
Jangan lupa vote dan sarannya ya man-teman.
Karena saran dan masukan dari kalian itu penting banget.
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini
Terima kasih sudah membaca ceritaku
Dan jangan lupa memberi bintang 5 ya🌟🌹
Happy reading
🌹☺️
^
“Mir, kamu tau kan, awal pernikahanku dan Kendra hanya berasal dari perjodohaan. Dan apa kamu tau yang membuatku sakut hati apa?”
Mira menggelengkan kepala.
“Kendra membuat sebuah kamar khusus untuk Lidia, mantannya dan disana banyak semua kenangan selama mereka pacaran. Dan satu lagi, kamu ingat kemana dia saat akad dahulu dia sempat terlambat?”
"Eh iya, inget.. Kan kita sempet berpikir bahwa dia kabur dari perjodohan ini bukan?" jawab Mira.
“Bukan Mir. Mereka videocall an. Bukan kah itu saangat menyakitkan bagi diriku yang kini sebagai istrinya Mir?” Dera menceritakan segalanya dengan berusaha tegar.
“Astagfirullahaladzim.. masih ada ya laki-laki seperti itu. Kalau kamu mau menenangkan diri disini dulu, gak apa-apa. Tapi inget ya, ada baby di perutmu ini. Kamu jangan banyak pikiran ya.. kasihan si kecil nih.” Mira pun memberi pengertian dan mempersilahkan Dera untuk menenangkan Diri.
Dia pun sebenarnya bingung harus bagaimana, soalnya juga tidak mungkin Dera pulang ke rumah, itu nanti malah akan membuat Bunda nya kepikiran tentang pernikahannya dengan Kendra.
Namun juga ini ada konsekuensi yang harus di terima terutama pada Dera.
“Sudah sana bumil istirahat dulu. Kamarnya yang kanan itu ya. Baju ganti sudah ku siapkan disana pula. Itu ada baju agak besar mungkin masih muat untuk perutmu yang sudah membuncit ini Der” ujar Mira dengan menunjuk kamar untuk era menginap malam ini.
Setelah itu Dera segera masuk ke dalam kamar milik Mira. Menaruh tas yang dibawanya ke atas tempat tidur. Dera memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, agar badannya lebih segar.
Dilepaskannya seluruh pakaian miliknya, dan Dera langsung mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah itu dia keluar dengan pakaian santainya.
“Der, ayo makan dulu. Aku sudah belikan kamu gado-gado nih, makanan kesukaan kita waktu kuliah. Inget kan haha” Mira sebisa mungkin membuat Dera bahagia dengan cara apapun itu.
“haha. Inget lah. Ini mah makanan ter enak Mir. Sudah lama rasanya aku ga makan gado-gado” Dera pun memakannya dengan lahap karena perutnya sudah berdemo sejak tadi. Akan tetapi ingatan akan mendiang ayahnya langsung berputar di otaknya.
Dirasa cukup Dera segera membereskan dan bersiap untuk tidur.Badannya lelah karena seharian ini.
Dibaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur empuk itu. Kedua bola matanya mulai terpejam. Terasa berat.
“Besok aku harus bangun pagi-pagi untuk pergi ke rumah tante Mira. Bismillah” ucapnya pada diri sendiri.
Lalu Dera mulai tertidur pulas menyelami dunia mimpinya. Menikmati awal kebebasannya.
Sedangkan di sisi lain, di rumah pribadi Kendra suara teriakan kesakitan menggema di seluruh penjuru ruangan.
………………………
Berbeda dengan saat Kendra mencari keberadaan Nurul. Alula yang sedang berada di kampus justru sedang bermasalah dengan Brian dan geng nya.
“ALULA!! ”
Baru juga masuk ke area kampus, dia langsung mendapat teriakan dari Brian yang tak jauh darinya.
Dengan secepat kilat gadis itu berlari menerobos kerumunan para mahasiswa yang sudah berdiri di lorong kampus sebelum dirinya di tangkap oleh para anggota geng Zervanos.
“Sialan!! Kayak jadi buronan aja gue pake segala di kejar begini, mana anggota Zervanos ikutan ngejar gue lagi” ucap Alula sambil terus berlari menghindari para anggota geng Zervanos.
“Berhenti!!" teriak Brian yang juga sedang mengejar Alula diikuti para anak buahnya yang berlari di belakangnya.
