PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
AMARAH



Jangan lupa vote dan sarannya ya man-teman.


Karena saran dan masukan dari kalian itu penting banget.


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semaangat update cerita ini


Terima kasih sudah membaca ceritaku


Dan jangan lupa memberi bintang 5 ya🌟🌹


Happy reading


🌹☺️


Kendra mengendari mobil menuju rumah pribadi. Dia mengumpat sejadinya dan menyalahkan Maid yang dipercaya untuk menjaga keamanan kamar Lidia.


Akhirnya, dia pun menelpon Rey yang saat itu masih jam kantor.


"Segera ke rumahku, sekarang!!" titahnya pada Rey.


"Tapi Pak Bos, ini ada deadline untuk besok pagi" Rey mencoba menawar perintah dari Pak Bos nya.


"Ini perintah atau kau akan ku pecat" titahnya lagi dengan meninggikan suara.


"Iya Pak Bos, baik. Saya segera ke sana. Ini langsung on the way" jawab Rey.


Dengan emosi yang masih menggebu, Kendra pun tak bisa mengontrol emosinya. Dia pun menambah kecepatan mobilnya.


Yang ada hanyalah amarah.


“Sialan. Pasti wanita itu yang telah membuka pintu kamar nya sehingga Dera melihat isi nya. Tunggu saja. Apa yang akan ku lakukan padamu, BIADAB!!"


ARGHHH


Wajah Dera seakan memenuhi otaknya. Dengan perasaan kesal dan marah, Kendra mengendarai mobil sport nya dengan kecepatan tinggi.


Kendra memukul kemudi mobilnya.


Tak berselang lama, akhirnya Kendra telah sampai di rumah miliknya. Untung saja Rey sudah tiba disana tepat sebelum Kendra sampai.


Ada apa ini sebenarnya. Mengapa perintahnya tadi begitu menakutkan. Apa ada masalah yang fatal sehingga membuat Kendra marah seperti itu.


Bodyguard membuka pintu mobil Kendra.


“Cari wanita itu dan seret ke hadapanku” ucapnya dengan suara menggelegar setelah keluar dari mobil.


“Maaf, maksudnya siapa Pak bos” jwab Rey yang tidak tau menahu siapa yang dimaksud Kendra.


“Cari saja!! nanti juga ketemu siapa Maid yang mengurusi kamar Lidia” Kendra duduk di kursi kebesarannya dengan menyilangkan kedua kakinya.


Untuk menyebut nama Nurul saja, sangat berat bagi Kendra. Bukannya dia tidak tau, hanya saja dia sangat muak dengan orang yang suka berbohong padanya.


“Baik Pak Bos” Rey menundukkan kepala dan undur diri untuk mencari keberadaan Nurul.


Dia meminta para bodyguard, maid dan security untuk berkumpul di ruang tamu agar mempermudah dalam pencariannya.


Satu per satu pandangannya menelisik mencari keberadaan Nurul, namun hasilnya nihil. Nurul tak ada dalam barisan.


“Maaf Pak Bos, ada satu yang kurang. Maid yang bernama Nurul tidak ada. Disini hanya ada ibu nya. Bi Tirna. Yang ada saya menemukan kamar Nona Lidia tidak dalam kondisi terkunci. Bahkan kuncinya masih bergantung di tempatnya”


Kendra yang mendengar laporan Rey seketika mengumpat dengan keras.


“Dasar wanita brengs*k” umpat Kendra. Membuat Rey, bodyguard, security dan maid menunduk takut.


“KENAPA DIA BISA PERGI!! BUKANKAH JIKA AKU TAK MENGIJINKAN, KALIAN TIDAK BOLEH PERGI, HA !!!" Bentak Kendra dengan suara yang menggelegar. Di usapnya wajahnya dengan kasar. Mencoba untuk menahan emosi yang mulai menguasai dirinya.


“BI TIRNA!”


Namanya seketika di panggil. Membuatnya merinding dan pusing bukan kepalang. Apa yang kamu lakukan nak, sehingga Pak Bos Kendra marah denganmu.


“Dimana anakmu itu! Bukankah dia ketika sekolah telah ku bantu hingga lulus!! Apa ini balasannya!!”


