PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
MENYERAH?



Jangan lupa vote dan sarannya ya man-teman.


Karena saran dan masukan dari kalian itu penting banget.


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semaangat update cerita ini


Terima kasih sudah membaca ceritaku


Dan jangan lupa memberi bintang 5 ya🌟🌹


Happy reading


🌹☺️


Ada yang retak tapi bukan kaca. Ada yang berdarah tapi bukan luka.


“Kenapa kau tega melakukan ini? Apa salahku? Kamu bilang padaku jika kamu akan selalu menjaga ku. berjanji untuk membuatku tersenyum. Lantas kemana pergi janji itu? Tolong lepaskan aku. Jika bahagiamu tidak bersamaku, aku iklas menerimanya.”


Tatapannya menajam mendengar perkataan istrinya yang seperti itu.


“Tolong lepaskan aku. Aku ingin pulang” lirih Dera.


“Disini rumahmu juga. Kamu milikku. Aku milikmu jawab Kendra dingin.


Dera menggeleng lemah. “Bukan.. ini bukan rumahku dan aku bukan milikmu. Dan aku bukan milikmu Mas. Jika memang dari awal kamu tidak mau menerima perjodohan ini kenapa tak mengatakan pada orang tuamu saja, jika memang akhirnya hubungan ini sangat menyakitkan bagiku Mas”


“Jika kamu memikirkan perasaan ku dan anakmu ini. Kamu tau apa yang harus kamu lakukan. Bukankah untuk menghapus kenangan bersama Lidia bisa kamu lakukan? Hampir setahun bukan waktu yang singkat dan kamu masih mempertahankan semua kenangan itu disana.


Di dinding yang masih rapi dengan foto kalian. Apa mauku sebutkan foto apa saja yang kalian lakukan? Haa!!!”


“Semua foto dan ada video yang ada di laptop itu. Video kalian dengan tawa bersama, bahagia saat ulang tahun Lidia. Foto dan segala barang Lidia yang masih tertata rapi!!"


Hal itu membuat Kendra emosi. Di tariknya kasar lengan tubuh mungil itu hingga terbangun dari tempatnya.


“Auuu” ringisya pelan Ketika Kendra mencengkraam tepat dipergelangan tangannya.


Sebuah seringaian tipis yang tampak menakutkan membuat Dera merinding. "Sedari awal memang aku sudah bilang kau adalah milikku. Larilah, maka aku ku temukan. Karena apa? kau lari akan ku kejar. Kau sembunyi akan ku temukan. Jadi larilah, bersembunyilah dengan baik. Karena aku akan mampu menyeretmu pulang bahkan dengan cara kotor sekalipun” ujar Kendra dengan nada dingin bahkan Dera tak menyangka Kendra akan menjawab seperti itu.


Tubuh Dera menegang.


Mir,, aku lelah. Aku ingin menyerah.



………………………..


Setelah Kendra mengucapkan perkataan tersebut, kendra langsung ke kamar mandi. Pikirannya perlu di dinginkan dengan air dingin.


Dan kendra akan menyuruh Rey untuk mencari keberadaan Lidia apakah masih berkeliaran di sekitarnya?


Sedangkan Dera hanya terdiam di tempatnya setelah Kendra mengucapkan hal tersebut.


Dera tidak membalas perkatan Kendra. Mulutnya seakan terkunci rapat karena tatapan tajam itu. Namun Dera tidak boleh diam seperti ini. Dera harus peergi dari rumah ini dengan apapun caranya.


Lalu dengan keputusan yang telah bulat,Dera menyibak selimutnya. Dengan perlahan Dera turun dari tempat tidur dan mengendap-endap untuk turun.


“Ayo Dera, kamu pasti bisa pergi dari sini” ucapnya dalam hati.


Buliran kristal yang masih membasahi pipinya sejak pertengkaran tadi.


Ceklek.


Pandangannya tajam ketika melihat istrinya yang tengah mengendap berjalan mendekati pintu kamar. Kendra jelas mengerti akan hal itu. Pasti ingin lari darinya.


“Kembali ke tempatmu sekarang” titah Kendra tegas.


Tapi Dera tidak mendengarnya. Bahkan mempercepat langkahnya. Dengan cepat Kendra berlari menahan Dera untuk tidak membukanya.


