
“Atur jadwal kepulanganku ke Indonesia setelah rapat di Jepang. Dan pilih dua anggotamu yang terbaik. Aku butuh mereka untuk menjaga seseorang di sini selama aku pergi”
Aku tidak bisa meninggalkanmu dengan Kendra Der. Dia itu hanya akan membuatmu tambah masalah. Aku tidak bisa membiarkanmu seperti Lidia.
…………………
Siang hari
“Sayang, bisakah antarkan makan siangku ke kantor?” ujar Kendra menelpon Dera di Restoran barunya.
“Bisa, nanti biar di antarkan”
“Kamu yang antarkan ya sayang, aku akan minta Pak Yanto menjemputmu” ucap Kendra.
“tapi Resto sudah sering ku tinggal yang, aku sambi mengerjakan skripsiku”
“Aku sedang ingin ada kamu disini, sayang. Ayo lah, aku mohon” rengek Kendra makin menjadi-jadi.
Dera melihat kondisi restorannya yang cukup ramai karena sebentar lagi akan masuk jam makan siang.
“Aku tidak bisa makan jika tidak ada kamu sayang” pinta Kendra kembali.
“Ih, kamu lebai deh” jawab Dera dengan muka memerah. Dia tidak tahan mendengar rengekan Kendra yang seperti ini.
“Ya, nanti aku akan ke sana” putus Dera akhirnya mengalah.
“Baiklah, Pak Yanto akan tepat waktu menjemputmu,” ujar Kendra dan langsung memutuskan saluran teleponnya.
Dera menghela napas panjang.
Untuk apa dia memberiu resto ini jika sering ku tinggal. Aku juga ingin mengkreasikan hasil masakanku.
Hampir 15 menit Dera menyiapkan makanannya, akhirnya dia selesai untuk berkemas.
“Mir, tolong jaga Resto ini ya. Kalau mau makan, ambil saja” ujar Dera.
“Oke Dera” jawab Mira sambil menunjukkan ibu jarinya.
Dera melihat mobil Pak Yanto sudah datang menjemput “Aku berangkat” pamit Dera.
…………………..
“Pak Bos, anda tidak ingin saya pesankan makanan?” tanya Sekretaris Rey melihat Kendra masih sibuk menandatangani berkas-berkas di meja kerjanya.
“Tidak” jawab singkat Kendra sambil tetap fokus dengan pekerjaannya.
Rey pun memesan makanan sendiri ke kantin untuk dibawa ke atas ruangan direktur.
Dia sudah lapar karena banyak pekerjaan hari ini.
“Sekretaris Rey, aku juga dong sekalian. Samakan saja dengan punyamu”
Rey yang mendengar ucapan Nisa hanya diam dan berdiri mematung.
Tanpa menjawab apa yang dikatakan Nisa, dia langsung melangkah menuju kantin.
Setelah makanan datang. Nisa dan Rey ijin untuk makan lebih dahulu. Mereka sudah lapar sekali.
Ruangan Direktur kini di isi oleh meja Rey dan Nisa.
Karena ada masalah yang membuat mereka harus bekerja keras kali ini.
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk dari luar.
“Masuk”
Dera muncul dari balik pintu dan membuat kendra tampak senang karena akhirnya Dera datang ke kantor membawa pesanannya.
“Nyonya Dera” ujar Nisa melihat istri Bos nya.
Sedangkan Rey hanya memberikan senyuman.
“Hai Sekretaris Nisa. Selamat siang sekretaris Rey” Dera menyapa kedua sekretaris suaminya dan disambut senyum dari keduanya.
Kendra seketika berdehem melihat Rey yang tampak menatap terus ke arah Dera.
“Sayang, kemarilah” ujar Kendra dengan panggilan sayangnya. Kendra mengajak Dera ke sebuah meja yang lain karena meja kerjanya sendiri banyak tumpukan berkas.
Dera mendekat ke arah Kendra duduk. Rupanya disana sedang banyak pekerjaan yang membuat mereka tidak bisa keluar.
Dera membuka rantang yang dia bawa. Dan beberapa masakan dari resep khususnya pun disajikan di depan Kendra.
“Ah, maaf Sekretaris Nisa dan Sekretaris Rey, saya tidak tahu ada beberapa orang disini” saya hanya membawa sedikit makanan” ujar Dera merasa tidak enak.
