PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
EPISODE #38



Dera akhirnya membantu menyiapkan segala makan


malam untuk Kendra. Dan tak lama kemudian Lula


datang.


“ciee, rambut baru nih. Makin cantik ya Bi ya” canda Lula


“hehe iya Non”


Mendengar pujian dari Lula dan Bi Tirna membuat pipi


Dera menjadi merah.


Akhirnya tak lama kemudian Kendra turun untuk


makan malam.


................................


Kendra yang sedari tadi hendak turun ke lantai bawah, mendengar segala pujian untuk Dera.


Dilihatnya Dera mengenakan baju setelan warna peach, dengan rambut lurusnya.


Senyumpun terpancar dari bibirnya.


Cantik juga dengan rambut lurus. Batinnya.


“kenapa pipimu merah gitu. Kayak udang rebus aja” ucap Kendra


Seketika membuat suasanya hati Dera yang tadi cerah


karena pujian, berharap Kendra menyukai rambutnya kini, namun sayang hanya celoteh menyakitkan hatinya. Dan kini suasana hatinya berubah menjadi mendung.


Apa-apaan sih ni orang. Kata mereka aku cantik tapi mulut pedasnya ingin rasanya aku minum es teh yang banyak, karena omongannya membuatku panas.


Lula yang dari tadi melihat kakak iparnya di katain sama Kendra segera menyemprotnya dengan kata-kata pedanya.


“kak Ken apaan sih? Kak Dera udah cantik begini malah di gituin, Nanti ku bilangin Mama baru tau rasa" ancam Lula yang memang Kendra takut sama Mamanya.


Prinsip Kendra, orang tua harus di hormati dan dihargai.


"Maksud kakak gak gitu La.. jangan suuzon dulu"


"Lalu??"


Mereka yang masih bersitegang, akhirnya Dera mempereda dengan mengajaknya makan.


“sudah La. Gak apa-apa. yuk makan saja” Dera berjalan mendekati kursi.


Kenapa dia ga nyuruh aku makan juga? apa dia marah ku katain kayak gitu. batin Kendra


"Kau tak menyuruhku makan!!"


"Makan aja minta disuruh, makan ya tinggal duduk, ambil nasi, makan, udah beres. Ribet amat" Lula masih sensi dengan apa yang diucapkan Kakaknya.


"Apaan sih bocil, makan aja sana. Lah kakak juga udah punya istri, kan KEWAJIBAN seorang ISTRI memang MELAYANI suaminya" Kendra sengaja mempertegas setiap kata yang keluar dari mulutnya.


"Sudah La, Mas.. Iya, ayo Mas Kendra makan. Silahkan duduk"


Dera mempersilahkan Kendra disampingnya dan ditarikkan kursi untuk duduk.


Dera mengambil nasi dan lauk pauk untuk suaminya.


"Ngapain di ambilin ka, biarin aja. Kak Dera udah di katain kayak gitu masih aja tetep baik. Kalau aku mah ogak" Alula membuang muka dan fokus pada makanan yang ada di piringnya.


"Huu bilang aja pengen kayak gini" sahut Kendra.


Baru pertama kali ini aku bisa lihat Kendra dan Alula saling adu argumen. Biasanya Lula diem aja mau diapain juga


Sungguh keluarga yang hangat.


"Sudah - sudah, ayo Alula, Mas Kendra makan dulu. Lula mau ayam crispy gak?" Dera yang berniat mengambilkan ayam untuk adik iparnya tiba-tiba tangan Kendra menghentikannya.


"Kembalikan, urusi saja makanmu, ga usah melayani anak kecil yang manja"


"Siapa juga yang manja. Ah nyebelin"


Suasana makan malam kembali hening.


Kak ken aneh deh. Kalau dilihat kayaknya sih suka sama Kak Dera tapi kenapa dingin sekali sikapnya.


Seperti biasa, setelah makan malam Kendra memilih untuk melanjutkan aktivitas di ruang kerjanya.


Dera yang melihat suaminya sibuk dengan pekerjaannya berusaha menunggu di kamar ditemani program TV acara favoritnya. Talkshow.


Jam yang sudah menunjukkan pukul 00.00. Kendra yang tak kunjung kembali membuat ngantuk Dera semakin menjadi.


