
Hello guys apa kabar nih. Semoga selalu baik-baik saja ya. Eits tapi untuk masalah hati apa kabar? Semoga selalu baik-baik juga sama si doi hehe.
Jangan lupa like, comment dan follow ya. Baca juga novel HELLO DOSEN KUTUBKU. Terima kasih.
___________________
“Kamu suka mengabadaikan setiap moment?” tanya Brian.
“Ga juga. Hanya moment tertentu saja. Emm tapi mala mini aku berdandan sangat cantik bukan, hehe”
“Iya. Tapi justru malah aku membawamu ke danau ini. Pasti dipikiranmu kita akan pergi ke tempat mewah, ramai dan banyak orang bukan? Aku kuraang suka hal tersebut. Aku lebih menyukai malam, sepi dan yak amu tau juga nanti”
“Kenapa aku seperti bertemu dengan pria yang berbeda?”
“Maksudmu?”
“Ya, ketika di kampus kamu adalah pria yang sangat ekstrovert, rese, periang dan suka cari masalah. Tapi mengapa pria yang ada dihadapanku ini begitu mellow dan pendiam?” jawab Alula.
“Haha. Jadi menurutmu aku ini sandiwara, Alula? Aku seorang aktor professional gitu?” Brian menatap Alula dalam dan membuatnya semakin risih.
“Ah engga. Em by the way aku menyukainya” jawab Alula untuk mengalihkan pandangannya.
“Kamu menyukainya?”
“Hem ya. Aku menyukainya” Alula.
“Kamu suka naik sampan ini?” Brian pun memastikan takutnya Alula merasa risih jika diajak ke tempat yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.
“Ya, aku suka dan aku sangat menikmati malam ini”
Hening. Tak ada percakapan sama sekali. Brian yang larut menatap Alula dengan pikirannya yang begitu kacau. Dan juga Alula yang asik dengan berfoto berlatarkan malam gelap. Tiba-tiba …
“Kamu mau berfoto denganku?” ucapan Brian seketika membuat Alula merasa kaget. Ko sekarang nawarin mau foto, tadi aja ga mau. Apa sih ni orang maunya. Batin Alula yang masih memegangi ponselnya.
Belum Alula menjawab, Brian berpindah disamping Alula. Perlahan dia memposisikan tubuhnya yang sangat dekat dengan Alula. Entah pikiran apa yang menyelimuti brian malam itu. Yang pasti dia membuat suasana malam menjadi sangat berarti bagi Alula.
Setelah dirasa posisi yang cukup aman untuk foto, akhirnya Alula memotret. Posisi tubuh yang begitu dekat.
Cekrek.
Tiba-tiba dari arah lain ada yang mengincar keberadaan Alula. Tubuh Alula di timbuk sesuatu yang membuatnya tidak bisa seimbang bertahan diatas sampan.
“Aaaaa” akhirnya dia pun terjatuh ke dalam danau. Brian yang panik pun berusaha mencari sebab mengapa bisa ini terjadi. Tanpa pikir panjang dia pun segera meraih dan membantu Alula agar selamat.
“Brii.. Briiaann” sebisa mungkin Alula memanggil Brian untuk membantunya. Akhirnya tak butuh waktu lama, Brian pun mampu membantu Alula hingga berada di darat.
Alula yang tak pernah menyangka sebelumnya karena pikirnya dia akan pergi ke suatu tempat yang romantis bisa saja ke mall dan ternyata ini pergi ke sebuah danau. Entah dia nantinya akan bicara apa kepada orang tuanya melihat sang anak yang berangkat cantik pulang-pulang tak seperti semula.
Dia pun juga berusaha mencari alasan yang terbaik untuk nanti diucapkan pada orang tuanya dan tidak mungkin jawabannya membuat Brian tersudutkan.
Di tengah mereka sedang berjalan, Alula membuka pembicaraan.
“Aku benar-benar minta maaf karena membuatmu melompat ke danau. Tapi apakah riasanku luntur?” tanya Alula pada Brian.
“Ya”
“Astaga, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa membiarkan siapapun melihatku seperti ini” ucapnya dengan memegangi wajah nan cantiknya.
“Begini saja kamu ikut aku ke rumah ku. Nanti akan ku panggilkan seseorang yang bisa membuat tampilanmu menjadi cantik kembali”
“Ha? berarti aku harus ke rumahmu? Kamu yakin?” Alula yang merasa belum siap jika nanti akan bertemu dengan orang tua Brian apalagi dengan kondisi wajah yang tak karuan ini.
