
Hello, selamat malam mingguan guys..
Lagi dirumah aja atau lagi ngedate nih hehe..
Eits, malming fresh kan dulu pikirannya. Tapi jangan lupa tetap baca novel ini ya..
Thenkyu..
Enjoyyy,, happy satnight loh ya, bukan sadnight hehe
Oh ya, jangan lupa like, comment dan vote ya guys.. terima kasih.
____
POV ALULA
Setelah dari supermarket dan makan dengan Brian.
Alula dan mamanya memutuskan untuk pulang. Karena belanjaan sudah cukup lengkap menurutnya.
“Mama., kenapa sih tadi harus ngobrol sama tu anak. Gak usah terlalu ramah kali mah. Dia itu di kampus rese banget, tukang ngebully dan dia itu...” Belum selesai bicara sang Papa yang turun dari tangga merasa kepo dengan apa yang dibahas sang anak dan istrinya.
Omongan Alula pun terhenti melihat keberadaan Papanya yang ikut nimbrung.
“Ada apa to ini. Heboh sekali. Ikut gosip dong hehe” tuturnya dengan nada candaan.
Ayu yang mendengar ocehan anaknya hanya tersenyum simpul. Dia begitu bahagia akhirnya sang anak bisa mempunyai teman laki-laki sedangkan sejak dulu temannya pasti rata-rata perempuan semua.
“Ini lo Pa, Mama nyebelin banget. Masak ya, anaknya di ledekin di depan orang lain” ucapnya dengan cemberut dan melirik ke Mamanya.
“Apa sih apa? Papa gak paham lho. Ada apa sih Ma, jelasin ke papa dong. Papa juga mau tau” ucap Alex layaknya anak muda yang ingin tau tentang suatu hal.
“Itu lo Pa. tadi kan Mama dan Lula ke supermarket, nah disana ketemu cowok gantenggg banget, baik, ah perfect pokoknya Pa. Anaknya juga sopan pula.” Ayu menceritakan apa yang dilihatnya tadi pada sang suami.
“Temen cowok atau pacar nih ma!"tanya sang papa mempertegas dan seketika tubuhnya menghadap Alula.
Langsung sang Papa melirik anaknya yang ada di sampingnya. “ALULA REYSA ALEXANDER!” suara yang tadinya adem ayem, enak di dengar sekarang berubah menjadi garang dan menakutkan.
Alula pun yang kaget langsung berkata “I.. Iya Pa”
“Papa pernah bilang. Jangan pernah pacaran! Kalau mau langsung tunangan saja! Paham tidak?! Kakakmu saja langsung menikah, masak kamu mau pacaran dulu. GAK BOLEH!” titahnya.
Belum juga Alula menjawab, sudah di sela oleh sang Papa.
“Besok bawa kesini, kenalin ke PAPA! PAHAM!”
“Pa, tapi…” Sebisa mungkin Alula menjawab, lagi-lagi gak bisa.
Papa, Mama jangan gitu dong. Ga mungkin kan, Alula menikah di semester 6 ini. Gak mau pokoknya, apalagi nikah muda. Gak Pa, Gak Ma. Batinnya dalam hati.
Ayu yang melihat anaknya di desak oleh suaminya merasa senang. Bukannya Ayu tidak sayang dengan anaknya, namun Alula memang seharusnya memiliki pendamping agar hidupnya ada yang mengarahkan, tidak seperti terombang angin kesana kemari. Pikirnya.
“Tidak ada tapi-tapian. Kalau iya langsung tunangan, kalau tidak ya jaga jarak dulu. Carilah yang pasti Nak. Jangan pacaran lama-lama yang ada hanya membuang-buang waktu saja. Ketahui lah laki-laki yang serius tidak akan pacaran lama-lama”
Ya Allah Pa, siapa juga yang pacaran? Dengerin Alula cerita dulu makanya. Jangan di sela terus. Malah ini dikira pacaran sama b*bi hutan itu. Amit-amit juga kalau nikah nanti.
“Tuh nak, dengerin apa kata Papa. Semua itu demi kebaikanmu sayang. Papa Mama kan dulu di jodohkan, nyatanya kami bisa bertahan. Bukankah kamu juga tau cerita mama ini?" Ayu dengan senyum kemenangannya. Kalau dia pikir, memang Brian adalah laki-laki yang baik, bibit, bebet dan bobotnya juga bagus.
