
Tanpa disadari ada Fira yang memperhatikan kedua wanita ini.
Entah itu yang akan dilaporkan ke Pak Bos nya atau tidak yang pasti dia tau ada informasi yang penting buat Pak Bosnya.
“Gak, gak apa-apa ko”
“Ya sudah, secepatnya kasih Lula ponakan yang gemoy dong kak. Biar Lula ada temennya. Kesepian terus bawaannya” jawab Lula.
................................
Sebenarnya apa sih maunya? Kenapa senang sekali membuatku kesal, jengkel setiap hari.
Kadang bertingkah seperti anak-anak tapi kadang juga seperti singa yang kelaparan.
Tapi aku senang, kalau dia sudah tidur, melirik wajahnya yang tampan.
Seperti obat Ketika aku lelah, ya melihat wajahnya menyembuhkan segala bebanku menghadapinya.
“Air”
Tanganmu kemana Kendra? Tinggal ambil berdiri sedikit ko ga mau. Baru juga bangun udah nyebelin.
Dera mendelik jengkel melihat pagi-pagi dirinya sudah diperintah oleh suaminya.
Hati yang masih jengkel dan wajah yang senyum, itulah yang ditunjukkan Dera padanya.
“Ayo bantu aku. Gosokkan punggungku”
Kendra jalan lebih dulu dan diikuti Dera dari belakang
Dibukanya pintu kamar mandi dan perasaan Dera tak karuan.
Bagaimana bisa aku memandikan suamiku sendiri bahkan melihatnya bertelanjang dada sudah membuatku ingin loncat dari ketinggian lantai 4 rumah ini.
“Hust ngapain diem disitu, sini!!" ucap Kendra dengan tubuh yang sebagian terendam oleh busa sabun.
Dera memberanikan diri untuk mendekat.
Dia mulai mengambil pouch yang ada di rak kecil dekat bath up dan mulai menggosok punggung Kendra.
Gosok punggung sambil merem.
Satu-satunya cara yang menurutnya ampuh dibandingkan pikirannya kotor.
“Kamu gak bisa menggosok lebih keras. Apa Bi Tirna gak memberimu makan!”
“Maaf Mas, iya”
"Hei kemana arahmu, jangan sampai situ" perintah Kendra
"Naik lagi" lanjutnya
"Turun turun"
Masih dengan rentetan perintah dari Kendra. Syukurnya Kendra masih belum mengetahui jika Dera menggosok punggungnya sambil merem, jika dia tau bisa-bisa Dera diminta untuk membuka matanya dan dimarahi habis-habisan.
“Nah kanan-kanan”
Perintah demi perintah di lontarkan. Hingga Kendra merasa ada kejanggalan.
Dia memutar tubuhnya, mengetahui Dera sedang menutup mata.
“Hei.. kenapa tutup mata! Apa kau takut matamu ternodai oleh kegagahanku!”
Hahaha rasakan kau Dera. Akhirnya kau ketahuan kan sudah main-main denganku.
“E, enggak mas. Aku cuma belum terbiasa saja dan ini pertama kali aku melakukan ini" jawabnya
“Ya makanya di biasakan mulai sekarang. Aku ini suamimu jadi gak usah tutup mata segala!”
Dibiasakan mulai sekarang? Apa dia akan memintaku untuk membersihkan punggungnya setiap hari?? Arghh pikiranku melayang.
“Hei itu terlalu kasar. Apa kau mau membunuhku ya?!”
Duhh, Dera mengerutkan bibirnya. Mau mu apa sih, aku gosok lembut kamu bilang kelembutan, aku gosok lebih kuat kamu bilang kekencangan. Kenapa tak kamu bunuh saja aku sekalian Pak Bos Kendra.
“Maaf Mas, ini gimana? Sudah pas?” Dera mengurangi tenaganya.
“Hem”
Sambil menggosok punggung suaminya, Dera memandang leher putih bersih itu. Rasanya ingin menggigit leher Kendra.
“Apa yang kau lakukan?”
Kendra menoleh melihat Dera yang sudah menempelkan giginya dibahu kekarnya, bahkan hampir mengigitnya.
“Oh maaf Mas, Maaf”
Dera ambruk ke belakang dengan terduduk dan spons mandi yang dipegangnya terjatuh.
Aku pasti sudah gila! Bagaimana aku benaar-benar menggigitnya. Habislah aku. Setan di kamar mandi banyak banget rupanya.
“Aw..Kau menggigitku!”
Dera yang bersimpuh minta maaf tak di gubris olehnya.
