PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
episode #68



Seorang perempuan cantik yang memiliki tinggi 155cm dan memiliki mata teduh, hidung yang mancung, berkulit putih, berambut pirang.


Siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona dalam hitungan detik namun tidak dengan sikapnya yang cuek pada orang bahkan terlihat sombong. Alula Zamora, cucu perempuan satu-satunya dari Alexander dan Ayu. Ya, dia adik dari Kendra Alexander.


Sebenarnya Alula ragu menginjakkan kaki di rumah mewah dan megah ini. Rumah ini pernah membuatnya terkungkung dengan berbagai aturan yang di tetapkan sang kakek.


Anggara mengatur segalanya dari bangung tidur hingga apa yang harus Lula lakukan dan apa yang tidak boleh Lula lakukan.


Walaupun begitu Lula sangat menyayangi kakeknya namun niatnya yang ingin pulang ke rumah ini hanya sebatas niat, buktinya beberapa tahun yang lalu Lula hanya mampu berhenti di depan rumah ini dengan diantar oleh Pak Yanto dan hanya menatap rumah ini dari dalam mobilnya dengan tatapan kerinduan.


Semua yang dia alami menjadikannya seorang Lula yang kuat, namun kodratnya yang terlahir sebagai perempuan justru terkadang ingin dimanja dan di sayang oleh keluarga nya apalagi kakeknya.


Berbeda saat dia sudah tinggal bersama Kendra, dia menjadi adik yang sangat manja. Pernah di suatu ketika, Lula berharap kakeknya datang saat wisuda SMA nya namun dia tak datang, hingga acara tersebut selesai.


Lula membuka pintu mobilnya dan melangkahkan kaki ke sebrang jalan menuju pintu gerbang kediaman Anggara.


Seorang satpam membuka pintu pagar dan menatap Lula dengan tatapan penasaran.


“Oh non Lula, silahkan masuk Non. Sudah ada keluarga besar di dalam” ucap salah satu pekerja yang segera melangkahkan kakinya dengan cepat Ketika melihat Alula.


“Mang Anto apa kabar?” tanya Alula mengangkat sudut bibirnya saat melihat Mang Anto yang dulu selalu menemaninya di kala dia sepi di rumah ini.


"Tuan ANggara sendirian disini non?" ucap Anto membuat Lula menahan rasa harunya karena ternyata sang kakek sepertinya juga merindukannya.


“Ya pak, cuma sama sopir. Kakek apa kabar?” tanya Lula membuuat Anto menghela napasnya.


“Kakek Non Alula sedang sakit Non, Tuan Alexander sudah membujuk Kakek Nona untuk operasi tapi Kakek Anggara menolaknya” ucap Anto membuat Alula menghela napasnya.


Lula kembali teringat ucapan Dera sebelum menemui kakeknya. Ada perasaan takut di hati Lula Ketika dia tidak bisa lagi menatap wajah kakek yang mengurusinya hingga besar.


Dera benar, sudah cukup dia berusaha untuk menjauh dari kakeknya dan sudah saatnya melupakan masa lalu.


Lula mengikuti Anto naik ke dalam mobil taman yang akan membawanya ke rumah utama. Halaman rumahnya ini sangat besa dan memiliki banyak fasilitas.


Kakeknya berhasil mengelola perusahaan dengan baik, apalagi saat ini ada Kendra yang membantu kakeknya.


Kendra memang bukan sekedar kakak baginya tapi juga laki-laki yang selalu ada untuk adiknya.


Mobil taman berhenti di depan rumah utama dan Lula turun, ingatannya kembali, dimana dia menangis di depan teras karena sang kakek pergi lagi dan lagi namun tidak mengajaknya. Lula menghela napasnya saat memasuki rumah tersebut.


Alula memilih untuk diam dan dia memegangi dahinya dan mengingat kenakalannya bersama kakek dan pengasuhnya, Mbak Umi, hingga terkadang membuat jatuh tersungkur karena tidak diperbolehkan main ayunan, karena takut kalau Lula jatuh lagi.


Alula menuju pintu penghubung kolam renang dan dia membukanya. Terlihat hamparan air kolam renang yang membiru dan samar-samar Lula mendengar tawa seseorang yang sangat asing di pendengarannya.


Suara siapa itu? Bukan ketawa Kak Dera.


