
“kalau kamu bicara lagi, aku akan lebih mengeratkan lagi, jadi diam dan tidur. Aku sudah sangat capek hari ini” akhirnya Dera pun hanya bisa pasrah.
“dasar cerewet, kenapa dia selalu saja banyak tanya” gerutu Kendra.
Dera pun tak lagi bcara, rasa lelah dan kantuk sudah beegitu menyelubungi mereka, hingga kini ada rasa nyaman disana membuat kedua terlelap dimana yang begitu hangat.
……………………………..
Matahari pagi sudah menerobos celah-celah horden kamar, dua manusia yang saling berpelukan itu enggan untuk membuka matanya.
Dera menggerakkan tubuhnya, tapi seperti tertahan oleh sesuatu, sesuatu yang besar yang sedang mengungkung tubuh mungilnya, perlahan dia membuka matanya, ada bayangan orang lain di hadapannya.
Dia berusaha membuka matanya yang begitu berat, setelah matanya terbuka dia benar-benar terkejut karena masih tak percaya denga napa yang dia lihat, dia kembali menutup matanya hingga berkali-kali.
“aku sedang tidak bermimpi kan?” gumamnya bertanya pada dirinya sendiri, dia kembali mengucek-ucek matanya, tapi benar apa yang dia lihat adalah benar, sebuah kebenaran, bukan mimpi ataupun fatamorgana.
“kenapa ada apa Mas kendra, kenapa aku memeluknya? Dan dia juga memelukku. Astaga ternyata memang tadi malam kami memang sudah tidur satu ranjang” gerutu Dera kembali sambil menunjuk tangan kekar Kendra yang melingkar sempurna di perutnya.
“apa sih berisik” Kendra yang belum bangun jadi ikut terbangun karena gerutu Dera yang sangat berisik dan mau tak mau membuatnya membuka mata dengan begitu malas.
“haaaaahhhh” Kendra yang menguap ternyata aksinya pun sama bukan hanya berteriak tapi Kendra juga mendorong tubuh Dera.
Brugggg
“aughhh, sakitttt” saking kerasnya Kendra mendorong Dera, dia pun terjatuh dari tempat tidur, lagi-lagi terjatuh
“Lhoo, ngapain di kamarku?? Kita kan hanya nikah kontrak. Katanya kamu gak mau ternodai” teriak Kendra memenuhi ruangan.
“Mas Kendra kenapa sih, kemarin kamu yang minta aku untuk kita sekamar, sekarang malah dorong aku sampai jatuh. Mas Ken lupa apa kemarin habis patah hati karena Lidia juga” Dera pun bangun dari lantai sambil mengelus pantatnya yang sakit.
“oh ya ya.. maaf maaf” Kendra pun kemudian mengingat-ingat jika benar apa yang diucapkan Dera.
“sini sini aku bantu” Kendra menawarkan lengannya pada Dera untuk berdiri.
“telat Mas, aku udah berdiri. Sakit banget. Keras pula dorongnya” gerutu Dera
“ya ya, kan aku sudah minta maaf. Salah terus peraasan. Laki-laki dimana-mana selalu salah yaa” jawab Kendra
Tok tok tok
Perdebatan mereka pun terhenti saat pintu kamarnya diketuk dari luar, Kendra segera menyingkap selimutnya dan duduk di tepi tempat tidur sedangkan Dera segera berlari ke dalam kamar mandi.
“masuk” Kendra berjalan menuju pintu untuk membuka kuncinya dan menyuruh orang yang berada di luar kamar untuk masuk.
“selamat pagi Pak Bos” ternyata Sekretaris Rey yang masuk
“ada apa Rey, pagi-pagi banget kesini
“maaf pak, ini sudah jam 09.30 pak, seharusnya satu setengah jam yang lalu anda melakukan meeting dengan Mr. Aron dari Hongkong”
“benarkah? Kenapa kau tak membangunkan ku Rey. Biasanya juga kamu masuk kamar gitu aja”
“maaf Pak Bos, tadi pintu kamar dikunci dari dalam. Jadi saya tidak bisa masuk” jawab Sekretaris Rey
“oh ya ya, semalam kan kamarnya ku kunci. Lantas bagaimana dengan planning meeting Rey” gumam Kendra.
“ini tapi sudah saya jadwal ulang setelah makan siang Pak”
“syukurlah, kamu memang bisa diandalkan Rey” Kendra segera memegang dadanya lega.
“apa jadwalku sebelum itu?” kemudian Rey menunjukkan beberapa perkerjaan yang harus di selesaikan oleh Kendra.
Belum selesai Rey membacakan jadwalnya hari ini, dia sudah protes.
“itu kan bukan proyekku, mengapa bisa digabung menjadi jadwalku?” protesnya.
“Big Bos meminta Pak Bos untuk menyelesaikan proyeknya”
“Papa suka sekali menambah-nambahi proyekku” gerutu Kendra
Tak berapa lama Dera pun keluar dari ruang ganti, dia sudah rapi dengan pakaian magangnya.
“Eh ada Sekretaris Rey” Dera pun menyapa Rey yang masih menunggu kendra di sisi sofa tempat Kendra duduk sambil memeriksa beberapa berkas.
“selamat pagi Nyonya Muda” sapanya
“jangan memandang istriku seperti itu” saat mata Kendra tanpa sengaja melihat Rey yang sudah memberhatikan Dera
“lah, aku kan cuma balik menyapanya. Apa yang salah dariku. Perasaaan kemarin-kemarin Pak Bos gak kayak gini deh” gumam Sekretaris Rey yang merasa aneh dengan sikap Kendra yang overprotektif dengan istrinya.
