
“Semoga tugas dari gue berjalan mulus dan si wanita itu kehilangan ayahnya. Sama seperti gue yang telah kehilangan Kendra dalam hidup gue!!” batin Lidia.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
“Hmm.. Gimana sudah berhasil?” tanya Lidia pada sang penelpon.
“Tugas gue sudah beres. Gue sudah nyelakain orang itu, masalah masih hidup atau enggak bukan urusan gue. Yang pasti sesuai dengan perintah lo, gue harus nyelakain dia” tuturnya.
“Bagus..” jawab Lidia dengan senangnya.
Akhirnya, tugas gue hampir selesai. tinggal menunggu hasil besok pagi nih, gue bisa tidur dengan tenang dan nunggu transferan dari Danu.
Salah siapa, main-main dengan Lidia. Rasakan sendiri akibatnya Dera Ananda!!
Ini belum seberapa, tunggu lagi akan ada kejadian yang mencengangkan setelahnya.
……………………
“Tante, ini kata kak Novan, Om Burhan dirawat di rumah sakit. Beliau mendapat luka tusukan. Kebetulan tadi kak Novan patroli di jalan yang dilalui om Burhan. Ini kak Novan masih di rumah sakit mengurus administrasinya tan” ucap Dinda yang membuat Lestari lemas.
“A.. apa.. luka tusukan?? Ayo kita segera kesana dan hubungi Dera” ucap Lestari dengan air mata yang bercucuran.
Bagaimana bisa? Setauku Mas Burhan gak punya musuh siapapun. Apa mereka kena begal? atau apa..
Hidup kami juga tentram-tentram saja selama ini. Lantas siapa yang melakukan ini. Ya Allah ujian apa ini. Mas Burhan, semangat mas.. kamu pasti bisa bertahan hidup mas…
………………………..
Dera dan keluarga Kendra kini sedang kumpul di taman. Mereka menikmati siang ini dengan kebersamaan.
“Kak Ken, kapan nih nyiapin kamar tidur untuk baby nya?” tanya Alula.
“Ya Allah dek, ini masih terlalu dini. Mungkin kalau mendekati usia 7 bulan, kakak akan mempersiapkan semua”
“Bukan begitu sayang” ucapnya pada sang istri.
"Iya mas.. nanti kita dekor sesuai jenis kelaminnya ya mas, biar gemes gitu kalau masuk kamar baby" ucap Dera.
Kringg kringg… ponsel Dera berdering.
“Assalamualaikum Din.. iya ada apa Din?” tanya Dera.
“Kak, Om Burhan kak.. Om Burhan..." ucap Dinda dengan tak kuasa menyampaikan info ini pada Dera.
"Kenapa Om Burhan Din?" suara Dera yang kini agak meninggi menjadi pusat perhatian oleh semuanya, tak terkecuali Kendra.
"Om Burhan di tusuk senjata tajam saat sedang berkendara dengan om Sigit. Ini kami sudah di rumah sakit Insan Hospital”
Dera yang mendengar berita tersebut seketika lemas, ponselnya jatuh. Dia tak kuasa menahannya.
“Sayang, ada apa? kamu kenapa?” tanya Kendra.
Dera hanya bisa menangis. Sang mertua pun khawatir apa yang terjadi dengan menantunya yang tiba-tiba menangis.
“Mas.. Ayah mas.. ayah” isak tangis pun pecah di pelukan Kendra.
“Ayah kenapa” ucap Kendra dengan nada menenangkan namun sebenarnya hatinya geram.
“Ayah ditusuk oleh orang tak dikenal kata Dinda, sekarang Ayah di rawat di rumah sakit Insan Hospital”
Alex yang mendengar apa yang dikatakan Dera begitu menahan amarah.
Siapa yang berani-beraninya mengganggu ketentraman keluargaku. Apa mereka memang sengaja membangunkan singa yang telah tidur!! Awas saja jika nanti ku tau siapa pelakunya, siap-siap untuk di bekuk di penjara. Batin Alex.
“Ayo kita segera kesana” ucap Ayu yang menggandeng menantunya dan memberikan support agar tetap kuat menerima berita ini.
“Kalian duluan saja. Aku akan menyusul nanti. Papa tolong temani mereka dulu. Kendra ada urusan” tanpa berpikir panjang, Kendra melangkah pergi.
………………………
Pukul 14.00 siang Kendra baru sampai di markas 3.3. Kendra, Niko dan Bram yang telah duduk di tempatnya masing-masing. Kendra hanya menatapnya dengan datar.
Sudah lama sekali rasanya dia menginjakkan kaki disini. Tempat yang masih belum berubah dan selalu menjadi tempat ternyamannya ketika pikirannya sedang kacau dan banyak masalah.
