PLEASE, LOVING ME

PLEASE, LOVING ME
MENUTUPI SEGALANYA



Jangan lupa vote dan sarannya ya man-teman.


Karena saran dan masukan dari kalian itu penting banget.


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Dan jangan lupa memberi bintang 5 ya🌟🌹


Happy reading.


🌹❤️


Maaf ya, jika updatenya lama.Terkadang hanya bisa 1


episode, karena kerjaan gak bisa ditinggal.


Semoga kalian mengerti ya. Jangan lupa komen yang


baik-baik, biar author tetap semangat. Terima kasih☺️


^^^^


Pagi ini Kendra benar-benar menepati janjinya.


Dera yang sudah bersiap untuk pergi ke makam Nurul.


Berbekalkan niat yang baik dan memantapkan mental, Dera menggandeng Kendra yang kini berada di ruang kerjanya.


“Ayo Mas. Aku sudah siap” ajak Dera yang sudah siap mengenakan pakaian rapinya.


“Iya sayang. Ayo" jawab Kendra.


Di bawah sudah ada Rey dan Pak Yanto yang sudah siap mengemudi.


Perjalanan kini tak memerlukan waktu lama. Hanya 15 menit saja karena tempatnya yang memang dekat.


“Mas, nanti setelah ke makan. Kita ke rumah Bunda ya. Aku kangen sama Bunda”Dera menyandarkan kepalanya dibahu Kendra. Dia berusaha berdamai dengan keadaannya kini.


“Ya sayang. Iya” ucap Kendra dengan mengelus puncak kepala istrinya.


Tanpa disadari mereka telah memasuki pemakaman Nurul. Sebuah pemakaman sederhana, seseorang yang di sayangi Dera terbujur kaku.


Rey yang jalan lebih dahulu dibanding Kendra dan Dera.


Dia sebagai juru utamanya untuk menuju ke lokasi Nurul dimakamkan.


Satu persatu sebuah insan disana dibaca. Dia mencari sebuah nama Nurul Maulida.


“Ini Pak Bos” ucap Rey yang membuyarkan konsentrasi Kendra yang berusaha memberi kekuatan pada Dera agar tetap kuat menerima kenyataan yang ada didepan matanya.


Mereka pun berjalan perlahan.


Dera perlahan membaca sebuah nama yang tertulis "Nurul Maulida" dia tak bisa berkata-kata. Diam dan sesekali menarik napas.


Dera jongkok di samping pusara tersebut.


Ingatannya kembali pada kejadian beberapa minggu yang lalu.


Kendra yang mengetahui istrinya sedang tidak baik-baik saja, mencoba menenangkannya sesekali menepuk bahu Dera.


"Sayang, maaf ya. Semua ini salahku"


Namun tak dijawab oleh Dera.


“Nurul..maaf. Maaf. Maaf atas semua yang terjadi, ini salahku hiks hiks” ucap Dera dengan menangis tersedu-desu. Segala isi hatinya di ungkapkan disana.


Rasanya sakit yang dialaminya kemarin begitu dalam.


Apalagi Dera kini kehilangan seorang sahabat dan juga keluarga kecilnya yang sempat mendapat cobaan.


Kendra yang tak tega melihat istrinya menangis, segera dia memindahkan fokusnya untuk segera pulang.


Sesuai janjinya mereka kini menuju rumah Bunda Dera.


^^^


Mobil mewah Kendra sudah memasuki halaman rumah keluarga Dera.


“Rey, kamu kembali ke kantor. Urusi tender kemarin. Kalau perlu bantuan, segera hubungi aku. Perintahkan Nisa untuk menyelesaikan berkas yang ada di meja ku kemarin” Perintah Kendra pada Sekretarisnya.


Rey lantas pamit dan Kendra masuk ke dalam rumah bersama Dera.


Dia pun tampak begitu senang dan bergegeas keluar dari mobil untuk menemui sang bunda.


Kendra hanya tersenyum melihat kelakuan sang istri. Kendra membawakan sebuah bingkisan untuk sang mertua, bunda Lestari.


“Bundaaa..” Dera menghambur ke dalam rumah dan memanggil sang bunda.


