PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
RENCANA JAHAT



Sementara itu Mira dan Alula kini tengah berada di rumah Kendra. Mereka asik ngobrol di ruang tamu dan menikmati satu mangkuk buah segar yang sudah di potong-potong.


Mira yang kini tengah menyibukkan dirinya di perusahaan, dan Alula yang tengah sibuk dengan tugas perkuliahan.


Mereka saling bertukar cerita mengenai apa yang dialaminya.


"Gimana nih semester 5, enak gak?" tanya Mira dengan memakan potongan buah semangka.


"Ah apaan kak, tugas makin numpuk tau kak. Deadline nya juga cepet. Apa lagi itu tuh Pak Singgih, uhh kalau tugas pasti banyak revisian. Moga aja deh besok saat skripsian gak dapat dosen pembimbingnya dia" jawab Alula dengan antusiasnya.


Memang kuliah dan tugas layaknya kertas dan lem, selalu ada dan membuat mahasiswa merasa terkadang jenuh.


"Eh tapi enak juga tau. Dera kemarin dapat dosen pembimbing Pak Singgih, fine fine aja tuh La" jawabnya.


"Eh ya, ngomong-ngomong Dera, mulai kapan dia berangkat ke rumah sakit?" tanya Mira yang niatnya kemari untuk mengunjungi sang sahabat.


"Sebenarnya kemarin setelah wisuda, Kak Kendra dan Kak Dera menghabiskan waktu di hotel Kak. Tadi sih aku telpon katanya jam sepuluh tadi sampai rumah sakit" jawab Alula.


“Huft tapi lama sekali kak Dera ini” gerutu Alula yang dari tadi menunggu kepulangan Dera dan Kendra.


“Bukankah tadi kata Alula kak Kendra sampai rumah sakit jam sepuluh nak. Ini juga baru dua jam. Tunggu saja" celetuk Ayu yang tiba-tiba datang membawa nampan yang berisi kue kering.


"Apa kalian berdua sebegitunya menunggu kepulangan mereka?” tanya Papanya yang sedang menonton TV.


”Mama,, siapa yang merindukannya. Aku hanya ingin menanyakan perihal keponakanku ma” jawab Alula.


"Iya tante.. Mira nunggu bumil, sudah lama gak ketemu tante. Kemarin cuma ketemu sebentar waktu wisuda" jawab Mira.


“Kalau begitu apa susahnya kalau kamu telpon saja La, kasihan juga kalau Nak Mira nunggu kelamaan” ujar Mira memberikan idenya.


“Sudah Ma,, tapi gak di jawab” Alula berdecak.


"Oh ya nak Mira, bagaimana keadaan Papa? apa sudah sembuh nak? tante dengar Papa sakit ya nak, kemarin-kemarin Dera sempat cerita soal keluarga Mira"


"Oh iya tante. Papa sakit, Mama juga harus merawat. Kemarin saja mereka tak hadir tan" jawab Mira dengan raut wajah yang lesu.


Tak lama kemudian Kendra dan Dera pun datang, tentunya bersama Pak Yanto dan dua bodyguarnya.


Kedatangan dua bodyguard yang menjadi pusat perhatian mereka.


Bodyguard yang satu membawa bucket bunga ekstra large, dan yang satunya membawa boneka bear jumbo.


“Kak Deraa” teriak Alula.. “Deraaa” teriak Mira begitu heboh, saat orang yang ditunggunya mulai menghampiri.


Mereka memeluk Dera, seakan tak bertemu bertaun-taun lamanya.


"Eitss, apa nihh, kalian habis dari taman bermain apa gimana? ko bisa bawa boneka se gemoy ini sih" tanya Alula yang mencubit pipi boneka dibawa bodyguard.


"ihh, gemes banget sih bonekanya Der. Ini juga bucket bunga nya gede banget" ucap Mira dengan antusiasnya.


Dera mendekati Mira dan membisikkan


Makanya suruh beliin Sekretaris Rey dong haha.


Seketika membuat Mira berwajah merah merona.


Pandangan Alula kini beralih pada Dera, dia fokus pada apa yang akan ditanyakan pada sang kaka iparnya ini.


“Kak, bagaimana hasilnya? Apa bayinya sudah terlihat?” tanya Alula bersemangat, bahkan terlihat sekali ekspresi antusiasnya.


