
Kok jawabannya tidak semua, lantas apa yang membuatmu sehingga menjawab IYA sekretaris Kutub!!
Tap tap tap.
Suara langkah kaki Kendra.
Dia turun ke lantai bawah, dilihatnya Dera sedang berbicara dengan sekretaris Rey. Dia mempercepat langkahnya.
“Naik ke atas, sekarang” Kendra meminta Dera dan melirik tajam pada Sekretaris Rey.
“Nah ini Mas Kendra sudah datang" Dera mencoba berada di antara dua laki-laki ini.
Kendra yang tak suka meminta Dera untuk segera ke kamarnya.
"Apa perlu saya ulangi lagi Dera Ananda!! Ke kamar sekarang!"
Jika Kendra sudah memanggil Dera dengan nama lengkap, tandanya dia benar-benar tidak bisa dj ganggu gugat.
"Ya mas. Saya naik ke atas duluan Sekretaris Rey” Dera mencoba berpamitan dengan baik, walaupun sekretaris Kutub ini tetaplah dingin padanya.
Dera melangkah ke tangga. Tak berapa lama dia memperhatikan Kendra yang tak memakai seragam kerja.
Dia kembali menghampiri Kendra.
"Kenapa balik lagi" Kendra melihat Dera dengan sorot mata bertanya-tanya.
“Tunggu dulu, kenapa Mas Kendra gak memakai pakaian kerja? Bukankah telah ku siapkan di ruang ganti Mas?”
“Sudah naik saja dulu. Jangan banyak tanya" jawab Kendra tanpa menoleh ke Dera.
"Tapi kenapa mas?"
Pertanyaan Dera membuat Kendra geregetan.
"Hihhh, balik ke atas, banyak tanya mulu dari tadi"
“E e iya mas”
Dera berlari kecil ke arah tangga.
Sedangkan Kendra duduk disamping Sekretaris Rey.
Kendra memastikan Dera sudah naik ke lantai dua. Dia bicara pada Sekretaris Rey.
“Kamu masih berani bicara dengan Dera Rey!! Jangan cari masalah. Urusi saja masalah kerjaan”
“Tapi Pak Bos, Nyonya Dera tadi yang menghampiri duluan dan saya tidak ngobrol apapun dengan Nyonya Dera”
“Aishh, banyak jawab. Entah ngobrol atau enggak aku gak peduli. Yang jelas jangan berduaan dengan Dera jika tak ada aku. Paham!!” perintah Kendra
"Kami berempat Pak Bos, ada para bibi di sana" Rey membantah dengan menunjuk ada Bi Tirna dan Mbak Nurul yang ada di dapur.
"Kamu gila, mereka ada jauh dari kalian"
"Ya Pak Bos, Maaf" jawab Rey.
"Ku ulangi lagi, jangan pernah bicara pada Dera empat mata. Paham!" Kendra mempertegas ucapannya.
“Baik Pak Bos"
Aku sudah biasa dengan sikap Kendra semarah apapun. Tapi ini? hanya bicara dengan Dera saja di marahi?? ada angin cinta nih rupanya. Rey.
"Bagaimana dengan perkembangan proyek yang dilakukan laki-laki itu? apa sudah ada perkembangan!"
"Suda Pak Bos. Sejauh ini perkembangan sudah mencapai 30%, sepertinya dia mempercepat dengan mempekerjakan secara lembur dan menambah para pekerja"
"Oke, baiklah. Awasi dia terus jangan sampai kita kecolongan lagi. Bisa-bisanya dia korupsi sedangkan gaji yang dia peroleh sudah mencapai 2 digit. Keterlaluan" Kendra merasa geram jika mengingat sikap salah satu pegawainya.
"Siap Pak Bos, laksanakan"
"Apa lusa kita jadi pergi ke Fashion Show Lidia?" Kendra memastikan pada Rey.
"Iya Pak Bos, jadi. Undangan telah di tangan saya"
Tanpa menjawab Kendra melangkah ke kamarnya, di dapati istrinya sedang melipat selimut yang telah dipakai semalam.
Memang Dera sengaja untuk hal yang bisa dia kerjakan, pasti dikerjakan sendiri.
“Apa mas Kendra tidak bekerja?” Dera bertanya karena penasaran.
“Aku sedang sakit. Kepalaku pusing, hidung ku mampet, badanku terasa remuk”
Sakit segitu banyaknya dalam satu waktu? Yakin? Kamu kan bukan manusia, penyakit saja malas mendekatimu.
