
Alarm berdering sesuai dengan jam yang di setel.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB, segera dia bangun lantas pergi ke kamar mandi.
Setengah jam berlalu dan keluarnya dari kamar mandi, langsung secepat mungkin dia make up setipis mungkin, karena dia tidak suka dengan make up yang tebal selain itu juga wajahnya sensitif.
................................
Perusahaan PT Petra Corp
“Pak Bos, ini sudah jam 11, ayo segera pulang pak. Besok sudah dijadwalkan untuk Prewed. Pak Bos gak lupa kan?” Sekretaris Rey berusaha mengingatkan sang Tuan
“Ya sudah sesuai rencana. Kamu jemput Dera bilang saja aku sibuk. Tapi aku langsung ke rumah ya, capek mau bersih-bersih dulu” sahut Ken dengan nada males.
“Siap Pak Bos” Segera Rey dan Ken melangkahkan kaki menuju lift privat untuk Bos.
Sesampainya di Lobby, mereka berpisah ke tujuan yang berbeda.
…………………………….
Kediaman Dera
Ibu, Ayah dan Dera sudah bersiap di ruang tamu. Mereka menanti kedatangan Rey yang akan menjemput anaknya
Banyak wejangan atau nasihat yang diberikan pada Dera untuk tidak melakukan hal di luar batas agama.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Sekretaris Rey sampai.
Segera dia memasukkan koper yang akan dibawanya ke dalam bagasi mobil. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke rumah sang Tuan.
Pesan singkat:
082331966***
Awasi terus Wanita itu, jangan sampai dia tahu agenda Ken beberapa hari ke Depan. Jika memang ini sudah bocor, awasi terus dan tambah anggota kalian. Paham!
Send
Lagi dan lagi, seorang Lidia tidak bisa dianggap remeh. Batin Rey
Perjalanan yang hampir satu jam itu tak terasa sangat cepat. Mereka memasuki gerbang rumah milik Kendra.
“Assaalamualaikum Tante, Om” ujar Dera sembari mencium tangan calon mertuanya tersebut.
“waalaikumsalam anak cantik, jangan panggil Tante dan Om dong. Panggil saja Mama dan Papa. Ya kan Pa” jawab Ayu sembari membelai halus rambut Dera.
Dera menunggu Ken diruang tengah dan bercengkrama dengan keluarganya, apalagi Lula dengan gayanya yang nyablak.
Tak terasa setelah Ken bersiap kami pun naik lift yang ada dirumah Ken dan ke roof top. Ada helicopter pribadi yang menunggu kami
“Wahhh, baru pertama kali aku menaiki ini Ma, Pa” Dera sembari memegang tangan calon Mamanya tersebut
“Naik nak, ayo Ken calon istrimu di bantu” Pinta Alexander.
"Pak, kopernya tolong ya.. jangan lupa" celetuk Lula
Akhirnya mereka naik helicopter dan perjalanan pun dimulai.
Perlahan mulai helikopter menjauh dari rumah mewah tersebut. Tidak tepat sekali jika disebut sebagai rumah, lebih tepatnya Mansion. Sangat indah dan mewah.
Perjalanan dari kota Jakarta ke Turki membutuhkan waktu kurang lebih hampir 22 jam dengan menggunakan helicopter.
Perjalanan yang sangat indah jika dilihat dari atas dengan warna hijau dan biru, perpaduan yang sangat indah. Aku sangat menikmati perjalanan ini, berbeda dengan Ken yang mungkin sudah terbiasa jika melakukan perjalanan ke luar negeri menggunakan helicopter miliknya.
“Hei jangan dekat-dekat! Lihatlah mantelmu menyatu dengan mantelku!” Dera berkata dengan keras kepada Kendra yang tengah duduk dismapingnya, membuat pegawai yang duduk disamping pilot menoleh ke arah mereka.
“Hey gadis aneh!! Siapa juga yang ingin dekat denganmu? Lihatlah kursi ini sangat sempit. Aku sangat tidak nyaman duduk denganmu, terlebih aku harus menekuk kakiku, masa iya aku harus pindah kursi. Mending kamu aja deh yang pergi sana” Ken mengoceh di samping Dera
“Rasakan!! Siapa suruh punya kaki Panjang seperti itu. Dan ogah juga kalau harus pindah ke kursi lain. Udah PeWe (Posisi Wenak) tau!” jawab Dera yang tak mau kalah.