“Kau ini nak, mana mungkin bayinya langsung terlihat. Dera kan baru beberapa bulan hamil. Bukan begitu nak” celetuk Ayu sambil memutar kedua bola matanya.


Begitu pun dengan Kendra dan Pak Yanto yang tak henti-hentinya melihat pertengakaran kecil di depannya.


"Letakkan bunga dan boneka di kamar saja" ucap Kendra pada sang bodyguard.


Mereka berdua lantas berjalan menuju kamar Kendra.


“Haih,, sudahlah. Ayo kita duduk dulu” Kendra menarik tangan Dera mengajaknya untuk duduk di sofa. Dan disusul oleh Mira, Alula dan Mama nya.


Mereka akhirnya duduk di sofa, sedangkan tak lama kemudian Kendra meninggalkan tempat dan pergi ke ruangan kerja.


Dera dan Mira kini asik bercerita mengenai segala hal yang dialaminya. Sedangkan Ayu sibuk dengan grup chat aplikasi hijau, grup arisannya. Dan Alula yang tengah asik mengemil beberapa snack di depannya.


Di tengah keramaian yang terjadi bisa-bisanya Alula langsung teringat pada kejadian di kampus yang sangat menyebalkan baginya.


“Eh kakak-kakak tau gak" ucap Alula yang ingin di dengarkan.


"ENGGAK" jawab Dera dan Mira bersamaan.


Mereka lantas tertawa ngakak bersama.


"Alah kak, dengerin ceritaku deh kak"


"Iya deh, iya.. mau cerita apa cantik" ucap Mira.


"Hemm ya.. Aku kemarin sempat berdebat dengan laki-laki di kampus tau kak. Cowok yang nyebelin, ga punya hati, sombong. Gak banget pokoknya deh” ceritanya dengan menggebu karena teringat kejadian yang sangat menyebalkan baginya.


“Lagi nih yaa kak, masa dia ngebully salah satu mahasiswa, iya sih ganteng, tajir. Tapi gak gitu juga kali ya”


Dera dan Mira hanya mendengarkan cerita Alula.


"Emang dia gak tau kamu siapa? kamu adik dari pemilik perusahaan PETRA CORP" ucap Mira.


"Gak tau juga sih kak. Tapi kayaknya dia gak tau deh kak. Dia aja sempat bentak Alula ko kak" ceritanya pada Mira dan Dera.


“Awas, nanti suka baru tau rasa loh” ucap Dera.


“ih gak deh kak. Amit-amit punya suami kayak gitu, mau jadi apa nanti kak kak. Bisa-bisa makan hati tiap hari dah” jawab Lula yang seketika membuat Dera tersedak ketika sedang meminum susu untuk kehamilannya.


Dera yang mendengarkan ucapan Lula ingin tertawa karena dulu saat dengan Kendra pun dia tak mau jika berjodoh dengan Kendra, e tau nya malah sekarang jadi suami yang begitu dia cintai.


………………………….


Rose Resto


“Katanya kamu mau menikah? Kapan itu?” tanya Lidia.


“Ah bukan urusanmu. Hari ini aku menemuimu untuk merencanakan sesuatu yang lain lagi. Jangan biarkan Kendra terus bahagia tanpa sedih sedikitpun seperti ini" ucap pria dengan tubuh kekar itu.


“Tapi bagaimana caranya Nu? Rencanaku kemarin gagal dan tidak mungkin aku muncul lagi dihadapan Kendra. Bisa-bisa aku di cincang habis-habisan” ucap Lidia pada Danu Hartono.


“Kita cari titik lemahnya. Bagaimana kalau kita celakai saja orang tua dari istrinya itu. Pasti kan istrinya akan sedih dan gak mungkin Kendra akan terus bahagia melihat istrinya terpuruk kan, bukan begitu?” ucap Danu dengan senyum sinisnya.


“Boleh juga”


Danu Hartono dan Lidia merencanakan sesuatu, agar tidak gagal sedikit pun mereka mempersiapkan dengan matang. Di rancangnya dengan segala skenario yang dibuat. Bermodal kelicikan mereka, bersatu yang akan mencelakai orang lain.


“Oke, kita eksekusi ini besok” ucap Danu dengan meneguk minumannya.