“Kamu keluar dulu Rey. Aku mau mandi”
“baik Pak Bos” Rey pun segera meninggalkan kamar tersebut.
Kendra pun beranjak dari duduknya menuju ke kamar mandi, tapi sebelum melewati pintu kamar mandi, Kendra menghentikan langkahnya.
“heiii” Kendra memanggil Dera yang sedang sibuk menyisir rambutnya tapi karena tidak memanggil nama Dera enggan untuk menoleh
Kendra yang kesal karena di abaikan segera mendekat dan menarik tangan Dera hingga tubuh Dera terpental di tubuhnya.
“kenapa mas??” Dera begitu gugup saat berada begitu dekat dengan Kendra
“Kau yang ada apa? Kenapa mengabaikanku?” Kendra mentaap tajam pada Dera
“aku tidak mengabaikanmu mas” Dera mencoba bersikap biasa saja
“aku memanggilmu”
“tapi aku punya nama mas”
“dengarkan aku, mulai hari ini jangan terlalu dekat dengan Rey”
“kenapa mas?”
“bisa gak sih, kamu tidak usah terlalu banyak tanya, merepotkan sekali” Kendrapun melepas genggaman tangan pada Dera.
“dan satu lagi, mulai hari ini kamu magang di kantorku dan kamu harus Bersama di ruanganku”
“tapi mas, aku kan mahasiswi magang , masa mau satu ruangan dengan Mas Kendra”
“kamu membantah bosmu??”
“iya tap ikan nanti dilihat sama pegawai yang lain aku juga gak enak mas” jaawabnya
“udah nurut saja apa kata suamimu ini” Kendra melangkah ke kamar mandi.
Seolah tak mengindahkan ucapan suaminya, Dera pun diam-diam keluar dari kamar dan menemui Sekretaris Rey, bukan apa karena Dera begitu penasaran, saat Dera keluar dari kamar mandi dia sudah mendapati semua perlengkapan Kendra sudah tertata rapi diatas ranjang.
“Sekretaris Rey” Dera segera menghampiri Rey yang sedang duduk di kursi tak jauh dari kamar Kendra, Rendi tampak sedang sibuk memeriksa beberapa berkas.
“iya nyonya muda” Rey segera menghentikan aktifitasnya
“maaf sebelumnya, apa boleh saya bertanya sesuatu?”
“silakan Nyonya muda, panggil saya Rey saja” ucapnya sembari menundukkan pandangan
“ngagk ah, gak enak. Kesannya kurang sopan” Dera pun ikut menunduk dan segera duduk di kursi dekat Rey.
“anda harus terbiasa Nyonya Muda”
“baiklah Rey, sebenarnya aku mau tanya”
“iya, silahkan Nyonya muda”
“jangan panggil aku Nyonya muda, itu sangat membuatnya tak enak di dengar”
yaya
“maaf Nyonya muda, tapi ini memang masih jam kerja saya”
“terserah kau saja lah” Dera mulai frustasi dengan sikap Rey yang juga dingin seperti Bos nya akhir-akhir ini.
“Apakah anda jadi bertanya Nyonya muda?” Rey merasa heran dengan Wanita di depannya yang selalu plin plan
“oh ya, hampir saja aku lupa. Apa kamu yang mempersiapkan keperluan Kendra barusan?” karena Dera melihat semua keperluan Ken sudah tertata rapi di atas ranjang saat dia keluar dari kamar mandi.
“iya Nyonya muda”
“baiklah, terima kasih Rey. Mulai besok biarkan aku saja yang menyiapkan semua untuk suami ku” jawabnya
“oh ya Rey, apa kamu sudah tau tentang pernikahan ku dan Ken hanya sebatas pernikahan kontrak?”
“iya Nyonya muda”
“dan apa kamu sudah tahu jika Ken sudah berpisah dengan Lidia?”
“iya Nyonya muda”
“jangan iya iya terus dong Rey, jawab apa gitu yang agak Panjang”
“maaf Nyonya muda, tapi memang itu adanya”
“oke baik lah, lantas apa saja yang harus ku persiapkan?”
“kalau pagi harus menyiapkan air hangat, baju kerja dan air putih di atas nakas. Mengenai pakaiannya itu ada kemeja, dasi hingga sepatu kerja. Dan tentunya dasinya harus yang match dengan kemeja ya Nyonya”
“tapi tadi kamu gak nyiapin air hangat untuk Mas Kendra?”
“sebab tadi pintu kamarnya terkunci dari dalam Nyonya, jadi saya tidak bisa untuk masuk”
“memang biasanya tidak terkunci?”
“tidak Nyonya muda”
“baiklah, mulai besok biarkan aku yang menyiapkan segalanya untuk Mas Ken, karena muai kemarin, kita sudah belajar menerima perjodohan ini”
“baik jika Nyonya muda memaksa” Rey hanya bisa pasrah dengan keras kepala Kendra “memang seperti itu cara kerjanya” tanpa di sadari mereka berdua, Kendra sudah berdiri di ambang pintu memperhatikan Dera dan Rey
.
.
Jangan pernah sedikitpun kamu mengkhianatiku, percayalah. Ketika aku benar-benar mencintai seseorang maka tak pernah setengah hatiku kosong dan pasti akan ku berikan seutuhnya.
.
.
Puji
.
.
Yuk di like dulu yukk.. coment gitu kali-kali hehe😅