Alula melangkahkan kakiknya mendekati mereka. Mata tua Anggara terlihat begitu haru dan mata itu meneteskan air matanya membuat Alula terkejut.


Untuk pertama kalinya dia merasa di sayangi oleh kakeknya. Air mata Anggara menetes semakin banyak membuat Lula taanpa kata menepiskan jarak antara mereka dan memeluk Anggara dengan erat.


“Maafkaan lula ya Kek yang gak pernah main kesini, yang dulu nakal dan selalu membuat kakek marah, maafkan lula kek” ucap Alula yang tanpa sadari membuat suasana di ruang tengah menjadi haru.


"Gak apa-apa nak, itu wajar. Mungkin juga di usiamu dulu memang butuh perhatian dari kakek, malah kakek sibuk dengan bisnis. Maafin kakek juga ya Lula" Anggara kecup kening Alula.


"Maafkan kakek ya Alex, Ayu, gak bisa jadi kakek yang baik untuk putrimu" tuturnya lagi pada anak dan menantunya.


Keluarga yang melihatnya pun ikut terbawa suasana. Alula akhirnya melepas pelukan pada kakek dan menyapa semua keluarga.


Di sapanya Papa, Mama, Kendra, Dera, Anggara dan Renita.


Matanya seketika fokus pada perempuan yang berada di samping kakeknya.


Siapa itu? Aku ko baru tau. Dan mengapa dia bisa seakrab itu dengan kakek? Batinnya.


Alula berjalan menyalami setiap orang yang ada diruangan itu. Dia lantas duduk di tempat dekat kakeknya.


“Oh ya nak, urusan kampus mu sudah selesai?” tanya Anggara membuka pembicaraan.


“Sudah kek”


“O, syukurlah. Oh ya nak, ini ada keponakan Dera Namanya Renita, usianya hampir sama denganmu. Siapa tau nantinya kalian bisa berteman baik, bukan begitu Alula dan Renita”


Mereka menganggukkan kepala sebagai arti mengiyakan.


“Kakek sangat senang kalian bisa berkumpul dirumah kakek. Sebenarnya ada yang ingin kakek utarakan mengingat usia kakek yang tak lagi muda.


Untuk kendra kamu kakek wariskan restoran di kota J dan perusahaan penanaman modal. Sedangkan Alula kakek wariskan hotel dan perusahaaan manufaktur.


Bagaimana Kendra dan Lula? Apa kalian sanggup?”


Kendra yang menatap kakeknya dengan sedih karena sudah memberikan wasiat padanya.


Ingin rasanya bisa melihat kakeknya sampai nanti dia memiliki anak. Sedangkan Lula hanya menunduk dan bergelut dengan pikirannya sendiri.


“Kendra siap kek, tapi bukankah ini terlalu cepat?”


“Tidak nak, usia tak ada yang tau. Lebih cepat menyampaikannya lebih baik”


Yang lain hanya mendengarkan apa yang di sampaikan Anggara.


“Tuan sarapannya sudah siap” ucap Bi Inem yang tiba-tiba datang dari dapur.


“Oh iya. Ayo semuanya kita sarapan dulu. Ayo nak Dera, Lula, Renita, semuanya”


Hingga sarapan selesai, akhirnya Kendra memutuskan untuk mengajak Dera jalan-jalan di sekitar rumah kakeknya.


Dera diajak untuk berjalan-jalan di taman dengan senang hati menerimanya. Setidaknya Dera bisa refreshing dan istirahat sejenak dari semua kegiatan yang dilakukan.


Kedua bola matanya menatap seisi taman yang terlihat sangat indah.


Taman yang dihiasi berbagai macam bunga berwarna-warni membuat hati Dera senang dan sedikit lebih baik.


Lantas Dera berjalan mendahului Kendra. Memilih untuk berdiri di tengaah-tengah ratusan bunga.


“Nak, ayo pulang. Mama papa mau pulang duluan ya. Papa mu sudah ada janji dengan coleganya” pamit mamanya pada Kendra.


Seketika Dera yang mendengar ucapan mertuanya langsung mengikuti dan bersiap untuk pulang juga.


.......................


Author: Hello guys, apa kabar nih??.


salam dari author, semoga gak bosen-bosennya baca novel ini yaa🌹