
Jangan lupa vote dan sarannya ya man-teman.
Karena saran dan masukan dari kalian itu penting banget.
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Dan jangan lupa memberi bintang 5 ya🌟🌹
Happy reading.
🌹❤️
“Kamu”
Mira tidak menyangka Sekretaris Rey bisa tahu kalau dia ada di bandara saat ini.
Bagaimana bisa dia tahu padahal aku tidak memberitahunya. Apa Dera yang memberitahunya ya?
“Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Mira bingung melihat kehadiran Sekretaris Rey ada di sana.
“Aku mau bicara denganmu” ucap Rey sambil masih memegang tangan Mira. Dengan napasnya yang juga terengah-engah.
“Aku tidak ada waktu” Mira hendak melepaskan pegangan tangan Sekretaris Rey. Tapi justru Sekretaris Rey menariknya semakin dekat dengannya.
“Aku harus bicara padamu, sekarang!” kata Sekretaris Rey kukuh dengan pendiriannya.
"Bicaralah langsung di sini, waktuku tidak banyak” ucap Mira dengan tatapan datarnya.
“Aku menyukaimu Mira” kata Sekretaris Rey. Pernyataan Sekretaris Rey sungguh membuat Mira tidak siap.
Dia tidak menyangka lelaki itu akan menyatakan perasaannya secepat ini kepadanya.
“Apa?” Mira masih terkejut dengan pernyataan cinta dari Sekretaris Rey.
“Aku menyukaimu, aku menyukamu Almira Putri” Mira hanya terdiam tanpa bisa berkata-kata apa-apa.
“Aku tidak membutuhkan jawaban darimu sekarang. Tetapi aku akan menunggumu, kapanpun kamu akan menjawabnya. Aku akan menunggumu sampai kamu menerima diriku. Aku akan menungggumu sampai kapanpun itu. Aku berjanji padamu” tubuh Mira bergetar mendapat perhatian sebegitu besar dari Sekretaris Rey.
Selama ini dia belum pernah menerima pernyataan cinta seniat ini. Bahkan saat bersama Gerald pun tidak pernah sekalipun.
Mira menangis tanpa bisa dihentikan. Dia bingung akan apa yang harus dia lakukan. Dia masih takut akan ancaman dari Gerald. Dia tidak bisa melihat sesuatu yang buruk terjadi pada Sekretaris Rey.
“Aku.. “ Mira tidak bisa mengatakan sesuatu. Dia tidak bisa mengatakan kebenaran itu kepada Sekretaris Rey. Mellihat Mira tampak frustasi. Kini Sekretaris Rey yakin sesuatu sedang terjadi pada Mira.
Sikap Mira yang dingin dan datar kepadanya hanya karena ada sesuatu. Dan dia tahu kini kalau itu tentu ada hubungannya dengan lelaki yang selalu mengikutinya kemanapun itu. Sekretaris Rey memeluk tubuh Mira dan mengusap punggungnya perlahan. Dia ingin menyalurkan kenyamanan untuk diri Mira.
Sekretaris Rey merasa lega karena dia tidak terlambat mengungkapkan perasaannya. “Aku akan mengurus semuanya janganlah pergi kemana-maana. Aku tidak bisa tenang jika berada jauh dari jangkauanku. Aku membutuhkanmu disini” Mira hanya semakin menangis saja sambil memeluk erat Sekretaris Rey.
Melihat betapa Mira tampak sedih. Sekretaris Rey juga ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Mira.
^^
Di rumah Dera.
“Taraaa. Sudah jadi dong. Silahkan di coba Pak Bos” canda Dera dengan menawari suaminya desert buatannya yang dibantu sang bunda. Tak perlu diragukan lagi karena memang toko Fallery cake kini masih bisa bertahan berkat usaha dan inovasi Bundanya juga.
“Wahh.. pasti enak nih. Siapa dulu yang masak. Istriku. Hehe. Ya kan Bunda” ucap Kendra pada sang Bunda Dera.
“Haduh, iya deh iya. Buruan sana dimakan dulu nak. Creamy banget itu pasti, apalagi rasa coffe lattenya” ucap Lestari.
“Ah bunda. Redvelvet juga tak kalah enaknya bunda” rengek Dera seperti anak kecil.
“Iya deh iyaa. Enak ko. Ko anak bunda jadi manja seperti ini” jawab bundanya yang tak lama kemudian Kendra senyum dengan segala perasaan di dadanya yang campur aduk.
Sebenarnya kamu bersamaku ini bahagia beneran apa cuma pura-pura saja? Aku benar-benar tidak bisa menebaknya. Mungkin dibalik senyummu itu tersimpan sejuta rasa kecewa. Namun kau berusaha menutupinya didepan bunda. Terima kasih ya. Sudah menerima segala apa yang ada pada diriku. Dan maaf atas semua kesalahanku, semua itu karena ego ku yang tak bisa ku kendalikan.
