PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
episode #76



Kendra Nampak mondar-mandir di depan pintu pemeriksaan Dera.


Sedangkan Sekretaris Rey mengurusi administrasi dan Mira duduk lemas di kursi tunggu dengan deraian air mata.


Alexander, Ayu dan Alula datang. Dengan langkah tergesa dan banyak tanya di benak mereka.


Alula yang tak kuasa menahan tangis langsung memeluk sang Kakak. Bahunya naik turun menandakan sedang dalam tangisannya.


“Maafin kakak Dek, yang ga bisa jaga Dera seutuhnya. Ini semua karena Kakak”


Ayu yang melihat anaknya sedih, harus menguatkan. Walaupun memang dirinya sendiri juga sedih mendengar kabar seperti ini.


"Sudah sayang, sekarang kita harus berdoa. Semoga baby nya selamat" ucap Ayu.


Disisi lain Alex menemui Rey yang sedang berjalan ke arahnya.


“Apa yang terjadi Rey”


Rey menceritakan sedetail mungkin sesuai dengan apa yang dikatakan Kendra.


Sial.. Mengapa bisa Lidia masuk ke restoran Dera? bukankah wajah Lidia sudah di blacklist disana?? benar-benar wanita ular itu. Batin Alex.


"Lantas, apa langkah Kendra selanjutnya" tanyanya lebih lanjut.


"Pak Bos belum bisa ambil langkah Tuan" jawab Sekretaris Rey.


"Kabari aku selanjutnya. Kalau dia gak mau ambil langkah, biarkan aku saja yang menyelesaikan masalah ini sampai tuntas" ucap Alex.


Hingga pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka dan menampakkan wajah Frans sebagai Dokter disana membuat semuanya berjalan cepat ke arah Frans yang sudah selesai memeriksa keadaan Dera.


“Bagaimana keadaan istriku Frans?”


Tanya Kendra penuh kekhawatiran nampak jelas di raut wajahnya.


Sedangkan Frans nampak tersenyum membalas pertanyaan Kendra yang kini dilanda kecemasan.


Kendra, Mama dan semua yang ada disana melihat senyuman Frans itu setidaknya dapat bernafas lega karena mungkin maksud senyuman itu adalah pertanda baik.


“Istrimu mengalami pendarahan Ken. Untung saja Dia cepat dibawa kemari sehingga bisa cepat ditangani dan menghentikan pendarahannya” tutur Frans.


“Lalu bagaimana dengan kandungannya Frans?” tanya Alex yang menunjukkan rasa khawatirnya pada sang menantu.


“kandungannya baik-baik saja Om. Dan untuk saat ini biarkan Nyonya Dera istirahat dulu sampai kondisinya kembali pulih”


“Alhamdulillah, terima kasih ya Dokter Frans. Terima kasih sudah menyelamatkan menantuku dan Calon cucuku”


“sama-sama tante, om. Semuanya, saya tinggal dulu ya”


Mereka menunggu di depan ruangan, hingga nanti diperbolehkan untuk membesuk Dera.


………………………….


“Silahkan yang Namanya Nona Mira, di panggil oleh Nyonya Dera” perawat memberitahu Mira. Sedangkan Kendra yang sangat antusias berpikir bahwa dirinyalah yang harus di cari. Ternyata salah.


Akhirnya mira masuk ke ruangan Dera.


“Mira” panggil Dera dengan lirih. Air mata nampak mengalir di sudut matanya.


“Ada apa Der?” tanya Mira yang kini menggenggam erat tangan Dera.


“Apa aku bisa mempertahankan keluarga kecilku dengan Kendra? Aku takut jika nanti Lidia kembali mencelakai ku lagi Mir” ucap Dera menahan isaknya. Bahkan Dera tak lagi menyebutkan kata Mas pada nama Kendra.


“Eits, kamu sekarang sedang down Dera. Tenangkan hatimu dulu. Kendra dari tadi yang paling khawatir denganmu. Dia menggendongmu tadi, dan untung saja dia datang tepat waktu pas ada Lidia. Jangan ngomong gitu lagi ya” Mira menguatkan sahabatnya.


“Tapi aku takut jika nantinya Lidia mencelakai ku, apalagi malaikat kecil tak berdosa ini”


Tak menjawab apapun, Mira hanya mengusap kepala Dera.