“Jangan memancing emosiku sayang” ujar Kendra tegas. Lau dengan langkah tegasnya Kendra menggendong tubuh mungil itu membuat Dera tersentak kaget.


“Turunkan aku Mas. Aku mau pulang! Aku tidak mau disini!” jerit Dera. Tubuhnya memberontak meminta diturunkan, namun Kendra semakin kuat menggendongnya.


“Diam!!” suara dingin dan tegas itu langsung membuat Dera terdiam.


Lalu diturunkan tubuh mungil itu ke atas tempat tidurnya. Lalu Kendra jongkokdi hadapan istrinya. Di Tarik napas beberapa kali berusaha menormalkan emosinya.


Kendra mencoba untuk berbicara lembut pada istrinya.


“Rumahu disini sayang. Tolong pikirkan anak yang ada disini” ucap Kendra dengan memegang perut Dera. Dia pun menatap wajah cantik yang dia rindukan.


Kendra rindu dengan senyuman istrinya. Rindu dengan semuanya.


Dera menatap wajah itu dengan pandangan tak terbaca. “Kamu egois Mas” buliran kristal langsung terjun bebas membasahi kedua matanya yang indah.


“Tidak ada gunanya kamu menahan ku disini Mas. Hati mu itu miliknya, bukan untuk diriku. Anak ini biarkan aku saja yang membesarkan dengan jerih payahku dibandingkan dengan mu yang masih terbayang masa lalu mu yang terlalu sayang untuk kau lupakan!!”


“Hadirmu yang kini hanya menyakiti ku Mas”


Wajah Kendra menggelap. Baru kali ini dirinya mudah terpancing emosi karena masalah seorang permpuan.


“Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Ingat itu baik-baik Dera" ujar Kendra dingin.


Setelah itu Kendra langsung berdiri dan menatap wajah istrinya yang telah basah dengan air mata dengan datar.


Didalam hatinya Kendra sangat ingin memeluk tubh mungil itu. Menghapus air mata itu. Bermanja dengan tubuh mungil itu. Tapi ego nya kini seakan menolak untuk melakukannya.


“Aku memang egois jadi tenangkan pikiranmu itu. Berhenti bicara sesuatu hal yang tidak ada gunanya sama sekali” jawa Kendra dingin.


Lalu Kendra berjalan meninggalkan Dera sendirian di dalam kamar itu. Kendra memilih masuk ke dalam ruang ganti untuk memakai pakaiannya.


“Kamu bodoh Dera.. selama ini kamu kemana saja, hampir setahun dia menyembunyikan ini dan kamu baru tau.. bodoh kamu dera.. bodoh!! Kendra brengsek!!hiks hiks hiks” tangisnya langsung pecah begitu saja.


Kendra terdiam dbalik pintu ruangan ganti. Kendra mendengar semuanya. Tangannya mengepal kuat hingga menimbulkan otot-otot yang mementuk sempurna itu.


“Aku memang brengsek sayang.. jadi bantu aku melupakan Lidia sepenuhnya”


Dengan keras Kendra memukul sebuah meja kaca yang terdapat didalam ruangan ganti tersebut. Hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring. Bahkan kaca itu mulai retak, Kendra memukulnya dengan seluruh tenaganya.


Tubuh Dera menegang Ketika mendengar suara pukulan keras itu. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.


Setelah puas melampiaskan amarahnya, kendra segera memakai pakaiannya. Diabaikannya darah yang telah mengering di tangannya. Lalu Kendra keluar dari ruangan tersebut.


Pandangannya langsung tertuju pada sosok perempuan yang tengah meringkuk ketakutan di atas tempat tidur.


Dengan khawatir Kendra segera berjalan mendekati tubuh mungil itu. Rasa bersalah menyelimuti perasaannya. “Sayang” ujar Kendra. Diusapnya puncak kepada itu namun istrinya semakin meringkuk ketakutan. Mencoba untuk menjauh dari jangkauan Kendra.


Brakk.


Pintu kamar langsung tertutup dengan keras. Kendra meninggalkan Dera di kamar sendirian.


Sedangkan Kendra keluar untuk mencaritahu darimana Dera bisa mengetahui kamar yang telah di rahasiakan darinya.