PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
episode #64



Kendra tidak bisa menahan air matanya jatuh. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Frans juga bisa merasakan apa yang dialami oleh sahabatnya ini.


Dia menepuk bahu Kendra menguatkan sahabatnya tersebut.


“Bersabarlah Ken, ini ujian buat kita semua. Kamu pasti bisa melalui semua ini. Semangati terus Om Alex" ucap Frans agar Kendra kembali semangat.


Dera melihat langkah gontai Kendra setelah keluar dari ruangan dokter Frans. Dera tau bahwa sesuatu yang buruk mungkin baru saja dia dengar.


“Kak Kendra.. Papa gimana kondisinya? Lula boleh jenguk belum kak? Lula pengen nemenin Papa hiks hiks”


Alula yang datang setelah menyelesaikan administrasi Papanya. Dia menghampiri Kendra dengan mata berkaca-kaca.


“Dek, yang sabar ya.. kuatkan mama. Kakak akan usahakan yang terbaik untuk papa” Kendra menenangkan Alula dan berusaha menutupi kesedihannya.


“Lula, sana gih temenin mama dulu. Ada Sekretaris Rey juga disana” ucap Dera.


Hingga Lula melangkah ke ruangan papanya dirawat. Dia berada dekat dengan Ayu, mamanya.


"Mama, jangan sedih ya. Kita berdoa saja, semoga papa cepet pulih"


"Iya nak, Alula juga berdoa ya. Kamu udah selesai kuliahnya?"


"Sudah ma, tadi hanya 4 SKS saja"


Di sisi lain, Dera sedang bersama Kendra.


“Mas” dera melihat wajah Kendra sepertinya habis menangis. Dengan mata sembabnya dia melihat ke arah Dera.


Dera segera memeluk Kendra dan disambut oleh Kendra. Dia membalas pelukan Dera.


“Aku akan selalu ada di sisi mu mas. Jangan bersedih seorang diri. Kamu masih punya mama, Alula dan aku”


Dera berusaha menguatkan Kendra dan memeluknya erat tanpa berkata apa-apa.


“Pak Bos” sekretaris Rey datang menghampiri keduanya. Kendra segera melepaskan pelukannya.


“Pak Bos, Tuan Alex ingin bertemu” ucap Sekretaris Rey melaporkan perintah Alex.


“Baiklah”


Kendra menggenggam tangan Dera dan mengajaknya ke dalam ruangan sang papa. Tampak John, Sekretaris Rey, mama, dan alula yang menjaga di dalam ruangan.


“Pak Bos,” sapa John sambil sedikit menundukkan kepalanya. Kendra hanya mengangguk.


Kini tinggal Kendra, Alula, Mamanya dan juga Dera di ruangan Bersama Alex.


Sekretaris Rey dan John menjaganya di luar ruangan.


Kendra melihat sang papa tergolek lemah tidak berdaya. Dia mendekati sang papa..


“Papa”


Alex membuka mataya dan melihat kedatangan kedua orang yang begitu dia nantikan.


“Nak” Alex mencoba memanggil Dera untuk mendekat. Kendra menganggukkan kepalanya mengajak Dera agar mendekat ke arah tempat tidur sang papa.


“Papa” sapa Dera dengan hormat. Dia hampir saja tidak bisa menahan air matanya untuk tidak menetes melihat mertuanya yang gagah, kini tampak tergolek lemah dengan dukungan alat bantu di dari rumah sakit.


Alex menyentuh tangan Dera dan menepuknya perlahan.


“Nak, papa titip Kendra padamu..” ucapnya lemah. Dera yang mendengar itu tentu saja terkejut.


“Alula, sini nak.. jaga Mama dengan baik ya. Maaf kalau Papa terkadang terlalu mengekang Lula”


“Papa.. istirahatlah dulu.. papa jangan berpikir macam-macam” ucap Mama karena khawatir aakan kondisi suaminya.


“Iya pa.. papa istirahat ya” ucap Dera juga.


“Pa, benar kata Dera. Papa istirahat dulu ya” ucap Kendra membenarkan.


Hingga Alex mengiyakan apa yang diminta oleh istrinya dan menantunya.


…………………..


Keesokan harinya,


Frans menemui Kendra untuk meyakinkan sahabatnua itu bahwa langkah pemasangan ring jantung ini lah yang terbaik.


