
Dera melihat bibir laki-laki di hadapannya menyeringai mendengar jawaban yang lugas.
“Baik, lain kali saya akan mengirimkan kepada Nyonya muda satu jam sebelum kepulangan Pak Bos. Sekarang saya permisi”
Pergilah, pergi jauh sana! Kalau perlu jangan kembali!!
Tak lama kemudian Bi Tirna mendekati Dera.
“Nyonya, silahkan makan. Mumpung masih hangat”
“iya Bi, aku panggil Mas Ken dan Lula dulu ya Bi”
Hingga akhinya Dera memanggil Kendra dan Lula untuk makan malam.
Keheningan terjadi di meja makan. Dera melirik sambil menatap sepiring spaghetti di hadapannya, sepertinya enak.
Saat Kendra sudah meraih sendok dan mulai makan semua mengikuti gerakannya. Bahkan Lula pun juga.
Dera mulai makan spaghetti di hadapannya.
Wajahnya berubah ada terkejut dan senang bercampur melihat spaghetti yang dimasaknya sangatlah enak. Pasalnya itu dibantu juga oleh Bi Tirna mengenai takaran bumbunya.
“Spaghettinya enak sekali” eh dia keceplosan. Mereka yang tadi makan dalam keheningan menoleh padanya.
Termasuk Kendra.
“Spaghettinya enak sekali mas, terimakasih sudah memberiku kesempatan makan seenaak ini”
Aku bisa-bisa gila kalau Mas Kendra terus-terusan bersikap dingin padaku dan aku berusaha menutupi dengan kalimat-kalimat indahku.
“hustt Kak. Makan dulu” ucap Lula
“Kalau suka, kau bisa meminta Bi Tirna untuk membantumu setiap hari” Kendra bicara
pada Bi Tirna yang berdiri di belakang Kendra langsung tersenyum.
Kesunyian kembali tercipta di meja makan. Semua hanya fokus pada piring spaghetti di hadapan mereka.
Dera bergegeas mengunyah dengan cepat saat melirik isi piring kendra sudah hampir habis. Dia menghabiskan semua makananya sebelum Kendra meletakkan sendoknya.
Mengambil selembar tisu dan membersihkan mulutnya. Dia sudah selesai makan.
Saat dia bangung dari duduk, Dera refleks bangun juga, walaupun Spaghetti dalam piringnya belum habis.
“Habiskan makananmu” Kendra melirik Dera yang sudah berdiri dari duduk.
“Baik Mas” Syukurlah Dera bisa menghabiskan makanan enak ini.
Tahu begitu kenapa aku buru-buru tadi.
Kendra kembali ke ruang kerjanya. Dan tinggallah aku dan Lula.
“Lula, tunggu aku ya. Tinggal sedikit lagi” ucap Dera meminta Lula untuk menungguinya.
“Oke deh Kak Der” ucapnya
Setelah Dera selesai makan
“Kak, apa hubungan Kakak dan Kak Ken baik-baik saja?
“mengapa bertanya begitu La?”
“Karena aku lihat Kak Ken bersikap dingin pada Kakak. Dan apa kakak tau mengenai Kak Lidia?
“Iya, kakak tahu ko. Mereka pernah menjalin hubungan dan sekarang mereka sudah berpisah. Itulah yang menyebabkan Kendra dulu yang begitu hangat sekarang berubah menjadi Kendra yang dingin dan menyebalkan”
“Oh ya?"
“Iya La. Sebenarnya kakak juga tahu Kendra sangat mencintai wanitanya itu”
“yaudah kak, toh juga mereka sudah putus. Yuk ke kamar lagi”
Dera dan Lula berpisah menuju kamar masing-masing.
Di dalam kamar hanya TV dan novel yang menjadi hiburannya sedangkan Kendra masih berkutat dengaan berkas-berkas yang dibawanya dari kantor.
“ah sepi sekali ini. Gak ada yang ku ajak bicara. Mas Ken sibuk, Lula pasti sedang main ponsel di kamarnya. Huftt.. gabut” ujar Dera
Akhinya Dera memilih untuk menonton TV karena kalau di kamar dia akan merasa kesepian. Menonton film yang pasti lebih menghibur syukur-syukur kalau ada temennya.
Sampai tanpa sadar, Dera terlelap dengan TV yang masih menyala. Dera mengerjapkan mata kaget.