“Sudahlah sana keluar, badanku gak jadi bersih malah kamu gigit begini”
Apa coba yang ku lakukan tadi, bisa-bisanya aku gigit dia beneran.
Selang beberapa menit, Kendra kembali ke kamar dengan sudah memakai setelan jas dan celana.
“Pasangkan dasiku”
Perintah dari Kendra segera dilakukannya dengan baik.
Sebisa mungkin dia tidak melakukan kesalahan, cukup kejadian tadi dikamar mandi yang membuatnya sangat malu.
“Apa kau tak suka melayaniku?!" tanyanya.
“Tidak, bukan begitu Mas, aku suka. Sebagai istri kan tugasnya melayani suami”
“Ya kalau memang kamu tak suka, silahkan bilang ke Rey kalau kamu gak sanggup melayani ku. Untuk apa juga kemarin bilang ke dirinya kalau kamu sanggup melakukannya”
“Aku sanggup mas” jawabnya.
“Udah sana minggir, pasang dasi gitu aja lama banget”
Kendra yang melihat Dera mulai menganak sungai, dia tersenyum dan entah kenapa dia merasa senang.
Sebenarnya gigitan Dera sama sekali tidak sakit, dia saja yang lebay (haha itu lah yang paling cocok mewakilkan).
Kendra berdehem pelan.
“Gak usah nangis. Ambilkan sepatu sana”
“Baik Mas”
Kenapa dia jadi imut begitu si kalau nangis, haha lucu saja baru pertama kali ini lihat dia seperti ini. Maaf, aku belum bisa membuka hati dan bisa baik lagi seperti dulu. Mungkin semenjak aku dan Lidia berpisah, sifat asliku mulai muncul lagi.
Kendra menggoyangkan kepalanya, menyesali apa yang baru saja dia pikirkan.
“Sudah?”
“Iya mas, sudah” Dera sudah selesai memasangkan sepatu Kendra.
“Duduk”
Apa lagi si ini. Gak ada habisnya drama kalau bareng dia.
“Kenapa kau tak menggunakan kartu yang ku berikan?”
“Aku pakai kemarin Mas, untuk meluruskan rambut bareng Alula, Fira juga”
“Ya sebelum itu kamu tak pernah menggunakan sekali pun. Itu sebabnya aku memintamu untuk ke salon biar kamu tau fungsi kartu itu. Kamu bisa menggunakan sepuasnya”
“Terima kasih mas, namun segala kebutuhanku sudah Mas Kendra penuhi semua”
“Tapi kenapa semenjak kau meluruskan rambut jadi jelekmu nambah ya” ucap Kendra memegangi dagunya.
Hei kenapa kau menghina rambutku, tapi juga menyentuhnya. Benar-benar gila.
Kendra menggulung rambut Dera di jemarinya, semakin digulung Dera pun ikut menggeser tubuhnya mendekat ke arah Kendra.
Dia ini kenapa si.
“Bulan ini gunakan kartuku lebih dari 30 kali. kalau tidak aku akan memberi peringatan padamu”
“Tapi untuk apa mas? Aku tidak membutuhkan apapun lagi. Uang kuliah tinggal semester akhir ini. Uang jajan yang terkadang Mas Kendra berikan juga terkadang gak ke pakai. Jarang sekali aku keluar mas. Mira juga sedang Magang, Lula juga terkadang kuliah” jawabnya.
“Apa maksud mu kamu ingin ikut magang juga!"
“Pengen, tapi kan gak kamu perbolehkan Mas”
“Sudah di rumah saja. Mau apa di kantor, toh juga anak magang malah seringnya disuruh-suruh”
“Ya kan ini semua bagian dari proses mas”
Walaupun memang benar apa yang di katakan, mahasiswa magang biasanya disuruh-suruh, ada yang minta bantuan untuk fotocopy, membuatkan kopi, dan banyak lagi.
“Udah ah, kebiasaan! jawab terus kalau diajak ngomong”
Hemm. Salah lagi. Kalau aku diam salah, kalau aku jawabpun juga salah. Terus aku harus apa Tuhan.. Dera frustasi.
.
.
.
Cintai aku apa adanya, sayangi aku dengan setulus aku seperti ku mencintaimu. Tapi jangan pernah tanyakan sebesar apa rasa ku padamu, yang pasti sebuah cinta tak akan terdefinisikan oleh sebait kata.
.
.
puji
.
.
jadikan cerita ku ini favorit kalian ya guys.. salam kenal, aku dari jawa tengah😊