“Sudah ya, ku panggilkan yang lain.. diluar ada Papa Mama Kendra, Alula dan Sekretaris Rey. Hapus dulu air matanya ih, jadi jelek kan hehe”


Sembari Dera menghapus air matanya, Mira memanggil yang lain untuk masuk ke dalam.


Mungkin ini hanya emosimu saja, Der.


“Tapi aku gak bisa jika terus terbayang ketakutan ini Mir”


“Sudah-sudah, perlahan yuk, kamu harus kuat Der” ucap Mira.


Akhirnya Kendra berlari menuju Dera, tubuh istrinya yang terpasang dengan selang infus membuatnya merasa sangat bersalah.


Dia tak pernah menyangka bahwa istrinya akan menjadi korban hubungannya dengan sang mantan.


“Sayang, maafkan aku ya. Gara-gara aku, kamu jadi korban Lidia. Aku janji bakal mengusut tuntus masalah ini” ucap Kendra dengan penuh kekesalan.


“Sudah mas, aku gak apa-apa. Jangan, gak usah di bahas lagi. Aku gak apa-apa” jawab Dera karena sudah tidak mau berurusan dengan Lidia lagi.


Sedangkan Ayu dan Alex menatap anaknya yang begitu mencintai sang istri.


Lidia, lagi-lagi kamu membuat hancur semuanya. Ternyata memang benar langkahku untuk menjauhkan kamu dari anakku. Memang ya jika sekali licik dan jahat tetap saja seperti itu. Alexander.


“Apa yang kamu rasakan Nak, apa sudah membaik?” tanya Ayu.


“Sudah Ma. Oh ya jangan sampai Ayah Bunda tau ya Ma, kalau Dera ada disini. Takutnya mereka khawatir ma” ucap Dera dengan menggenggam tangan mertuanya.


“Iya Nak, maafkan kelakuan si perempuaan itu ya. Tenang saja hati Kendra cuma buat kamu seorang” tutur Ayu menenangkan sang Menantu.


…………………………………


Hampir lima hari Dera di rawat di rumah sakit untuk masa pemulihan, kini saatnya dia pulang ke rumah.


Kendra dengan telaten memapah sang istri hingga sampai di kamarnya.


Dia membiarkan sang istri beristirahat. Sedangkan Kendra menuju kamar yang tak pernah dibuka sama sekali semenjak menikah dengan Dera.


Kamar yang di dominiasi warna putih itu tampak berantakan. Kendra masih terjaga ditempatnya. Tidak tidur sama sekali. Ingatannya masih memutar kenangannya saat bersama Lidia. Di dinding kamar itu terdapat sebuah foto yang terpajang rapi, hingga dia memutar sebuah video saat mereka pacaran dulu, saat dirinya merayakan ulang tahun bersama kekasihnya.


Tatapannya terfokus melihat layar itu. Saat dirinya dicium oleh Lidia.


Saat dirinya dipeluk dan hal-ha romantis yang di lakukan bersama Lidia, Kendra masih mengingatnya dengan jelas.


Ya, sedari awal Kendra berusaha melupakan Lidia, tapi disisi lain Kendra tidak akan pernah mau melepaskan Dera. Dera adalah istrinya. Miliknya. Apapun yang ada di Dera adalah miliknya. Hanya dirinyalah yang berhak atas Dera. Tidak ada yang lain.


Tangannya mengepal kuat ketika bayangan Dera tersenyum. Memanggilnya sayang.


“Aku sayang kamu, dan juga anak ini mas” Kata Dera dengan serius. Sungguh, Dera tidak mau laki-laki selain Kendra.


“Aku juga sayang kamu dan anak kita” jawab Kendra dengan tersenyum.


Saat itu juga bayangan istrinya menangis karena terlintas dibenaknya. Hal itu sukses membuatnya langsung tersulut emosi.


“DAMN IT” Umpatnya.


Dia begitu emosi sekarang, karena Lidialah semua kini hancur. Dan Dera terkadang penuh ketakutan.


.


.


.


Author:


Hello readers, bagaimana nihh, apa masih dalam kondisi sehat?


Atau sedang batuk flu?? memang cuacanya juga..


dan jangan lupa jaga kesehatan ya readers..


see yuuuu..