“Dera..” mendengar suara sang putri tungggalnya membuat Bunda Lestari bergegas menuju ke depan dan betapa senangnya dia melihat sang putri datang bersama dengan sang menantunya.


“Bundaaaa....” Dera bergegas berjalan dan menghampiri sang bunda.


Dia memeluk sang bunda dengan penuh kerinduan.


Seperti berbulan-bulan rasanya tidak bertemu sang bundanya.


Demikian pula bunda Lestari, melihat Dera membuatnya bahagia sekaligus menangis karena sekarang putrinya benar-benar akan menjadi ibu dan memiliki pendamping hidup yang baik.


Bunda Lestari tersenyum dan memegang perut Dera sedangkan Bunda Lestari pun tersenyum melihat kehadiran Kendra, memantu yang sedikit menundukkan kepala sejenak ketika sang mertua menatapnya.


“Aku merindukanmu bunda” ujar Dera kepada sang Bunda dengan lembut.


“Bunda juga merindukanmu sayang. Ini juga ini, gimana kabarnya di perut sini nih hehe” ujap Lestari dengan memegang perut Dera.


“Kabar debay baik Moma" jawab Dera dengan memanggil moma yaitu Oma.


"Sepertinya badanmu kurusan ya, kenapa? apa kurang sehat apa gimana nih Nak?" tanya bunda kepada Dera.


"Iya Bun. Kemarin Dera memang agak kurang nafsu makan saja. Bukan begitu mas" ujarnya dengan melirik suaminya.


"Oh ya bunda, aku rindu desert redvelvet buatan bunda” rengek Dera seperti anak kecil saja.


Aku akan terlihat baik-baik saja di depan bunda.


Karena aku tau, apa yang terjadi di rumah tanggaku kelak akan ku pertanggungjawabkan di sana.


Maaf bunda, bukannya Dera membohongi bunda. Tapi ini demi kebaikan kita bersama.


"Kamu ini lain kali kalau datang kemari bilang-bilang dulu. Jadi bunda ada persiapan buat desert untuk kalian" tegur sang bunda.


Aku memang sengaja bunda, mau bikin surprise buat bunda” ujar Dera dengan senyum manisnya.


"Oh ya Dinda kemana Bun? Ko ga kelihatan sama sekali?”


“Oh Dinda. Dia sedang ada jam kuliah nak. Mungkin juga pulangnya nanti sore. Ya sudah bunda akan siapkan desert redvelvet untukmu sayang” ujar Bunda berdiri hendak ke dapur memberi tahu para pelayan.


“Eh bunda, aku ikutan masak dengan bunda ya. Aku rindu ingin masak bareng dengan bunda. Aku sampai beli bahan-bahan sendiri ini untuk membuat desert" tunjuk Dera kepada bingkisan yang bisa dia bawa bersama denagn suaminya tadi.


“Astaga, jadi kamu sudah mempersiapkannya ya. Baguslah kalau begitu. Eh tapi bagaimana bisa kamu meninggalkan suami mu sendirian di sini?” tanya bunda Lestari kepada sang putri.


“Saya tidak apa-apa bunda. Silahkan bunda dan Dera membuat Dessert, saya akan disini” ujar Kendra.


“Iya bunda tidak apa-apa. Sayang kalau bosan jalan-jalan saja keliling rumah atau ke kamar aku juga boleh” ujar Dera dan dijawab dengan sebuah acungan jempol dari sang suami.


"Ya sudah, buat dirimu senyaman mungkin disini ya, nak Kendra. Anggap rumah kamu sendiri” jawab Bunda Lestari kepada sang menantu.


“Ayo, bunda” kata Dera sambil mengajak sang Bunda ke dapur.


Bunda Lestari tampak senang melihat kerukunan dari hubungan suami istri juga menantunya tersebut.


Dera dan bundanya bekerja sama dengan baik. Sengaja memang beliau tidak meminta pelayannya untuk membantu karena dia ingin quality time dengan sang anak.


“Ko ini ada perasa coffe latte nak?” tanya Bundanya setelah membuka satu persatu bingkisan yang dibawa anaknya.


“Suami Dera suka sekali dengan dessert rasa coffe latte bun”


“Baguslah, kamu bisa tahu kesukaan suamimu” Bunda Lestari melanjutkan kembali meracik dessertnya.