“Ken, ini solusi yang paling baik mengenai penyakit jantung Om Alex daripada operasi bypass yang memakan waktu lebih lama.


Namun resikonya juga ada, bisa penggumpalan darah, serangan jantung, alergi obat, infeksi pembuluh darah dan pembuluh darah yang kembali menyempit. Bagaimana Ken? Gak ada langkah lain Ken”


Frans sebenarnya tak tega melihat Kendra dengan wajah murung nya. Sedih, pasti.


“Kalau begitu tanda tanganlah dulu sebagai tanda persetujuan keluarga pasien Ken”


Frans menyerahkan lembar persetujuan dan Kendra menandatanganinya sebagai arti kesiapan.


Jam 13.00 operasi dilaksanakan.


Kendra dan keluarga menunggu di depan ruangan operasi.


Berkali-kali Kendra mondar mandir di depan ruangan. Dera mengetahui perasaan suaminya kini. Dia hanya bisa diam dan berdoa untuk yang terbaik.


Pandangan mereka tak luput dari lampu indicator depan ruangan operasi.


Rey yang melihat sang Pak Bos nya kini menjelma sebagai laki-laki rapuh yang berusaha untuk tegar.


Pasalnya ini memang tak pernah di alami oleh keluarga Alex, dan mereka tak menyangka kalau akhirnya akan sefatal ini.


“Kak.. diam dong. Lula pusing lihat Kak Ken mondar mandir” ucap Lula


“Gimana bisa diam. Papa di dalam sedang berjuang”


"Ya makanya kakak diam saja. Berdoa kak"


"Ya kakak juga berdoa La.."


“Sudah sudah. Kita berdoa saja yang terbaik” ucap Mama.


Rey masih berdiri dengan tegangnya. Dia walaupun diam sebenarnya juga khawatir atas kondisi Tuan besarnya.


“Ya Allah.. sembuhkan papa. Lula belum bisa bahagiain papa Ya Allah” Alula menangis dengan kepala menunduk.


“Dek, sudah yok. Berdoa saja. Tenangkan hatimu dek” sahut Dera memeluk adik iparnya.


"Lula sayang, kamu berdoa saja ya nak, percaya pasti papa akan bisa melewati masa ini" ucap Ayu dengan memeluk anak bungsunya.


Tak ada tangis sedikitpun di wajah Ayu, tapi mata tetap saja tidak bisa berbohong.


Dia juga rapuh, namun jika bukan dia yang menyemangati anak-anaknya lantas siapa lagi?? bukankah sosok ibu memang seperti ini? menjadi pahlawan bagi anak-anak, bahkan dalam keluarganya.


Mas Alex, pasti kamu sembuh Mas. Ada aku, Kendra, Alula dan menantumu yang menunggu kamu pulih. ayo Mas, kamu pasti bisa melewati ini semua. Batin Ayu.


Sedangkan di dalam ruangan operasi.


Perawat telah menyalakan lampu operasi. Segala perlengkapan telah tersedia dengan lengkap.


Dokter Frans bersiap memakai seragam operasi khusus nya dan mengenakan penutup kepalanya. Hal yang sama di lakukan oleh perawat yang mendampingi untuk proses operasi.


Dokter Frans menyuntikkan anestesi lokal ke area kateter di masukkan dengan stent dan balon di ujungnya menuju asteri coroner yang menyempit.


Hingga balon di dalam stent akan mengembang, di ikuti pelebaran dinding arteri coroner.


Step demi step dilakukan dengan sangat teliti.


Keringat bercucuran.


Darah yang kemana-mana.


Dilaluinya perlahan.


Dengan cekatan Dokter Frans memasang ring jantung untuk Papa Kendra.


Hampir 3 jam operasi berlangsung.


Bunyi dari monitor di rumah sakit yang tadinya masih terpantau aman. Berubah total...


Hingga Tiiittttttttttt….


"Ada apa ini? periksa ECG (denyut jantung) pasien"


"Respirasi oksigen"


"Saturasi darah"


"Tensi nya"


“Pantau terus monitor” ucap Dokter Frans.


Para perawat dengan cekatan memeriksa apa yang diperintahkan oleh Dokter Frans.


...................


Readers: kenapa sih tor ko jadi gini??? langsung fokus ke Kendra sama Dera aja thorrrr


Author: iya, baca dulu yukkk🤣 biar ada flow nya😂 enjoyyy..