Dera yang melihat Kendra melamun, segera menyadarkannya. Di tepuk bahunya perlahan
“Mas, ini ko gak dimakan sih. Mau aku suapin apa?”tawar Dera pada sang suami.
“Uhuk. Bunda jadi obat nyamuk nih” tuturnya dengan memasang wajah cemberut.
Hahaha. Suasana ramai riuh mewarnai suasana sore itu. betapa bahagianya bisa kumpul dengan orang yang kita sayangi.
___________
Di kediaman rumah Danu Hartono.
“Hai Bro, gimana nih langkah selanjutnya? Gue sudah berhasil ngehancurin rumah tangga Kendra. Bukankah lo suka dengan hal itu? jadi mana imbalan gue. Kan lo janji bakal beliin gue mobil sport keluaran terbaru” tutur laki-laki yang ada dihadapan Danu.
“Oke gampang itu lah. Tunggu dulu, sebentar lagi Lidia dateng. Kita harus merencanakan hal yang baru agar rumah tangga mereka benar-benar hancur” ucap Danu.
“Males ah kalau sama Lidia. Dia tuh ya..” belum juga selesai menyelesaikan ucapannya Lidia sudah ada di hadapan mereka dengan wajah senangnya.
“Apa sih maksudnya. Lo gak suka kalo ada gue? ngomong aja! harusnya gue yang ga suka sama lo! Emang gue kemarin beneran suka sama lo. Hahaha, ya kali. Cinta gue masih untuk Kendra seorang ya. PeDe amat” jawab Lidia tak mau kalah.
Gue akan kerja keras, untuk mendapatkan Kendra kembali dan mendapatkan segala hartanya. Dan akan menjadi Nyonya Kendra satu-satunya haha. Batin Lidia dengan menyeringai.
“Wlee, siapa juga yang mau sama lo” balas Bagas.
“Apaan sih lo, ga jelas!”
“UDAH, STOP! Jangan bawa masalah pribadi ke masalah kerja sama ini. Professional dong. Bisa gak?” bentak Danu untuk menengahi kedua rekannya tersebut.
Dia memang tak tau menahu soal Lidia dan Bagas. Apalagi masalah hati. Yang diperlukan Danu hanyalah cara untuk menghancurkan keluarga Kendra.
Suasanya hening. Tak ada suara apapun.
“Gue bawa berita baru nih. Mau denger gak?” tutur Lidia dengan membuka ponselnya.
Danu dan Bagas saking antusiasnya berkata "APA?" bersamaan.
Mereka bertiga memang komplotan yang membenci rumah tangga Kendra dan Dera. Serta semua cara akan ditempuh.
Lidia memperlihatkan wajah cantik perempuan yang sedang berdiri di catwalk dengan beberapa bucket bunga yang dipegangnya. Cantik, tinggi, putih, hidung mancung, perfect.
“Siapa itu? sepertinya tak asing?” celetuk Danu ketika Lidia memperlihatkan foto tersebut dengan seksama.
“Cantik. Boleh tuh dikenalin" ucap Bagas.
Lidia hanya tersenyum puas dengan potret yang didapatnya.
"Apa lo bilang? enak aja. Dasar buaya buntung lo!" ketus Lidia.
“Kalian benar-benar tak ingat foto ini? Beneran nih?” jawabnya sambil selidik ke pandangan Bagas dan Danu.
Dengan senyuman licik dan dia meneguk wine yang ada dihadapannya. “Dia adalah Caitlin Wijaya”
Danu yang mendengarnya seketika beranjak dari duduknya. Dan menggebrak meja.
“Shitt. Bagaimana bisa? Bukannya dia sudah mati. Bunuh diri karena putus dengan Kendra?” jawabnya kaget tak menyangka melihat sosok wanita yang pernah dijadikan ancaman bagi Kendra kini seakan hidup lagi menjelma sebagai wanita nan sempurna.
“APA? putus dengan Kendra? Bukankah Kendra kekasihnya hanya Lidia, terus nikahnya sama Dera? Bagaimana bisa? Apa ada yang belum aku tau tentang semua ini?”
Sesekali Bagas memperhatikan foto tersebut.
Memang cantik, perfect. Tapi ko bisa? Bukankah Lidia satu-satunya bagi Kendra? Jangan-jangan...
“Lantas, langkah apa yang akan kita lanjutkan?” tanya Danu yang sudah meneguk wine beberapa kali sebagai rasa terkejutnya.
“Tunggu saja waktu yang tepat. Pasti akan ada surprise nantinya. Bukan begitu Tuan Danu” senyum licik terukir diwajah Lidia.
_____
Kalau pagi, selamat pagi.
Kalau siang, selamat siang.
Lantas?
Kalau sayang, kenapa tak katakan sayang?
đź‘»