“Kamu harus lebih perhatian pada suamimu nak. Kasihan Kendra. Dia pasti capek jika terus-terusan memikirkan masalah pekerjaan.


Sebagai istrinya, kamu jangan egois ya nak. Dia pasti membutuhkan perhatian dan juga asih sayangmu” ujar sang bunda.


Bunda saja yang tak tau kemarin keluargaku sedang gonjang ganjing bun-bun. Ingin rasanya kesini tapi tak mungkin karena aku tak bisa melihat bunda menangis nanti jika mendengar semua keluh kesahku.


“Iya bunda aku tau”


“Bunda Bahagia karena kamu pada akhirnya menikah dan kini sedang mengandung. Dan yang lebih membuat Bunda bahagia adalah kamu menikah dengan putra tunggal sahabatku, Ayu. Bunda hanya berdoa semoga hubungan kalian langgeng dan selalu bahgaia. Dan juga semoag kelak melahirkan dengan selamat.


POV ALULA


Tok tok tok.


“Nak.. Alula” suara mamanya di balik pintu kaamr.


“Iya ma. Masuk aja gak di kunci” kata Alula sambil mendudukkan badannya.


"Nak temenin mama yuk” ajak Ayu pada sang anak bungsunya.


“Kemana ma?” tanya Lula sambil mengangkat seebelah alisnya.


"Ke supermarket Nak. Ada beberapa bahan dapur yang habis, mama juga pengen jalan-jalan. Ayo” jelas mamanya


“Baiklah ma. Tapi Lula mandi dulu ya” ucapnya sambil turun dari tempat tidur.


“Iya sayang, mama tunggu dibawah ya” ucap mama Lula sambil menutup pintu kamar anaknya.


Dengan segera Alula pergi ke kamar mandi untuk mandi, menyegarkan badannya.


Tak butuh waktu lama Alula sudah keluar dari kamarnya dengan style yang santai tapi tetap cantik.


Dengan atasan sweatshirt warna navy dipadukan dengan jeans warna bluesky dan sepatu yang senada menambah kesan anak yang tidak terlalu feminim.


Alula turun ke bawah dan mencari keberadaan mamanya, namun tidak di temukan juga dimana mamanya berada.


“Ma.. mama” panggil Alula berulangkali namun tidak ada sautan dari mamanya.


"Mama kemana sih? Katanya mau nunggu dibawah” keluh Lula sambil mencari mamanya.


Setelah mencari ke semua ruang tapi tidak menemukan mamanya, Lula langsung saja menuju mobil. Dia mencari sang papa juga ga ada di ruang kerjanya.


Ternyata mamanya sudah menunggu Lula di dalam mobil tanpa memberi tahu Lula terlebih dahulu. Dia lantas membuka pintu .obil dan langsung duduk di kemudi dengan wajah sedikit kesal.


“Lama banget anak gadis mama. Mama sudah nunggun dari tadi lho” keluh mamanya.


“Alula nyariin mama tadi tapi gak nemu. Terus nyari papa siapa tau papa lihat mama ada dimana. Tapi malah ga ketemu juga. E Taunya mama udah disini kesal Alula.


“Haha. Kirain udah atau. Papa mu kan sedang ada urusan nak. Tadi pagi sekali sudah pergi. Udah jangan di tekuk gitu mukanya. Cantiknya ilang loh haha” canda mamanya.


Namun Alula hanya diam saja mendengar ucapan mamanya. Dia terllihat fokus dengan kemudinya.


Alula memang sengaja tak memakai sopir kali ini karena dia tau akan me time dengan sang mama.


Jalanan yang kini ramai memerlukan kesabaran ekstra untuk melewati kemacetan ibu kota. Butuh waktu 20 menit, akhirnya pun sampai.


^^^^^^^


Manis pahitnya sebuah hubungan.


Cukup kita saja yang tau.


Namun, ketika sudah tak sanggup untuk menahan,


Ceritakanlah pada orang yang tidak menyalahkanmu, apalagi memintamu untuk menjauh.


Mungkin memang ada 2 pilihan,


Bertahan atau meninggalkan,


Tapi lagi-lagi kamu lah yang tau,


Apa jalan yang kamu pilih selanjutnya🍂