
Dokter Agnes bersama Kendra membantu Dera untuk berbaring di atas ranjang. Perawat yang membantu Dokter Agnes menyingkap Sebagian dress yang dikenakan Dera hingga memperlihatkan perut putih Dera yang masih datar.
Kemudian perawat mengoleskan gel di atas perut Dera. Selanjutnya Dokter Agnes menempelkan trasduser di atas perut Dera dan memutarnya perlahan.
Dokter Agnes tersenyum melihat hasil yang di tampilkan di layar monitor yang memperlihatkan adanya janin yang masih sebesar biji kacang disana.
Kendra yang melihat ada malaikat kecil di rahim istrinya, dia merasa sangat bahagia.
“Selamat bapak Kendra, anda akan menjadi seorang Ayah"
"Anda benar-benar hamil Ibu Dera dan menurut prediksi usia kandungan anda sudah berjalan 6 minggu” Dokter Agnes pun menunjukkan janin yang kini bersemayam di rahim Dera di layar monitor.
Kendra kini menatap haru satu lembar gambar hasil USG yang baru saja di cetak.
Sehat-sehat selalu di dalam rahim mama ya nak. Papa akan selalu menyayangimu dan akan berjuang untuk selalu memberikan kebahagiaan untukmu sampai akhir hidup Papa. Batin Kendra mengelus perut Dera.
“Untuk masa awal kehamilan kandungan masih rentan akan keguguran. Untuk itu bu tidak boleh terlalu banyak pikiran dan melakukan pekerjaan berat yang bisa membahayakan kehamilan ibu.
Saya sudah meresepkan obat pereda rasa mual dan penguat kandungan beserta vitamin. Dan jangan lupa untuk menjaga pola makan dan memaakan makanan yang bergizi” tutur Dokter Agnes.
“Apa ada lagi yang bisa saya bantu?”
“Oh ya Dok, apa boleh melakukan hubungan saat hamil?” tanya Kendra.
Dera yang mendengarnya merasa malu, kenapa juga berhubungan lagi, nanti kalau kebobolan lagi bagaimana?
“Boleh Pak, asal jangan terlalu kasar ya pak. Dan jangan sampai keluar di dalam” Dera menyentil paha Kendra mendengar jawaban dokter.
“Ada lagi yang ditanyakan pak,bu?”
“Tidak dok, terima kasih ya Dok” ucap Dera mengucapkan salam.
Mobil melaju ke rumah Kendra.
"Pak, kalau ada lubang, atau polisi tidur pelan-pelan saja ya.. jangan sampai istri saya merasakan ada sebuah guncangan sekecil apapun itu. Paham Pak!" Pesan Kendra pada Pak Yanto.
Dera mengernyitkan dahinya. Apa lagi ini Ya Allahh... mengapa sangat overprotektif sekali.
"Sayang, nanti kalau Pak Yanto terlalu kencang marahi saja gak apa-apa, Ya sayang ya" ucap Kendra.
Hanya di balas anggukan oleh Dera.
"Pak, berhenti di swalayan ya. Mau beli susu" tutur Kendra di tengah perjalanan.
"Siapa yang mau minum susu mas?" jawab Dera seketika.
"Ya kamu lah sayang, susu hamil"
Dera terhitung jarang mengkonsumsi susu, bukannya tak suka, tapi tak terbiasa saja.
Setibanya di swalayan.
Mata Kendra menelisik satu per satu deretan susu hamil di depannya. Setelah lama berpikir, akhirnya Kendra mengambil 5 kotak susu hamil dengan harga yang terjangkau.
“Mas Kendra, belinya jangan banyak dulu. Bisa-bisanya aku mabuk susu nantinya.
“Biar gak bela-beli dek, ini aja gak papa”
Dera hanya bisa pasrah dengan sikap suaminya.
…………………….
Keesokan paginya, Dera menggeliat karena badannya terasa lengket oleh keringat. Dia meraasakan cahaya matahari sudah mulai memasuki jendela kamar utama mereka.
Dera melihat ke sampingnya. Ada sang suami tercinta yang masih tertidur pulas tanpa memakai baju.
Sungguh pemandangan yang membat mata panas saja. Dera sendiri selalu terpesona setiap kali melihat suaminya bertelanjang dada.
Nak lihat deh, papamu sangat seksi kalau sedang tidur begitu.
