
Dera tidak berdaya dengan apa yang ada lihat sekarang.
Ada beberapa orang yang dia kenal berada di ruangan tersebut. Mira, Alula Sekretaris Rey, dan Dokter Frans ada di sana.
Mereka memberikan kejutan seperti orang sedang berulang tahun saja.
Dera tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini. Setelah acara lamaran kemaarin dia tidak menyangka masih akan mendapat kejutan seperti ini.
“Terima kasih semua. Jadi kalian semua mempersiapkan ini semua untukku, ya” ujar Dera merasa bahagia dengan kejutan yang dberikan orang-orang di sekitarnya.
“ini semua untukmu, sayang” ujar Kendra sambil memeluk bahu Dera.
“Baiklah, ayo kita bersenang-senang sekarang, ujar Dera semangat dan duduk di bangku sedangkan yang lain hanya berdiri.
Mereka tampak bingung.
“Ayo dong duduk. Kenapa kalian bingung gitu” ujar Dera ikut bingung dengan tanggapan keempat orang disana.
Akhirnya mereka semua tertawa mendengar perkataan Dera. Hanya Dera sendiri yang merasa bingung dengan sikap mereka.
“Rupanya tuan putri kita belum mengerti maksudmu Kak Ken” ujar Alula.
Mira, Sekretaris Rey dan Dokter Frans cekikikan mendengar ucapan Adik Kendra.
“Kendra..” Dera menoleh ke arah Kendra mempertanyakan maksud ucapan adiknya tersebut.
Kendra menghela nafas dan mendekati telinga Dera.
“Sayang, kita disini bukan akan menghadiri makan bersama tetapi restoran ini milik kamu mulai sekarang.
Kamu bisa mengelolanya dan menyajikan menu-menu masakan yang kamu kuasai”
“Lantas bagaimana dengan Kedai Fallery Bakery dan skripsiku mas? Apa aku bisa mengurus ini semua?” Dera mempertanyakan kemampuan kedepannya.
“Bisa. Yakin saja bisa. Toh juga sebentar lagi kamu lulus kalau sudah selesai skripsian”
“Tapi kan masih lama mass”
“Gak apa-apa. Di nikmati saja prosesnya”
Kendra memeluk pinggang Dera di depan para temannya.
Alula, Mira, Sekretaris Rey dan Dokter Frans yang melihat perdebatan kecil itu merasa menonton sebuah drama, bisa-bisanya mereka berdebat di depan para jomblo.
“Sudah lah Ken, ini mau ngasi surprise apa mau lihat kalian mesra-mesraan?” ucap Dokter Frans.
"Ya kak Ken, mentang-mentang udah nikah gitu" Lula
“Iya nih, tau gini gue gak mau kesini” tambah Mira.
Hahahaha.
Suara gelak tawa memenuhi ruangan itu.
Kendra segera melepaskan pelukan pada Dera.
"Oh ya, Fira mana Mas, ko ga ikut kesini? biasanya dia selalu ada dimana pun dan kapan pun" ucap Dera melihat tak ada Fira di sekitarnya.
"Fira sedang cuti Nyonya. Dia harus merawat Ibunya di kampung" jawaban dari Sekretaris Rey mewakili Kendra.
"Owalah, pantas saja. Akhir-akhir ini aku ga pernah lihat dia Rey"
Bersyukur sekali aku mendapatkan teman dan suami yang baik seperti ini. Walaupun proses ku lalui tak begitu mudah.
“Jadi, restoran ini milikku mas? Beneran?”
“Iya, Resto ini atas namamu sayang” ujar Kendra sambil tersenyum manis.
“Ini hadiah untukmu karena sudah menerima segala kekurangan dan kelebihanku.
Apalagi semenjak kejadian itu yang membuatmu menjadi pelampiasan segala amarahku” Kendra menambahi ucapannya.
Dera tak tahu harus menangis atau Bahagia. Dia ingin sekali memiliki keluarga kecil yang harmonis seperti ini.
Dan akhirnya sekarang terwujud.
“Cukup memberiku ciuman” ucap Kendra dengan menjulurkan lidah sengaja untuk membuat Dera malu di depan temannya.
“ih dasar mesum” ucap Dera sambil menepuk dada Kendra pelan.
Hahahahaha.
Suara derai tawa mengiringi kebersamaan mereka.