Bi Tirna hanya bisa diam, tak sepatah kata pun dia menjawab. Diam salah, menjawab nanti pun salah.


Dengan kasar Kendra membanting vas dan beberapa barang bala pecah lainnya yang dapat dia jangkau.


Prang


Prang


Prang


“BERANI-BERANINYA DIA BERMAIN DENGANKU!! JANGAN SALAHKAN ANAKMU JIKA BERAKHIR DI TANGANKU, PAHAM!!”


Kendra memukul meja dengan tangan kosong. Begitu kerasnya sehingga nampak bekas tonjokan yang ada di nakas tersebut.


“Jangan apa-apakan dia Pak Bos, biarkan saya saja yang menggantikannya. Jangan sakiti dia. Saya mohon Pak Bos. Saya mohon” Bi Tirna memohon pada Kendra dan bersimpuh di kakinya.


Nafas Kendra menderu tidak beraturan dikarenakan emosinya terlalu berlebihan yang menyelimuti dirinya.


Pandangannya menelusuri maid dan para bodyguard.


Membuat mereka yang ada di sana semakin menunduk, terdiam dan membisu. Tidak ada yang berani melawan Kendra ketika sudah marah.


Semua tampak hening dengan aura yang ketakutan. Setelah insiden beberapa menit yang lalu, semua bodyguard dan maid telah berkumpul, kecuali Nurul yang telah melarikan diri.


“Cepat cek CCTV dan cari keberadaan dia terakhir kali” perintah Kendra pada pekerja yang bertugas menjaga CCTV.


“Baik Pak Bos” jawab Rey dan beberapa bodyguard dengan keberanian tinggi yang dimilikinya.


Mereka berjalan ke ruang untuk CCTV dan diikuti oleh Rey di belakangnya.


Di pantaunya rekaman CCTV satu per satu mulai dari kemarin malam.


"Play mulai dari yang kemarin pagi" perintah Rey pada pekerja yang ahli dalam bidang CCTV.


Pria itu mengklik tombol menu dan playback. Dia pun memilih chanel camera yang akan memutar hasil rekaman dalam CCTV. Lanjut dia mengatur tanggal atau hari. Dan Play.


“Nah ini.. bukan kah dia?? mau kemana dia menuju gudang belakang dan membawa beberapa barang bawaan?” ucap Rey dengan memperhatikan baik-baik rekaman tersebut.


“Coba zoom”


“Oke, Pause” Benar saja. Nurul menuju ke gudang dengan membawa barang yang mungkin untuk dirinya menyelamatkan diri.


Karena tidak akan dia bisa keluar masuk dengan mudah di rumah Kendra karena tetap akan ada pemeriksaan terlebih dahulu baik itu tamu ataupun maid.


"Untung ya Pak, ada CCTV coba deh kalau tidak. Bisa-bisa kita jadi buruan Pak Bos Kendra" ujar salah satu pegawai.


Rey yang mendengar perbincangan mereka seakan mengiyakan. Karena memang benar, CCTV inilah penyelamatnya.


Jika sampai Nurul kabur itu malah menambah pekerjaannya. Masalah yang lain saja belum kelar, apalagi jika di tambah masalah baru.


Rey dan pria tersebut mencetak bukti CCTV dan memberikannya pada Kendra.


Ada beberapa foto yang membuktikan keberadaan dimana nurul berada. Setelahnya mereka berjalan ke ruang tamu, tempat Kendra berada.


Rey menyerahkan bukti CCTV dan benar saja. Reaksi Kendra begitu menakutkan.


"Ayo, kesana" ucap Kendra yang beranjak berdiri dari duduknya.


Ya Allah, selamat kan anak hamba Ya Allah. Hamba benar-benar tidak tega melihat anak semata wayang di siksa begitu keji di hadapan hamba. Hamba mohon Ya Allah, tunjukkan kuasamu.


Bi Tirna masih menangis dalam keadaan duduk. Sedangkan Kendra berjalan ke gudang tempat Nurul bersembunyi. Rey yang setia mengawal Kendra dan beberapa bodyguard di belakangnya berjalan bersamaan.


Mereka masih tak menyangka bahwa nurul yang kalem, baik dan penurut tersebut mampu melakukan kesalahan fatal. Betapa sayang di sayangkan.


“DOPRAK PINTUNYA!!”