
Sesampainya di rumah Alexander, Kendra dan Dera langsung masuk ke kamar Papanya. Disana sudah terpasang selang infus yang ada di tangan kanannya.
“Bagaimana Dokter Frans? Apa Papa bisa sembuh” tanya Dera pada Frans yang selesai memeriksa Papa mertuanya.
“Bisa Nyonya Kendra. Om Alex butuh hati yang tenang. Pikiran beliau juga harus dijaga, jangan sampai membuatnya drop kembali” ucap Frans.
Kendra yang sedari tadi mendengarkan apa yang dikatakan Frans hanya menganggukkan kepala. Dia langsung mendekat ke arah Papanya.
“Pa, Papa jangan khawatir. Papa Mama akan segera punya cucu. Apa Papa gak mau lihat kelak anak kami tumbuh dewasa?” tutur Kendra sembari memegang tangan Papa yang masih memejamkan mata.
Sedangkan di sisi lain, Sekretaris Rey telah mengacungkan jempol secara sembunyi pada Mama Ken dan Dokter Frans.
Sebagai tanda “Berhasil”
“Nak, kamu sakit?” tanya Mama Kendra pada Dera karena terlihat lemas.
“Enggak Ma” jawab Dera sambil tersenyum.
“Tapi kamu kelihatan lesu dan sayu. Mama minta Dokter Frans buat memeriksa kamu ya” saran Mama Ken.
“Ngga usah Ma. Dera hanya kecapekan saja” sahut Kendra yang mendengar percakapan mereka.
“Kecapekan apa? memang Dera habis ngapain? Bukannya dia sudah selesai magang dan tak ada kesibukan Nak?” tanya Mama Ken dengan penasaran.
“Mmm,, anu ma.. Dera sibuk dengan skripsinya. Dia sedang mempersiapkan sidangnya untuk skripsi. Ya kan Dera” jawab Kendra bingung mau bilang apa.
Untung ada alasan yang masuk akal yang bisa di sangkut pautkan begitu saja.
“Emm.. kirain gue mau punya keponakan cepet. Ya tante ya hehehe” ucap Frans sehingga mengundang gelak tawa dari seisi ruangan.
……………………….
Pulang dari rumah orang tuanya, Kendra langsung ke perusahaan Dera pun terpaksa ikut karena kalau Kendra mengantar Dera pulang ke rumah butuh waktu hampir 2 jam untuk pulang pergi.
Dera berjalan mengikuti di belakang Kendra. Semua mata tertuju padanya.Alhasil Kendra menggandeng tangan istrinya untuk mengurangi rasa gugup yang menderanya.
Setelah masuk di ruangan Kendra duduk di kursinya, seperti biasa dia sibuk dengan berkas-berkas yang harus di tanda-tangani.
Diruangan ini masih sama, ada meja Nisa dan Rey.
“Pak Bos, ini jadwal meeting untuk minggu ini” ucap Nisa dengan menyerahkan beberapa lembar jadwal meeting untuk Kendra.
Rey yang sudah duduk di tempat duduknya sibuk dengan segala perkembangan mengenai tender yang telah di menangkan oleh Pak Bos nya kini.
“Mas, aku duduk di sofa ya. Mau menyiapkan sidang skripsi ku buat besok” tutur Dera
“Iya sayang. Semangat ya” Kendra memberi Dera kecupan di keningnya sebagai tanda sayangnya.
Masing-masing sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Jam istirahat. Rey dan Nisa pun pergi keluar ruangan untuk makan siang.
“Sini” panggil Kendra secara tiba-tiba seketika membuat Dera kaget.
Dia melangkah ke arah Kendra dan tangannya pun ditarik Kendra dan mendudukan Dera di pangkuannya.
“Mas Kendra mau apa?” tanya Dera seraya mengernyitkan dahinya.
“Minum susu” jawab Kendra lalu menaikkan baju Dera hingga ke atas dada dan mengeluarkan payudara Dera dari dalam bra nya.
“Mas, ini di kantor! Kalau ada yang lihat bagaimana?” ucap Dera sambil menurunkan bajunya lagi tapi di cegah oleh tangan Kendra.
Kendra pun segera ******* puncak gunung kembar Dera.
“Aaahh” desah Dera menahan geli.
Dia pun mengarahkan rambutnya ke belakang dan mengalunkan kedua tangannya di leher Kendra.
Kendra tersenyum senang melihat Dera yang kooperatif.