“Tapi gak kelihatan kalau Mas Kendra sedang sakit. Apa perlu aku panggilkan dokter?”
“Jadi kamu gak percaya kalau aku sakit!” Kendra melirik Dera dengan lirikan mautnya.
Belum juga dilanjutkan bicaranya, Kendra sudah memotong.
“Sudah sana kembalikan baju yang telah kau siapkan tadi di tempat semula. Ingat.. kembalikan sesuai dengan urutan warnanya”
Hanya sekedar mengembalikan baju saja sesuai urutan warna? Seorang perfectionis pun tidak terlalu begini, atau memang kebiasaan orang kaya seperti ini? atau hanya suami ku saja?
“Baik mas” Dera melangkah ke ruang ganti.
Tuing tuingg tuingg..
Di dapatinya ponsel Dera berdering, sebagai tanda pesan masuk.
Kendra mencari sumber suara. Segera diambilnya dan dilihat.
“Kenapa ponselmu masih OPP*? Kenapa gak membeli ponsel baru yang lebih canggih”
“Tidak Mas, ini sudah sangat bagus”
“Apanya yang bagus, peringatan memori penuh dan layar sudah retak begini masih kau bilang bagus”
“Ya masih bisa dipakai mas” Dera mencoba mengeles.
“Beli yang baru, gunakan kartu yang ku berikan padamu. Jangan sampai menyesal. Orang diluaran sana pengen memiliki kartu yang telah ku berikan padamu itu. Kamu malah menyia-nyiakannya”
“Ya Mas. Baik”
Kendra membolak-balik ponsel Dera dan di tekan tombol kecil yang ada di samping.
“Buka sandinya”
Kendra menyerahkan ponselnya pada Dera dan dia pun membuka layar ponselnya dengan menggunakan pola yang di simpannya.
“Apa-apaan ini, foto beruang kutub, kenapa gak sekalian aja kau pelihara tuh hewan, bisa juga kan nanti ketemu tiap hari, jika kau urus hewan itu”
Kendra masih bicara panjang lebar intinya dia cemburu pada seekor beruang kutub.
Padahal memang sengaja layar ponsel ku ganti seperti itu, menandakan bahwa suaminya dingin seperti beruang yang tinggal di kutub. Bukankah itu masuk akal?
“Mas, aku kebawah sebentar ya, aku akan memasakkan Mas Kendra sup untuk sarapan”
“Gak usah kamu yang masak. Biarkan saja Bi Tirna, itu sudah kewajiban mereka dan sudah ku gaji pula"
“Baiklah, sebentar mas”
Dera berjalan menuju ke dapur.
Tepat sekali berpapasan dengan Sekretaris Rey.
“Bagaimana keadaan Pak Bos Kendra Nyonya?” tanya Rey dengan menundukkan kepala. Ini lebih baik dibandingkan harus menatap Nyonya nya yang jelas-jelas sudah di larang oleh Bos nya.
“Hei Sekretaris Rey, dia itu tidak sakit beneran. Lihat saja sendiri di kamar. Oh ya Sekretaris Rey, apa kamu tau dimana sekarang Nona Lidia?” Dera celingukan memantau agar tak ada seorangpun yang mendengarnya apa yang diucapkan pada Sekretaris Rey.
Rey menghentikan langkah kakinya tepat di tangga puncak, tangannya berpegang pada tangga berkepal dan dengan sorot mata yang tajam.
“Hello Sekretaris Rey, aku kan cuma bercanda. Kenapa menanggapinya dengan serius. Jangan gitu nanti cepet tua hehe” Dera tetap bicara sambil bersenandung ria. Karena dia tidak tahu bahwa sebenarnya orang yang harus lebih dia waspadai adalah laki-laki di depannya.
Du du du du du
Dera melanjutkan langkah menuju dapur dan meninggalkan Rey di anak tangga.
Apa yang sebenarnya Anda inginkan Nyonya Dera.
Jangan sampai Anda membuat Pak Bos Kendra kecewa dengan sikap Anda.
Jikalau dia sudah menginginkan Anda, maka sampai kapanpun saya tidak akan membiarkan Anda lari, walaupun anda menolak sekalipun.
Camkan itu.
.
.
.
puji
.
.
Satu di tambah satu itu dua.
Aku dan kamu jadinya kita. 🤩