Matanya terbuka dan langsung menyipit lagi karena silau lampu. Segera bangun dari sofa dia berdiri dan menoleh ketempat tidur. Kosong. Kendra belum kembali.
Jam berapa ini? Dia melihat jam di dinding
“hampir jam 12”
Dera akhirnya memutuskan untuk memainkan ponselnya. Mira. Teman satu perjuangan saat kuliah, dia mengupload foto pria di feed media sosialnya.
“cieee, siapa tuhhh”
“hehe tumben tuan putri jam segini belum tidur”
Dia berguling dibawah selimut, menyelimuti tubuhnya dengan mengeerakan tubuh tidak menariknya dengan tangan. Jadi badannya geliat geliut ke sana kemari.
Sementara itu pintu terbuka, Kendra berdiri cukup lama disana.
Melihat Dera dalam balutan selimut geliat gelut tidak jelas. Tawa juga terdengar dari bawah sellimut. Sekilas senyum samar muncul di bibir Kendra melihat tingkah Wanita di bawh selimut.
“apa yang kau lakukan Dera!!” suaranya terdengar setengah berteriak.
Brugggggg.
Hp yang dipegangnya teratuh di wajahnya.
“aduh” tangan Dera dengan cepat meraih ponsel dan mengelus keningnya.
Kendra hanya bisa melihat tingkah istrinya itu.
“kamu ngapain?”
“maaf Mas, tadi aku menunggu Mas Ken sembari bermain ponsel” Dera masih mengelus keningnya
“ya udah terserahmu. Aku mau tidur”
Kata-kata yang diucapkan Kendra layaknya sebuah perintah yang harus dilaksanakan.
Dera segera menyiapkan pakaian tidur.
“Baik mas, aku ambilkan dulu pakaian tidurnya” dia bergegaas masuk kedalam ruang pakaian
Sakit, diusap-usap keningnya dengan rambut.
Katanya sih bisa mendingan sakitnya. Hiks hiks.
Karena tak mau membuat Kendra menunggu, di bergegas menyerahkan pakaian, dan membalikkan badan saat Kendra berganti pakaian.
Kendra melemparkan pakaian yang dia pakai tepat di kepala Dera. Pelan gadis itu meraih dan memeluk di dadanya.
“kamu menangis?” Dera langsung mengusah wajahnya dengan pakaian Kendra yang ada di tangannya.
Bagaimanq air mata bodoh ini bisa keluar..pikirnya penuh kesal
“enggak mas” jawabnya
“sini” Kendra menjentikkan jarinya meminta Dera mendekat. Tubuh Dera membeku, padahal Cuma kejatuhan ponsel saja.
“duh dia mau ngapain aku?” pikirnya
Dera mendekatkan wajahnya ke arah Kendra yang duduk di tempat tidur. Dera memejamkan matanya, mengepalkan tangannya kuat. Jika dia harus mendapat hukuman dari Kendra atas kelalaiannya, dia siap.
“eh ko dingin, kenapa keningku rasanya dingin” rasa nyeri berangsur sedikit menghilang.
Dera membuka matanya. Dia melihat Kendra, laki-laki itu melemparkan salep kecil yang gelagapan di tangkapnya.
“olesi keningmu dengan itu. Lain kali kalau main ponsel jangan sambil tiduran. Kalau jatuh gitu baru tau rasakan”
“Ya mas, terima kasih"
Ternyata Kendra orang yang dulu tidak benar-benar berubah. Masih ada sisi baiknya.
Dera bergumam lalu masuk ke ruang ganti dan meletakkan pakaian Kendra disana. Dia meraba keningnya yang sudah di olesi saleb.
Setelah menghapus sisa air matanya yang tadi keluar tanpa izinnya dia keluar dair ruangan baju melewati tempat tidur.
“besok-besok ulangi lagi. Biar sekalian jenong tuh kening”
Ucapan Kendra tak digubris Dera. Akhirnya dia mematikan lampu kamar dan tidur disamping Kendra.
.
.
.
Mungkin butuh waktu untuk membuatmu kembali hangat, tapi jangan paksa aku untuk menjadi kuat. Karena sekeras apapun aku berusaha mengembalikanmu jika hatimu masih tertinggal atas semua masa lalu, aku bisa apa?
Hanya sebatas penyembuh luka diatas luka lama yang masih menganga
.
.
.
Puji
.
.
.
Hello guys,, support aaku terus ya.. ini novel pertamaku maaf jika masih acak-acakan kalimatnya.