“Hai bung” sapa John dengan tersenyum miring melihat kedatangan Kendra dengan tampilan wajah yang penuh emosi.
“Bagaimana kabarmu, sudah lama kau tak pernah berkunjung kesini” ucap Niko memulai percakapan dahulu.
Kendra yang datang seketika membuka dua kancing kemeja miliknya. Sungguh, rasanya gerah sekali setelah mengetahui bahwa Ayah dari istrinya di tusuk oleh senjata tajam oleh orang tak dikenal.
Bram hanya menatap Kendra dengan pandangan bertanya-tanya.
“Kau itu kenapa? Apa AC disini sedang bermasalah hingga membuatmu membuka kancing baju mu?” tanya Bram. Hal tersebut mengundang gelak tawa Niko. Kendra hanya menatap tajam Bram.
Emosinya sedang tidak stabil sekarang. Rasa ingin marah dan segera mencari keberadaan orang yang berani terang-terangan mulai menunjukkan batang hidungnya.
Bram yang melihat itu, hanya bisa menghela napasnya kasar. “Apa kita tidak bisa langsung memulainya saja? Bukankah kamu kesini pasti ada yang harus kita kerjakan Kendra Alexander?”
“Apa yang harus kita kerjakan sebentar lagi” tanya Niko. Kendra jelas tau apa yang akan dilakukan Bram.
“Buruan”yang dimaksud adalah seseorang yang menjadi target seorang Niko yang telah berurusan dengan Kendra.
Bram bahkan masih bergidik ngeri ketika mengingat Niko dikepung oleh 20 orang dengan senjata tajam.
Hebatnya, Niko bisa mengalahkan itu semua dengan menggunakan pistol kesayangan miliknya.
Dikumpulan Geng Black Tiger hanya Bram lah yang sedikit normal disini. Yang lain bermasalah semua.
Tetapi Bram yang dulu bukanlah Bram yang sekarang. Itu semua karena Intan, istrinya yang mampu merubah dirinya menjadi seperti sekarang.
Bram hanya menatapnya datar, tanpa berniat menjawabnya.
“Niko, hargailah orang yang lebih tua darimu” ujar Bram dengan nada yang meledek Kendra. Kendra palig tidak suka jika disebut tua. Waktu itu ada sebuah kejadian. Ada orang yang mengatai Kendra tua disebut pusat pemberlanjaan.
Hal itu sontak membuat Kendra ingin menodongkan pistol kesayangannya pada orang tersebut. Tapi untungnya, Sekretaris Rey yang selalu ada di sampingnya jadi mampu menenangkan hatinya.
“Jangan bermain-main dengan ku Nik” ucap Kendra dengan kesal.
“Udah lah, stop dengarkan aku dulu. siang ini aku dapat kabar dari keluarga Dera kalau ayahnya di tusuk oleh orang tak dikenal.
Ada enam orang dan tiga motor yang mengepungnya. Kejadian di lokasi Jalan Pancar.
Kalian mintalah bantuan anak buah dan kerahkan mereka semua. Aku dan Rey gak bisa mengatasi ini semua. Sedangkan John sedang mencari keberadaan Lidia yang kini telah pindah apartemen”
Niko dan Bram dengan serius mendengarkan apa yang dikatakan Kendra.
“Bisa kita cari itu dan bahkan secepatnya ada hasil. Tapi apakah sekarang posisinya ayah mertuamu bisa di selamatkan atau tidak? Masalahnya di tusuk oleh senjata tajam juga sangat beresiko untuk orang yang berusia lanjut” jawab Bram.
“ Untuk lebih lanjutnya aku kurang tau. Setelah mendengar informasi tersebut aku langsung kesini”
“Lalu” tanya Niko.
“Kejadian itu terjadi di jalan yang sepi. Jelas sekali jika penusukan itu telah direncanakan dengan sangat matang.
Mengingat, mereka telah menyiapkan senjata tajam dan topeng yang dipakai” jelas Kendra. “Kalian faham?” Tanya kendra.
“Hm” jawab Niko.
“Tentu” jawab Bram sambil memainkan rubrik ditangannya. Kendra masih memikirkan Dera.
Bagaimana kondisi istrinya sekarang mengetahui ayah yang di sayang pasti sedang lemas tak berdaya di kasur rumah sakit.
“Oke.. apa ada saksi di lokasi? Mengapa kau tak meminta kepolisian untuk mencari tau hal ini? Bukankah ada salah satu keluarga istrimu yang polisi?”
“Gak lah, akan ku tangani dulu. Pasti ini orangnya tak jauh dari sekitar ku. Biarkan Novan fokus dengan pekerjaannya” ucap Kendra.
Bram dan Niko yang mengetahui maksud Kendra segera mengerahkan anak buahnya untuk mencari siapa dalang dibalik ini semua.