Perjalanan berjalan hampir 3 jam dengan posisi duduk yang masih sama.
“hei laki-laki aneh, bergeserlah sedikit!” perintah Dera kepada Dera yang sedang melihat pemandangan ke arah kaca helicopter. Tetapi suara Dera terdengar melemah dan tidak sekuat biasanya.
“Bergeser ke arah mana? Gak mau ah!!” jawab Kendra tanpa menoleh ke arah Dera.
“Kau kenapa?” Ken melihat wajah Dera yang sangat pias, dia menyentuh kening calon istrinya itu tetapi suhunya terhitung normal.
“Perutku mual sekali” tutur Dera masih dengan memejamkan matanya.
“jangan bilang kalau kau mengalami mabuk perjalanan” Ken terlihat panik.
“Kurasa begitu. Aku pertama kalinya naik bus seperti ini”
Hening… hening..
Helicopter mengalami turbulensi, yang artinya penerbangan ini membuat helicopter mengalami guncangan.
Tiba tiba…..
“huekk, huekk!” secara tiba-tiba Dera memuntahkan isi perutnya ke arah Kendra, kini mantel laki-laki itu penuh muntahan Dera.
Ken berteriak histeris saat melihat mantelnya penuh dengan muntahan Dera.
“Kau ini kenapa muntah ke arahku?” teriak Kendra menggelegar
“Aku tidak kuat Ken” suara Dera masih melemah
“Kau sengaja kan muntah di mantelku?” Ken segera melepas mantel berwarna coklat tua itu dari tubuhnya.
Pegawai yang tadi sempat menoleh ke arahku, kembali menoleh ke arah kami dan tertawa saat tahu Dera muntah di mantel Ken.
“ini tisu Tuan, apa mau ke kamar mandi saja” pegawai itu memberikan solusi pada Kendra dengan menyodorkan kotak tisu.
“terima kasih pak. Ah sial sekali wanita ini” jawab Kendra dengan nada kesal.
“ya maaf, aku kan ga sengaja Ken. Namanya juga mabuk perjalanan gak ada yang mau juga” celetuk Dera sambil mengusap mulutnya dengan tisu yang ditawarkan pegawai Ken.
Selagi Ken di kamar mandi, Dera menunggunya dan dia keluarkan senjata ampuhnya yaitu minyak angin. Dia ingin mengoleskan ke punggung belakang namun tangannya tak sampai. Mau tidak mau dia menunggu Ken hingga kembali.
“Kendra mana sih lama banget” gerutu Dera
“apa nyari aku? Mau muntah lagi!!” jawab Ken dengan ketus
“engga Ken, aku butuh bantuanmu. Tolong oleskan ini ke punggungku. aku lemes banget, tolong" jawab Dera dengan wajah memelaa.
Akhirnya Kendra mau tidak mau mengoleskan minyak angin dan memijit punggung Dera agar lebih plong.
Walaupun Kendra diminta untuk memijat punggung calon istrinya itu, dia bahkan tidak melihat apapun dari tubuh Dera. Seakan-akan tubuhnya sangat sensitif, tidak terkontrol jika berdekatan dengan Dera. Sang junior perlahan berdiri.
“arghh kenapa harus berdiri sih, kan cuma mijit aja. Ayo tidur lagi dong” Kendra mencoba menenangkan juniornya agar kembali tertidur.
Segalak-galaknya Kendra pada Dera tetap saja dia punya hati nurani. Diamatinya tubuh Dera yang mulai melemas. Dan disenderkannya di Pundak Kendra.
“udah sini, senderan aja. Jangan kePeDean dulu ya” ujar Kendra pada Dera
Tak ada jawaban dari Dera karena setelah muntah tenaganya benar-benar terkuras.
“kasian juga anak ini, pake mabuk perjalanan segala lagi” diusap kening Dera dan diperhatikan sudut demi sudut wajahnya dengan baik
“Cantik. Ah apa sih aku ini malah mikir cewek aneh. Fokus kendra, kamu udah punya Lidia” Kendra mencoba mengingatkan dirinya.
Seketika dia langsung fokus ke depan dan tertidur pulas.
.
.
.
Kamu cantik, hanya saja hatiku belum terbuka jika untuk jatuh cinta padamu. Ada hati yang harus ku jaga. Ada hati yang harus ku sayang, maaf hadirmu sama sekali tak ku harapkan -Kendra alexander-
.
.
‘puji’
Jangan lupa vote yang teman-teman♥️♥️