“Tidak apa-apa Nyonya. Pak Bos Kendra harus lebih diutamakan. Ya kan Sekretaris Nisa” sahut Rey mengajak Sekretaris Nisa agar mengiyakan apa yang diucapkannya. Padahal Nisa diam-diam menelan ludah melihat masakan Dera yang nampak lezat.
Sedangkan dia di kantin hanya memesan nasi goreng dan es jeruk saja.
“Pantas saja Pak Bos Kendra tidak memesan makanan, dia sudah pesan di Nyonya rupanya hehe” ujar Nisa.
“Skripsi Dera sudah masuk ke bab IV mas, kemarin revisi dari Dosen pembimbing lewat email” jawabnya.
“Syukurlah jadi kamu gak perlu lagi ke kampus setiap hari. Ayo makan” ajak Kendra.
“Aku sudah makan, aku temani kamu makan saja mas” ujar Dera dengan senyuman manisnya.
Kendra mencubit pelan pipi Dera dan membuat Dera menepuk tangan jahilnya sambil memberi kode “kita tidak sendiri” kepada Kendra.
Namun kendra hanya tersenyum dan mengacuhkan saja kode Dera.
Sekretaris Rey yang melihat kemesraan bosnya hanya melihat saja.
Berbeda dengan sekretaris Nisa yang mengidamkan pasangan seperti Kendra.
“So sweet syekaliii.. uhh pengen” ucap Nisa dengan kedua tangan berpangku di dagunya.
Seketika Rey menyenggol bahu Nisa untuk menyadarkan.
Makan siang kali ini diwarnai aroma cinta dan kejombloan bagi Rey dan Nisa.
Setelah makan siang selesai aktivitas dilanjutkan seperti semula.
………………………….
Malam harinya.
Kendra berusaha menagih janji pada istrinya.
“Bagaimana dek? Sudah siap?”
“Apa mas? Memang kita mau lomba apa? ko siap-siap segala”
“Yang itu, kodratmu sebagai istri dan aku sebagai suami. Apa kamu siap melaksanakan tugasmu?”
“Tapi aku takut..” jawab Dera sambil memandang Kendra.
“Aku akan melakukannya pelan-pelan sayang” balas Kendra sambil tersenyum.
Dera memejamkan matanya merasakan serangan yang diberikan Kendra.
Dia menurunkan ciumannya di leher dan tulang selangka Dera. Kendra mencium dan menghisap disana sehingga meninggalkan beberapa tanda merah.
Dera menutup mulutnya dengan tangannya supaya tidak mengeluarkan *******.
“Lepaskan saja tidak apa-apa” ucap Kendra sambil menarik tangan Dera dari mulutnya.
“Ahhh..” desah Dera tertahan. Dia merasa geli, malu dan aneh karena ini pertama kalinya di sentuh laki-laki.
Kendra pun semakin bersemangat Ketika mendengar ******* Dera. Dia melepaskan kemejanya dan membuangnya ke semabrang arah.
Dia juga melepas kaos Dera. Dia merasa merinding karena tidak memakai pakaian di hadapan Kendra ditambah lagi tangan Kendra menggerayanginya kemana-mana.
Ketika Kendra hendak melepas rok Dera, tiba-tiba terdengar suara Bi Tirna yang memintanya untuk keluar karena makan malam sudah siap.
Kendra keluar membuka pintu.
“Ayo makan dulu, makanan sudah siap” ajar Kendra lalu mengambil kaos Dera dan memakaikannya.
Dera pun menuruti apapun yang dilakukan Kendra.
Dera mengambil piring lalu mengambil beberapa makanan untuk suaminya.
Kendra terus memandangi Dera.
Dera merasa tidak nyaman karena dipandangi terus sama Kendra.
“Kenapa mas Kendra nglihatin aku terus?” tanya Dera sambil menutupi dadanya dengan tangan.
“Hahaha, kenapa ditutup? Aku sudah melihat semuanya” jawab Kendra sambil menyentil kening Dera.
Aduh.
“Aku malu dan risih. Jangan melihatku terus” balas Dera malu-malu.
“Kamu harus terbiasa. Aku kan suamimu” ucap Kendra dengan menggenngam tangan Dera.
Setelah makan, seperti biasa Dera mengambilkan Kendra air minum.
“Ayo naik ke atas!” ajak Kendra setelah melihat Dera selesai makan.
“Ngapain” tanya Dera panik.
.
.
.
puji