”
“Iya , benar Nyonya”
Kendra seakan terharu melihat sang janji yang masih berupa gumpalan, yang kini ukurannya semakin membesar dibandingkan ukuran sebelumnya.
“Berhubung usia kehamilannya sudah memasuki 11 minggu, diharapkan untuk banyak beristirahat dan menjaga pola tidur dan makan” ucap dokter Ikhsan sambil mengakhiri USG nya.
“Jadi, berapa lama lagi dok bayi kita akan lahir?” tanya Kendra, Dera yang mendengar hanya terkekeh akibat ketidaktahuan suaminya itu.
“Anda harus menunggu bayinya lahir sekiar 30 mingguan lagi Tuan”
“Apa 30 minggu? Kenapa lama sekali?” ujarnya seakan terkejut, dokter Ikhsan lagi-lagi menggelengkan kepalanya melihat lelaki yang ada di hdapannya seperti orang bodoh.