
Di kampus.
Alula kini memasuki semester 5, dia sedang fokus-fokus nya dengan tugas kelompok dan tugas akhir semester. Namun dia juga tak jarang menghabiskan waktu bersama temannya bersenang-senang. Karena memang semester ini tugas praktik lapangan belum dilaksanakan.
Dia berjalan dari koridor kampus, hingga matanya terfokus pada teman seangkatannya, Edo.
Nampak di pojok taman, Edo kini sedang di bully oleh laki-laki yang tak lain adalah Brian, Leo dan David.
Brian memiliki dua sohib yang baik dan juga kompak, yaitu Leo yang memilik sifat yang sombong seperti Brian dan salah satunya David.
Mereka terlahir dari keluarga kaya raya yang kini sangat terkenal di kampus, makanya Alula tidak asing dengan mereka bertiga.
Ganteng, kaya, sombong, sadis. Itu lah genk 3Boys.
Diperhatikannya genk 3Boys dari kejauhan, dia nampak geram pada genk ini yang semakin hari semakin semena-mena.
Setelah membully Edo, mereka bertiga nampak pergi.
“Kapan gue bisa lihat barangnya?” ucap Brian.
“Udah serahin pada kita berdua” mereka meninggalkan Brian sendiri sedangkan leo dan David menyelesaikan urusan lainnya.
Alula berlari kecil menuju arah Brian.
“Tunggu...” namun Brian berjalan begitu saja.
“Hei berhenti gak lo” Alula makin naik pitam dibuatnya.
Bisa-bisanya ada laki-laki seperti ini. Cupu kalau bisanya main keroyokan. Muka ganteng tapi kelakuan minus parah buat apa. Kaya juga harta orang tua paling-paling.
“Lo pasti Brian kan, lo ngapain buli mahasiswa yang Namanya Edo sampai jadi tontonan banyak orang kayak gitu. Kalau punya masalah selesaikan baik-baik kan bisa. Lo gak punya hati apa gimana!!” tapi sayangnya Brian tak menggubris omongan Alula.
“Gue belum selesai ya bicara sama lo” teriak Alula yang kini benar-benar marah.
“Gak usah ikut campur urusan gue, tau!” uucap Brian yang membuat Alula menahan bahu Brian untuk berlalu.
Suasana yang makin menegang diantara mereka berdua hingga menjadi tontonan para mahasiswa.
“Gue ikut campur karena gak ada orang yang berani melawan lo dan udah tega bully orang lain”
Brian menampik tangan Alula “Lo pikir lo siapa? Lo pikir lo bisa ngomong sama gue, gak ada satu orang pun yang berani ngomong di kampus sama gue”
Cuihh, laki-laki kasar kayak gitu, songong.. Amit-amit gue punya suami kayak lo!! batin Alula.
“gue berani gue tau gue gak salah” Alula
“Ikut sama gue sekarang”
“Eh apaan sih” Brian memegang tangan Alula dan Brian membawanya ke suatu tempat.
“Woi lepasin gue gak” Alula berontak melepaskan tangannya.
“Woii” teriaknya lagi.
Hingga ponsel Brian berbunyi, dan mengangkatnya.
“Oke, gue kesana sekarang”
Alula yang masih berusaha untuk melepaskan tangan Brian dari pergelangan tangannya masih memberontak.
“Lepasin gue gak” akhirnya Brian melepaskan tangannya dan Alula melangkah ke kelas nya.
Bisa-bisanya pagi ini begitu sial dan tak pernah sebelumnya dia diperlakukan laki-laki seperti itu.
“Hallo Pak, nanti jemput ya” telponnya pada sopir pribadi.
Adel hanya memperhatikan sikap Lula yang sedikit kesal.
“Kamu tu kenapa La.. tumben pagi-pagi udah badmood aja”
“Bagaimana gak badmood, tadi aku ketemu sama si laki-laki curut itu. Sumpah ngeselin banget tau”
“Siapa sih laki-laki curut?? Emang ada?” tanya Adel penasaran.
“Itu loh, Brian. Tadi tuh ya, dia membuli si Edo sampai jadi tontonan mahasiswa lain tau gak sih, ya aku belain dong ya, tau nya malah dia songong banget, sebel”
“Ah itu mah dia emang gitu, genk 3Boys emang songong-songong. Jaga jarak aja sama mereka. Dia tu orang kaya tapi kelakuannya entah lah. Kamu tau sendiri kan" jawab Adel.
………………………………..
Kendra dan Dera kini sudah sampai rumah. Terdapat Ayu yang sedang menonton TV dan memainkan ponselnya.
"Wahh, Ma.. Dera boleh olarhaga gak Ma??" ucapnya seketika membuat Ayu meletakkan ponselnya. Begitupun Kendra yang menengok ke arah istrinya.