Hoaheemmm.


Ngantuk sekali. Nanti kalau aku ke ruangannya takutnya ganggu. Mending disini saja lah.


Dera yang duduk di sofa segera membenarkan posisinya.


Bosan sekali nonton TV. Novel ku disimpan dimana ya?


Dera melihat sekeliling kamar yang luas itu. Tak ditemukan buku sama sekali. Yang ada hanya buku tentang bisnis, ekonomi, saham dan sebangsanya.


Apa ini semua buku tentang ilmu jurusan ku. Ini membuatku pusing dan teringat beban-beban perkuliahan.


Sudah lah, balik nonton TV aja.. moga aja dia cepet balik.


Jam berputar hingga jam 02.00


Hoahemm.. tak terasa diapun tertidur.


Setengah jam kemudian.


Kendra yang telah kembali ke kamar dengan Dera yang sudah terlelap membuatnya berjalan pelan.


Mau tak mau Kendra menggendong Dera untuk dipindahkan ke ranjang.


Berat juga ya..


Kendra menormalkan napasnya.


Dengan hati-hati dia meletakkan Dera dan di pakaikan selimut.


Pagi harinya,


“perasaan tadi malam aku tertidur di Sofa. Ko ini udah di ranjang, apa mas Ken yang menggendongku? Mungkin saja iya. Ah sudah lupakan. Daripada GeEr"


Dera akhirnya menyiapkan air di dalam bath up, dia mengatur suhu agar walaupun menunggu 10 menit lagi, suhu air tetap hangat.


Sekarang dia membawa langkah kakinya duduk di sofa.


Dia merebahkan tubuhnya dan menghela nafas. Menunggu lagi.


Karena dia tahu telah berbuat kesalahan semalam tidak menunggu Kendra malah tertidur.


Dia pun tak berani menyalakan TV, biasanya pagi hari dia selalu melihat progam TV apapun untuk menemaninya hingga Kendra terbangun.


Terdengar suara Kendra dari tempat tidurnya, Dera banun dan memastikan bahwa suaminya sudah bangun, ternyata hanya suara gumaman kendra dalam tidurnya. Dia masih terlelap.


Kalau tidur dia terlihat sangat tampan.


Sekali, dua kali, tiga kali Dera menengok suaminya untuk memastikan suaminya jika sudah bangun.


“minum” Kendra sudah duduk bersandar di tempat tidur.


Dera dengan sigap memberikan gelas yang sudah berisi air.


“kenapa rambut mu begitu?” tatapan tak suka diarakan pada Dera


“Iya Mas”


Ini kan kamu yang nyuruh aku untuk meluruskan rambut. Apa kamu amnesia!


“rambut begitu kamu tambah jelek”


Dera menyentuh rambutnya.


“Saya kemarin dari salon Mas, untuk meluruskan


rambut”


“Ko malah jelek begitu”


“Maaf mas, kata Alula dan Fira mereka lebih suka


rambutku yang seperti ini mas dan juga Mas Kendra


kemarin memintaku untuk meluruskan rambut ini”


“Itu kan kata mereka. Kamu pilih mereka apa pilih aku!


Dan juga berarti kamu menyalahkan ku?”


“E tidak mas, Maaf”


“kalau begitu, kamu jelek ini karena salahku?”


“Tidak mas, bukan begitu maksud saya”


Duarrr.. kenapa jadi seperti tersambar petir di siang


bolong begini.


“ya udah, minggir. Aku mau mandi.”


“dan kamu telah melakukan kesalahan ya! Semalam kamu tidur tanpa menunggu suamimu kembali”


“Saya ketiduran Mas, lain kali gak akan mengulangnya lagi”


Tanpa mempedulikan ucapan Dera, Kendra berjalan


menuju kamar mandi.


“hahaha”


Eh apa itu, kenapa dia tertawa terbahak-bahak di


kamar mandi?


Apa dia udah gila? Tadi marah seperti singa, sekarang


udah ketawa aja


Dera lagi-lagi mendengar Kendra tertawa dalam kamar


mandi.


.


.


Cinta adalah keberanian. Dan maaf aku belum mampu mewujudkannya.


.


.


.


puji