Setelah sampai mobil segera Brian melajukan mobilnya, terpaksa masih dengan kondisi Alula yang basah kuyub. Memang diluar kendali. Brian juga berpikir siapa yang sengaja melempar sesuatu ke Alula hingga dirinyaa terjatuh. Ga mungkin hanya orang asing bukan?
Apakah ini ada hubungannya dengan para pesaing bisnis papa? Atau ada orang yang ga suka dengan aku? Batin Brian terus mencari siapa pelaku sebenarnya.
Diperjalanan pulang, Brian hanya fokus pada lampu malam yang menyinari jalan.
20 menit berlalu. Mobil memasuki kawasan rumah elit bernuansa emas dan putih tersebut. Alula yang melihat rumah mewah megah tapi sayang Brian selalu ditinggal orang tuanya untuk menjalankan bisnisnya.
“Selamat malam Tuan Muda” ucap salah satu pelayan yang menyambut kedatangan sang tuan rumah. Bi Darti.
“Malam. Panggilkan seseorang yang suka make up-in mama. Saya tunggu di ruang tengah” ucap Brian dengan nada dinginnya pada Bi Darti. Alula yang tadinya tersenyum manis pada sang pelayan akhirnya sirna setelah mengetahui sikap dingin Brian.
Mengapa ini orang jadi dingin begini? Bukankah tadi saat bersamaku dia sangat ramah dan bahkan sikapnya ini tidak ku temui di kampus. Batin Alula sambil mengikuti langkah Brian.
Tap tap tap. Alula yang tadi berjalan menunduk tidak mengetahui jika Brian akan berhenti tiba-tiba.
“Aduh” ucap Alula dengan memegangi keningnya yang tertabrak punggung Brian.
“Kamu itu kalau jalan lihat ke depan. Jangan nunduk terus, cari uang jatuh emangnya?”
“Ih apaan sih, orang aku cuma nunduk sebentar ko. Eh ko kamu jadi dingin sih, tadi perasaan sebelum jatuh ke danau kamu masih ramah, enak diajak ngobrol. Tapi ko sampai rumah malah dingin begini? Apa ini akibat dari tadi kamu menyelamatkan ku? suhumu sekarang sama dengan suhu danau tadi. DINGIN!” ucap Alula panjang lebar.
“Kamu tunggu disini. Akan kuambil kan baju buatmu”
Alula hanya bisa pasrah menghadapi Brian dan sambil menunggu dia datang, Alula pun melihat beberapa foto yang terpasang di figura.
“Mamanya cantik, begitu juga papanya”
Pandangannya beralih pada foto kecil sepasang anak kecil yang begitu riangnnya.
“Eits tunggu, ini ada foto anak kecil tapi perempuan. Tapi tunggu…. Bukankah ini Brian? Brian kecil? lantas siapa anak perempuan ini? dia kan anak tunggal. Em mungkin saja saudara jauhnya” Alula menelaah dan menyamakan foto yang ada di hadapannya.
Rasa penasaran yang ada dibenak Alula pun hanya di simpannya. Toh juga dia tidak tau menau asal foto anak perempuan tersebut. Tak lama kemudian ada seorang pelayan dan juga seorang yang diyakininya akan mendandaninya. Karena dia membawa beberapa kotak perlengkapan alat make up.
“Perkenalkan Nona. Saya Mbak Nuri yang akan merias Nona Alula” ucapnya sambil menundukkan kepala.
“Oh iya, baik mbak” akhirrnya Alula kembali ke tempat semula.
“Maaf Nona, kita pindah ke kamar itu saja. Ini perintah dari Tuan Muda Brian” Bi Darti yang diperintahkan oleh Brian pun menjalankan tugasnya dengan baik.
“Oke, baiklah Bi”
Brian benar-benar memperlakukan ku layaknya wanita special, tapi aku ga boleh baper begitu saja. Tapi aku udah baper sedikit. Terus gimana dong? Batinnya.
..._________________________ ...
...Saya sudah berusaha menjadi wanita baik untukmu....
...Saya mengerti keadaanmu, ...
...Dan saya berusaha mengerti sifatmu....
...Lalu hati saya bertanya,...
...Apakah aku rumahmu?...
...Atau hanya sekedar tempat istirahat dijalan pulangmu?...