“Aku menyayangimu, sayang”
“Aku juga mas” jawab Dera dengan pelan. Kendra merasa sangat Bahagia mendengar pengakuran Dera.
Dia ingin waktu berhenti berputar saat itu juga.
Dia ingin menikmati kebahagiaan ini lebih lama lagi.
……………………………….
“Jadi Namanya Dera Ananda” ujar Dimas setelah mendapat laporan dari orang kepercayaannya.
Ganang melihat foto dari gadis yang disukai Bagas.
“Dia adalah putri tunggal dari keluarga Feri. Dan info terakhir yang saya dapatkan, dia adalah istri dari Kendra Alexander pemilik PT Petra Corp.
Dimas memijat kepalanya. Diaa cukup terkejut dengan berita yang disampaikan oleh anak buahnya.
Kenapa berurusan kembali dengan Kendra Alexander.
Dulu masalah Alula dengan Bagas yang hampir dilecehkan oleh anak laki-lakinya.
Sekarang berurusan antara dia dan istrinya.
“Baiklah, kamu boleh pergi,” ujar Dimas.
Aku harus tanyakan sendiri pada Bagas.
Dimas langsung bergegas ke ruang kerja anaknya.
Dia memastikan bahwa istri dan orang tua Bagas tidak sedang bersamanya.
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi padamu?”tanya Dimas yang kini duduk bersebelahan dengan Bagas.
Bagas tidak langsung menjawab pertanyaan Dimas.
Dia tahu kakak sepupunya ini pasti sudah menyelidiki apa yang sedang terjadi padanya.
“Aku baik” jawabnya singkat. Dimas hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Bagas.
“Gas, gue tau lo sejak kecil” ujar Dimass sambil menatap wajah tampan adik sepupunya itu.
“Aku mengerti apa yang ku lakukan” jawab Bagas dengan sikap tenang.
Bagas hanya melihat sosok Bagas yang kini memang bukan anak kecil lagi. Dia menghela napas.
“Baiklah, kalau itu mau mu, tapi aku ingatkan. Dalam hal ini tidaklah sama dengan masalaah yang menimpa mu waktu jaman SMA dulu” kata Dimas.
“Tapi pelakunya tetap sama” ujar Bagas bersikukuh dengan pendapatnya.
“Mungkin saja adek Kendra bisa sangat terpuruk dengan kejadian beberapa tahun silam.
Apa kamu ingat kejadian tahun itu? Kamu mabuk-mabukan ketika kamu dan pacarmu bertengkar? Kamu menghabiskan waktu mu hanya dengan mabuk-mabukan.
Dan saat malam tiba, kamu dapati seorang gadis polos yang hampir kau lecehkan.
Untung saja pengawal ku datang untuk menyelamatkan gadis itu” ucap Dimas.
“Satu lagi, jaga istrimu baik-baik. Jangan sampai hancur karena ego mu itu” tambahnya sebelum pergi.
Kata demi kata diucapkan Dimas dengan penekanan yang sangat jelas.
“Itu masalah Kendra, jangan campuri urusannya” kata Dimas. Dia sudah malas bila berurusan dengan Kendra Alexander.
“Kalau dia tidak bahagia, itu akan menjadi urusanku” jawab Bagas masih juga mempertahankan egonya.
“orang yang kamu sukai adalah istri Kendra. Jangan macam-macam Gas”
Dimas mulai merasa geram dengan sepupunya itu kali ini.
“Dia bukan Papamu. Kendra bukan seperti sifat dari papamu yang pengecut itu. Mereka itu berbeda. Tau kamu!!” ujar Dimas mengingatkan kembali.
“Aku tahu, kakak jangan khawatirkan” kata Dimas segera pamit dari ruang kerja Bagas.
Bagas, ternyata ambisim terlalu besar. Dan ego memperburuk segalanya.
Bagas menelpon orang kepecayaannya.
“Atur jadwal kepulanganku ke Indonesia setelahh rapat di Jepang. Dan pilih dua anggotamu yang terbaik. Aku butuh mereka untuk menjaga seseorang di sini selama aku pergi”
Aku tidak bisa meninggalkanmu dengan Kendra Der. Dia itu hanya akan membuatmu tambah masalah. Aku tidak bisa membiarkanmu seperti Lidia.