PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
episode #77



Kendra tidak suka melihat istrinya menangis. Tidak suka melihat istrinya sedih. Kendra hanya ingin melihat istrinya bahagia karenanya.


Lalu Kendra berdiri dan berjalan ke arah jendela besar yang ada dalam kamar itu. Dengan cara apapun, Kendra akan membuat Dera terikat dengannya.


Kendra tidak akan membiarkan Dera pergi meninggalkannya. Meskipun Dera meminta ijin untuk pergi, apalagi semenjak Lidia melakukan hal di luar dugaannya.


Sebuah seringai muncul dibibirnya.


“Apapun akan aku lakukan sayang agar aku tetap bersamamu”


Tok tok tok


Pintu terbuka. Disana Mbak Nurul sedang menunduk hormat.


“Maaf Pak Bos, Nyonya Dera sedang mencari anda” ucap Nurul dengan sopan.


Pasalnya Dera belum mengetahui kamar yang ditempati Kendra kini, karena memang tidak mau membat Dera merasa tersaingi akan cinta Kendra di masa lalu dan masa kini.


“Apa yang dilakukan dia sekarang?” kata Kendra dengan dingin. Emosinya mulai menghampiri dirinya lagi ketika mendengar berita tersebut.


Rasa takut mulai menyelimuti Mbak Nurul ketika mendengar nada dingin dari aura yang menyeramkan itu.


“Nyonya sedang berada di kamar Pak” jawab Nurul sambil menunduk.


Tidak ingin kontak matanya langsung dengan Pak Bosnya, Kendra sangat menakutkan kini. Entah mengapa semenjak kejadian Dera dan Lidia bertemu membuat emosi Kendra naik turun. Apakah memang masih ada cintamu untuk Lidia?


“Apa kau sudah bilang jika aku pasti akan kembali?”


“Sudah Pak. Tapi Nyonya masih teguh dengan pendiriannya. Nyonya tidak mau makan sebelum bertemu dengan Pak Bos”


“Arghh” Kendra membuang segala benda yang ada di sampingnya.


Bulu kuduk nurul seketika langsung meremang Ketika mendengar umpatan kasar dari Pak Bosnya. Kendra benar-benar menyeramkan.


“Semoga Nyonya baik-baik saja. Apa iya Pak Bos Kendra lupa kalau istrinya sedang mengandung anaknya? Sudah lama juga dia tak singgah ke kamar ini. Kenapa sekarang kembali lagi?” batin Nurul.


Kendra langsung berjalan keluar kamar dengan Langkah tegasnya. Dan lagi, emosinya yang sedang tidak stabil datang menguasai dirinya.


Maid dan para bodyguard yang berpapasan dengan Kendra langsung menunduk hormat. Aura menyeramkan sangat kental terasa Ketika mereka berpapasan dengan Pak Bosnya itu.


Dibukanya pintu kamarnya dengan kasar dan ditutupnya dengan kasar.


Brak!!


Dera yang semulaya sedang duduk di sisi tempat tidur langsung terkejut mendengar suara pintu yang ditutup dengan kasar. Tubuhnya berbalik dan kedua matanya langsung tertuju pada Kendra. Orang yang dia sayang dan tunggu datang juga.


“Kamu dari mana mas? Aku khawatir” ujar Dera sambil berjalan menghampiri Kendra dengan kedua bola mata yang telah berair. Dera tersenyum melihat kedatangan suaminya itu.


Ada perasaan lega ketika melihat Kendra yang tampak baik-baik saja. Tidak ada luka sedikitpun.


Namun berbeda dengan Kendra, tatapannya menajam ketika melihat kedua bola mata istrinya sembab karena habis menagis. Kedua tangannya langsung mengepal kuat ketika melihat istrinya yang menangis karenanya.


“Makanlah sarapanmu.. ini sudah hampir siang. Apa kamu mau anak kita kenapa-napa?” Hardik Kendra.


“Kamu kenapa mas? Ada masalah? Apa ini masalah kemarin?” Dera berpikiran bahwa ini semua berhubungan dengan dirinya dan Lidia.


Tanpa jawaban dari Kendra, Dera mulai menahan sabarnya.


“Sudahlah mas, kalaupun memang karenaku kemarin aku siap harus melakukan apapun asalkan mas Kendra jangan berbuat seperti ini”


Kendra berusaha menormalkan napasnya. Emosinya mulai dikendalikan perlahan.


