PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
BAYANG SEMU MASA LALU



Jangan lupa vote dan sarannya ya man-teman.


Karena saran dan masukan dari kalian itu penting banget.


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Dan jangan lupa memberi bintang 5 ya🌟🌹


Happy reading.


🌹❤️


Kendra menghela napas kasar melihat keadaan istrinya yang tampak kacau.


Setelah itu, Kendra memberi isyarat Bi Tirna agar segera pergi meninggalkan dirinya bersama Dera.


Bi Tirna yang mengerti akan kode tersebut langsung segera membungkuk hormat dan berjalan meninggalkan kamar sepasang suami istri tersebut.


Setelah Bi Tirna pergi meninggalkannya berdua, lantas Kendra berjalan mendekati istri kecilnya itu dengan langkah tegasnya.


Kendra berjalan dan berdiri berhadapan dengan istrinya.


Deg.


Hatinya seakan teriris melihat kondisi istrinya yang seperti sekarang. Mata sembab, hidung memerah, wajah pucat dan kedua mmatanya yang tampak kosong, tak memancarkan aura kehidupan sama sekali.


Dengan berjalan Kendra memilih jongkok dan memegangi kedua tangan istrinya. Tak ada penolakan sama sekali. Tak ada nada rriang setiap kali dia memegang kedua tangan istrinya.


“Sayang, ayo makan. Kasihan baby kita. Dia juga butuh asupan nutrisi sayang” ajak Kendra dengan lembut ditatapnya wajah cantik istrinya yang tampak memucat.


“Sayang” ucap Kendra dengan mengelus pipi halus dan cubby tersebut.


Namun nihil. Dera tak menanggapi panggilannya sama sekali. Bahkan hanya untuk melihatnya saja, istrinya tak melakukan sama sekali.


Hatinya bagaiakan tertimpa ribuan beton melihat kondisi istrinya yang sekarang. Sayang aku rindu kamu yang dulu.


“Maaf, maafkan aku” ujar Kendra dengan lembut.


Diusapnya tangan Dera dengan ibu jarinya. Ditatapnya bibir mungil itu yang mulai memucat itu. biasanya, di bibir itu Kendra selalu mendengarkan nada manja dan rengekan dari sang istri.


Memintanya untuk melakukan ini dan itu. Bahkan sekarang Kendra tak melihat bibir mungil itu memakan dengan lahap potongan buah ataupun makanan yang lain.


Dengan lembut, dipegangnya wajah mungil istrinya dengan menggunakan kedua tangannya yang hangat. Warna kulit sangat kontras dengan warna kulit istrinya.


Sentuhan tiba-tiba di wajahnya membuat Dera yang awalnya menatap lurus ke depan langsung menatap wajah tegas dan tampan itu. Wajah Kendra. Suaminya sekaligus yang menjadi penghancur segala kebahagiannya.


Saat menatap lekat kedua iris mata Dera, sekelebat kejadian datang memenuhi otaknya. Air matanya langsung jatuh membasahi kedua matanya lagi dan lagi.


“Apa aku boleh meminta sesuatu padamu Mas” ucapnya datar dan dengan tatapan kosong.


Kendra mengangguk ragu .


“Iya sayang, kau ingin minta apa?”


“Hidupkan Nurul”


Deg.


Tubuh kendra mematung mendengar permintaan istrinya.


“Hidupkan Nurul.. kembalikan Nurul pada ibunya, pada ku dan pada kita Mas. Kembalikan seperti semula mas..Aku mohon” ucapnnya dengan nada penuh permohonan.


“Kembalikan Nurul. Kembalikan. Hiks hiks!” isak tangis Dera dengan tangisannya langsung pecah begitu saja.


Tubuh Kendra menegang mendengar permintaan dari istrinya.


“Kembalikan Nurul. Dia tidak tau apa-apa hiks.. kejadian itu mungkin sudah waktunya aku tau mas. Hampir setahun kita menikah akhirnya aku tau kejadian yang menyakitkan ku. Harusnya kau yang membunuhku, menghukumku. Bukan Nurul Mas.


Bukan. Aku yang sengaja masuk ke kamar itu. Aku memaksa Nurul untuk menceritakan semuanya, tapi justru kenyataan itu membuatku sakit dan semakin hancur. Pun Alula sebenarnya juga memintaku untuk tak memasuki kamar tersebut, tapi keingintahuan ku justru semakin tinggi jika mereka melarangku.


Apalah artinya aku di hidupmu mas. Sampai aku berpikir bahwa aku hanyalah sebuah bayangan semu dari sebuah masa lalu mu.


Hiks hiks” ujar Dera dengan airmata yang terus mengalir. “Mbak Nurul sudah ku anggap sebagai keluargaku. Kakakku. Tapi kenapa kau merenggutnya?” bentak Dera.


“Tidak cukupkan kau menyakitiku? Menghancurkan perasaanku? Apa itu tidak cukup Mas. It hurts so much, Mas!!”


Mulut kendra seakan terkunci rapat. Kedra tidak tau harus menjawab apa. Kendra juga tak mungkin bisa melakukannya.