"Jangan ah.. nanti kalau kenapa-napa gimana? kalau olahraga yang ringan gitu gak apa-apa. Pasti ku ijinkan" jawab Kendra.
“Tuh mama aja setuju, aku nanti sore mau lari ya. Kalau mas Kendra khawatir, Mas ken ikut aja. Biar ada yang jagain aku”
Muka Kendra tak dapat berbohong, pasalnya dia memang menentang Dera untuk berolahraga, apalagi berlari. Hari-hari biasa saja Dera tak pernah berolahraga apalagi ini saat hamil? Ngadi-ngadi deh Dera.
“Iya udah aku nemenin” jawabnya dengan malas.
“Tapi pelan-pelan saja ya, nanti sore saja biar gak terlalu panas Nak” ucap Mama Ayu.
“Iya ma, siap”
Kendra mendekati sang Papa yang sedang duduk santai di kursi. Sebenarnya dia ingin menanyakan masalah Lidia dan mencari solusi.
“Pa, apa yang harus Kendra lakukan.. Dera gak mau jika aku memperpanjang masalah ini. Sedangkan aku ga bisa membiarkan masalah ini berlarut”
“Kamu masih tanya Papa? Bukankah kamu tau jawabannya Kendra”
“Pikirkan itu baik-baik dan carilah benar-benar langkah yang tepat. Lidia bukan sembarang perempuan, dia pasti di suruh seseorang karena dia juga menginginkan uang. Kamu tau sendiri kan dari dulu dia memang gila akan uang”
“Iya Pa, nanti coba kendra telpon Rey mengenai informasi terbaru Lidia”
Kendra mencari keberadaan Dera. Sempat diketahui tadi istrinya berada di ruang tengah, lantas mengapa sekarang tak ada?
Kendra berjalan menuju kamar mamanya, diketuknya pintu itu sambil memanggil nama istrinya.
Ayu muncul diballik pintu “Ada apa nak?” tanya Mamanya.
“Apa Dera bersama mama?” tanya Kendra yang diam mematung didepan Mamanya. Ayu menggelengkan kepalanya.
“Dera tadi kesini hanya untuk menemani mama online shopping terus pergi lagi deh. Sepertinya Dera pergi ke kamar” ucap Ayu. Kendra menganggukkan kepalanya dua kali. Kemudian dia segera pergi, berjalan menuju kamarnya.
Kendra masuk ke dalam kamarnya dan benar,, dia mendapati Dera yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Mas, kamu disini?” tanya Dera, berjalan mendekati suaminya. Kendra menganggukkan kepalanya kemudian dia menutup rapat kamar pintunya bahkan Kendra menguncinya.
“Mas, kenapa dikunci? Apa kita gak jadi olahraga? Katanya mau lari” tanya Dera mengerutkan dahinya.
“Gak usah lari dek, kapan-kapan saja ya”
Kemudian Kendra membalikkan badannya. Sehingga kini Dera hanya melihat punggung kekar suaminya.
“Ayo pijat pundakku” ucap Kendra.
Dera pun menuruti keinginan suaminya. Kemudian kedua tangannya mulai bergerak memijit bahu kekar Kendra.
“Lebih kuat lagi mijitnya” ucap Kendra.
“Semua tenaga sudah aku keluarkan, bahumu saja yang terlalu lebar, hingga jari-jemariku kesulitan” gerutu Dera.
Kendra tak melanjutkan percakapannya dengan Dera, dia memilih untuk menikmati pijatan demi pijatan yang diberikan oleh istrinya.
Wajah Dera terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu, bahkan bibirnya ikut bergerak seakan tak tenang. “Mas, apa aku boleh bertanya?” ucap Dera sedikit ragu.
“Tanya apa?” jawab Kendra.
“Bagaimana dengan Lidia? Apa mas Kendra masih melanjutkan pencarian mengenai dirinya?” tanya Dera masih dengan posisi memijat Kendra.
“Kamu tidak usah tanya mengenai hal itu. Yang penting kamu fokus pada kehamilanmu dan jaga diri baik-baik sayang. Paham?”
“Iya mas, paham”
Kendra membalikkan badan menghadap ke Dera, dia menyakinkan istrinya agar tetap tenang dan fokus pada kehamilannya kini.
Sebenarnya Kendra sedang mengerahkan bodyguardnya agar bekerja secara halus agar tak diketahui oleh Lidia.
“Sudah yuk sayang, tidur. Besok pagi kamu harus wisuda dan mempersiapkan segalanya. Jangan sampai kamu besok kelelahan ya”
“Iya mas, ayo tidur”
Kendra kali ini tidak berolahraga malam dengan Dera. Mengetahui bahwa istrinya besok sedang ada acara, jadi tak mau bila membuat istrinya merasa kecapekan.
.
.
.
Makan apel di siang hari
Jangan lupa vote dan comment yuk biar author happy 😅