Jangan bilang aku mau di jodohkan? ah tidak. Tidak mau. Garis keras tentang PERJODOHAN. Alula.
______________
“Sayang, laporan keuangan resto apa kamu yang pegang?” tanya Dera pada sang suami.
“Iya. Karena tidak ada yang menghandel. Semenjak Mira ingin fokus ke perusahaan tempatnya bekerja. Aku yang meng-handle dan mengcross checknya sayang” jawab Kendra.
“Oh ya, bicara tentang Mira. Tadi dia sempat kirim pesan katanya mau ke rumah orang tuanya. Dia cuti kerja. Tapi menurutku ini terlalu mendadak” tutur Dera.
“Terus?”
“Terus, aku kirim pesan Ke Sekretaris Rey agar menahan Mira. Dan mengapa tiba-tiba Mira ingin pulang ke rumah dengan dadakan seperti ini” jawab Dera dengan penuh kekhawatiran.
“Ohhh” hanya itu respon Kendra. Seketika Dera penasaran mengapa hanya kata “OH” saja. Pikirnya.
“Oh ya, memang Sekretaris Rey dan Mira ada hubungan serius Mas?” tanya Mira.
“Emm, mungkin saja. Soalnya tadi Asisten Nisa bilang katanya Sekretaris Rey ijin untuk keluar sebentar. Tak berselang beberapa lama tadi Rey sempat ijin katanya ada urusan dengan Mira” jawab Kendra.
“Ya sudah. Biarkan saja. Nantikan Sekretaris Rey bahagia, kamu juga bahagia mas. Bukan begitu” tutur Dera dengan menggenggam jemari Kendra.
Mobil yang mereka kendarai telah berhenti di depan restoran miliknya.
“Silahkan Pak, Nyonya” ucap security yang membukakan pintu mobil untuk sang Bos.
“Terima kasih Pak” jawab Dera dengan lembut. Sedangkan Kendra menggandeng tangan istrinya agar hati-hati.
Para pelayan dan pekerja disana memberikan hormat pada Kendra dan Dera. Mereka menundukkan kepala. Dera dan Kendrapun memberikan senyuman. Mata Dera menjelajahi setiap inchi dari resto tersebut. Memang sudah benar-benar lama dia tak berkunjung ke tempat ini. Setelah kejadian itu, hingga kini dia menyempatkaan diri.
Disambutnya para pegawai satu persatu. Tak ada yang berubah. Tempat ini masih sama, tak ada yang dirubah sedikitpun. Dera berjalan menuju ruangannya. Dia menuju lantai dua dengan pintu bertuliskan “Big Bos” sebuah nama itu terpasang disana.
“Mas, itu ko tulisannya Big Bos. Aku merasa keberatan dengan nama tersebut” ucapnya dengan menatap suaminya.
“Lantas mau diganti apa? kalau diganti nanti bicarakan saja dengan sang pelayan itu” jawab Kendra dengan menunjuk salah satu pelayannya.
Dibukanya pintu itu. Isi ruangan berubah total.
Kendra memang sengaja merubah semuanya, apapun demi istrinya. Ruangan yang dulu hanya akan membuat Dera trauma karena dia sempat mengalami insiden disana saat bersama Lidia.
Beberapa sofa, tumpukan novel dan beberapa benda yang lain terletak sangat rapi. Warnanya pun Dera suka. Perpaduan putih dan softpink. Sangat girly.
“Lho mas, ruangannya berubah. Ini sofa, ada tambahan rak buku juga untuk novel-novelku mas.Warnanyapun aku sangat suka" ucap Dera dengan memegang satu persatu barang yang baru.
“Iya sayang, agar kamu betah berada di kantor. By the way, kapan kau akan siap untuk ke resto lagi? Kalau gak siap, kamu dirumah saja tak apa. Semua kebutuhan akan ku cukupi sayang” jawab Kendra.
“Tidak, aku ingin kerja disini mas” jawab Dera kekeh.
“Oke, dengan syarat. Harus ada bodyguard yang terus mengawasimu. Apa kau setuju?” tangan mengulur ke depan. Agar Dera menyetujinya.
...____...
...Setiap hari aku belajar cinta....
...Setiap hari aku belajar setia....
...Tapi.....
...Pernah tiba di suatu hari...
...Aku belajar dua hal...
...Cinta dan terluka....