“Maafkan aku” jawab Kendra dengan lirih yang masih terdengar jelas dipendengarannya Dera. “Aku tidak bisa melakukannya”


Asal satu, kau jangan memintaku untuk melepasmu. Aku tak akan bisa melakukannya” ujar Kendra yang masih bersimpu di depan Dera.


Ini semua salahku. Ini semua terjadi karena kesalahanku. Karena rasa kecewa yang tak bisa lagi ku pendam sehingga membuat semuanya berantakan. Aku hanya mementingkan ego untuk menyelamatkan hatiku yang telah patah karena sebuah kekecewaan. Tanpa ku sadari aku telah mengorbankan satu nyawa yang berharga bagiku. Maafkan aku, harusnya kau masih ada disini Nurul, maaf.


………………………..


Tubuh Kndra mematung. Tidak tau harus melakukan apa. Hanya diam bagaikan samsak yang diam dan menerima segala pukulan kecil yang dilayangkan istrinya.


"Maafkan aku. Maaf. Maafkan aku” ucap Kendra. Bibirnya seakan kelu untuk mengucapkan kata lain selain maaf.


Tanpa dia sadari air matanya juga ikut menetes melihat kesedihan dan keadaan istrinya. Hatinya ikut histeris sakit, melihat istrinya yang tengah menjerit, menangis pilu.


Di rengkuhnya dengan erat tubuh mungil itu.


Dipeluknya dan dikecupnya beberapa kali puncak kepala istrinya dengan sayang.


Jika Kendra tau Nurul sebegitu berharganya untuk Dera mungkin Kendra hanya akan membuat Nurul terbaring di rumah sakit.


Jujur baru kali ini Kendra merasa meyesal karena telah membunuh seorang yang lalai dalam tugasnya. Tubuh Dera memberontak kecil ketika tubuhnya direngkuh dan dipeluk erat oleh Kendra. Namun pelukannya ditubuhnya semakin menguat.


Dera semakin menangis pilu. Hingga tak terasa Dera mulai tertidur dalam pelukan Kendra karena terlalu lelah dan lama menangis.


Di usapnya punggung istrinya dengan sayang. Hingga Kendra dapat merasakan dengkuran halus diceruk lehernya. Kendra tersenyum di sela usapannya.


Hati Kendra merasa tenang ketika istrinya mulai tertidur pulas. Ditunggunya beberapa menit sampai istrinya benar-benar tertidur pulas.


Sepuluh menit berlalu. Kendra tiada hentinya mengusap pelan perut istrinya. Memeluk tubuh strinya agar tidak terjatuh.


Dia beberapa bicara pada sang Kendra junior karena dia rindu ada dimasa yang sangat dia rindukan.


Kendra mulai membenarkan tidur istrinya agar nyaman. Dengan hati-hati digendongnya tubuh istrinya sepert koala. Lalu Kendra berdiri dengan tubuh istrinya yang ada dalam gendongannya.


Dengan pelan Kendra berjalan menuju tempat tidurnya. Kendra bahkan berhenti berjalan beberapa kali ketika merasakan pergerakan istrinya.


Sesampainya di tempat tidur, Kendra dengan hati-hati membaringkan tubuh mungil istrinya ke atas tempat tidur.


Dera melengguh pelan ketika merasakan tubuhnya dibaringkan ke atas tempat tiudur. Namun kedua matanya seakan menolak untuk terbuka. Terasa berat tertimpa sesuatu.


Hingga Dera tak sanggup untuk membukannya. Kendra memandangi wajah cantik bagaikan bidadari itu jatuh, cantik, cerah berseri yang selalu memancarkan kebahagiaan kini berganti menjadi sebuah kesedihan.


Kedua bola matanya yang biasanya menatapnya dengan antusias kini berganti menjadi tatapan kebencian.


Dan hanya buliran kristal yang tanpalalah selalu merembes keluar dari kedua bola mata cantiknya.


Bibir mungil kemerah-merahan yang biasanya selalu megeluarkan rayuan gombal dan tersungging senyuman cantik kini berubah datar dan berganti menjadi isakan lirih yang selalu terdengar.


Kendra tersenyum kecut ketika mengingat itu semua. Kendrabegitu merindukan Dera istrinya yang dulu. Kebersamaannya yang dulu. akan tetapi mampukah Kendra membuat istrinya memaafkan dan bersikap seperti dulu lagi? Mampukah?


Tok


Tok


Tok


Kendra segera beranjak dati tempatnya dan berjalan untuk membuka pintu. Disana ada Rey yang tengah membungkuk hormat padanya.


”Maaf Pak Bos jika saya menggangu. Saya ada informasi penting yang harus saya sampaikan ke Pak Bos” kata Rey dengan sopan.


“Informasi apa Rey?”


“Informasi tentang Bagas, selingkuhan Nona Lidia waktu itu Pak Bos”


Tangannya mengepal kuat ketika mendengar nama Bagas.


“Kau tunggu di ruang kerjaku Rey” titah Kendra dengan tegas.


^


Kata orang, melupakan memerlukan waktu.


Namun, aku membantahnya.


Sampai di suatu ketika aku mengalami arti sesungguhnya untuk "melupa"


Dan aku baru tau,


Iya memang benar,


Waktu yang bisa membuktikannya🍂