“Eh, daripada kita ngejar bareng begini mending kita berpencar saja. Jadi nanti Bos Brian jaga di depan kelasnya, David jaga disamping kamar mandi. Biar tu anak gak bisa kabur lagi” usul Leo dan di setujui oleh Brian dan David.
Alula masih berlari sekuat tenaganya.
“Huh! kayaknya mereka udah pada capek ngejar gue” gumam Alula saat menengok kebelakang dan melihat hanya ada Leo yang masih mengejarnya.
Bruk
Alula terjatuh karena tidak sengaja menabrak dada bidang seorang cowok. Saat Alula melihat wajahnya dia langsung terkejut karena yang dia tabrak adalah Brian, ketua Geng Zervanos.
“Mau lagi kemana lagi hmm?” ucap Brian sambil menarik tangan Alula.
“Sial! Kenapa lo bisa ada di sini sih? Perasaan tadi lo udah ga ngejar lagi deh. Atau jangan-jangan lo jin aladin ya,dimana-mana selalu aja ada lo disitu.
Heran gue” ucap Alula saat dipaksa jalan oleh Brian dengan cara menyeret dirinya.
“Sembarangan aja kalau ngomong. Kalau gue jin aladin lo berarti apa? nenek lampir? E salah maksud gue tarzan” ucap Brian tertawa.
“Enak aja gue udah cantik, wangi begini lo katain tarzan. Lo itu b*bi hutan” balas sengit Alula.
“Lah emang benar kan lo itu tarzan. Tiap hari kerjaannya teriak-teriak gak jelas di kampus. Apa perlu gue minta temen sekelas lo untuk ngasi kejujuran semua tentang lo!.” ucap brian.
“Lah ngapain lo tanya sama mereka. Kurang kerjaan tau” jawab Alula.
“Jadi cewek tu yang kalem, anggun dan ga usah cari perkara sama geng gue” Brian.
“Idih.. terserah gue dong mau ngapain, mau gimana aja. Nyokap bokap gue aja gak ngelarang gue. Dan gue paling gak suka kalau ada orang yang membully orang lain. Dimana salahnya coba?”
“Boleh disentil gak sih tu bibir. Gemes banget gue. Jawab mulu kalau di kasih tau” ucap Brian lalu membekap mulut Alula dengan kain agar tidak bicara lagi.
Dari kejauhan nampak Pak Muh sedang berdiri di depan ruang dosen sambil berkacak pinggang menatap tajam ke arah Alula yang masih di seret dan di tutup mulutnya oleh Brian.
Aduh, ada Pak Muh lagi. Batin Alula.
“Lepasin gue bisa gak ha? gue bilang lepasin” Alula kembali berontak ketika dia sudah makin dekat dengan pak Muh.
Dengan sigap para Zervanos yang kebetulan berkumpul di lorong kampus langsung membantu Brian yang tengah kesusahan menghadapi Alula yang sedang berontak untuk membawanya kehadapan Pak Muh.
“Ehehe Pak Muh. Gimana kabarnya pak? Lama kita gak ketemu, baik kan pak? Pasti baik kan Pak. Udah baik, ganteng dan gagah lagi” cengir Alula saat berada di depan Pak Muh.
“Gak usah basa-basi. Bapak tau kamu itu sedang ngerayu kan?” balas Pak Muh dengan ada ketus sambil enatap tajam.
Glek. Suranya nyeremin banget, pocong aja kalah aura Pak Muh” batin Alula meneguk ludah.
“Ih. Pak Muh. Alula di rumah sedang banyak pekerjaan pak. Toh juga ada beberapa permasalahan di keluarga Alula” jawabnya
“Halah, namanya tugas ya tetap tugas La. Jangan lah seperti itu” Pak Muh memutar bola matanya malas mendengar kalimat alasan dari Alula.
“Tambahan tugas buat kamu, buatlah proposal untuk donator dan dikumpulkan besok siang”
“Ya Allah pak, tambah waktu sedikit lah pak. Itu buat proposal kan juga buat rancangan dulu pak” ucap kaget Alula.
“Gak usah lebay. Kerjain aja apa susahnya sih” ancam Pak Muh.
“Eh iya ya pak. Baiklah. Besok siang tugas akan saya kumpulkan di meja bapak”
Lalu Alula berjalan menuju kelas kuliahnya dan Brian pergi entah kemana setelah Alula bertemu dengan Pak Muh.