
Ngobrol.
Ngobrol.
Ngobrol.
Gak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore.
“Der, aku pulang dulu ya. Gak siap kalau ketemu sama suamimu. Oh ya, nanti secepatnya kasih kabar soal makrab”
“Oke cantik. Hati-hati di jalan”
………………………………..
Kendra yang baru saja sampai rumah dan Dera menyambutnya di depan pintu.
Dia menyalami tangan Kendra.
“Selamat sore mas”
“Ya. Sudah pulang tamu mu?”
“Tamu siapa?? Mira maksud Mas Kendra?”
Dia ko bisa tau kalau Mira dari sini, dia kan belum sempat ketemu orang rumah. Misteri sekali.. apa dia punya ramuan ajaib yang jika di minum bisa kemanapun dia mau tanpa diketahui semua orang.
“Memang ada siapa lagi selain dia!”
“Ya mas, Mira sudah pulang. Barusan selang 30 menit sebelum Mas Kendra pulang”
"Baiklah kalau begitu. Lain kali bilang dulu kalau mau ada tamu jadi kan aku bisa stand by dirumah nemenin kamu, biar dilihat orang kita suami istri romantis"
Jawabnya yang membuat bulu roma Dera merinding
Pak Bos kenapa juga bilang begitu. Apa dia sengaja membuat Nyonya Dera merasa risih di dekatnya ataukah memang benar-benar menerima Nyonya Dera.
"Sudah mas. Ayo ke atas dulu. Air hangat dan pakaian ganti sudah ku siapkan di tempat biasa" Dera berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Em, oke, baiklah"
Tumben dia datang kok gak marah-marah. Ada angin apa nih.
Setelah Kendra mandi dan berganti baju dengan pakaian yang santai. Dera mengajaknya untuk makan malam.
Dia berjalan dibelakang Kendra.
Tanpa Dera tau tiba-tiba Kendra...
Bruakk
“Kenapa kau menabrakku apa kau mau mencelakaiku?” Ucapnya dengan melotot ke arah Dera.
Ah sialan sekali, dia yang berhenti mendadak malah balik nyalahin orang.
“Mas Kendra juga kenapa berhenti mendadak?” tanya nya dengan mata menatap Kendra.
“Kamu nyalahin aku!! ” Kendra bertolak pinggang dengan mata melotot ke Dera.
“Ya habis Mas Kendra mau berhenti gak bilang-bilang”
Kendra membalik ke arah depan, dia tersenyum.
Memang itu ulahnya. Dia sengaja.
“Haha rasain. Salah siapa jalan sambil nunduk”
Apa dia ketawa di depanku?. Jadi dia sengaja. Dasar suami aneh. Benar-benar membuatku pusing kalau tiap hari begini melulu.
“Ya gak salah dong Mas, aku kan lihat jalan depan”
“Alah, bilang aja mau nempel aku kan”
“Ya gak lah, PeDe banget”
Alula yang melihat pertikaian kecil di depan matanya membuat dia tertawa.
Pasalnya kakak laki-laki nya tidak pernah mau berdebat dengan siapapun termasuk dengan dirinya.
“hahaha sudah lah Kak Ken ngalah aja sama istrinya”
Dera dan Kendra sama-sama melihat ke arah Alula.
“Hust diam” Kendra dan Dera menjawab bersamaan.
“Cie, jawab bareng lagi. Masih inget gak nih pas kalian lamaran juga jawabnya bareng hahaha”
Seketika mereka berdua pun saling pandang dan diam. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Hahaha
Suara Alula memenuhi ruangan saking ingin tertawa melihat dua sejoli ini.
“Sudah lah, ayo makan sini. Udah lapar banget dari tadi nunggu kalian ga kesini”
Dia pun melayani Kendra seperti biasa.
……………………………….
Pagi harinya,
Kendra yang terlambat bangun, kini dia sedang mandi.
Dera masuk ke dalam dapur untuk mengisi perutnya
Dia sudah kelaparan, kalau menunggu Kendra untuk sarapan bisa-bisa dia pingsan.
Cacing-cacing di perut curi semua nutrisi. Dera bernyanyi kecil mengingat sebuah iklan tentang obat nafsu makan.
Kebetulan suasana pagi ini di dapur sangat sepi. Bisa dijadikan Dera untuk melancarkan misinya.
“Mbak, apa ada makanan yang bisa ku makan” tanya nya pada Mbak Nurul, anak Bi Tirna.
“Ada Nyonya, ini ada pizza sebentar saya panasi"
Mbak Nurul mengambil pizza yang ada di kulkas dan memindahkannya ke microwave.
"Nyonya duduk saja di meja makan” pintanya.
“Gak usah Mbak, Dera di sini saja. Toh juga disana masih sepi” jawabnya sambil menunjuk meja makan yang masih sepi.
“Oh ya, Mbak Nurul sudah berapa lama kerja di rumah Mas Kendra?”
“Saya sudah hampir 7 tahun Nyonya, karena semenjak lulusan SMP, saya memutuskan untuk ikut Mamak bekerja di rumah Pak Bos Kendra”
“Wah, lama juga ya mbak. Apa Mbak Nurul pernah dengar nama Nona Lidia?
"Pernah Nyonya"
"Pernah ketemu juga sama Nona Lidia gak mbak?”
“Ya Nyonya. Dulu sebelum ada Nyonya Dera, hampir setiap hari Nona Lidia sering kesini"
"Orangnya bagaimana mbak?"
"Orangnya cantik, baik juga Nyonya”
“Begitu ya Mbak. Beruntung banget ya Mas Kendra sering diberi perlakuan manis dari Nona Lidia”
“Maafkan saya Nyonya, Nyonya Dera juga sangat cantik dan baik. Bukan maksud saya untuk membandingkan dengan Nyonya”
Hahaha dari sorot matamu saja sedang berbohong Mbak, tenang. Aku cukup tahu diri kok.
“Gak apa-apa, aku hanya penasaran saja dengan Lidia. Wanita seperti apa yang dicintai Mas Kendra"
“Tapi setau saya hubungan mereka tak direstui oleh keluarga Pak Bos Kendra”
“Apa kamu tau alasannya?” Dera semakin penasaran dengan cerita masa lalu suaminya.
“Tidak Nyonya. Apa Nyonya cemburu dengan Nona Lidia?”
“haha tentu saja” Dera memukul Pundak Mbak Nurul.
Sudah gila apa aku sampai cemburu. Ini misi ku untuk mempertemukan Mas Kendra dengan cintanya lagi, agar aku bisa lari dari pernikahan ini.
Sedangkan di ruang tamu,
Sudah ada Sekretaris Rey yang stand by. Dia sibuk sendiri mengurus urusan bisnisnya.
“Apa ada yang bisa saya bantu Sekretaris Rey”
“Tidak Nyonya"
“Apa perlu saya panggilkan Mas Kendra?”
“Tidak Nyonya”
Kok jawabannya tidak semua, lantas apa yang membuatmu sehingga menjawab IYA sekretaris Kutub!!
Tap tap tap.
Suara langkah kaki Kendra.
Dia turun ke lantai bawah, dilihatnya Dera sedang berbicara dengan sekretaris Rey. Dia mempercepat langkahnya.
“Naik ke atas, sekarang” Kendra meminta Dera dan melirik tajam pada Sekretaris Rey.
.
.
.
Buah duku, buah semangka
Hello guys, apa masih semangat membaca😆