Bagaimana tidak kalau memang pemandangan indah sang suami selalu saja dia memiliki fantasi lain yang liar.
Dera mencoba mengalihkan pandangannya atau dia hanya akan menyesal kalau sampai membuat Kendra terbangun dan meminta lagi, lagi dan lagi.
Sudah cukup semalam mereka bersenang-senang sehingga pagi ini membuat tubuh Dera capek.
Dera pun perlahan melepaskan pelukan erat sang suami ditubuhnya. Kendra memang memegang janjinya untuk tidak meninggalkan Dera di pagi hari setelah malam indah mereka lalui.
“Mau kemana sayang?” tarikan Kendra membuat tubuh Dera kembaali terjatuh di ranjang dan kini sudah dalalm pelukan hangat Kendra. Tubuh mereka kembali saling bersentuhan dan itu dalam keadaan tanpa sehelai benang. Hanya selimut yang menutupi tubuh mereka.
“Sayang, apa yang kamu lakukan?” pekik Dera.
“Kamu mau kemana pagi-pagi begini?” tanya Kendra sekali lagi.
“Aku mau ke kamar mandi” jawab Dera.
“Mau ngapain di sana?” tanya Kendra masih penasaran dengan memeluk erat tubuh istrinya.
“Aku mau mandi mas, tubuhku lengket” ujar Dera.
“Ya sudah kita mandi bersama” ajak Kenda sambil bangun dari posisi tidurnya. Dera seketika terbelalak mendengar apa yang dikatakan Kendra.
“Mas…”
“Aku bisa menggosok tubuhmu dengan baik sayang” jawab Kendra dengan senyuman nakalnya.
Dera yakin pasti mereka tidak hanya sekedar mandi saja disana. Dia tau apa yang dipikirkan Kendra hanya dengan melihat senyuman nakalnya saja.
“Ayolah sayang, jangan marah, aku mintaa maaf ya” ujar Kendra melihat istrinya merajuk karena perbuatan semalam.
Tiba-tiba Dera berlari ke kamar mandi dan…
Huekk.. hueekk..
Kendra yang dibelakangnya langsung memijat perlahan leher istrinya. Dia tak tega melihat istrinya mengalami trimester ini.
“Sayang, apa perlu kita ke dokter lagi?”
“Gak usah mas, nanti juga mendingan” jawab Dera.
“Biar dibuatkan susu dulu ya, sama Bi Tirna”
Dera menganggukkan kepala.
“Tapi setelah itu kita mandi bareng mau?” ujar Kendra lagi yang berusaha meluluhkan hati istrinya.
Dera tak menjawabnya, dia hanya diam saja. Kendra menekan HT miliknya yang tersambung dengan HT dapur.
“Bi, tolong buatkan susu untuk Dera ya” ucap Kendra.
“Baik Pak” Bi Tirna membuatnya hingga mengantar ke kamar Dera.
Dengan sabar Kendra menghadapi moodnya Dera yang mudah berubah. Diapun tak pernah marah dengan perubahan pada istrinya kini.
“Pak, susunya sudah jadi”
Kendra membuka pintu dan memberikan susu pada Dera.
Dera yang hanya menerima tanpa berkata apapun membuat Kendra makin kelabakan.
Siapa suruh juga mengajak istrinya mandi bersama.
Akhirnya ngambek kan istrinya. Bukannya di kasih kesempatan istrinya berendam air hangat untuk merilekskan tubuh. Eh, malah di ajak melanjutkan yang semalam kurang.
“Eits, jangan ngambek lama-lama. Kan di dalam sini ada malaikat kecil kita. Yuk senyum dulu sayang” jawab Kendra dengan segala cara.
Kendra berusaha untuk membuat Dera kembali tersenyum. Sudah sejam lamanya Dera mendiamkan dirinya dan menganggap seolah dirinya tidak ada.
Bahkan Kendra sampai mengambil libur hari ini tidak ke kantor. Semua urusan diserahkan pada Sekretaris Rey dan Asisten Nisa.
Dengan alasan kalau dia ingin menemani istrinya yang sedang hamil muda. Berita ini justru membuat jiwa jomblo Sekretaris Rey dan Asisten Nisa merana mendengarnya.
.
.
.
Author: hello bestie, kakak kakak, gimana nih? sudah sampe episode berapa? 😅