Kendra melahap kedua gunung kembar Dera secara bergantian hingga ujungnya memegang.
Tidak berapa lama Sekretaris Rey masuk ke dalam ruangan Kendra tanpa permisi seperti biasanya dan melihat Kendra sedang menyecap pucuk payudara Dera dengan mesranya.
Dia pun tersenyum canggung.
“Lain kali kunci pintunya dulu Pak Bos” ucap Rey lalu keluar dan menutup pintu kembali. Kendra dari tadi terlalu fokus dengan mainannya sehingga tidak menyadari kehadiran Rey.
Dia segera mendongak dan menurunkan kembali baju Dera.
Dera sendiri juga panik dan malu Ketika mendengar suara Rey. Dia segera turun dari pangkuan Kendra dan membenahi pakaiannya.
Sialan, kenapa Rey masuk. Malu banget rasanya bisa ke gep di depan matanya secara langsung.
Kendra mengambil remote di mejanya lalu menekan tombol untuk mengunci pintu ruangannya.
“Sudah terlanjur. Ayo lanjutkan” ucap Kendra pada Dera lalu mengajak Dera bercinta di sofa ruangannya. Dera menurut saja karena dia juga sudah terlanjur basah.
Bercinta tidak semenakutkan yang dia bayangkan.
Semakin sering dia melakukan rasa sakit waktu awal bercinta pun sudah tidak terasa.
Dia menginginkan dan menikmatinya juga.
Dia sudah tidak memikirkan akan hamil atau tidak.
Dia sudah tidak peduli karena Kendra dan keluarganya melarangnya untuk menunda kehamilan serta melihat mertuanya yang sekarang terbaring sakit.
Mungkin setelah program Sarjananya selesai, dia akan fokus pada keluarga kecilnya kini.
Setelah puas Kendra segera mengajak Dera mandi bersama di kamar mandi di dalam ruangannya.
…………………………..
Sore hari Kendra dan Dera keluar dari ruangan kantor dengan rambut basah karena tidak ada pengering rambut di ruangannya.
Rey melihatnya hanya geleng-geleng kepala karena hanya dia yang tahu apa yang terjadi di dalam ruangan itu.
Sedangkan Nisa tadi masih di kantin Bersama temannya.
Yang ada di benak Nisa adalah apakah tadiada yang tumpah di baju istri CEO nya, ataukah ruangan bocor atau apa? sehingga mengharuskan mereka mandi.
Semua karyawan melihat ke arah Kendra dan Dera mulai dari lantai atas hingga lantai dasar.
Kendra tidak menghiraukannya. Sedangkan Dera merasa sangat alu sehingga dia tidak mau ikut ke kantor Kendra lagi nantinya.
Sampailah mereka di Mall.
Kendra berjalan ber iringan.
Satu per satu butik mereka kunjungi. Untuk mencari baju sesuai yang dikenakan Dera memang susah.
Karena Kendra tak ingin baju yang sedikit terbuka namun juga elegan.
Mau berapa banyak butik lagi sih mas, aku udah capek. Peka dong Mas.
“Ini bagus tapi sedikit terbuka” ucap Kendra dengan memegang baju yang dipilihnya.
"Ini cakep tapi warnanya terlalu nge jreng"
"Ini bagus sih, tapi ada bagian ini yang menerawang"
“Oke mas, Dera nurut saja” jawab Dera.
Mereka pergi dari butik itu dan jalan lagi ke “Qiu Boutique”
“Nah, ini bagus nih. Warnanya juga pas buat kamu sayang. Sana gih coba dulu” ucap Kendra seraya menyerahkan baju yang cocok bagi istrinya.
Dera pergi ke ruang ganti dan memperlihatkan hasilnya pada Kendra yang tengah duduk di depan ruang ganti.
“Ini mas” tuturnya.
“Oke, langsung ke kasir ya. Kita bayar dulu baru kita makan”
“Ya mas, tapi aku mau makan di caffe sebrang ya. Toh ini juga sudah sore pasti ada live music di sana”
“Ya sayang. Apapun yang kamu mau pasti ku turuti” jawab Kendra dengan mengeluarkan black card miliknya untuk membayar baju yang dibeli Dera.
Setelah dari Mall, mereka menuju Caffe Amoor.
Tempat nongkrong sekaligus melepas penat dengan nuansa outdoor.
.
.
.
Jangan lupa di follow ya kak.. update terus ya ke novel
ini, enjoyyy ♥️♥️