Dia mulai meneguk air perlahan dan duduk di sofa.


Hening dalam waktu yang cukup lama, hingga...


“Iya mas, aku tau. Tapi bukankah selayaknya kau hapus semua kenanganmu bersamanya. Kita akan segera punya anak mas”


Seakan kau tak menghargai keberadaanku mas. Haruskah aku pergi dari hidupmu ataukah harus bertahan? Sikapmu semenjak di rumah sakit selalu saja berubah-ubah membuatku bingung.


Jika memang kamu masih menyukai Lidia, aku tak apa jika aku harus mundur. Tapi jika memang kamu ingin memperjuangkan rumah tangga kita akupun siap dengan segala konsekuensi.


Kali ini Dera dihadapkan pada situasi yang tak mudah baginya. Dia harus bersaing hati antara masa lalu suaminya dan dirinya.


Kendra pun sebenarnya sudah pernah melupakan Lidia, tapi tak semudah itu. Karena pada suatu waktu ingatan tentang sebuah kenangan itu kembali tanpa dia minta. Apalagi memang dirumah Kendra ada satu kamar khusus untuk Lidia jika ingin menginap di rumahnya dan ini tanpa sepengetahuan Dera.


Bukan maksud apapun, pikirnya Kendra bisa melupakan sosok Lidia tanpa harus membongkar atau mengosongkan kamar yang pernah dipakai Lidia.


Tok tok tok.


Sebuah ketukan pintu yang membuat mereka tersadar dari situasi yang memang tak diharapkan.


Alexander dan Ayu sengaja berniat menginap di rumah anaknya. Mengetahui Kendra sedang dalam situasi tidak bisa mengendalikan diri.


Bi Tirna yang menelponnya tadi, setelah Kendra menemui Dera.


Kondisi kehamilan Dera yang kini sedang butuh diperhatikan bukan malah dimarahi.


Kendra akhirnya membuka ketukan pintu tersebut.


“Mama, Papa, tumben kesini? Bukankah kalian sedang ada acara diluar kota?” tanya Kendra kaget mengetahui ada orang tuanya di hadapannya.


“Mama memang niat kesini Ken, kami akan menginap beberapa waktu karena tidak mungkin meninggalkan Dera yang sedang hamil muda ini di sakiti oleh mantan pacarmu itu. Apa kamu tak khawatir pada kehamilannya?”


Sontak membuat hati dan pikiran Kendra tersadar.


Kini dia hidup di masa sekarang karena ada masa lalu yang harus ditinggalkan. Ingatannyaa tentang sebuah pahitnya rasa cinta saat bersama Lidia, membuatnya kini sangat bersyukur memiliki Dera.


“Loh, mama papa” ucap Dera yang tiba-tiba keluar kamar.


Dera pun bersalaman dengan sang mertua.


“Ma, Pa ayo makan dulu. Kebetulan tadi Bi Tirna masak banyak” ucap Dera dengan menggandeng mertuanya yang sudah dianggap sebagai mamanya sendiri.


Kendra yang melihat dari kejauhan pun tersadar, kini yang dia miliki adalah Dera dan jabang bayinya. Bukan lagi Lidia atau siapapun itu.


“Tuh lihat, Dera begitu baik, sopan santun. Masih saja di sakiti oleh mantan mu itu dan kamu masih memikirkannya. Tahan emosimu Ken, Papa tau kamu terkadang juga masih suka emosi. Tapi ini bukan waktu yang tepat. Istrimu sedang mengandung, jangan sampai kalau nanti dia pergi dari hidupmu, kamu yang bakal sedih. Camkan itu!!” ucap Alexander seraya pergi menjauh dari Kendra.


Kini dirinya hanya terpaku mendengar ucapan sang Papa.


Dia mencoba menetralkan hati dan menghembuskan napas kasar berharap hatinya lega tanpa emosi. Dan dia pun berjalan ke arah Dera.


“Sini mas, duduk. Biar ku ambilkan makanannya” ucapnya dengan memegang piring sang suami. Dengan telaten dia melayani Kendra.


Mama pikir kamu gak akan teringat dia Ken, tapi ternyata memang benar. Pikiranmu ada celah jika mengingat tentang wanita itu. Semoga kamu sabar ya Dera menghadapi Kendra. Batin Ayu.


.


.


.


Author💞


Hello guys.. jangan lupa di like, comment dan vote ya.. 😊😊


Terima kasih